Chapter: Istriku Tidak Akan Kemana-ManaAlize tersengat kekhawatiran saat memikirkan Mirelle dalam pelariannya. Siapa orang yang membawanya pergi? Apakah dia akan membawa Mirelle pergi jauh, atau malah mencelakainya? Ia bergidik. Pengakuan Mirelle atas kesalahannya tidak membuatnya ingin bersikap kejam kepada gadis itu, justru membuatnya semakin cemas hari ke hari. “Kita pulang.” Corentine menyentuh bahunya dengan lembut. “Sudah jelas dia tidak ada lagi di sini.” “Mungkin dia bersembunyi tidak jauh dari sini?” bisik Alize. “Dengan tim pencari sebanyak ini dia pasti segera ketahuan sejak tadi, Alize.” Alize mendesah risau. “Bolehkah aku memanggilnya? Siapa tahu dia memang masih di sini dan mendengarku?” Corentine menatapnya sebentar. “Baiklah,” jawabnya kemudian. Alize melangkah keluar dari gubuk itu. Membalikkan tubuhnya ke arah rerimbunan pohon di kegelapan. Menghela napas panjang, lalu mulai bicara dengan suara keras. “Mirelle! Ini aku. Alize, Duchess de Mably. Dengarkan aku. Kau tidak bisa terus lari dan
Dernière mise à jour: 2026-05-25
Chapter: Terlambat“Kami belum tahu, Yang Mulia,” ujar Tyron. “Salah satu kelompok pencari melapor telah menemukan sebuah gubuk tua di tengah hutan sebelah utara. Mereka melihat jejak baru di sekitar sana.” “Dan Mirelle ada di sana?” “Mereka tidak melihat siapa pun, Yang Mulia. Tetapi kami belum tahu, apakah Mirelle memang sudah pergi atau hanya bersembunyi sampai kami pergi.” Alize langsung berdiri. “Aku harus ke sana.” “Tidak.” Suara Corentine muncul nyaris bersamaan dengan kehadirannya. Pria itu baru saja masuk ke ruang duduk dengan mantel yang lembap, sementara hawa dingin dari luar ikut terbawa bersamanya. Wajahnya tampak lebih keras dari biasanya. Alize terperangah. “Baru saja Tyron bilang kau masih di luar.” “Aku menyusul, karena aku tahu kau pasti memaksa untuk ikut mencari.” “Tentu saja,” sahut Alize. “Aku tidak akan membiarkanmu masuk ke tengah hutan lagi malam-malam seperti ini.” “Corentine, mungkin Mirelle masih ada di sana, bersembunyi karena takut.” “Dan mungkin ses
Dernière mise à jour: 2026-05-24
Chapter: Darah di Hutan“Apakah itu darah?” bisiknya lirih. Troy segera menariknya ke sisinya dengan sikap protektif. “Belum tentu,” ujarnya, tapi dengan nada tidak yakin. “Tempat ini tidak jauh dari tempat ditemukannya mayat June,” ujar Lady Gwen. “Bukankah di sebelah sana adalah rawa itu? Terus terang aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memikirkan kemungkinan terburuk.” Alize mendongak ke arah Gwen dan melotot. “Jangan bicara yang tidak-tidak, Lady Gwen.” “Maaf, Duchess.” Gwen menunduk seolah menyesal. “Bukan berarti aku tidak khawatir. Namun, situasinya saat ini sangat…” “Kalau tidak tahu apa-apa sebaiknya diam saja,” potong Corentine. “Kau hanya akan membuat Duchess jadi kalut, Lady Gwen.” Wajah Gwen memerah karena ditegur terang-terangan seperti itu. Namun, sebentar kemudian wajahnya kembali tenang. “Maafkan aku, Yang Mulia Duke,” ujarnya dengan sopan kepada Corentine. “Aku lupa sejak dulu kau tidak suka diganggu kalau sedang berpikir.” Alize hampir memutar mata. Lady Gwen bahka
Dernière mise à jour: 2026-05-23
