MasukMalam minggu biasanya menjadi waktu paling sepi bagi Ryan. Duduk di warung kopi pinggir jalan dengan segelas es teh manis, satu-satunya kemewahan yang bisa dia beli, sambil scroll media sosial tanpa tujuan.
Jari Ryan berhenti di ikon W******p. Nama "Yulia cintaku" masih tersimpan di kontaknya, lengkap dengan emoji hati yang sudah tidak bermakna apa-apa. "Udah seminggu bulan lebih ya..." gumamnya pelan. Entah karena masih penasaran atau memang bodoh, Ryan menekan tombol panggilan. "Nomor yang Anda tuju tidak dapat menerima panggilan. "Hah?" Ryan mencoba lagi. Hasilnya sama, operator yang menjawab telponnya. Dia beralih ke chat, lalu mulai mengetik, "Yul, aku cuma mau ngobrol sebentar." Satu centang, tanda pesan terkirim tapi tidak terbaca. Ryan mencoba mengirim pesan lagi. "Aku nggak minta balikan. Cuma... penjelasan." "Bangsat. Diblokir." Ryan tertawa hambar, suara pahit keluar dari tenggorokannya karena pesannya kembali centang satu. Mas Deni, pemilik warung yang lagi nyapu, melirik. "Kenapa, Mas? Nomornya ilang ya?" "Enggak, Mas. Ini nomornya masih ada, orangnya yang udah ilang." Ryan menjawab dengan jengkel. "Ohh... cewe ya?" Mas Deni nyengir. "Udah, lupain aja. Cewe mah banyak." "Gampang ngomongnya," sahut Ryan sambil meneguk es tehnya sampai habis. "Mas punya rokok?" "Loh, Mas Ryan kan nggak ngerokok?" "Sekarang pengen." Mas Deni menggeleng tapi tetap memberikan sebatang. "Ini nih bahayanya patah hati. Bikin orang ngelakuin hal yang biasanya nggak dia lakuin." Ryan menyalakan rokok dengan tangan gemetar, sebab ini pertama kali dalam hidupnya merokok. Hisapan pertama langsung membuat dia batuk-batuk. "Uhuk! Uhuk! Sial... rasanya kayak lagi nyedot knalpot." Ryan mengumpat. "Makanya. Buang aja, Mas. Mending beli gorengan, kenyang." Mas Deni ketawa. "Iya juga sih." Ryan membuang rokoknya yang baru satu hisap, menginjak-injak sampai padam. Tapi rasa pahit di dadanya tidak hilang. Dia membuka I*******m, kesalahan terbesar yang dia lakukan malam itu. Feed pertama yang muncul, justru foto Yulia. Di mana foto Yulia dengan bikini putih di tepi pantai. Senyum lebar, kulit kecokelatan, rambut tergerai tertiup angin. Di sampingnya, seorang lelaki berotot dengan sixpack, Bram, memeluk pinggangnya. Ryan menatap layar HP tanpa berkedip. Dadanya sesak seperti ada yang mencengkeram. Apalagi ada banyak like dan komentar yang mendukung hubungan Yulia dengan pacar barunya, selingkuhan. Jari Ryan bergerak scroll ke bawah. Ada lebih banyak foto Yulia di atas yacht, snorkeling, makan malam mewah dengan Bram. Semua di upload dua jam yang lalu. "Labuan Bajo..." Ryan berbisik. "Dulu dia bilang pengen ke sana sama aku. Eh, ternyata sama orang lain." Dia melempar HP usabg usangnya, untung nggak pecah diatas meja. Mas Deni yang melihat cuma bisa menggeleng simpati. "Lagi gini nih emang paling susah, Mas. Pengen move on tapi kok ingat terus." "Aku udah kasih semuanya, Mas." Ryan menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Waktu ibunya kecelakaan, aku jual motor buat biaya pengobatan. Waktu Yulia bilang mau usaha fashion online disela kuliah, aku pinjemin uang tabungan teman, dan aku membayarnya dengan cara mencicil. Dia bilang nanti dibalikin kalau udah untung, tapi nyatanya nggak ada kabar sama sekali usaha itu." "Terus?" mas Deni justru penasaran, sebab jarang-jarang Ryan mau menceritakan banyak