LOGINKontrakan Ryan di Gang Mawar 5 adalah bangunan tua dengan cat mengelupas dan genteng bocor di mana-mana. Kamarnya di lantai tiga, berukuran 3x3 meter dengan satu jendela kecil yang menghadap ke rumah tetangga.
Begitu sampai, Ryan langsung merebahkan diri di kasur tipis. Kepalanya berdenyut-denyut hebat, efek samping yang mulai dia sadari setiap kali menggunakan kekuatan giok itu. "Sial... kenapa makin hari makin sakit ya kepalaku?" dia meringis, menekan pelipis dengan kedua telapak tangan. Giok di dadanya menghangat, seperti merespons keluhan. Ryan mengeluarkannya dari balik kaos. Batu giok hijau itu bersinar samar di ruangan yang redup. "Kamu mau ngasih tahu apa sih sebenernya?" Ryan berbicara pada batu itu, kebiasaan aneh yang mulai dilaksanakannya. "Aku kan cuma orang biasa. Kenapa harus Kau, hm?" Tentu saja tidak ada jawaban. Tapi giok itu bergetar lembut, dan tiba-tiba Ryan merasakan dorongan untuk melakukan meditasi? Atau apa namanya, dia sendiri tidak yakin. Dia duduk bersila di kasur, menutup mata, dan mulai mengatur napas seperti yang, entah bagaiman dia tahu caranya. Napas masuk perlahan melalui hidung, tahan di dada, keluarkan melalui mulut. Ulangi hal itu berulang-ulang. Setelah beberapa menit, rasa sakit di kepalanya mulai mereda. Sebaliknya, muncul sensasi aneh, seperti ada aliran hangat yang mengalir di dalam tubuhnya, mengikuti jalur-jalur yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Di benak Ryan, muncul gambaran jalur energi, garis-garis bercahaya yang berkelok-kelok dari ubun-ubun, turun ke dada, ke perut, lalu kembali lagi. Dia mengikuti aliran itu dengan pikiran, memandunya, memuluskannya. Tidak tahu berapa lama dia duduk seperti itu. Yang dia tahu, ketika membuka mata, ruangan sudah gelap. Lampu neon di luar jendela mulai menyala. "Hah, berapa lama aku meditasi?" Ryan meraih HP-nya, baterainya sudah 13%. Layar menunjukkan pukul 8 malam. Lima jam? Dia meditasi lima jam?! Tapi anehnya, tubuhnya terasa segar. Sakit di kepala hilang total, bahkan tangannya yang biasanya gemetar setelah bekerja panjang sekarang stabil. Tok tok tok... Ketukan di pintu membuat Ryan hampir jatuh dari kasur. Sebab dia tidak biasa punya tamu di jam malam. "Mas Ryan? Mas ada di dalem?" Ternyata suara Bu Surti, pemilik kontrakan. "Ada apa, Bu?" Ryan membuka pintu sedikit. Bu Surti, perempuan paruh baya dengan kain batik dan rambut digulung, menatapnya dengan ekspresi aneh. Campuran antara penasaran dan... takut? "Mas tadi... ada apa di kamar? Kok kayak ada cahaya gitu dari celah pintu?" tanya Bu Surti. "Cahaya?" Ryan berpura-pura bingung. "Mungkin dari HP saya, Bu. Lagi dicharge." "Bukan cahaya biasa, Mas. Cahaya yang... gimana ya, kayak bergerak-gerak gitu. Si Marni tetangga sebelah juga lihat." Bu Surti mengintip ke dalam kamar. "Mas nggak aneh-aneh kan? Nggak nyembah-nyembah atau pake susuk atau apalah..." "Enggak kok, Bu. Saya cuma tidur doang. Mungkin Bu Surti dan Mbak Marni kecapean, jadi matanya lelah." Bu Surti tidak sepenuhnya yakin, tapi dia mengangguk pelan. "Ya udah deh. Oh iya, tadi ada orang nyariin Mas. Perempuan muda, cantik, mobil mewah. Nanya-nanya Mas Ryan yang kerja di rumah sakit tinggal di mana." "Terus Ibu bilang apa?" Jantung Ryan berdegup kencang. "Ya nggak Ibu kasih tahu lah! Ibu kan nggak kenal dia. Siapa tahu penagih utang atau apalah." Bu Surti memang tidak tahu jika sekarang ini Ryan kerja di rumah sakit. "Bagus, Bu. Terima kasih ya. Kalau ada yang nanya-nanya lagi, tolong jangan kasih tahu." "Memang kenapa, Mas? Mas ada masalah? Mas Ryan pindah kerja di rumah sakit?" Bu Surti justru mengajukan banyak pertanyaan. "Enggak kok. Cuma... ya, sekarang aku kerja di rumah sakit." Ryan, terpaksa memberitahu sedikit kebenaran tentang pekerjaannya. Setelah Bu Surti pergi, Ryan menutup pintu dan