LOGINMalam di saat Alena keguguran, Alres meninggalkannya demi menjemput sahabat wanitanya yang baru kembali dari luar negeri. Pernikahan mereka telah berjalan lima tahun. Sejak dulu, tidak ada yang Alena inginkan lebih dari memiliki keluarga yang utuh dengan Alres. Namun, belakangan ia mengetahui jika Alres hanya menikahinya demi memenuhi balas budi. Bersama dengan janinnya yang tiada, cinta Alena pun luruh. Tanpa sepengetahuan Alres, ia menceraikan pria itu dan megabaikannya bahkan bertahun-tahun kemudian, saat pria itu kembali memohon cintanya.
View More“Begitu Keira pulang malam ini, aku akan mengurus perceraian dengan Alena.”
Langkah Alena Hartawan mendadak terhenti tepat di depan ruang meeting. Jantungnya berdetak pelan. Ia mengenal suara itu dengan baik, suara Alres, suaminya.
Alena baru saja sampai kantor suaminya. Sejak pagi, ia sangat bersemangat untuk bertemu Alres karena sudah beberapa hari mereka tidak berjumpa. Ia bahkan sampai bangun sebelum matahari terbit hanya untuk memasak makanan favorit Alres, sup ayam pedas.
Tapi, bukan rindu yang menjadi penyebab Alena ingin bertemu Alres. Karena dia sendiri sudah biasa ditinggal Alres berhari-hari saking sibuknya pria itu.
Penyebab kedatangannya hari ini adalah foto USG kecil yang juga ada di dalam tas tangannya. Tersimpan rapih di dalam amplop putih sebagai kejutan.
Alena tengah mengandung sekarang. Menurut dokter, usia kandungannya baru delapan minggu. Saat mendengarnya kemarin, Alena begitu senang bahkan buru-buru menelepon Alres untuk mengabari kabar bahagia tersebut.
Tapi, Alres tidak mengangkat telepon. Ia juga tidak pulang semalam. Pria itu hanya mengirimkan pesan singkat kalau kesibukannya membuatnya harus bermalam di luar rumah, sehingga Alena memutuskan untuk mengabarinya secara langsung hari ini.
Sepanjang perjalanan menuju kantor, ia membayangkan bagaimana reaksi Alres saat mengetahui dirinya akan menjadi seorang Ayah. Pria yang selama ini kaku dan dingin, akankah bereaksi bahagia? Bukankah kehadiran seorang anak mampu mengubah segalanya?
Alena berpegang teguh pada harapan kecil itu. Namun kini, semua harapan itu terasa seperti lelucon setelah dia mendengar ucapan Alres barusan.
Atau dia salah mendengarnya?
Gelak tawa dari ruang meeting kembali menyadarkan Alena. Ia kini menajamkan kupingnya untuk mendengar obrolan mereka lagi.
“Penantian lima tahun akhirnya selesai juga,” ucap seorang pria dengan kekehan kecil. Alena mengenal suara itu milik Dion, salah satu sahabat Alres. “Akhirnya kamu bisa bersama Keira lagi.”
Keira. Itu nama sahabat mereka dari kecil. Kenapa mereka membawanya ke dalam percakapan?
Tanpa sadar, jemari Alena mencengkeram paper bag semakin erat. Dadanya bergemuruh dengan perasaan was-was.
"Jujur aja, aku salut sama kamu, Res." Suara Dion kembali terdengar dari balik pintu. "Lima tahun tinggal serumah sama perempuan secantik Alena, tapi kamu masih setia menunggu Keira."
“Tentu saja, mana bisa Alres melupakan Keira? Memangnya kamu lupa, dia bahkan rela bolak-balik luar negeri selama lima tahun ini hanya untuk bertemu dengannya,” sahut Kevin, sahabat Alres lainnya yang juga dikenal Alena, sambil tertawa gelak lagi.
Alres berdeham keras, membuat kedua sahabatnya itu membungkam tawa mereka. Reaksi yang seolah mengatakan bahwa pria berwibawa itu sedikit terganggu oleh kelakar kedua temannya.
“Tidak usah malu-malu begitu. Semua orang tahu kalau kamu sangat cinta pada Keira,” imbuh Kevin.
Sesuatu di dalam diri Alena seolah runtuh begitu saja. Alres menyukai Keira? Dan pria itu selalu bertemu dengannya selama lima tahun ini?