Chapter: Bros Bunga Lily“Kemungkinan besar Mirelle tidak pergi sendirian.” Kalimat Tyron terus terngiang di kepala Alize bahkan setelah pria itu pergi. Tanpa berpikir panjang, Alize mengetuk pintu. Corentine sedang berdiri membelakanginya, menatap nyala api di perapian. Dari belakang, tubuhnya yang tinggi berbahu lebar tampak tegang. Kedua tangannya di pinggang. Ia menoleh ketika Alize berdehem halus. “Alize.” Ia kelihatan senang melihat istrinya setelah hari yang panjang dan melelahkan. “Kalau kau mau bertanya soal makan malam, kurasa aku tidak bisa bergabung malam ini karena laporan-laporan yang harus kuperiksa…” “Aku datang bukan untuk itu,” sahut Alize. “Meskipun tentu saja kau akan membuat Bibi Julia gusar karena sudah dua kali melewatkan makan malam bersama padahal kau ada di rumah.” Corentine tersenyum samar. “Bibi Julia memang begitu.” Ia menatap Alize dengan penasaran. “Kalau begitu ada apa?” “Aku bertemu Tyron di depan tadi,” ujar Alize. “Dia bilang ada petunjuk bahwa Mirelle tidak pe
Dernière mise à jour: 2026-05-23
Chapter: Sapu Tangan dengan Huruf M“Huruf M…” Wajah Alize memucat. Sementara wajah Corentine lebih tenang. Ia memperhatikan benda itu, membolak-baliknya di tangan. “Di mana benda ini ditemukan?” tanyanya kepada Tyron. “Di perbatasan hutan dan sungai, Yang Mulia. Tidak terlalu jauh dari jalan setapak di belakang kastil.” Corentine menoleh kepada Alize. “Apakah ini sapu tangan Mirelle?” Alize memperhatikan benda itu sekali lagi, lalu menggeleng. “Aku tidak tahu,” ujarnya lirih. “Aku tidak pernah melihatnya memakai sapu tangan. Tapi…” Ia memperhatikan lagi sapu tangan itu. “Mirelle memang suka menandai barang miliknya dengan inisial namanya sejak dulu. Dan warna biru tua… dia bilang adalah warna keberuntungannya.” Sapu tangan itu diserahkan kembali kepada Tyron. “Simpan sebagai petunjuk,” ujar Corentine. “Lanjutkan pencarian. Temukan dia hidup-hidup. Itu permintaan Duchess.” Tyron mengangguk hormat, matanya menatap Alize sebentar dan mengangguk lagi. “Baik, Yang Mulia.” Alize terhuyung ketika Tyron meningg
Dernière mise à jour: 2026-05-22
Chapter: Temukan Hidup-HidupKastil de Mably berubah seperti benteng perang dalam semalam. Alize baru benar-benar menyadarinya keesokan paginya. Koridor bergema oleh langkah cepat para pengawal. Pesan dibawa keluar masuk tanpa henti. Kuda-kuda dikirim ke berbagai arah bahkan sebelum matahari sepenuhnya terbit. Dan di tengah semua itu, Corentine bergerak seperti seseorang yang sudah sangat terbiasa memburu manusia. Itulah bagian yang paling membuat Alize merinding. Karena suaminya tidak tampak panik, tidak emosional, bahkan tidak kehilangan kendali. Justru sebaliknya. Semakin serius situasinya, Corentine malah terlihat semakin tenang. Alize berdiri di balkon lantai dua ketika melihat beberapa pengawal berkuda meninggalkan kastil dengan lambang beruang perak keluarga de Mably berkibar di mantel mereka. Tyron sedang memberi instruksi di halaman utama sementara beberapa prajurit lain membawa peta wilayah. “Mereka menuju gerbang timur,” ujar Lady Gwen yang berdiri di sebelah Alize. Alize mengernyit k
