Share

Bab 6. Dikejar Wanita Cantik

last update Last Updated: 2025-11-30 15:12:37

Kontrakan Ryan di Gang Mawar 5 adalah bangunan tua dengan cat mengelupas dan genteng bocor di mana-mana. Kamarnya di lantai tiga, berukuran 3x3 meter dengan satu jendela kecil yang menghadap ke rumah tetangga.

Begitu sampai, Ryan langsung merebahkan diri di kasur tipis. Kepalanya berdenyut-denyut hebat, efek samping yang mulai dia sadari setiap kali menggunakan kekuatan giok itu.

"Sial... kenapa makin hari makin sakit ya kepalaku?" dia meringis, menekan pelipis dengan kedua telapak tangan.

Giok di dadanya menghangat, seperti merespons keluhan. Ryan mengeluarkannya dari balik kaos. Batu giok hijau itu bersinar samar di ruangan yang redup.

"Kamu mau ngasih tahu apa sih sebenernya?" Ryan berbicara pada batu itu, kebiasaan aneh yang mulai dilaksanakannya. "Aku kan cuma orang biasa. Kenapa harus Kau, hm?"

Tentu saja tidak ada jawaban. Tapi giok itu bergetar lembut, dan tiba-tiba Ryan merasakan dorongan untuk melakukan meditasi? Atau apa namanya, dia sendiri tidak yakin.

Dia duduk bersila di kasur, menutup mata, dan mulai mengatur napas seperti yang, entah bagaiman dia tahu caranya. Napas masuk perlahan melalui hidung, tahan di dada, keluarkan melalui mulut. Ulangi hal itu berulang-ulang.

Setelah beberapa menit, rasa sakit di kepalanya mulai mereda. Sebaliknya, muncul sensasi aneh, seperti ada aliran hangat yang mengalir di dalam tubuhnya, mengikuti jalur-jalur yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.

Di benak Ryan, muncul gambaran jalur energi, garis-garis bercahaya yang berkelok-kelok dari ubun-ubun, turun ke dada, ke perut, lalu kembali lagi. Dia mengikuti aliran itu dengan pikiran, memandunya, memuluskannya.

Tidak tahu berapa lama dia duduk seperti itu. Yang dia tahu, ketika membuka mata, ruangan sudah gelap. Lampu neon di luar jendela mulai menyala.

"Hah, berapa lama aku meditasi?" Ryan meraih HP-nya, baterainya sudah 13%. Layar menunjukkan pukul 8 malam. Lima jam? Dia meditasi lima jam?!

Tapi anehnya, tubuhnya terasa segar. Sakit di kepala hilang total, bahkan tangannya yang biasanya gemetar setelah bekerja panjang sekarang stabil.

Tok tok tok...

Ketukan di pintu membuat Ryan hampir jatuh dari kasur. Sebab dia tidak biasa punya tamu di jam malam.

"Mas Ryan? Mas ada di dalem?" Ternyata suara Bu Surti, pemilik kontrakan.

"Ada apa, Bu?" Ryan membuka pintu sedikit.

Bu Surti, perempuan paruh baya dengan kain batik dan rambut digulung, menatapnya dengan ekspresi aneh. Campuran antara penasaran dan... takut?

"Mas tadi... ada apa di kamar? Kok kayak ada cahaya gitu dari celah pintu?" tanya Bu Surti.

"Cahaya?" Ryan berpura-pura bingung. "Mungkin dari HP saya, Bu. Lagi dicharge."

"Bukan cahaya biasa, Mas. Cahaya yang... gimana ya, kayak bergerak-gerak gitu. Si Marni tetangga sebelah juga lihat." Bu Surti mengintip ke dalam kamar. "Mas nggak aneh-aneh kan? Nggak nyembah-nyembah atau pake susuk atau apalah..."

"Enggak kok, Bu. Saya cuma tidur doang. Mungkin Bu Surti dan Mbak Marni kecapean, jadi matanya lelah."

Bu Surti tidak sepenuhnya yakin, tapi dia mengangguk pelan. "Ya udah deh. Oh iya, tadi ada orang nyariin Mas. Perempuan muda, cantik, mobil mewah. Nanya-nanya Mas Ryan yang kerja di rumah sakit tinggal di mana."

"Terus Ibu bilang apa?" Jantung Ryan berdegup kencang.

"Ya nggak Ibu kasih tahu lah! Ibu kan nggak kenal dia. Siapa tahu penagih utang atau apalah." Bu Surti memang tidak tahu jika sekarang ini Ryan kerja di rumah sakit.

"Bagus, Bu. Terima kasih ya. Kalau ada yang nanya-nanya lagi, tolong jangan kasih tahu."

"Memang kenapa, Mas? Mas ada masalah? Mas Ryan pindah kerja di rumah sakit?" Bu Surti justru mengajukan banyak pertanyaan.

"Enggak kok. Cuma... ya, sekarang aku kerja di rumah sakit." Ryan, terpaksa memberitahu sedikit kebenaran tentang pekerjaannya.