hal. Sayangnya, Ryan hanya menggeleng dan tidak memberikan penjelasan atas jawaban yang dibutuhkan mas Deni. "Udah minta balikin uangnya?" Mas Deni duduk di sebelah Ryan. "Pernah. Dia bilang 'masa utang sih? Pelit amat.' Terus sekarang aku diblokir." Ryan tertawa miris. "Lucu kan?" "Nggak lucu, Mas. Itu namanya bajingan." Mas Deni ikut gregetan. "Aku yang bodoh, Mas. Harusnya dari dulu aku sadar dia cuma manfaatin aku atas nama cinta," sahut Ryan sambil tersenyum miris. Dia teringat semua momen pahit itu. Saat Yulia meminta antar ke mall padahal Ryan baru pulang shift malam. Saat Yulia marah-marah karena Ryan nggak bisa beliin tas branded. ngomong, "Kamu itu orangnya nggak ambisius, Ryan. Kapan majunya?" Dan bodohnya, Ryan selalu nurut, selalu berusaha bikin Yulia senang. Padahal Yulia nggak pernah sekalipun datang ke rumah pas Ryan sakit demam tinggi gara-gara kecapekan kerja. "Fuck." Ryan membanting gelas kosongnya, untungg hanya gelas plastik. Giok di dadanya tiba-tiba menghangat. Tidak seperti kehangatan biasa, ini seperti panas yang membakar. "Aduh!" Ryan memegangi dadanya. "Mas Ryan kenapa?" Mas Deni terkejut. "Nggak... nggak apa-apa." Tapi jelas ada yang nggak beres. Giok itu bereaksi dengan emosinya. Panas makin menjadi-jadi, menyebar ke seluruh tubuh. Ryan merasa seperti ada bola api kecil di dalam dadanya yang mau meledak. "Mas Deni, aku pulang dulu ya. Nggak enak badan." Ryan segera pamit. "Loh, belum bayar..." "Kembaliannya buat Mas aja." Ryan meletakkan uang dua puluh ribu. Dia berlari ke kontrakan, napasnya ngos-ngosan. Bukan karena capek selesai berlari, iapi karena giok itu makin panas, hampir membuatnya berteriak. *** Begitu sampai kamar, Ryan langsung mengunci pintu dan ambruk di kasur. Dia melepas giok dari kalung, batu itu bersinar merah menyala, bukan hijau seperti biasanya. "Apa-apaan ini!" Ryan melempar giok ke lantai. Tapi giok itu tetap bersinar. Dan yang lebih aneh, Ryan merasakan energi di tubuhnya mengamuk. Aliran yang biasanya tenang sekarang berputar-putar kacau seperti angin puting beliung. Dia mencoba duduk bersila, bernafas seperti yang dia pelajari sebelumnya. Tapi tetap tidak bisa fokus. Setiap kali memejamkan mata, yang muncul bukan ketenangan, tapi wajah Yulia. "Tenang... tenang..." Ryan bergumam, keringat membasahi seluruh tubuhnya. Tapi energi di dalam tubuhnya malah makin brutal. Dia merasakan sesuatu naik ke kepala—panas, nyeri, mau pecah. "ARGH!" Ryan berteriak, memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Di luar, Bu Surti dan Mbak Marni yang kebetulan lewat saling pandang khawatir. "Itu Mas Ryan ya?" bisik Mbak Marni. "Kayaknya. Aduh, jangan-jangan dia sakit jiwa." "Atau kesurupan?" Di dalam kamar, Ryan terjatuh dari kasur. Tubuhnya kejang-kejang. Dalam pikirannya, muncul ingatan demi ingatan, semua pengorbanan yang dia lakukan untuk Yulia. Rela kerja lembur tiap hari sampai badannya hancur, demi bisa kasih hadiah ulang tahun yang dia mau. Ditinggal sendirian saat lagi down, sementara Yulia asik clubbing sama temen-temennya. "GUE UDAH KASIH SEMUA YANG GUE PUNYA!" teriak Ryan di tengah kejang-kejang. Dan tiba-tiba, semua berhenti. Energi brutal di tubuhnya seketika diam. Bukan hilang, tapi seperti dikunci. Disegel paksa oleh sesuatu. Sementara Ryan terbaring di lantai, napasnya terengah-engah. Giok yang tadi bersinar merah sekarang