Dernière mise à jour: 2026-05-22
Chapter: 9. Pertemuan KeluargaPintu aula utama di Kastel Emberfall terbuka. Langkah-langkah kaki bergema di lantai marmer yang luas, menghentikan gumam dan bisik-bisik semua orang. Evander masuk lebih dulu. Bahunya tegak, ekspresinya tegas dan serius. Ia tidak mengedarkan pandangan ke semua orang yang menunggunya sedari tadi―keluarga Vane. Mereka duduk di masing-masing sisi. Wajah-wajah itu tampak gusar dan tidak sabar. Cecilie berjalan satu langkah di belakangnya tanpa ragu. Evander lalu memperlambat langkahnya, memberi isyarat dengan melirik lengannya. Cecilie menyelipkan lengannya di lengan Evander, dan mereka berjalan berdampingan menuju ke tempat duduk utama di tengah aula. Hari itu, penampilan Cecilie sederhana. Namun sepertinya sia-sia karena semua mata tetap tertuju padanya. “Itu benar-benar Lady Cecilie…” “Sekarang dia Grand Duchess Silveron.” “Bagaimana mungkin Grand Duke memilih wanita yang sebelumnya bertunangan dengan Putra Mahkota?” “Apa sejak awal memang ada hubungan di antara mereka?” “Ti
Dernière mise à jour: 2026-05-22
Chapter: 8. Belum TerbiasaMalam turun di atas pegunungan Silveron, membungkus Kastel Emberfall dalam kabut tipis dan cahaya lampu yang berkilau samar di kejauhan.Suaminya… belum kembali. Evander langsung pergi lagi setelah membawa Cecilie ke kastel. Di dalam ruangan itu, ia sekarang sendirian, merenungkan kembali perubahan takdirnya yang tak terduga.Seharusnya ia menjadi istri Sylas Vane, putra mahkota Valestrine. Namun tak ada yang menyangka justru ia menjadi istri dari paman mantan tunangannya sendiri.Ada rasa bersalah dalam hatinya saat teringat keluarganya tadi siang. Pernikahan ini pasti mengejutkan bagi mereka karena Cecilie sama sekali tidak memberitahu rencananya.Cecilie tidak tahu berapa lama ia termenung sampai sebuah suara rendah tiba-tiba terdengar di dekatnya.“Apakah kau mulai menyesali pernikahan kita?”Ia tersentak dan menoleh. Evander berdiri tidak jauh darinya, entah sejak kapan pria itu masuk tanpa ia sadari. Pria itu masih mengenakan pakaian formalnya, mantel gelapnya tidak dikancingk
Dernière mise à jour: 2026-05-22
Chapter: 7. Di depan AltarHening yang pecah di dalam kuil segera berubah menjadi kegaduhan kecil. Viscountess Argenton menutup mulutnya dengan tangan gemetar. Sementara Viscount Argenton membeku di tempat duduknya. Namun reaksi paling cepat datang dari Lucian. “Apa maksud semua ini?” Suaranya rendah namun tajam saat ia melangkah cepat menuju altar. Tangannya langsung menangkap pergelangan tangan Cecilie sebelum upacara benar-benar dimulai. “Cecilie, apa yang sebenarnya terjadi?” “Apa maksud Kakak?” Cecilie balas menatapnya dengan tenang. “Mempelai priaku sudah datang. Jadi upacaranya bisa dilanjutkan.” Lucian mengeraskan rahangnya. “Tapi mempelai priamu seharusnya...” Cecilie menggenggam tangan kakaknya perlahan, menghentikan kalimat itu sebelum selesai. “Kakak.” Suaranya melembut. “Percayalah padaku.” Tatapannya tidak goyah sedikit pun. “Semua ini memang sudah sesuai rencanaku.” Lucian menatapnya dengan sorot tajam. “Cecilie, ini bukan sesuatu yang bisa kau putuskan sesukamu...”
