LOGIN“Hei! Jangan sentuh pasien itu!” Dokter berteriak, tapi sudah terlambat. Terlambat, Ryan sudah menancapkan jarum di titik Shenmen dan Neiguan, dua titik vital dalam pengobatan Tiongkok kuno. Tangan kirinya menekan dada pasien sambil mengalirkan Qi yang baru dia sadari bisa ia kendalikan. Tut tut tut Detik kemudian, monitor berdetak lagi. "Siapa... anak ini?" Wakil Gubernur menarik napas panjang, memperhatikan pria muda yang menggagalkan kematiannya.
View More"Yulia pasti suka," gumam seorang pemuda dengan melihat tentengan plastik yang dia bawa.
Hujan gerimis masih menyapu jalanan kota Jambire, menyisakan kabut tipis di trotoar yang ramai oleh kendaraan dan pejalan kaki yang berlalu-lalang dengan payung warna-warni. Di antara kerumunan itulah, seorang pemuda berjaket cokelat lusuh berdiri diam, menggenggam dua kantong plastik berisi makanan yang masih hangat. Uapnya mengepul samar dari celah-celah kantong bening, tapi pemuda itu tak memperhatikan setelahnya. Matanya hanya menatap lurus ke seberang jalan. Ryan Putra Nagara, nama pemuda tersebut. Usianya baru dua puluh tiga tahun, wajahnya belum sepenuhnya dewasa, tapi garis lelah sudah tertanam di bawah matanya. Lengan bajunya basah, beberapa helai rambutnya menempel di dahi karena keringat dan gerimis yang bercampur, dan tubuhnya sedikit gemetar. Ini bukan karena dia kedinginan, tapi karena ada sesuatu di depan sana yang tak bisa diterima oleh akalnya. "Bukankah itu..." Di balik kaca restoran mewah bernama Lotus Moon, dia melihat sosok yang sangat dia kenal. Yulia Citra, kekasih yang selama dua tahun ini menjadi alasan dia menahan lapar, menahan sakit, bahkan menahan mimpi-mimpi yang dulunya ingin ia gapai. Dan di samping gadis itu, ada pria lain. Pria itu berperawakan tinggi, dengan jas rapi di tubuh. Ada senyuman yang menawan dan menggoda. Lengan pria itu memeluk pinggang Yulia, dan mereka tampak tertawa bahagia seperti sepasang kekasih yang tengah dimabuk cinta. Ryan terpaku, nafasnya tercekat. Seolah-olah dunia berhenti. Apa yang dilihatnya tentu mengejutkan, karena ini adalah hal yang tidak pernah dibayangkannya. Tangannya refleks menggenggam plastik makanan lebih erat, hingga terdengar bunyi "krek" dari kotak styrofoam di dalamnya. Ayam wijen madu, favorit Yulia. Makanan itu dia beli dari gajinya hari ini, hasil lembur dua malam tanpa tidur. Dia tidak bisa diam saja melihat kejadian ini. Langkahnya cepat menyeberang, menerobos gerimis, masuk ke restoran tanpa peduli matanya masih memerah karena menahan lelah dan juga kantuk. “Yulia!” Suara Ryan menggema, menghentikan percakapan dan tawa para pelanggan. Semua kepala menoleh, dan Yulia memutar tubuhnya perlahan. Sekilas, ada ekspresi kaget di wajahnya. Tapi kemudian berubah jadi kesal, lalu tatapan itu terlihat, jijik? “Kamu ngapain ke sini?” suaranya datar, sinis, seperti tidak sedang bicara pada pacarnya, melainkan pada gelandangan yang salah masuk ke tempat elit. “Kamu bilang mau ketemu, jadi aku datang. Aku juga beliin makanan kesukaanmu.” Li Shen mengangkat plastik makanan yang dia tenteng. “Astaga, masih saja kamu percaya omongan kayak gitu? Heh!” Yulia terkekeh sinis. “Kau pacarnya?” Pria di samping Yulia ikut bicara, menuding ke arah Ryan. “Iya... iya. Aku, aku pacarnya.” Ryan menjawab terbata dengan mengangguk kaku. “Huh, cuma Mantan. Mulai sekarang kamu bukan siapa-siapa lagi, Ryan. Kita sudah selesai, kita end.” Yulia mendesah keras, lalu menegakkan tubuh. “Yulia, aku kerja mati-matian buat kamu. Aku rela nggak makan, juga nggak tidur. Semuanya buat kamu!” ujar Li Shen seperti sedang bernegosiasi. “Lalu kenapa? Emangnya itu