Home / Urban / Kebangkitan Giok Karana (Karma Dari Giok Leluhur) / Bab 76. Peluk Bersama atau Lepaskan

Share

Bab 76. Peluk Bersama atau Lepaskan

last update Last Updated: 2026-02-22 08:07:33

Cahaya hijau dan hitam yang bertabrakan semakin intens, menciptakan pusaran energi yang membuat tanah bergetar dan udara bergolak. Ryan dan Arkan masih berdiri saling menggenggam tangan, tubuh keduanya gemetar hebat dari pertempuran spiritual yang terjadi.

"RYAN, LEPASKAN!" Clarissa berteriak dengan putus asa, mencoba menerobos pusaran energi tapi terlempar kembali oleh kekuatan yang terlalu besar.

Di dalam pusaran itu, Ryan merasakan kesadarannya mulai terpecah. Karma hitam dari ratusan korban
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kebangkitan Giok Karana (Karma Dari Giok Leluhur)   Bab 77. Bukan Tahanan Biasa

    Tiga hari setelah pertempuran di reruntuhan Dieng, Ryan duduk di beranda rumah safehouse Council di pinggiran Yogyakarta. Matahari pagi menyinari Gunung Merapi di kejauhan, menciptakan pemandangan yang tenang, sangat kontras dengan kekacauan yang baru saja terjadi.Di sampingnya ada Arkan, atau nama sebenarnya yang baru terungkap, Arjuna, duduk dengan cangkir teh yang gemetar di tangannya. Pria itu terlihat sangat berbeda dari tiga hari lalu. Mata hijau zamrudnya yang dulunya dingin dan kosong kini terlihat normal sebagai manusia."Pasien-pasienmu sudah sembuh semua." Arjuna berkata pelan, memecah keheningan. "Begitu karma hitamku dibersihkan, kutukan yang kutanamkan pada mereka otomatis terbatalkan. Rani, gadis kecil itu sudah bangun kemarin. Dokter bilang itu seperti keajaiban."Ryan mengangguk, merasakan lega yang mendalam. "Itu kabar baik.""Tapi itu tidak mengubah apa yang sudah kulakukan," kata Arjuna melanjutkan, suaranya penuh penyesalan. "Dalam dua puluh tahun terakhir, aku m

  • Kebangkitan Giok Karana (Karma Dari Giok Leluhur)   Bab 76. Peluk Bersama atau Lepaskan

    Cahaya hijau dan hitam yang bertabrakan semakin intens, menciptakan pusaran energi yang membuat tanah bergetar dan udara bergolak. Ryan dan Arkan masih berdiri saling menggenggam tangan, tubuh keduanya gemetar hebat dari pertempuran spiritual yang terjadi."RYAN, LEPASKAN!" Clarissa berteriak dengan putus asa, mencoba menerobos pusaran energi tapi terlempar kembali oleh kekuatan yang terlalu besar.Di dalam pusaran itu, Ryan merasakan kesadarannya mulai terpecah. Karma hitam dari ratusan korban Arkan membanjiri pikirannya. Dari mulai teriakan mereka, rasa sakit mereka, bahkan kemarahan mereka yang mati sebelum waktunya.["Kenapa dia boleh hidup sementara aku mati?""Tidak adil! Aku masih punya anak kecil!""Umurku dicuri... pencuri... pembunuh..."]Ryan jatuh berlutut tapi tetap tidak melepaskan genggaman Arkan. Api crimson di tangannya mulai melemah, hampir padam sepenuhnya."Ryan, lepaskan dia!" Carlos mencoba mendekat tapi gelombang energi melemparnya beberapa meter ke belakang. "I

  • Kebangkitan Giok Karana (Karma Dari Giok Leluhur)   Bab 75. Negosiasi Panas

    Pertarungan berlangsung brutal dan tanpa ampun. Arkan bergerak dengan kecepatan yang mencengangkan, satu tangan menyembuhkan luka-lukanya sendiri dengan mengambil kehidupan dari pepohonan di sekitar, tangan lainnya melontarkan energi hitam yang mematikan.Ryan hampir tidak bisa mengikuti. Setiap kali dia melontarkan api crimson, Arkan sudah berpindah posisi. Setiap kali dia mencoba menyerang jarak dekat, energi gelap Arkan membuatnya terpental."Kau terlalu lambat!" Arkan berteriak sambil melontarkan gelombang energi hitam yang merobohkan tiga pilar batu sekaligus.Ryan melompat menghindari reruntuhan, mendarat dengan keras di tanah yang berdebu. Napasnya tersengal, liontin giok di dadanya sudah setengah hitam dari menyerap energi gelap yang bocor dari serangan Arkan."Ryan, kamu harus mengakhiri ini!" Carlos berteriak dari pinggir area. "Dia terlalu kuat kalau kamu terus bertahan!""Serang titik lemahnya!" May menambahkan. "Dia tidak bisa menggunakan kedua kekuatannya secara bersamaa

