Beranda / Pendekar / Kebangkitan Dewa Pedang Abadi / Bab 32 - Lelang Sepuluh Tahun Sekali

Share

Bab 32 - Lelang Sepuluh Tahun Sekali

Penulis: Akaiy
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-30 17:47:52

“Lelang kultivator di Provinsi Hubei?”

Alis Lin Yi sedikit terangkat. Nama itu asing baginya, namun justru membuat minatnya langsung terpancing.

Melihat reaksinya, Rubah Merah segera menimpali, “Benar. Lelang ini hanya diadakan sekali dalam sepuluh tahun. Banyak kultivator bermimpi bisa masuk ke sana. Tiketnya sangat langka, aku sendiri harus menghabiskan banyak tenaga dan uang untuk mendapatkannya.”

Jantung Lin Yi berdebar pelan.

Perdagangan antar kultivator adalah hal yang wajar di dunia kultivasi.

Dan lelang semacam itu sangat cocok dengan kebutuhannya saat ini.

Ia membutuhkan satu ramuan langka Sepuluh Ribu Darah.

Karena ini adalah lelang besar, hampir pasti akan ada berbagai artefak, pil, ramuan, dan bahan langit- bumi yang sulit ditemukan di luar. Bukan tidak mungkin, bahan yang ia cari muncul di sana.

Rubah Merah melanjutkan dengan nada penuh godaan, “Barang-barang di lelang itu hampir mustahil didapat secara normal. Selama kau punya cukup modal, apa pun bisa dibeli. Dan—”

Ia
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kebangkitan Dewa Pedang Abadi   Bab 80 - Nama yang Membuat Sang Master Lari

    Yang Jianjun? Begitu nama itu terdengar, ekspresi Lin Yi berubah menjadi aneh, bukan takut, bukan gugup, melainkan seperti seseorang yang baru saja mendengar lelucon lama yang basi. Bukankah itu guru tinju palsu yang dulu disewa Huang Xiang di Kota Xiang? Perubahan ekspresi sekilas itu justru disalahartikan. Cui Xiao, yang menangkap reaksi Lin Yi, langsung mengira lawannya akhirnya gentar. Dalam benaknya, seorang seniman bela diri mustahil tidak mengenal nama Yang Jianjun. Reputasi “master nomor satu Provinsi Hubei” memang bukan sekadar hiasan. Ia pun melangkah maju, dada membusung, wajah penuh kesombongan. “Kalau kau masih punya otak,” katanya dingin, “lepaskan saudaraku Yun sekarang juga.” “Maaf,” jawab Lin Yi santai. “Aku bukan orang yang cerdas.” Sambil berkata demikian, ia mengambil sebuah tusuk gigi, memainkannya di antara jari-jarinya, lalu menatap Cui Xiao

  • Kebangkitan Dewa Pedang Abadi   Bab 79 - Saat Keluarga Cui Turun ke Jalan

    Di jantung Kota Changyang, deru mesin terdengar memekakkan telinga. Deretan mobil van hitam melaju kencang, memaksa kendaraan lain menyingkir. Klakson bersahutan, namun tak satu pun pengemudi berani memaki. Sebab semua kendaraan itu memiliki ciri yang sama, plat nomor dengan awalan CUI. Di Changyang, awalan itu bukan sekadar identitas. Itu adalah simbol kekuasaan. Ketika keluarga Cui bergerak, jalanan pun harus tunduk. Sementara itu, di lantai atas sebuah gedung perkantoran, seorang pria paruh baya berdiri di balik jendela kaca besar, menatap arus kendaraan di bawah dengan wajah suram. “Sudah bertahun-tahun keluarga Cui tak bergerak sebesar ini,” gumamnya. “Apa yang sebenarnya terjadi?” Di belakangnya, seorang wanita duduk tenang di kursi kerja. Tubuhnya anggun dan berlekuk, namun sorot matanya kosong seolah semangat hidupnya telah lama padam.

