Chapter: 95. Jangan Menuduh SembaranganSebelum Greta sempat mengajaknya pergi, suara Sylas terdengar lagi dari dalam."Ayahanda, saya—""Aku tidak bisa membayangkan." Kaisar memotongnya. "Jika babi hutan itu berhasil melukai Grand Duchess Silveron."Cecilie membeku. Benaknya kembali memutar adegan si babi hutan yang berlari menderu ke arahnya tadi dan tubuhnya yang menunggu maut dengan pasrah. Tanpa sadar ia bergidik. "Satu kesalahan perhitungan darimu hampir membuat istri pamanmu menjadi korban."Suara Kaisar tetap datar."Tidakkah kau berpikir apa yang akan sanggup kau hadapi setelah itu?"Tidak ada jawaban."Tidak hanya sebagai keponakan Grand Duke Silveron,” ujar Kaisar. "Namun sebagai Putra Mahkota…?”Cecilie masih terpaku ketika tangan Greta menyentuh halus ujung lengan gaunnya. Ia segera tersadar, lalu dengan sangat pelan meneruskan langkah menuju kamarnya.Jadi… babi hutan itu lari ke arah tenda imperial karena kesalahan Sylas yang tidak sengaja? Pertanyaan itu terus terngiang di kepala Cecilie sepanjang perjala
Last Updated: 2026-07-09
Chapter: 94. Di Balik Celah PintuDuke Greymont berbalik, menatap para tamu bangsawannya yang kini berkumpul menunggu keputusan Kaisar. Meskipun mereka tidak bertanya dan Kaisar tidak ditanyai, sudah menjadi kebiasaan bahwa untuk kejadian yang membahayakan seperti tadi, Kaisar akan menurunkan titahnya. "Kaisar telah memutuskan bahwa perburuan hari ini cukup sampai di sini." Suara Duke Greymont terdengar jelas oleh para tamunya. "Kita telah mendapatkan cukup banyak hasil buruan kecil, serta dua buruan besar yang akan disajikan dalam jamuan makan malam nanti." Beberapa bangsawan pria mengangguk puas. Namun ketika Duke Greymont kembali menatap para lady yang masih terlihat pucat, ekspresinya berubah sedikit lebih serius. Wajahnya yang biasanya tenang dan penuh keramahan sekarang tampak lebih serius. Kerut-kerut kecil tampak sedikit di atas alisnya. Seekor binatang buruan yang lari tak terkendali menerjang tenda para wanita bukan hal yang bisa dianggap enteng. Apalagi binatang itu hampir saja mencelakai Grand Duc
Last Updated: 2026-07-09
Chapter: 93. Anak Panah yang MelesatUntuk sesaat, Sylas tampak terkejut. Tatapannya tidak lagi tertuju pada babi hutan di depannya. Melainkan pada tenda imperial, dan pada Cecilie yang masih berada di tanah. Ia menghentak perut kudanya dan hendak bergerak maju. Namun sebelum sempat melakukannya… suara derap kaki kuda lain terdengar dari sisi hutan, lebih cepat dan lebih berat. Evander muncul dari antara pepohonan. Tanpa berhenti, Grand Duke Silveron langsung memacu Pegasusnya menuju halaman tenda. Tidak ada kepanikan di wajahnya. Tidak ada keraguan. Hanya satu tujuan: memastikan bahaya itu berhenti. Anjing-anjing pemburu Greymont sudah berhasil memperlambat babi hutan itu. Mereka bergerak mengelilinginya, menggonggong keras, membuat binatang besar itu kehilangan jalur lurusnya. Namun taringnya masih mengayun liar. Tanah masih bergetar setiap kali kakinya menghantam rerumputan. Evander menarik tali kekang. Pegasus berhenti dalam posisi sempurna. Lalu pria itu mengangkat busurnya yang sudah siap sejak tadi dan ha
Last Updated: 2026-07-08
Chapter: 92. Taring yang MengancamBahkan meski jaraknya masih cukup jauh, tubuh besar babi hutan itu terasa mengerikan dan mengancam. "Binatang itu lari ke sini..." Bisikan itu keluar begitu saja dari bibir Cecilie. Suaranya gemetar, sementara kedua tangannya tanpa sadar mencengkeram sisi gaunnya semakin tinggi, seolah siap berlari. Babi hutan itu mengentakkan kedua kaki depannya ke tanah. Dengan dengusan yang menggetarkan udara, binatang besar itu tidak berhenti, dan terus berlari menuju tenda imperial. Dalam satu detik, suasana yang sebelumnya dipenuhi suara percakapan berubah menjadi kekacauan. "Keluar!" Cecilie bahkan tidak menyadari bahwa dirinya yang berteriak lebih dulu. Tubuhnya yang mulai gemetaran memaksakan diri bergerak dan menoleh kepada semua orang. "Semuanya keluar dari tenda!" Para lady yang masih terpaku langsung menoleh kepadanya. "Yang Mulia..." "Jangan lewat depan!" lanjut Cecilie cepat. "Keluar lewat belakang tenda. Tidak ada waktu! Cepat!” Kali ini tidak ada yang mempertan