Setelah Bu Surti pergi, Ryan menutup pintu dan bersandar di dinding. Mereka sudah mulai melacak. Cepat atau lambat, mereka akan menemukan dia.

HP-nya berbunyi, pesan W******p dari Pak Broto.

"Yan, hati-hati. Keluarga Pak Darma udah lihat CCTV. Gambarnya emang buram, tapi mereka yakin itu perawat muda. Mereka udah minta data semua perawat yang shift malam itu. Nama kamu ada di list."

Ryan pun membalas. "Gawat dong, Pak."

"Dokter Hendra lagi usaha tutupin. Dia bilang yang masuk ICU malam itu cuma dia dan tiga perawat senior. Nama kamu nggak dia sebutin. Tapi ya gitu, entah sampai kapan bisa ditahan."

"Thanks infonya, Pak."

Ryan melempar HP ke kasur. Dia menatap giok di tangannya yang masih bersinar samar, dan lagi, Dokter Wardana sedang tidak ditempat. Dokter Wardana justru sedang dinas ke luar negeri untuk melanjutkan penelitiannya yang katanya tertunda beberapa bulan kemarin.

"Gara-gara kamu, hidup gue jadi ribet," dia bergumam. Tapi anehnya, dia tidak merasa menyesal.

Ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya sekarang. Sesuatu yang membuatnya merasa lebih hidup. Lebih hidup dari sebelumnya.

Dia kembali duduk bersila, memejamkan mata, dan mulai bernapas teratur. Kali ini, aliran energi di tubuhnya terasa lebih jelas, lebih kuat.

Di luar jendela, Mbak Marni yang sedang menjemur baju malam hari melihat cahaya hijau samar merembes dari celah pintu kamar Ryan. Dia mengerjapkan mata beberapa kali, mengira itu halusinasi.

Tapi cahaya itu tetap ada, terlihat lembut, tenang, dan misterius.

"Aneh bener anak itu," gumamnya sambil bergegas masuk rumah, meninggalkan jemuran yang belum selesai karena ada rasa takut juga yang akhirnya dirasakan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kebangkitan Giok Karana (Karma Dari Giok Leluhur)   Bab 80. Rasa Malam yang Hangat

    Fajar belum menyingsing ketika courtyard kastil Dragon Council sudah dipenuhi aktivitas. Puluhan kultivator terbaik dari seluruh dunia berkumpul, wajah-wajah yang Ryan kenal dari turnamen, dan banyak lagi yang baru dia lihat untuk pertama kali."Formasi Dragon Unity!" Dmitri berteriak dengan suara yang menggelegar, berdiri di tengah courtyard. "Ini adalah formasi yang digunakan seribu tahun lalu untuk mengurung The Ancient One. Lima Master di pusat, dikelilingi oleh lima puluh kultivator elite dalam lima lingkaran konsentris."Dia menunjuk ke diagram besar yang digambar di tanah dengan kapur. "Setiap lingkaran mewakili satu elemen. Crimson Dragon di utara, Azure Dragon di timur, White Dragon di barat, Black Dragon di selatan, dan Green Dragon di tengah sebagai penyeimbang."Ryan berdiri di tengah diagram, merasakan berat tanggung jawab di pundaknya. Di sekelilingnya, May, Carlos, Kenzo, dan puluhan kultivator lain mengambil posisi mereka."Ayo mulai!" Zhou Liang berteriak. "Kita hanya

  • Kebangkitan Giok Karana (Karma Dari Giok Leluhur)   Bab 79 : Tidak Perlu Peduli

    Ryan dan Clarissa tiba di kastil Dragon Council menjelang tengah malam. Suasana yang biasanya tenang kini dipenuhi ketegangan yang bisa dirasakan di udara. Kultivator berjaga di setiap sudut, wajah mereka sangat serius dan waspada. "Ini buruk," kata Clarissa berbisik sambil menggenggam tangan Ryan lebih erat. "Aku belum pernah melihat kastil dalam keadaan seperti ini." Carlos berlari menghampiri mereka begitu mereka memasuki hall utama. Wajahnya yang biasanya ceria kini dipenuhi kekhawatiran. "Hermano, Clarissa, cepat!" dia mendorong keduanya menuju ruang pertemuan besar. "Semua Elder sudah berkumpul. Bahkan mereka yang biasanya tidak pernah meninggalkan teritorinya juga ikut datang." Di dalam ruang pertemuan, pemandangan yang mengejutkan menanti. Tidak hanya lima Elder yang biasa Ryan kenal, tapi ada tujuh Elder tambahan dengan wajah-wajah yang hanya dia lihat dalam potret kuno di dinding kastil. Mama Zola berdiri di kepala meja yang panjang, wajahnya lebih serius dari yang