bersandar di dinding. Mereka sudah mulai melacak. Cepat atau lambat, mereka akan menemukan dia. HP-nya berbunyi, pesan W******p dari Pak Broto. "Yan, hati-hati. Keluarga Pak Darma udah lihat CCTV. Gambarnya emang buram, tapi mereka yakin itu perawat muda. Mereka udah minta data semua perawat yang shift malam itu. Nama kamu ada di list." Ryan pun membalas. "Gawat dong, Pak." "Dokter Hendra lagi usaha tutupin. Dia bilang yang masuk ICU malam itu cuma dia dan tiga perawat senior. Nama kamu nggak dia sebutin. Tapi ya gitu, entah sampai kapan bisa ditahan." "Thanks infonya, Pak." Ryan melempar HP ke kasur. Dia menatap giok di tangannya yang masih bersinar samar, dan lagi, Dokter Wardana sedang tidak ditempat. Dokter Wardana justru sedang dinas ke luar negeri untuk melanjutkan penelitiannya yang katanya tertunda beberapa bulan kemarin. "Gara-gara kamu, hidup gue jadi ribet," dia bergumam. Tapi anehnya, dia tidak merasa menyesal. Ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya sekarang. Sesuatu yang membuatnya merasa lebih hidup. Lebih hidup dari sebelumnya. Dia kembali duduk bersila, memejamkan mata, dan mulai bernapas teratur. Kali ini, aliran energi di tubuhnya terasa lebih jelas, lebih kuat. Di luar jendela, Mbak Marni yang sedang menjemur baju malam hari melihat cahaya hijau samar merembes dari celah pintu kamar Ryan. Dia mengerjapkan mata beberapa kali, mengira itu halusinasi. Tapi cahaya itu tetap ada, terlihat lembut, tenang, dan misterius. "Aneh bener anak itu," gumamnya sambil bergegas masuk rumah, meninggalkan jemuran yang belum selesai karena ada rasa takut juga yang akhirnya dirasakan.Ryan merasa seperti tikus yang terjebak dalam perangkap tikus raksasa, dengan musuh-musuh tak terlihat mengintai dari segala penjuru. Seminggu setelah acara tunangan yang penuh gejolak itu, ia mulai menjalani rutinitas baru sebagai perawat pribadi Pak Darma di rumah yang megah.Pagi-pagi buta, udara kota masih dingin menusuk tulang, kabut tipis menyelimuti jalanan basah oleh embun malam. Ryan naik sepeda motor tua miliknya menuju rumah sakit untuk shift terakhirnya sebelum sepenuhnya pindah tugas. Lampu jalan kuning redup menerangi wajahnya yang lelah, bayangan pohon-pohon di pinggir jalan seolah-olah mengawasi gerakannya.Tiba-tiba, dari belakang, suara deru motor lain mendekat dengan cepat. Dua motor hitam tanpa plat nomor menyusulnya, pengendaranya mengenakan jaket kulit gelap dan helm full-face yang menyembunyikan wajah."Hei, berhenti!" teriak salah satu dari mereka, suara kasar seperti geraman serigala. Ryan memacu gas motornya, jantungnya berdegup kencang. Jalanan licin karena
Ryan merasa hatinya seperti terperangkap dalam labirin gelap yang tak berujung. Sudah dua hari ini ia mondar-mandir di koridor rumah sakit yang dingin dan steril, mencari keberadaan Dr. Wardana. Udara disana terasa lembab, bercampur bau obat dan desinfektan yang menusuk hidung. Lampu neon yang berkedip-kedip di langit-langit membuat bayangannya memanjang, seolah-olah mengejek kegelisahannya."Dokter Wardana? Beliau sedang melakukan penelitian sosial di luar negeri," kata perawat senior dengan suara datar, sambil menatap layar komputer di meja resepsionis. "Tidak ada detail lebih lanjut, maaf. Kami tidak bisa hubungi beliau sekarang."Ryan menghela napas panjang, tangannya memegang erat ponsel yang sudah kehabisan baterai. Penelitian sosial atau rahasia? Di negara mana? Tidak ada petunjuk sama sekali. Ia tahu, tanpa Dr. Wardana, pelindung utamanya hilang.Sementara itu, dinas kesehatan seperti serigala lapar yang mengintai. Pagi tadi, ia melihat mobil dinas berwarna putih parkir di dep