Last Updated: 2026-07-08
Chapter: 91. Raksasa dari HutanUntuk sesaat hanya desir angin pegunungan yang terdengar. Beberapa lady saling berpandangan dengan sedikit kerut di dahi mereka. Lady Hetford menjadi orang pertama yang memecahkan keheningan. "Yang Mulia... apa maksud Anda?" Suara wanita paruh baya itu langsung menarik perhatian para lady lain. Bahkan para lady utara juga ikut menoleh dengan raut muka bertanya. Floria sendiri tampak sedikit tertegun. Seolah baru menyadari kalimat yang barusan keluar dari mulutnya. "...Ah." Ia terkekeh pelan. Lalu menggeleng sambil menepuk ujung sarung tangannya sendiri. "Sepertinya karena saya terlalu lelah jadi bicara yang tidak jelas." Senyumnya kembali terpasang. Manis dan anggun. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa. "Tentu saja Yang Mulia Putra Mahkota akan membawa pulang buruan terbaik, Lady Hetford." Lady Hetford mengembuskan napas lega. "Yang Mulia hampir membuat saya bingung,” ujarnya. Lady Ashcombe menggeleng pelan. Tadi bahkan ia nyaris ikut tercengang mendengar ucapan Fl
Last Updated: 2026-07-07
Chapter: 90. Sang Putri yang Ditolak Floria menatap Sylas, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Bibirnya sedikit terbuka. "Hanya... beberapa tangkai bunga?" suaranya nyaris berupa bisikan. "Saya pikir Kakak tidak akan keberatan." Sylas tidak langsung menjawab. Ia memejamkan mata beberapa detik, lalu mengembuskan napas pelan melalui hidung. Tangannya yang masih menggenggam tali kekang Phantom mengencang sedikit. "Floria." Untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di Greymont, Cecilie mendengar nada lelah dalam suara Putra Mahkota. "Bukit itu bukan tempat untuk memetik bunga." Ia menunjuk lereng di bawah sana tanpa benar-benar menoleh. "Tanahnya curam." "Saya tahu." Floria buru-buru menyela. "Tapi kan, hanya sebentar. Kita tidak perlu terlalu jauh. Yang paling dekat saja.” Ia melangkah mendekati Sylas. "Hanya beberapa tangkai, Kakak.” Suara sang putri terdengar sangat manis. Tatapannya kepada Putra Mahkota begitu penuh harap, seperti seseorang yang benar-benar yakin permintaannya akan dikabul
Last Updated: 2026-07-07
Chapter: Apakah Perlu Sebanyak Ini?Alize menatap Greta dengan tenang. “Lima menit saja.” Greta masih tampak tidak yakin. “Yang Mulia... Saya akan dimarahi Duke.” “Aku hanya ingin menghirup udara segar tanpa merasa seperti sedang menuju medan perang.” Alize mencoba bercanda, tetapi bahkan ia sendiri tahu ada sedikit kebenaran pahit di balik kalimat itu. Sejak tiba di istana, ia tidak pernah benar-benar sendirian. Dua pengawal selalu berada tidak jauh darinya. Jika ia berpindah ruangan, seseorang akan memastikan jalannya aman. Jika ia ingin berjalan-jalan, akan selalu ada yang mengawasi. Ia tahu semua itu dilakukan demi keselamatannya. Tetapi terkadang... Ia merasa seperti burung yang ditempatkan dalam sangkar emas. Sangkar itu indah dan nyaman. Namun tetap saja sebuah sangkar. Greta menghela napas panjang. Alize sudah mengenal ekspresi itu. Ekspresi seorang pelayan yang tahu dirinya akan kalah dalam perdebatan. “Baiklah,” ujar Greta akhirnya. “Tetapi hanya sebentar, Yang Mulia.” Alize terse
Last Updated: 2026-07-08
Chapter: Mari Melarikan DiriAda satu hal yang Alize perhatikan sepanjang pertemuan itu. Lady Helena semakin lama semakin gelisah. Setelah ia menceritakan pengalamannya pergi berziarah, akhirnya dia berdiam diri dan tidak ikut mengomentari pengalaman ziarah yang lainnya. “Baiklah,” ujar Lady Harwick akhirnya. “Sepertinya sampai di sini dulu pertemuan kita. Saya akan mengundang Anda semua untuk pertemuan berikutnya beberapa minggu ke depan, dengan topik yang lain.” Alize merasa lega. Pertemuan itu bukan acara yang cukup menyenangkan, tapi juga tidak terlalu membosankan baginya. Para wanita mulai berdiri satu per satu sambil masih melanjutkan percakapan kecil mereka. Beberapa membahas buku yang baru saja mereka diskusikan. Beberapa lainnya masih bertukar cerita tentang pengalaman mereka di Biara Dunholm. Alize memperhatikan semuanya dengan tenang. Aneh rasanya. Sebelum datang ke pertemuan ini, ia mengira Biara Dunholm hanyalah sebuah tempat suci yang menyimpan catatan sejarah dan mungkin beberapa ra