Alena ingat kalau Alres selama ini memang suka bepergian keluar negeri. Tapi, pria itu selalu bilang kalau itu untuk urusan bisnis. Ia menyuruh Alena memakluminya ketika wanita itu protes karena Alres terlalu sering bepergian.
Siapa sangka ternyata dia melakukannya untuk bertemu dengan Keira?
Kepala Alena mendadak pening. Ia berharap salah mendengar ucapan sahabat-sahabat Alres itu, tapi ucapan mereka selanjutnya justru semakin membenarkan hal itu, membuat hati Alena semakin perih.
"Tapi, bagaimana kalau Alena nggak mau cerai?" tanya Dion.
Alena menajamkan kembali pendengarannya. Dalam hati, ia berharap pertanyaan itu akan memancing Alres untuk berpikir ulang lagi. Membuatnya ragu-ragu.
Tapi, Alres justru menjawabnya tanpa sedikit pun keraguan. “Dia harus mau. Itu bukan pilihan untuknya, tetapi hal yang sudah harus ia lakukan.”
“Lagipula, aku sudah cukup memenuhi permintaan Om dan Tante untuk menikah dengan Alena.”
Hati Alena mencelos mendengarnya. Tubuhnya melemas. Jadi, selama ini Alres hanya menganggap pernikahan mereka sebagai balas budi?
Sebelum menikah dengannya, Alres adalah seorang anak yatim piatu yang dibiayai oleh Edward Hartawan. Hal ini karena ayah Alena memiliki yayasan yang membiayai pendidikan anak-anak berprestasi dari panti asuhan.
Alres dimasukkan ke sekolah bergengsi yang sama dengan Alena. Dari situlah dia mengenal Alres dan jatuh cinta padanya.
Alres adalah anak yang cerdas dan ulet. Banyak prestasi yang dihasilkannya sehingga membuatnya menjadi kebanggaan sekolah dan hal itu membuat Edward begitu menyayanginya.
Didorong keinginannya untuk menjadikan Alres sebagai putranya, ia akhirnya menjodohkan sang pria dengan Alena. Alres menerimanya dengan cepat waktu itu dan Alena sama sekali tidak mencurigainya.
Hatinya hanya diliputi kesenangan karena berpikir cintanya bersambut. Nyatanya tidak, Alres hanya menganggapnya sebagai alat balas budi yang pada akhirnya akan diceraikan.
Padahal selama lima tahun ini, ia berusaha menjadi istri yang baik. Belajar memasak, mengurus rumah, dan memahami pria yang begitu sulit ditebak.
Ia bahkan rela meninggalkan kuliahnya agar bisa sepenuhnya mendampingi Alres membangun Arta Group, perusahaan yang dulu diberikan ayahnya sebagai modal awal bagi pria itu untuk memulai usahanya.
Tapi, semua usaha itu dibuang mentah-mentah begitu saja oleh Alres. Pria itu malah sibuk mengejar wanita lain.
Setelah beberapa saat, sahabat Alres yang lain, Rafael, menceletuk. ”Kamu benar-benar gila. Apa kamu tidak kasihan dengan Alena?”
Tidak ada jawaban dari Alres. Yang terdengar hanya suara kursi bergeser dari dalam ruangan. "Aku harus ke bandara sekarang," suara Alres kembali terdengar. "Pesawat Keira mendarat satu jam lagi."
Mendengar itu, Alena bergegas balik badan. Kakinya melangkah cepat dan panjang menuju lift.
Ia harus segera pergi dari sini. Dia tidak bisa membiarkan dirinya tertangkap Alres berada di kantornya atau pria itu bisa mencurigainya. Lagipula, sudah tidak ada gunanya juga dia di sini.
Di dalam lift, Alena mengelus pelan perutnya yang masih datar. Senyum pedih terukir di wajahnya.
"Maaf, Nak. Sepertinya ayahmu tidak menginginkan kita ..." Suara Alena nyaris tak terdengar. Setetes air mata jatuh ke pipinya disusul dengan isakan pelan yang menyesakkan lift itu.