kembali hijau, tapi ada retakan halus di permukaannya. "Sial... apa yang tadi itu..." gumamnya lirih. Dia merangkak mengambil giok, memegangnya dengan tangan gemetar. Batu itu masih hangat. Dalam keheningan malam, Ryan berbaring di lantai dingin. Matanya menatap langit-langit kamar yang tidak rapi. "Aku harus move on," bisiknya pada diri sendiri. Dia menutup mata, mencoba mengosongkan pikiran. Kali ini, tanpa dendam. Tanpa sakit hati, pasrah. Perlahan, aliran energi di tubuhnya kembali tenang. Mengalir seperti sungai, tidak lagi seperti badai. Dan untuk pertama kalinya dalam seminggu ini, Ryan tidur tanpa mimpi buruk tentang Yulia. "Aku akan mencari kebahagiaanku sendiri, dan lihat saja apa yang terjadi padamu, Yulia."Fajar belum menyingsing ketika courtyard kastil Dragon Council sudah dipenuhi aktivitas. Puluhan kultivator terbaik dari seluruh dunia berkumpul, wajah-wajah yang Ryan kenal dari turnamen, dan banyak lagi yang baru dia lihat untuk pertama kali."Formasi Dragon Unity!" Dmitri berteriak dengan suara yang menggelegar, berdiri di tengah courtyard. "Ini adalah formasi yang digunakan seribu tahun lalu untuk mengurung The Ancient One. Lima Master di pusat, dikelilingi oleh lima puluh kultivator elite dalam lima lingkaran konsentris."Dia menunjuk ke diagram besar yang digambar di tanah dengan kapur. "Setiap lingkaran mewakili satu elemen. Crimson Dragon di utara, Azure Dragon di timur, White Dragon di barat, Black Dragon di selatan, dan Green Dragon di tengah sebagai penyeimbang."Ryan berdiri di tengah diagram, merasakan berat tanggung jawab di pundaknya. Di sekelilingnya, May, Carlos, Kenzo, dan puluhan kultivator lain mengambil posisi mereka."Ayo mulai!" Zhou Liang berteriak. "Kita hanya
Ryan dan Clarissa tiba di kastil Dragon Council menjelang tengah malam. Suasana yang biasanya tenang kini dipenuhi ketegangan yang bisa dirasakan di udara. Kultivator berjaga di setiap sudut, wajah mereka sangat serius dan waspada. "Ini buruk," kata Clarissa berbisik sambil menggenggam tangan Ryan lebih erat. "Aku belum pernah melihat kastil dalam keadaan seperti ini." Carlos berlari menghampiri mereka begitu mereka memasuki hall utama. Wajahnya yang biasanya ceria kini dipenuhi kekhawatiran. "Hermano, Clarissa, cepat!" dia mendorong keduanya menuju ruang pertemuan besar. "Semua Elder sudah berkumpul. Bahkan mereka yang biasanya tidak pernah meninggalkan teritorinya juga ikut datang." Di dalam ruang pertemuan, pemandangan yang mengejutkan menanti. Tidak hanya lima Elder yang biasa Ryan kenal, tapi ada tujuh Elder tambahan dengan wajah-wajah yang hanya dia lihat dalam potret kuno di dinding kastil. Mama Zola berdiri di kepala meja yang panjang, wajahnya lebih serius dari yang
Dua minggu setelah insiden dengan Arjuna, Ryan kembali ke Seoul. Kastil Dragon Council terasa seperti rumah kedua sekarang, tempat di mana dia belajar, bertarung, dan akhirnya menemukan jati dirinya.Tapi malam ini, dia tidak ada di kastil. Dia berdiri di depan klinik kecil di distrik Gangnam, tempat di mana dia bertemu lagi dengan Clarissa sebagai sesama healer, sebelum semua kehebohan tentang kultivator dan naga dimulai.Klinik itu sudah tutup, tapi Ryan punya kunci. Dia masuk dengan hati-hati, menyalakan lampu yang redup. Ruang tunggu yang familiar, meja resepsionis tempat Clarissa selalu duduk dengan senyum hangatnya, ruang pemeriksaan di mana mereka bekerja berdampingan selama berbulan-bulan."Kenangan yang indah, bukan?"Ryan berbalik dan melihat Clarissa berdiri di pintu, mengenakan gaun sederhana berwarna biru muda yang membuat matanya terlihat seperti samudra. Rambutnya dibiarkan tergerai, berkilau di bawah cahaya lampu."Kamu datang?" Ryan berkata dengan lega, meski dia yang