Last Updated: 2026-07-08
Chapter: Para Wanita yang BerziarahLady Harwick tersenyum lembut, seolah tidak menyadari nada dingin dalam ucapan Lady Helena. “Atau justru Duchess akan menjadi orang yang paling menikmati pertemuan hari ini,” ujarnya menenangkan. Beberapa wanita tertawa kecil. Suasana yang sempat menegang kembali mencair. Lady Harwick lalu merapikan beberapa lembar catatan di hadapannya sebelum membuka sebuah buku tua bersampul hijau tua. “Baiklah,” katanya. “Mari kita mulai pertemuan kita.” Seluruh perhatian tertuju kepadanya. “Seperti biasa, klub buku kita dibagi menjadi dua sesi.” Jemarinya mengetuk pelan sampul buku itu. “Sesi pertama adalah bedah bacaan. Hari ini kita membahas perjalanan para wanita bangsawan Montveraine ke tempat-tempat suci, dengan fokus pada Biara Dunholm.” Alize menerima buku yang disodorkan Greta, tetapi matanya tetap tertuju kepada Lady Harwick. “Sedangkan sesi kedua...” Lady Harwick tersenyum lebih lebar. “Adalah bagian yang paling saya sukai. Berbagi pengalaman pribadi.” Beberapa
Last Updated: 2026-07-07
Chapter: Klub Buku di Ruang OranyeGreta dengan cekatan merapikan lipatan terakhir gaun berwarna biru pucat yang dikenakan Alize. Jemarinya kemudian bergerak membenarkan bros kecil berbentuk bunga lili di dekat bahu sang Duchess. “Sudah selesai, Yang Mulia.” Alize menatap bayangannya di cermin. Gaun itu cukup sederhana untuk sebuah pertemuan siang, tetapi tetap pantas dikenakan oleh seorang Duchess. Rambutnya disanggul rendah dengan beberapa helai yang sengaja dibiarkan membingkai wajah. “Bagaimana menurutmu?” tanyanya pelan. Greta tersenyum. “Cantik seperti biasa.” Alize justru tertawa kecil. “Itu jawaban seorang pelayan yang terlalu setia.” Greta menunduk sopan, dan kali ini berkata dengan sungguh-sungguh. “Saya hanya mengatakan yang sebenarnya, Yang Mulia.” Dan lagi-lagi tanpa sengaja Alize membandingkannya dengan Mirelle. Mirelle terkadang sedikit lancang dan tidak segan menggodanya. Ia telah bersikap sejak mereka masih anak-anak. Senyum Alize memudar perlahan. Ia juga memikirkan keadaan
Last Updated: 2026-07-07
Chapter: Siasat musuh.Rahang Corentine langsung menegang. “Lord George sedang bertahan di sana.” Louis dan Corentine saling bertukar pandang. Tidak ada kepanikan, melainkan perhitungan. Beberapa detik kemudian Louis berkata pelan, “Pergilah. Aku tetap di halaman depan.” Putra Mahkota mengalihkan pandangan ke arah luar kastil. “Kalau dugaanku benar...serangan ini hanya umpan.” Ia menatap Corentine dengan sorot mata yang sama tajamnya. “Mereka ingin memecah pasukan kita. Kalau kita semua bergerak ke gerbang timur, sisi lain kastil akan terbuka.” Corentine memahami maksudnya seketika. Strategi seperti itu bukan hal baru dalam peperangan. Musuh menyerang satu titik dengan kekuatan yang cukup untuk memancing perhatian, sementara serangan sesungguhnya datang dari arah yang sama sekali berbeda. Ia mengangguk singkat. “Jangan ambil risiko.” Louis tersenyum tipis. “Itu tugasku mengatakan hal itu kepadamu.” Corentine nyaris membalas senyum itu. Namun detik berikutnya ia sudah berlari me
Last Updated: 2026-07-06
Chapter: Patuh atau DibunuhHugh menelan ludah. Tatapannya turun ke lantai batu yang dingin. Kedua tangannya yang masih terbelenggu saling menggenggam erat hingga buku-buku jarinya memutih. “Aku...” Suaranya serak. “Aku hanya menerima surat.” Louis tetap berjongkok di depannya. Tidak mendesak. Tidak meninggikan suara. Kesabarannya justru membuat Hugh sedikit demi sedikit kehilangan pertahanannya. “Surat apa?” tanya sang duke. Sekarang ia berusaha untuk tidak menginterogasi terlalu tajam. Metodenya untuk para tawanan yang putus asa seperti Hugh adalah... biarkan si tawanan cukup tenang dan akhirnya mengutarakan kegelisahannya. “Surat yang berisi perintah.” Sebelah alis Corentine naik. “Hanya itu?” Hugh mengangguk pelan. “Apa isi suratnya?” Tawanan itu terdiam sejenak. “Kadang... saya disuruh mengantar peti.” Ia terdiam lagi. Lalu melanjutkan dengan suara lirih. “Kadang disuruh mengambil sesuatu. Kadang menyewa gudang atas nama orang lain.” Louis mendekat karena mulai tertarik. “Kadang
Last Updated: 2026-07-06