LOGINDi lorong Rumah Sakit Internasional Hilstown yang lengang, Alres berdiri bersandar pada dinding dingin di depan ruang perawatan VIP. Pakaiannya yang sempat basah kini berganti kemeja kering yang dibawakan asistennya.Pikirannya melayang jauh kembali ke area kolam renang tadi. Suara tenang Alena dan sindirannya yang menohok tentang insiden danau bertahun-tahun lalu terus berputar-putar di kepalanya bagaikan gema. “Aku melihat kamu sama sekali tidak bisa berenang sampai hampir tenggelam. Bukankah itu aneh?"Alres memijat pelipisnya yang berdenyut. Keraguan sempat menyusup ke dadanya saat melihat Keira kepakan tangan dan tenggelam begitu mudah. Namun, alasan yang diberikan Keira—soal kram mendadak akibat dingin dan trauma mendalam semenjak menyelamatkannya dulu—terdengar sangat masuk akal bagi Alres.Lagipula, Alres tidak punya alasan untuk meragukan Keira; bukti yang dimiliki wanita itu sewaktu menyelamatkannya puluhan tahun lalu terlalu kuat untuk disanggah. Hanya saja, instingnya teta
Tanpa mengulurkan waktu, Regan memberi isyarat tegas pada kepala keamanan. Layar monitor besar di sudut lorong aula yang terhubung langsung dengan sistem keamanan pusat seketika menampilkan rekaman CCTV dari area kolam renang. Para tamu undangan membendung area tersebut, menatap layar dengan rasa penasaran yang memuncak.Video diputar dalam kecepatan normal lalu diperlambat tepat di detik-detik krusial.Di layar itu, terlihat jelas Alena sedang berbalik hendak melangkah pergi. Namun dari arah belakang, Shanon melesat maju dengan kedua tangan terulur penuh dorongan ganas. Di saat yang hampir bersamaan, Keira juga bergerak agresif menghampiri Alena dari sudut berbeda. Namun, gerakan refleks Alena yang gesit berkelit membuat dorongan kuat Shanon menghantam tubuh Keira. Keira yang hilang pijakan panik dan secara refleks mencengkeram baju Shanon, menarik mereka berdua jatuh berbarengan ke dalam kolam.Kenyataan pahit itu terpampang nyata di depan mata puluhan pasang mata kolega kelas atas.
Sosok yang tercebur ke dalam dinginnya air kolam ternyata adalah Keira. Kejadian itu berlangsung sangat cepat. Shanon yang berniat mendorong Alena agar terjatuh berharap Keira yang nantinya disalahkan.Di saat bersamaan, Keira juga berniat jahat melesat maju untuk mendorong Alena dengan skenario yang sama—agar Shanon yang memikul kesalahannya jika Alena tercebur. Namun, Alena yang sempat hilang keseimbangan secara refleks berkelit menghindar.Dorongan keras Shanon yang salah sasaran justru menghantam tubuh Keira tepat di tepi kolam. Keira yang hilang pijakan panik luar biasa. Dalam detik-detik sebelum tubuhnya membentur air, jemari Keira sempat menyambar dan mencengkeram lengan Shanon kuat-kuat, menarik wanita muda itu ikut jatuh bersamanya.BYURRR!Alena mundur dua langkah, bernapas lega meski jantungnya berdegup kencang. Ia berdiri utuh dan baik-baik saja di tepi kolam.Tak lama kemudian, Shanon memunculkan kepalanya ke permukaan. Karena bisa berenang, ia segera bergerak menyandarka
Gedung pertemuan termewah di pusat kota malam itu disulap menjadi tempat perayaan ulang tahun Regantara Corporation yang sangat megah. Lampu-lampu kristal menggantung tinggi, memancarkan pendar keemasan yang menerangi jajaran kolega bisnis papan atas dan petinggi perusahaan.Di antara deretan tamu undangan, tampak Alres berjalan berdampingan dengan Keira. Awalnya Alres enggan membawa wanita itu setelah semua konflik yang terjadi, tetapi Keira terus merajuk dan memaksa hingga Alres tak punya pilihan selain menuruti kemauannya.Suasana aula utama mendadak riuh saat pintu utama terbuka lebar. Regan melangkah masuk dengan aura kepemimpinan yang begitu kuat. Di sisi kanannya, Alena tampil sangat anggun mendampinginya, sementara Shanon berada di sisi kirinya dengan gaun mewah.Pemandangan tersebut seketika mengundang bisik-bisik dan pertanyaan dari para tamu. Walau sebagian besar kolega mengenali sosok Alena, keberadaan wanita muda di sisi kiri Regan memicu spekulasi baru tentang posisi ked
Regan yang tadinya baru saja berbalik melangkah, kembali menghentikan kakinya. Ia menoleh dan menunggu Alena melanjutkan ucapannya."Aku ingin bertanya ...." Alena menatap Regan ragu sejenak. "Apakah kamu yang membantuku menghapus postingan-postingan jelek tentangku di internet?"Regan sempat terdiam sebentar, lalu mengangguk pelan tanpa berniat menutupi."Terima kasih, Regan," ucap Alena tulus, menyunggingkan senyum lega."Sudah seharusnya aku melindungimu, Alena," sahut Regan dengan suara berat dan hangat.Alena mendadak lidahnya kelu, tidak tahu harus membalas apa. Namun, rasa penasaran yang terendam sejak lama membuat sebuah ingatan lain melintas di benaknya. "Lalu ... siapa sebenarnya yang menyebarkan berita bohong itu?""Berita itu berasal dari media MND," terang Regan tenang. "Saat timku menginterogasi penulis artikelnya, dia mengaku dibayar oleh seseorang."Alena mengembuskan napas panjang, mendadak firasatnya menunjuk ke satu nama yang sangat akrab. "Apakah orang itu ... Keir
Alena masih membeku saat tatapan menuntut Shanon makin menghimpitnya. Namun, sebelum sepatah kata pun keluar dari mulut Alena, jemari hangat Regan bergerak melingkupi pergelangan tangannya di atas meja, menggenggamnya erat dan penuh perlindungan."Kamu tidak perlu tahu kado apa yang Alena berikan untukku," pangkas Regan tenang namun penuh penekanan, menatap Shanon lurus. "Apa pun yang Alena berikan, selalu jadi hal yang paling berharga buatku."Alena mengembuskan napas lega yang tak bersuara. Genggaman tangan Regan tidak hanya membungkam Shanon, tetapi juga berhasil menyelamatkannya dari situasi yang makin menyudutkan.Shanon mengerutkan bibir kesal. Sepanjang makan malam berlangsung, wanita itu terus-menerus melayangkan sindiran tajam dan mencari celah untuk menjatuhkan Alena, meski Regan selalu pasang badan dengan tangkapan reaksi yang dingin.Di tengah suasana tegang itu, ponsel Regan berdering di atas meja. Nama Miranti—maminya—tertera di layar. Regan menggeser tombol hijau dan me