berarti aku harus terus sama kamu selamanya? Dengar ya, aku capek hidup miskin. Aku nggak mau makan bubur di pinggir jalan tiap malam minggu cuma karena kamu bilang 'uang kita mepet'. Aku butuh hidup nyaman. Butuh cowok yang bisa bayarin makananku, beliin make-up dan baju baru juga. Aku ingin masa depan yang cerah, jika kamu sadar diri!” Mendengar ocehan Yulia, Ryan berdiri membeku. Dunia seakan kehilangan warna. Hujan, lampu, musik jazz pelan di restoran, semuanya hilang dari pendengarannya. Hal indah, dan semua mimpi-mimpi yang dirajutnya selama dua tahun ini sirna. Kekasih yang diperjuangkan, nyatanya menyerah hanya karena dia miskin. Tidak bisa memberikan kenyamanan dan keistimewaan materi. “Lagian, kamu pikir kamu siapa? Lulusan teknik yang kerja jadi kuli freelance? Kamu nggak akan pernah bisa sukses, Ryan. Hidupmu cuma penuh mimpi dan beban.” Yulia melipat tangannya di dada, bersikap sinis dengan pria yang selama ini berusaha memanjakannya. Perkataan yang menghina itu membuat sesuatu pecah dalam dada Ryan. Hancur, remuk dan kecewa bercampur jadi satu. “Jadi, selama ini semua pengorbananku sia-sia?” gumamnya lirih, seperti untuk dirinya sendiri. “Pengorbanan itu tidak cukup kalau kamu nggak punya masa depan, Ryan.” Yulia mengangkat alis dengan maksud meremehkan. "Ayo, Zein. Kita pergi dari sini. Aku sudah malas lihat wajah memelasnya," ajaknya kemudian, lalu dia meraih lengan cowok barunya. "Hm, ayok!" Pria yang katanya memiliki masa depan cerah itu mengulurkan tangan pada Yulia, lalu menoleh dan tersenyum sinis pada Ryan. Langkah kaki mereka menjauh. Satu... dua... tiga... lalu menghilang di balik pintu kaca. Semoga Ryan masih berdiri sendiri, menggenggam plastik makanan yang kini remuk dan meneteskan kuah di lantai. Hujan yang turun deras dari atap restoran membasahi kakinya. Bukan hanya tubuhnya yang terasa dingin, tapi jiwa dan hatinya juga. Air matanya memang tidak jatuh, tapi tubuhnya seperti kosong. Seperti boneka yang baru saja kehilangan tali penopangnya. Dia berjalan keluar restoran tanpa suara, sedangkan kantong plastik ditinggalkan begitu saja di atas meja. Toh isinya tak berguna lagi. Langkahnya pelan menembus hujan, menyusuri trotoar yang terasa sangat panjang. Kepalanya tertunduk, tangannya masuk ke saku jaket, meremas kalung giok kecil yang selalu dia pakai. Giok pemberian kakeknya. Satu-satunya warisan keluarga, karena memang tidak memiliki harta berlebih. “Jangan pernah lepaskan giok ini, Ryan. Suatu hari nanti, dia akan menjagamu ketika dunia tidak lagi punya tempat untukmu,” kata kakeknya waktu itu. Hari itu, Ryan tidak mengerti dan hanya mengangguk untuk menyenangkan sang kakek. Ryan sendiri tidak tahu, makna apa yang terkandung dalam nasehat tersebut. Dia hanya tahu bahwa hatinya sudah tidak punya bentuk lagi, karena setelahnya kakeknya pun pergi untuk selamanya. Dan kini? Dunia baru saja memberitahu dirinya bahwa pengorbanan hanyalah lelucon jika tidak dibayar dengan uang dan kekuasaan. Giok warisannya tidak berarti apa-apa, sebab tidak bisa membahagiakan Yulia. "Apakah selalu, orang sepertiku harus kalah? Beginikah nasib orang miskin sepertiku?" pertanyaan Ryan ini, yang tidak memerlukan jawaban, seharusnya.Ryan terlelap dalam tidur yang gelisah. Keringat membasahi dahinya, nafasnya tersengal-sengal seperti orang habis berlari. Tapi dia tidak bermimpi biasa, ini berbeda. Sungguh, sangat berbeda. Baik tempat dan keadaan sekelilingnya. Ryan membuka mata dan mendapati dirinya berdiri di sebuah tempat yang mustahil. Bukan di kamar kontrakannya yang sempit, bukan rumah sakit, bukan juga tempat yang pernah dia kenal. Dia