Dernière mise à jour: 2026-05-21
Chapter: 6. Apakah Ini Nyata?“Sudah lewat waktu pemberkatan…” “Apa Putra Mahkota kali ini akan datang?” “Jangan-jangan… Yang Mulia Putra Mahkota membatalkan pernikahannya lagi.” Bisikan-bisikan itu menjalar dari satu baris ke baris lain, pelan tapi pasti, seperti api kecil di atas jerami. Para tamu telah duduk rapi di bangku panjang Kuil Suci Viscounty Argenton sejak berjam-jam yang lalu. Perhatian mereka tertuju pada pintu masuk, berharap akan segera melihat sosok mempelai pria melewati ambang pintu. Harapan yang, untuk ketiga kalinya, tampak sia-sia. Di depan altar, Lady Cecilie Callais berdiri sendirian. Gaun pengantinnya menjuntai lembut di lantai marmer. Jemarinya menggenggam ringan buket bunga lily di depan dadanya. Yang membuat para tamu saling bertukar pandang bukan hanya ketidakhadiran mempelai pria. Melainkan wajah sang mempelai wanita. Tidak ada kepanikan. Tidak ada air mata. Tidak ada getaran di bibir yang biasanya mendahului tangis. Lady Cecilie berdiri di depan altar yang koson
Dernière mise à jour: 2026-05-21
Chapter: 5. Yang Mulia, Tolong PertimbangkanSehari sebelum upacara di Kuil Suci, Astoria tampak lebih sibuk dari biasanya. Rangkaian lili putih diletakkan di setiap sudut lorong, asap lilin aromatik menguar tipis dari setiap ruangan, pita-pita sutra direntangkan pelayan dari satu pilar ke pilar berikutnya. Sejak tadi Cecilie duduk diam di ruang santai yang luas, tangannya terlipat rapi di atas pangkuannya. Di hadapannya, Floria duduk dengan kotak perhiasan terbuka di antara mereka. Ia membolak-balik isi kotak itu dengan santai. “Gaun pengantinmu akan tampak jauh lebih sempurna dengan kalung ini, Lady Callais,” ujarnya. Ia mengangkat seuntai kalung berlian, memiringkannya perlahan agar cahaya jendela memantul di setiap sisinya. Kilauannya begitu terang. “Kakakku ingin memastikan kau menjadi pengantin paling cantik besok,” lanjutnya, senyumnya tetap manis. Di dekat perapian, Sylas mengangguk. “Tentu saja. Besok adalah hari besar, Cecilie. Aku ingin memastikan tidak ada satu pun kendala yang akan merusak upacara pernik
Dernière mise à jour: 2026-05-21
Chapter: 4. Aku Tahu PermainanmuAula utama Astoria malam itu dipenuhi aroma parfum dari tubuh-tubuh yang berdesakan. Musik orkestra mengalun mengisi udara. Cecilie berdiri di sudut ruangan dengan segelas minuman yang belum diteguk. Gaun pesta biru pucat yang pagi tadi tampak cantik di depan cermin kini terasa berat seperti menarik bahunya ke bawah. Ini adalah malam jamuan formal terakhir sebelum upacara di Kuil Suci. Di pusat kerumunan, Sylas berdiri dengan segelas anggur di tangan dan senyum yang tidak benar-benar sampai ke matanya. Ia terlihat gagah seperti biasa. Namun tangannya tidak di pinggang Cecilie seperti yang seharusnya. Pria itu berdiri di dekat Floria. Terlalu dekat dengan adik tirinya, yang malam itu mengenakan gaun sutra putih. Gaun itu membuatnya tampak cantik dan rapuh, sehingga beberapa bangsawan di sekitarnya menyapanya dengan lembut dan antusias. Cecilie baru saja mengalihkan pandangannya, tetapi Sylas terlanjur memergokinya. “Cecilie.” Suara itu memecah kebisingan, menarik perhat
Dernière mise à jour: 2026-05-21