Tiga hari setelah pertemuan dengan keluarga Sudirga, Ryan duduk di kantin rumah sakit sambil mengaduk kopi dinginnya tanpa diminum. Pikirannya melayang, bukan ke lima puluh juta rupiah yang sudah disimpan dengan aman di bawah kasur, tapi ke masalah baru yang muncul. "Yan, kamu dengar belum?" Pak Broto duduk di seberangnya dengan nasi goreng dan teh manis. "Pagi ini ada orang dari Dinas Kesehatan dateng." Ryan mengangkat wajah. "Dinas Kesehatan? Ngapain?" "Katanya mau investigasi. Ada laporan tentang 'praktik medis ilegal' di rumah sakit ini." Pak Broto menurunkan suaranya. "Dan yang bikin aku khawatir, mereka nyebut-nyebut nama kamu." Jantung Ryan langsung berdegup cepat. "Namaku? Kenapa?" "Entahlah. Tapi tadi pagi mereka ketemu sama Dokter Hendra di ruangannya. Lumayan lama, hampir satu jam. Keluar-keluar, mereka bawa map tebal dan Dokter Hendra keliatan stres banget." "Sial." Ryan mengusap wajahnya. Ini yang dia takutkan. Penyelamatan Pak Darma memang ajaib, terlalu ajaib
Ryan baru saja selesai memandikan pasien stroke di ruang 304 ketika Suster Dewi berlari menghampirinya dengan wajah panik."Yan! Yan! Ada yang nyariin kamu di lobby!"Ryan mengelap tangannya dengan handuk. "Siapa? Keluarga pasien?""Bukan! Perempuan muda, cantik, pakai blazer mahal, bawa bodyguard segala!" Suster Dewi berbisik dengan mata berbinar. "Kayaknya orang kaya banget deh. Mobilnya Mercy hitam, plat nomornya cantik lagi!"Jantung Ryan langsung dag-dig-dug. "Jangan-jangan...""Iya! Dia nyebut nama kamu. Ryan Putra Nagara. Bilang mau ketemu langsung, penting banget katanya.""Sial." Ryan mengusap wajahnya. Akhirnya mereka menemukan dia juga."Kenapa sih? Emang ada masalah?" Suster Dewi penasaran."Nggak ada apa-apa. Bilang saja aku saja lagi sibuk, nanti aku ke sana.""Udah aku bilang gitu tadi. Eh, dia malah bilang dia mau nunggu sampai kamu selesai. Sekarang lagi duduk di kursi tunggu sambil main HP, tapi keliatan nggak sabar banget."“Hahhh…” Ryan menghela napas panjang. Tida
Ryan terlelap dalam tidur yang gelisah. Keringat membasahi dahinya, nafasnya tersengal-sengal seperti orang habis berlari. Tapi dia tidak bermimpi biasa, ini berbeda. Sungguh, sangat berbeda. Baik tempat dan keadaan sekelilingnya. Ryan membuka mata dan mendapati dirinya berdiri di sebuah tempat yang mustahil. Bukan di kamar kontrakannya yang sempit, bukan rumah sakit, bukan juga tempat yang pernah dia kenal. Dia berdiri di tengah hamparan kabut putih tebal yang menggelinding pelan seperti ombak. Lantai di bawah kakinya seperti kaca hitam yang memantulkan bayangan dirinya, tapi bayangannya bergerak sendiri, tidak sinkron dengan gerakan tubuhnya. "Apa ini, aku ada di mana?" Ryan menoleh ke segala arah. Tidak ada langit. Tidak ada bumi. Hanya kabut, keheningan, dan sensasi hampa yang mencekam. "Akhirnya kau datang juga, anak muda." Ryan tersentak. Suara itu terdengar berat, bergema, seperti datang dari segala arah sekaligus. Dari dalam kabut, muncul sosok tua berjenggot puti
Ryan baru pulang shift malam pukul sebelas lewat. Kakinya pegal, matanya perih, dan perutnya keroncongan karena cuma sempat makan mie instan siang tadi. Gang Mawar 7 yang biasanya sepi di jam segini ternyata rame, tapi bukan rame yang baik.Ada tiga motor gede terparkir sembarangan di depan kontrakan. Lampu depan masih nyala, mesin masih bunyi menderu. Dari arah halaman, terdengar teriakan dan suara barang pecah."Sial, ada apa lagi?" Ryan mempercepat langkah.Pemandangan yang menyambutnya bikin darahnya naik. Lima orang berjaket kulit hitam dengan logo serigala di punggung sedang mengacak-acak halaman kontrakan. Pot bunga Bu Surti dilempar, jemuran diobrak-abrik, bahkan kursi plastik ditendang sampai patah.Yang paling bikin Ryan naik darah, Bu Surti berlutut di tanah sambil menangis, menggenggam kaki salah satu preman."Maafin saya, Bang! Saya janji minggu depan pasti bisa bayar!"Preman itu, bertubuh besar dengan tato di leher, menendang tangan Bu Surti sampai perempuan paruh baya