  • Kebangkitan Dewa Pedang Abadi   Bab 78 - Satu Meja, Satu Vonis

    Ketika anak buah Cui Yun mengeluarkan pistol, Feng Xiao yang belum pernah melihat dunia kelam langsung membeku di tempat.Yang lain pun tak jauh berbeda. Jika bukan karena Tong Yao masih duduk di sana, mereka mungkin sudah melarikan diri sejak lama.Di hadapan keluarga Cui, satu kesalahan saja bisa berarti kehancuran total. Bahkan meninggalkan Tong Yao demi menyelamatkan diri sendiri terasa masuk akal.Namun tak seorang pun menduga bahwa di saat genting seperti ini. Lin Yi, yang sejak tadi nyaris tak bersuara dan sama sekali tidak mencolok, justru berdiri.Dan kata-kata pertamanya langsung membuat wajah semua orang pucat pasi.“Kakak Ketiga!” Xiang Dong menarik lengannya dengan panik, suaranya gemetar. “Apa kau sudah gila?!”Lin Yi mengabaikannya.Ia meletakkan gelas anggur dengan tenang, lalu berdiri. Di bawah tatapan tak percaya semua orang, ia mencengkeram kerah baju Cui Yun dan menariknya mendekat.

  • Kebangkitan Dewa Pedang Abadi   Bab 77 - Api di Balik Meja Hot Pot

    Melihat Tong Yao menggoda Lin Yi dengan begitu alami dan akrab, kakak tertua Xiang Dong serta kakak kedua Chen Xian nyaris melotot. Bahkan Feng Xiao, yang biasanya paling pendiam, tampak tercengang.Gadis tercantik di kampus berdiri tepat di hadapan mereka.Dan bukan sekadar berdir melainkan berdiri sangat dekat dengan Lin Yi.Astaga.Sebelumnya mereka mengira Lin Yi hanya membual, membesar-besarkan kisahnya sendiri. Namun kini kenyataan menampar wajah mereka tanpa ampun.Ia tidak sedang pamer. Ia memang luar biasa.Tak ada emosi lain yang mampu menggambarkan perasaan para penghuni kamar selain keterkejutan total.Terutama Chen Xian.Ia adalah orang yang dengan mata kepalanya sendiri menyaksikan Lin Yi terlibat situasi ambigu dengan seorang wanita cantik lain di kamar mandi. Dan sekarang— Lin Yi duduk santai, ditemani gadis tercantik di kampus yang bersikap manja tanpa sedikit pun rasa sungkan.

  • Kebangkitan Dewa Pedang Abadi   Bab 76 - Si Cantik

    Melihat perubahan ekspresi Lin Yi yang berlangsung bahkan lebih cepat daripada membalik halaman buku, Murong Xue benar-benar tercengang.Ke mana perginya penolakan tegas barusan? Ke mana harga diri seorang pria yang tadi begitu keras kepala?Begitu mendengar kata ramuan obat, semua itu seolah menguap begitu saja. Lin Yi berubah seketika tanpa ragu, tanpa malu seakan satu-satunya tujuan hidupnya kini hanyalah bergabung dengan Istana Hati Es.“…Memang,” gumam Murong Xue lirih, bibirnya yang indah sedikit berkedut, “para alkemis semuanya eksentrik.”Ia tidak benar-benar terkejut.Bagi seorang alkemis, ramuan obat sama pentingnya seperti air bagi manusia biasa. Tanpanya, banyak alkemis akan kehilangan akal sehat atau bahkan menjadi gila.“Kalau begitu,” kata Murong Xue akhirnya, suaranya kembali dingin, “ikut aku pulang ke Istana Hati Es sekarang.”“Tidak.”Jawaban Lin Yi keluar nyaris tanpa jeda.Ia b

  • Kebangkitan Dewa Pedang Abadi   Bab 75 - Kesepakatan di Antara Darah dan Es

    Di dalam toilet pria yang sunyi, Lin Yi dan kultivator wanita muda itu saling menatap tanpa sepatah kata pun. Keheningan terasa menekan, seolah udara pun ikut menahan napas.Pandangan wanita itu bergeser dari wajah Lin Yi, lalu turun ke lencana bintang tiga di tangannya. Matanya melebar, dipenuhi keterkejutan yang tak bisa ia sembunyikan.“Berikan padaku,” katanya dingin, nadanya mengandung perintah. “Biar kulihat.”Jelas, ia tidak percaya.Bagaimana mungkin ia percaya? Usia Lin Yi paling banter delapan belas atau sembilan belas tahun. Wajahnya masih muda, ekspresinya canggung, bahkan ada sedikit rasa malu ketika ia menggaruk kepala. Tidak ada satu pun aura yang cocok dengan gambaran Alkemis Tingkat Tiga sosok langka yang dihormati dan ditakuti di mana pun berada.Perlu diketahui, di seluruh Provinsi Hubei, hanya ada satu Alkemis Tingkat Tiga yang diakui publik: Presiden Asosiasi Alkemis, Senior Lu He.Lalu anak in

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status