Malam itu, meja makan yang biasanya sunyi dipenuhi percakapan. Keira bercerita tentang kehidupan di luar negeri, tentang rumah mode yang ia bangun dari nol hingga berhasil tampil di ajang mode internasional.Kevin dan Dion menanggapinya dengan heboh. Alres, yang biasanya lebih banyak diam, juga beberapa kali menanggapi cerita itu."Klien pertamaku benar-benar cerewet," keluh Keira sambil terkekeh kecil. "Aku kesal sekali melayani permintaannya yang macam-macam. Waktu itu, aku sedikit menyesal menerima klien dari kenalan Alres.""Kalau bukan karena dia, rumah modemu tidak sebesar ini," balas Alres. Meski terdengar datar, semua orang tahu kalau Alres bukan tipe pria yang suka menanggapi obrolan kecil.Ia bisa bersikap seperti ini di depan Keira, membuktikan seberapa besar kedekatan mereka.Keira tertawa. "Dasar. Aku cuma curhat. Masih saja suka menyindir."Alena mengaduk sup ayam di depannya yang dari tadi tidak tersentuh. Ia juga duduk di sebelah Alres, tapi pria itu terlalu fokus deng
Langit mulai menggelap ketika mobil Alena memasuki halaman rumahnya.Pertemuan dengan Pak Adrian menguras lebih banyak tenaga daripada yang ia bayangkan. Bukan karena pembicaraan mereka berlangsung lama, melainkan karena hari ini ia benar-benar mengucapkan keputusan yang selama lima tahun tak pernah berani ia pikirkan.Bercerai. Kata itu masih terasa asing di telinganya.Alena baru saja melangkah memasuki rumah ketika aroma berbagai masakan memenuhi indra penciumannya.Ia berhenti. Pandangannya beralih ke arah ruang makan. Meja makan yang biasanya hanya diisi tiga atau empat hidangan kini dipenuhi berbagai menu yang tampak asing, bukan kesukaannya maupun Alres.Alena mengernyit. "Bik Isa."Perempuan paruh baya yang sedang menata piring langsung menoleh. "Iya, Non?""Ada acara apa?"Bik Isa tersenyum. "Pak Alres bilang malam ini ada tamu penting.""Tamu?""Iya, Non."Belum sempat Alena bertanya lagi, suara langkah kaki terdengar dari lantai dua. Alena mendongak.Seorang perempuan berga
Alena menginap tiga malam di rumah sakit. Selama itu, Alres tidak pernah menemuinya atau bahkan menghubunginya.Di hari keempat, dokter mengizinkannya pulang setelah memastikan kondisinya mulai stabil. Tapi, Alres masih belum muncul."Jangan terlalu banyak beraktivitas dulu, Bu Alena," pesan dokter sebelum meninggalkan ruang perawatan. "Yang paling penting sekarang adalah memulihkan kondisi fisik dan menghindari stres."Alena hanya mengangguk pelan. Entah bagaimana bisa menghindari stres. Seandainya rasa sakit di dalam hatinya bisa diobati semudah meminum obat.Bella datang menjemputnya. Setelah beberapa saat di perjalanan, mobil Bella akhirnya berhenti di halaman rumah Alena tepat menjelang siang.Beberapa asisten rumah tangga segera menyambut kedatangan mereka. Wajah mereka tampak terkejut melihat kondisi majikan mudanya yang masih pucat."Aku tidak apa-apa," jawab Alena sambil tersenyum tipis. "Hanya sedikit kurang enak badan."Bella membantu Alena masuk hingga ke ruang tamu. "Lena
Kelopak mata Alena perlahan terbuka, pandangannya disambut langit-langit putih dengan lampu yang menyilaukan. Aroma antiseptik yang khas segera memenuhi indra penciumannya, membuat kepalanya terasa berat."Alena ... kamu sudah sadar?" Suara itu terdengar begitu dekat.Alena menoleh perlahan. Di sisi ranjang, Bella duduk dengan mata sembap dan wajah penuh kecemasan. Jemarinya masih menggenggam erat tangan Alena, seolah takut sahabatnya itu kembali kehilangan kesadaran.Alena mengerjapkan mata beberapa kali, berusaha mengingat apa yang telah terjadi. Lalu, ingatannya kembali pada rasa nyeri yang luar biasa di rumah.Seketika kedua tangannya bergerak menuju perutnya. "Anakku ... bagaimana anakku?" tanyanya dengan suara serak.Tangannya meraba perut yang kini terasa begitu kosong. Napasnya mulai memburu."Bel ... bayiku baik-baik saja, kan?" Bella menggigit bibir bawahnya. Terlihat kesulitan untuk menjawab.Bertepatan dengan itu, pintu ruang perawatan terbuka. Seorang dokter bersama dua












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.