  • Kebangkitan Giok Karana (Karma Dari Giok Leluhur)   Bab 78. Pesan Ancaman

    Dua minggu setelah insiden dengan Arjuna, Ryan kembali ke Seoul. Kastil Dragon Council terasa seperti rumah kedua sekarang, tempat di mana dia belajar, bertarung, dan akhirnya menemukan jati dirinya.Tapi malam ini, dia tidak ada di kastil. Dia berdiri di depan klinik kecil di distrik Gangnam, tempat di mana dia bertemu lagi dengan Clarissa sebagai sesama healer, sebelum semua kehebohan tentang kultivator dan naga dimulai.Klinik itu sudah tutup, tapi Ryan punya kunci. Dia masuk dengan hati-hati, menyalakan lampu yang redup. Ruang tunggu yang familiar, meja resepsionis tempat Clarissa selalu duduk dengan senyum hangatnya, ruang pemeriksaan di mana mereka bekerja berdampingan selama berbulan-bulan."Kenangan yang indah, bukan?"Ryan berbalik dan melihat Clarissa berdiri di pintu, mengenakan gaun sederhana berwarna biru muda yang membuat matanya terlihat seperti samudra. Rambutnya dibiarkan tergerai, berkilau di bawah cahaya lampu."Kamu datang?" Ryan berkata dengan lega, meski dia yang

  • Kebangkitan Giok Karana (Karma Dari Giok Leluhur)   Bab 77. Bukan Tahanan Biasa

    Tiga hari setelah pertempuran di reruntuhan Dieng, Ryan duduk di beranda rumah safehouse Council di pinggiran Yogyakarta. Matahari pagi menyinari Gunung Merapi di kejauhan, menciptakan pemandangan yang tenang, sangat kontras dengan kekacauan yang baru saja terjadi.Di sampingnya ada Arkan, atau nama sebenarnya yang baru terungkap, Arjuna, duduk dengan cangkir teh yang gemetar di tangannya. Pria itu terlihat sangat berbeda dari tiga hari lalu. Mata hijau zamrudnya yang dulunya dingin dan kosong kini terlihat normal sebagai manusia."Pasien-pasienmu sudah sembuh semua." Arjuna berkata pelan, memecah keheningan. "Begitu karma hitamku dibersihkan, kutukan yang kutanamkan pada mereka otomatis terbatalkan. Rani, gadis kecil itu sudah bangun kemarin. Dokter bilang itu seperti keajaiban."Ryan mengangguk, merasakan lega yang mendalam. "Itu kabar baik.""Tapi itu tidak mengubah apa yang sudah kulakukan," kata Arjuna melanjutkan, suaranya penuh penyesalan. "Dalam dua puluh tahun terakhir, aku m

  • Kebangkitan Giok Karana (Karma Dari Giok Leluhur)   Bab 76. Peluk Bersama atau Lepaskan

    Cahaya hijau dan hitam yang bertabrakan semakin intens, menciptakan pusaran energi yang membuat tanah bergetar dan udara bergolak. Ryan dan Arkan masih berdiri saling menggenggam tangan, tubuh keduanya gemetar hebat dari pertempuran spiritual yang terjadi."RYAN, LEPASKAN!" Clarissa berteriak dengan putus asa, mencoba menerobos pusaran energi tapi terlempar kembali oleh kekuatan yang terlalu besar.Di dalam pusaran itu, Ryan merasakan kesadarannya mulai terpecah. Karma hitam dari ratusan korban Arkan membanjiri pikirannya. Dari mulai teriakan mereka, rasa sakit mereka, bahkan kemarahan mereka yang mati sebelum waktunya.["Kenapa dia boleh hidup sementara aku mati?""Tidak adil! Aku masih punya anak kecil!""Umurku dicuri... pencuri... pembunuh..."]Ryan jatuh berlutut tapi tetap tidak melepaskan genggaman Arkan. Api crimson di tangannya mulai melemah, hampir padam sepenuhnya."Ryan, lepaskan dia!" Carlos mencoba mendekat tapi gelombang energi melemparnya beberapa meter ke belakang. "I

  • Kebangkitan Giok Karana (Karma Dari Giok Leluhur)   Bab 75. Negosiasi Panas

    Pertarungan berlangsung brutal dan tanpa ampun. Arkan bergerak dengan kecepatan yang mencengangkan, satu tangan menyembuhkan luka-lukanya sendiri dengan mengambil kehidupan dari pepohonan di sekitar, tangan lainnya melontarkan energi hitam yang mematikan.Ryan hampir tidak bisa mengikuti. Setiap kali dia melontarkan api crimson, Arkan sudah berpindah posisi. Setiap kali dia mencoba menyerang jarak dekat, energi gelap Arkan membuatnya terpental."Kau terlalu lambat!" Arkan berteriak sambil melontarkan gelombang energi hitam yang merobohkan tiga pilar batu sekaligus.Ryan melompat menghindari reruntuhan, mendarat dengan keras di tanah yang berdebu. Napasnya tersengal, liontin giok di dadanya sudah setengah hitam dari menyerap energi gelap yang bocor dari serangan Arkan."Ryan, kamu harus mengakhiri ini!" Carlos berteriak dari pinggir area. "Dia terlalu kuat kalau kamu terus bertahan!""Serang titik lemahnya!" May menambahkan. "Dia tidak bisa menggunakan kedua kekuatannya secara bersamaa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status