  • Kebangkitan Giok Karana (Karma Dari Giok Leluhur)   Bab 74. Pencari Sejarah yang Hilang

    Pertemuan dijadwalkan di tempat yang netral, reruntuhan kuil kuno di pegunungan Dieng, Jawa Tengah. Tempat yang dulunya menjadi pusat spiritual kini hanya tersisa batu-batu besar yang ditumbuhi lumut, diselimuti kabut tebal yang tidak pernah hilang bahkan di siang hari.Ryan tiba bersama Clarissa tepat saat matahari terbenam. Maya, Carlos, dan Kenzo sudah berposisi di sekeliling area sebagai backup, sementara Mama Zola berdiri sebagai saksi netral, memastikan pertarungan ini tidak melanggar aturan Council.Arkan sudah menunggu di tengah reruntuhan, berdiri di atas altar batu yang retak. Jubah hitamnya berkibar meski tidak ada angin, dan mata hijau zamrudnya bersinar dalam cahaya senja yang redup."Tepat waktu," katanya sambil tersenyum tipis. "Aku menghargai ketepatan waktu."Ryan melangkah maju, meninggalkan Clarissa di pinggir area. "Aku datang sesuai janjimu. Sekarang lepaskan pasien-pasienku.""Lepaskan?" Arkan tertawa ringan. "Kita belum bicara dengan benar. Kau terburu-buru seka

  • Kebangkitan Giok Karana (Karma Dari Giok Leluhur)   Bab 73. Penelusuran Berdarah

    Ruang perpustakaan terlarang di kastil Dragon Council terasa lebih dingin dari biasanya. Ryan duduk di meja besar yang dipenuhi gulungan-gulungan kuno, matanya merah karena kurang tidur. Di sampingnya, Clarissa terus membaca manuskrip lama sambil sesekali mencatat sesuatu.Sudah dua hari sejak serangan Arkan di klinik. Dimas berhasil diselamatkan, tapi dengan harga yang berat. Ryan harus menyerap sebagian besar energi gelap yang Arkan tanamkan, dan liontin giok di dadanya kini kembali menunjukkan urat-urat hitam yang mulai menyebar."Ini tidak ada gunanya," kata Ryan dengan frustasi, menutup gulungan yang sedang dibacanya dengan kasar. "Aku sudah membaca ratusan dokumen tentang sejarah Green Dragon, tapi tidak ada satupun yang menyebut tentang Shadow Healer atau garis keturunan yang dibuang.""Mungkin karena mereka sengaja dihapus dari catatan," sahut Zhou Liang masuk dengan membawa kotak kayu tua yang berdebu. "Tapi ada satu tempat yang bahkan Council tidak bisa sepenuhnya menghancur

  • Kebangkitan Giok Karana (Karma Dari Giok Leluhur)   Bab 72. Dia Monster

    Klinik kecil di Tangerang terlihat sangat berbeda dari terakhir kali Ryan mengunjunginya. Gedung yang dulunya ramai dengan pasien sekarang gelap dan sunyi. Papan nama yang sudah pudar bergoyang pelan ditiup angin malam."Tempatnya terlihat ditinggalkan," kata Dimas berbisik sambil memegang kameranya dengan erat. "Apa kita yakin ini tempat yang tepat?""Ini tempatnya," jawab Ryan dengan yakin. Dia bisa merasakan energi gelap yang sangat kuat memancar dari dalam gedung. "Dia ada di dalam."Clarissa menyalakan energi Azure Dragon-nya, air mulai mengalir lembut di sekitar tangannya sebagai persiapan. "Aku merasakan sesuatu yang sangat tidak wajar. Energi ini, mirip dengan Green Dragon tapi sekaligus sangat berbeda. Seperti versi terbaliknya."Mereka melangkah masuk melalui pintu yang terbuka sedikit. Interior klinik gelap gulita, hanya diterangi oleh cahaya bulan yang masuk melalui jendela yang pecah. Perabotan berserakan, file-file medis tersebar di lantai."Selamat datang, Master Naga H

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status