Mag-log in"Tidak mungkin!" suara cempreng Shanon menggema, memecah ketenangan restoran dan menarik perhatian beberapa pengunjung di sekitar mereka. Gadis itu berdiri, menatap Regan dengan sorot mata tak percaya campur aduk kemarahan."Kak Regan, jangan berbohong! Mana mungkin wanita ini calon kakak iparku? Jelas-jelas Mami akan menjodohkan kita!" tegas Shanon menyuarakan protesnya.Regan tetap duduk tenang tanpa sedikit pun raut goyah di wajahnya. “Shanon, aku bilang jangan bersikap kurang ajar.”Shanon tidak peduli, ia tetap menatap sinis pada Alena.Sementara itu, Alena mengernyit. Di dalam hatinya timbul berbagai pertanyaan. Mami? Siapa yang dimaksud mami oleh gadis ini? Dan sebenarnya siapa gadis yang bersikap sangat protektif pada Regan ini?Melihat bauran keheranan dan keraguan di mata Alena, Regan segera memecah kecanggungan. Ia menatap Alena lembut lalu mengarahkan pandangannya pada Shanon."Alena, perkenalkan. Dia ini Shanon ... adik angkatku. Maafkan atas ketidaksopanannya."Alena men
Langkah kaki Alres terasa berat saat menyusuri koridor rumah sakit yang dingin dan beraroma antiseptik tajam. Di dalam ruangan bernomor 14, ia berdiri mematung di balik kaca jendela steril, memperhatikan tubuh Keira yang terbaring lemah dengan selang oksigen menempel di hidungnya.Melihat sosok Keira di atas ranjang tidur itu, kata-kata Alena di ruang kerjanya tadi mendadak berputar kembali di kepala Alres seperti pita kaset rusak.“Kamu mengatakan kamu mencintaiku, tetapi kamu tidak sadar jika sampai detik ini, kamu tidak pernah berada di pihakku.”Dada Alres berdenyut nyeri. Ia tersadar, Alena sama sekali tidak salah. Setiap kali Keira berada dalam situasi kritis atau membutuhkan pertolongan, Alres akan secara refleks menjatuhkan segalanya. Termasuk perasaan Alena, demi memprioritaskan wanita ini. Ia seolah terikat dan tidak pernah benar-benar bisa lepas dari bayang-bayang Keira.Namun, detik berikutnya Alres langsung menggelengkan kepala, berusaha menepis pikiran sesat itu dari ben
Mobil Alres melaju kencang meninggalkan area parkir, menyisakan debu dan desingan mesin yang samar-samar menghilang. Alena berdiri diam di lobi Arta Group, memperhatikan keributan kecil yang baru saja terjadi di sana.Beberapa saat lalu, Alres terlihat tergesa-gesa menggotong Keira yang tampak lemah tak berdaya. Di belakangnya, Angel, Kevin, dan Dion menyusul dengan raut wajah yang diliputi kecemasan luar biasa.Alena sempat menangkap selentingan suara Angel yang panik, menyebutkan bahwa penyakit pneumonia Keira mendadak kambuh.“Apa yang terjadi pada Keira?” tanya Dion.“Aku juga tidak tahu, tiba-tiba Keira merasa sesak napas dan tiba-tiba pingsan,” jawab Angel. “Sepertinya pneumonianya kambuh.” Lanjutnya.Konon, penyakit itu diderita Keira sejak ia nekat menyelamatkan seseorang dari bahaya tenggelam bertahun-tahun lalu—alasan klasik yang selalu berhasil melunakkan hati Alres dan orang-orang di sekitarnya.Alena sudah menebaknya. Pasti alasan itu yang benar-benar membuat Alres terika
Rapat akhirnya berakhir setelah berlangsung cukup lama. Namun, pengakuan Alena sebagai Lovely tidak serta-merta membuat semua orang percaya.Beberapa pemegang saham terlihat masih membicarakannya dengan serius. Ada yang mulai menghubungkan penjelasan Alena dengan bukti-bukti yang muncul pada pameran kemarin. Namun, ada pula yang menganggap pengakuan itu hanya cara Alena mempertahankan posisinya di Arta Group.Alena tidak terlalu memedulikannya. Ia tidak membutuhkan semua orang untuk langsung mempercayainya.Untuk saat ini, ada hal yang jauh lebih penting. Arta Group harus kembali stabil. Sebagai pemegang saham terbesar, Alena tidak mungkin hanya berdiri dan menyaksikan perusahaan mengalami kerugian karena masalah yang disebabkan oleh Keira.Setelah memastikan beberapa laporan perusahaan sudah diterima Mira, Alena langsung menuju ruang kerja Alres. Ia mengetuk pintu.“Masuk.”Alena membuka pintu dan masuk. Alres sedang berdiri di dekat jendela. Beberapa dokumen berada di atas meja, tet
Keesokan paginya, aktivitas di Arta Group berjalan seperti biasa. Namun, suasana di dalam gedung perusahaan terasa berbeda.Berita mengenai pameran Lovely yang berakhir kacau sudah menyebar sejak malam sebelumnya. Nama Keira menjadi bahan pembicaraan di berbagai media, sementara harga saham Arta Group ikut terdampak setelah muncul keraguan terhadap salah satu sosok yang selama ini menjadi wajah penting perusahaan.Alena tetap datang seperti biasa. Ia memasuki ruang kerjanya, memeriksa beberapa laporan yang dikirim Mira, lalu mulai mengerjakan dokumen yang tertunda sejak kemarin. Tidak ada yang perlu ia lakukan untuk menjelaskan apa yang terjadi.Bagi Alena, kebenaran sudah mulai terbuka. Namun, ternyata perusahaan memiliki pandangan berbeda.Sekitar satu jam setelah ia tiba, Mira mengetuk pintu ruangannya. “Bu Alena, rapat pemegang saham akan dimulai lima belas menit lagi.”Alena mengangkat wajah dari dokumen di tangannya. “Rapat mendadak?”Mira mengangguk. “Katanya ada beberapa pemeg
“Keira, jangan katakan kepadaku bahwa selama ini kamu juga berbohong tentang Drive itu.”Keira menatap Alres dengan wajah pucat. Beberapa detik berlalu tanpa jawaban.Alres memperhatikan perubahan ekspresinya. Tidak ada bantahan. Tidak ada kemarahan seperti biasanya ketika Keira merasa dituduh. Hanya diam.Dan diam itu justru membuat kecurigaan Alres semakin besar. “Kamu menemukan Drive itu setelah kecelakaan, bukan?”Keira tersentak.Alres langsung menangkap reaksinya. “Jadi benar.” Alres mengingat, saat itu Pak Edward mengurus berkas kecelakaan dan mengatakan ada beberapa barang yang hilang, mungkinkah salah satunya Drive tersebut.“Tidak seperti yang kamu pikirkan.”“Kalau begitu, jelaskan.”Keira menggeleng pelan. “Aku hanya menemukannya.”“Di lokasi kecelakaan?” tanya Alres.Keira kembali diam. Ia benar-benar tidak ingin mengatakan hal yang sebenarnya.Alres mengembuskan napas panjang. “Jawab aku, Keira.”“Iya, benar ... aku menemukannya saat kecelakaan terjadi.” Jawaban itu kelu