Tiga hari setelah pertempuran di reruntuhan Dieng, Ryan duduk di beranda rumah safehouse Council di pinggiran Yogyakarta. Matahari pagi menyinari Gunung Merapi di kejauhan, menciptakan pemandangan yang tenang, sangat kontras dengan kekacauan yang baru saja terjadi.Di sampingnya ada Arkan, atau nama sebenarnya yang baru terungkap, Arjuna, duduk dengan cangkir teh yang gemetar di tangannya. Pria itu terlihat sangat berbeda dari tiga hari lalu. Mata hijau zamrudnya yang dulunya dingin dan kosong kini terlihat normal sebagai manusia."Pasien-pasienmu sudah sembuh semua." Arjuna berkata pelan, memecah keheningan. "Begitu karma hitamku dibersihkan, kutukan yang kutanamkan pada mereka otomatis terbatalkan. Rani, gadis kecil itu sudah bangun kemarin. Dokter bilang itu seperti keajaiban."Ryan mengangguk, merasakan lega yang mendalam. "Itu kabar baik.""Tapi itu tidak mengubah apa yang sudah kulakukan," kata Arjuna melanjutkan, suaranya penuh penyesalan. "Dalam dua puluh tahun terakhir, aku m
Cahaya hijau dan hitam yang bertabrakan semakin intens, menciptakan pusaran energi yang membuat tanah bergetar dan udara bergolak. Ryan dan Arkan masih berdiri saling menggenggam tangan, tubuh keduanya gemetar hebat dari pertempuran spiritual yang terjadi."RYAN, LEPASKAN!" Clarissa berteriak dengan putus asa, mencoba menerobos pusaran energi tapi terlempar kembali oleh kekuatan yang terlalu besar.Di dalam pusaran itu, Ryan merasakan kesadarannya mulai terpecah. Karma hitam dari ratusan korban Arkan membanjiri pikirannya. Dari mulai teriakan mereka, rasa sakit mereka, bahkan kemarahan mereka yang mati sebelum waktunya.["Kenapa dia boleh hidup sementara aku mati?""Tidak adil! Aku masih punya anak kecil!""Umurku dicuri... pencuri... pembunuh..."]Ryan jatuh berlutut tapi tetap tidak melepaskan genggaman Arkan. Api crimson di tangannya mulai melemah, hampir padam sepenuhnya."Ryan, lepaskan dia!" Carlos mencoba mendekat tapi gelombang energi melemparnya beberapa meter ke belakang. "I
Pertarungan berlangsung brutal dan tanpa ampun. Arkan bergerak dengan kecepatan yang mencengangkan, satu tangan menyembuhkan luka-lukanya sendiri dengan mengambil kehidupan dari pepohonan di sekitar, tangan lainnya melontarkan energi hitam yang mematikan.Ryan hampir tidak bisa mengikuti. Setiap kali dia melontarkan api crimson, Arkan sudah berpindah posisi. Setiap kali dia mencoba menyerang jarak dekat, energi gelap Arkan membuatnya terpental."Kau terlalu lambat!" Arkan berteriak sambil melontarkan gelombang energi hitam yang merobohkan tiga pilar batu sekaligus.Ryan melompat menghindari reruntuhan, mendarat dengan keras di tanah yang berdebu. Napasnya tersengal, liontin giok di dadanya sudah setengah hitam dari menyerap energi gelap yang bocor dari serangan Arkan."Ryan, kamu harus mengakhiri ini!" Carlos berteriak dari pinggir area. "Dia terlalu kuat kalau kamu terus bertahan!""Serang titik lemahnya!" May menambahkan. "Dia tidak bisa menggunakan kedua kekuatannya secara bersamaa