berdiri di tengah hamparan kabut putih tebal yang menggelinding pelan seperti ombak. Lantai di bawah kakinya seperti kaca hitam yang memantulkan bayangan dirinya, tapi bayangannya bergerak sendiri, tidak sinkron dengan gerakan tubuhnya. "Apa ini, aku ada di mana?" Ryan menoleh ke segala arah. Tidak ada langit. Tidak ada bumi. Hanya kabut, keheningan, dan sensasi hampa yang mencekam. "Akhirnya kau datang juga, anak muda." Ryan tersentak. Suara itu terdengar berat, bergema, seperti datang dari segala arah sekaligus. Dari dalam kabut, muncul sosok tua berjenggot puti
Ryan baru pulang shift malam pukul sebelas lewat. Kakinya pegal, matanya perih, dan perutnya keroncongan karena cuma sempat makan mie instan siang tadi. Gang Mawar 7 yang biasanya sepi di jam segini ternyata rame, tapi bukan rame yang baik.Ada tiga motor gede terparkir sembarangan di depan kontrakan. Lampu depan masih nyala, mesin masih bunyi menderu. Dari arah halaman, terdengar teriakan dan suara barang pecah."Sial, ada apa lagi?" Ryan mempercepat langkah.Pemandangan yang menyambutnya bikin darahnya naik. Lima orang berjaket kulit hitam dengan logo serigala di punggung sedang mengacak-acak halaman kontrakan. Pot bunga Bu Surti dilempar, jemuran diobrak-abrik, bahkan kursi plastik ditendang sampai patah.Yang paling bikin Ryan naik darah, Bu Surti berlutut di tanah sambil menangis, menggenggam kaki salah satu preman."Maafin saya, Bang! Saya janji minggu depan pasti bisa bayar!"Preman itu, bertubuh besar dengan tato di leher, menendang tangan Bu Surti sampai perempuan paruh baya
Malam minggu biasanya menjadi waktu paling sepi bagi Ryan. Duduk di warung kopi pinggir jalan dengan segelas es teh manis, satu-satunya kemewahan yang bisa dia beli, sambil scroll media sosial tanpa tujuan.Jari Ryan berhenti di ikon WhatsApp. Nama "Yulia cintaku" masih tersimpan di kontaknya, lengkap dengan emoji hati yang sudah tidak bermakna apa-apa."Udah seminggu bulan lebih ya..." gumamnya pelan. Entah karena masih penasaran atau memang bodoh, Ryan menekan tombol panggilan."Nomor yang Anda tuju tidak dapat menerima panggilan."Hah?" Ryan mencoba lagi. Hasilnya sama, operator yang menjawab telponnya.Dia beralih ke chat, lalu mulai mengetik, "Yul, aku cuma mau ngobrol sebentar." Satu centang, tanda pesan terkirim tapi tidak terbaca.Ryan mencoba mengirim pesan lagi. "Aku nggak minta balikan. Cuma... penjelasan.""Bangsat. Diblokir." Ryan tertawa hambar, suara pahit keluar dari tenggorokannya karena pesannya kembali centang satu.Mas Deni, pemilik warung yang lagi nyapu, melirik.
Kontrakan Ryan di Gang Mawar 5 adalah bangunan tua dengan cat mengelupas dan genteng bocor di mana-mana. Kamarnya di lantai tiga, berukuran 3x3 meter dengan satu jendela kecil yang menghadap ke rumah tetangga.Begitu sampai, Ryan langsung merebahkan diri di kasur tipis. Kepalanya berdenyut-denyut hebat, efek samping yang mulai dia sadari setiap kali menggunakan kekuatan giok itu."Sial... kenapa makin hari makin sakit ya kepalaku?" dia meringis, menekan pelipis dengan kedua telapak tangan.Giok di dadanya menghangat, seperti merespons keluhan. Ryan mengeluarkannya dari balik kaos. Batu giok hijau itu bersinar samar di ruangan yang redup."Kamu mau ngasih tahu apa sih sebenernya?" Ryan berbicara pada batu itu, kebiasaan aneh yang mulai dilaksanakannya. "Aku kan cuma orang biasa. Kenapa harus Kau, hm?"Tentu saja tidak ada jawaban. Tapi giok itu bergetar lembut, dan tiba-tiba Ryan merasakan dorongan untuk melakukan meditasi? Atau apa namanya, dia sendiri tidak yakin.Dia duduk bersila d






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.