로그인Sejak ayah Boby meninggal dunia, ayah Nayla menerima Boby sebagai muridnya dan membimbingnya belajar teknologi.Ayah Boby sendiri adalah seorang insinyur ulung.Dia mewarisi gen baik dari ayahnya dan memiliki bakat luar biasa dalam bidang penelitian dan pengembangan teknologi, dapat belajar dengan sangat cepat.Ayah Nayla melihat potensi dalam diri Boby dan mengirimnya kuliah ke luar negeri, menanggung semua biayanya.Bagi Boby, ayah Nayla bukan hanya guru, tetapi juga seperti ayah.Oleh karena itu, ketika Nayla membutuhkan bantuannya, dia pulang dari luar negeri tanpa ragu untuk membantunya membangkitkan kembali penelitian Grup Tanu.Satu setengah jam kemudian, mereka akhirnya tiba di kediaman Keluarga Landa.Tempat ini terletak di bagian utara kota. Begitu mereka memasuki halaman, orang-orang di dalam mendengar suara kedatangan mereka. Seorang wanita tua berambut putih berjalan keluar tak lama kemudian."Tuan Muda?"Wanita yang tampak berusia sekitar 70 tahun itu awalnya terkejut mel
Pak Yoga bangkit berdiri dan berjalan menuju brankas, mengambil kotak kayu dengan kode yang telah disiapkan sebelumnya, lalu kembali ke hadapannya dan menyerahkannya."Semuanya ada di sini. Pak Boby, hari ini di hadapan pengacara, seluruh proses penyerahan telah dilakukan secara sah dan sesuai aturan. Kalau Pak Boby nggak ada pertanyaan lain, proses penyerahan ini secara resmi selesai.""Baik.""..."Boby menemukan tempat untuk duduk bersama Nayla dan membuka kotak kayu yang terkunci.Di dalam kotak kayu itu, selain sebuah surat tulisan tangan yang ditinggalkan ayahnya, terdapat juga sebuah kunci.Semua ini seolah menyeretnya kembali ke 18 tahun yang lalu.Delapan belas tahun yang lalu, Boby baru berusia 12 tahun.Saat itu, ayahnya menderita kanker stadium akhir. Menyadari bahwa kondisinya sudah tidak bisa diselamatkan, dia menulis sebuah surat untuk Boby.Dalam surat itu tertulis.[Anakku, Boby, semoga semuanya baik-baik saja saat kamu menerima surat ini.Saat kamu membaca surat ini,
"Nggak apa-apa."Boby ingin berkata sesuatu, tiba-tiba teleponnya berdering. Setelah mendengar yang dikatakan orang di sana, raut wajahnya menjadi serius."Oke, saya ke sana sekarang."Setelah menutup telepon, Boby mengangguk sopan kepada Amanda. "Nona Amanda, aku ada urusan mendadak. Mau kuantar pulang?""Nggak usah, terima kasih. Aku bawa mobil.""Ya sudah, sampai jumpa lagi.""Sampai jumpa."Amanda memandangi Boby masuk ke dalam sebuah Porsche hitam, lalu mobil itu melaju menjauh dari pandangannya.Setelah mengalihkan pandangannya, Amanda masuk kembali ke mobilnya, dan menerima telepon dari Mario."Urusan di kantor polisi sudah selesai?"Mario baru menyelesaikan sebuah operasi dan langsung meneleponnya.Sejak tadi malam, dia sudah tahu bahwa Amanda akan pergi ke kantor polisi. Sayangnya, dia ada jadwal operasi pagi-pagi, sehingga tidak bisa menemaninya.Amanda mengemudikan mobilnya keluar dari kantor polisi. "Ya, sudah beres."Sunny dan keluarganya baru dibebaskan setelah dia pergi.
Simon berjalan mengitari meja dan menghampiri Nayla, bibir tipisnya yang indah sedikit terangkat dengan senyuman tipis."Jadi, yang membuatmu keberatan itu karena dia nggak pernah memberitahumu soal ini, atau karena dia kerja sama dengan Soni?"Nayla merenung sejenak. "Dua-duanya."Simon mengangkat tangannya dan mengelus kepala Nayla. "Kamu bisa memisahkan kedua hal itu. Coba lihat dia sebagai pebisnis dulu, baru kemudian sebagai teman. Mungkin pemikiranmu bisa berbeda?"Nayla mengerti maksudnya. Di mata orang lain, sikapnya saat ini mungkin tampak terlalu dipengaruhi emosi.Orang bilang, dunia bisnis adalah tempat keuntungan dan ketenaran menjadi prioritas utama.Jika Friska bukan temannya, melainkan hanya seorang pebisnis yang mendapatkan keuntungannya dengan biaya serendah mungkin, sementara pihak lain juga mendapat keuntungan, maka itu adalah situasi yang saling menguntungkan.Secara profesional, Friska tidak salah.Secara pribadi, Nayla merasa dikhianati."Simon ...."Nayla mendor
Soni mengangkat alisnya. "Bu Friska curiga padaku?"Friska mengakui, dia tidak ingin Soni melakukan sesuatu di belakangnya."Pak Soni, aku nggak mau menebak-nebak. Katakan saja, ya atau nggak." Nada suara Friska semakin keras.Melihat raut wajahnya yang serius, Soni berhenti menggoda."Bu Friska, aku nggak akan main-main dengan kerja sama kita. Karena kamu percaya padaku sejak awal, aku nggak akan mengecewakanmu."Friska menatapnya dengan menyelidik. Mengingat karakter Soni, memang tidak ada alasan baginya untuk berbohong."Ya sudah."Friska meneguk minumannya, lalu berbalik meletakkan gelasnya dan langsung berjalan keluar."Kenapa buru-buru?"Suara Soni terdengar dari belakangnya, tapi dia tidak menoleh."Laki-laki dan perempuan berduaan saja bisa menimbulkan salah paham."Setelah mengatakan itu, dia meninggalkan kamar suite itu secepat mungkin, jantungnya berdebar kencang saat dia menutup pintu.Setelah menutup pintu, dia samar-samar mendengar Soni bercanda, "Takut pacarmu salah paha
Empat puluh menit kemudian, mereka duduk di sebuah restoran makanan Barat, tepat di dekat jendela.Dari lantai dua, terlihat jalanan yang ramai.Saat ini sedang jam pulang kerja. Orang-orang berlalu-lalang, dan restoran hampir penuh.Keramaian di luar membuat raut wajah Nayla tampak sangat serius."Nayla, bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?"Friska memulai dengan pertanyaan perhatian, tetapi Nayla tidak ingin bertele-tele."Aku baik-baik saja, tapi ada sesuatu yang membuatku bingung.""Apa?"Jantung Friska seketika berdebar kencang.Nayla memegang gelas air di depannya, menata pikirannya sejenak, baru kemudian menatap Friska di seberangnya dan berbicara."Kak Friska, sejak kapan kamu mulai berhubungan dengan Soni?"Raut wajah Friska tampak jauh lebih rileks, seolah sudah menanti pertanyaan itu.Dia tersenyum tipis. "Kamu sudah tahu?"Hati Nayla terasa tenggelam. Dia sudah membayangkan berbagai kemungkinan, tetapi tidak menyangka Friska langsung mengakuinya."Soni bisa tahu persis apa ya







