登入Keesokan paginya, Dyah Arum kembali ke lahan itu.
Kabut pagi masih menggantung rendah di atas lahan bekas pertanian itu.
Di sisi utara, bekas sambaran Kilat Cilik semalam masih hitam — tiga garis terba
Saat Arka kembali ke tribun Macan, Bagas sudah berdiri di tepi tangga menunggunya.Tidak ada klepon kali ini. Tidak ada teriakan. Hanya Bagas yang berdiri dengan tangan di saku dan senyum yang berbeda dari senyum-senyumnya yang lain, lebih kecil, lebih dalam."Dari awal," katanya pelan saat Arka sampai. "Aku tahu kamu yang bakal jadi nomor satu.""Aku tidak dapat nomor satu.""Kamu dapat sesuatu yang lebih susah dicapai dari nomor satu." Bagas menepuk bahunya sekali, tidak dramatis, tidak panjang. "Pengakuan."
Pagi hari evaluasi besar, langit Medang Agung cerah tanpa awan.Sari muncul dari pintu rumah dengan rambut belum disisir saat Arka mau berangkat."Kak Arka mau ke mana?""Padepokan.""Beli jajan ya."Arka tidak bisa tidak tersenyum. "Iya."...Di gerbang padepokan, Bagas sudah menunggu."Paguyuban Empu sudah di tribun sejak subuh," katanya langsung saat Arka sampai. "Tiga orang. Yang satu pernah catat kasus Bayu tidak habis lima puluh tahun lalu.""Bagus," kata Arka.Bagas menatapnya sebentar. Lalu memutuskan tidak perlu bertanya lebih jauh....Lapangan utama sudah penuh.Garudha di tribun barat, Naga di timur dan utara. Di tribun selatan, Wreda Wiku dari distrik lain, perwakilan Paksa Senapati Bayu, dan di sudut paling ujung: tiga orang tua dengan jubah tanpa lambang institusi apapun.Paguyuban Empu.Arka menatap mereka sebentar. Lalu ke tribun Garudha.Pramodawardhana, postur tegak, cara menatap lapangan yang terlalu terkontrol. Seseorang yang sudah menyiapkan banyak hal dan sedang
Dua minggu berikutnya, Arka tidak berhenti mencoba.Bukan karena yakin berhasil tapi karena setiap kali gagal, titik kegagalannya bergeser sedikit lebih jauh.Percobaan kedua runtuh di cast ke lima puluh dua. Empat belas cast lebih jauh dari pertama.Percobaan kelima runtuh di cast ke tujuh puluh delapan. Sebelum kolaps, ada jendela tiga detik di mana keduanya berjalan bersamaan dengan bersih, Geni Cilik membesar di kanan, Lapisan Bayu menebal di kiri, dua ritme yang tidak saling mengganggu. Lalu Arka menyadarinya. Lalu semuanya runtuh.Percobaa
Tiga minggu sebelum evaluasi besar.Pagi itu lahan bekas pertanian masih sepi. Kabut tipis menggantung rendah di atas tanah keras yang penuh bekas latihan.Empu Sardulo belum keluar dari bengkelnya. Wira ada kelas pagi. Dyah Arum belum datang.Arka duduk sendirian di tengah lahan dengan buku catatan di pangkuannya.Sudah beberapa hari terakhir dia menyadari sesuatu yang aneh.Tangannya bergerak. Spell terbentuk. Ritme tetap stabil.Tapi pikirannya kadang baru menyusul setelahnya.Awalnya dia kira itu cuma efek kelelahan karena cast ribuan kali setiap hari.
Keesokan paginya, Dyah Arum kembali ke lahan itu.Kabut pagi masih menggantung rendah di atas lahan bekas pertanian itu.Di sisi utara, bekas sambaran Kilat Cilik semalam masih hitam — tiga garis terbakar yang memanjang dari satu titik ke tiga arah, seperti bintang yang jatuh ke tanah dan tidak mau pergi.Empu Sardulo sudah duduk di bangku kayunya saat langkah kaki terdengar dari arah jalan tanah. Cangkir teh di tangannya. Tangan satunya terlipat di dada. Menatap kedatangan Dyah Arum dengan ekspresi yang tidak menunjukkan apapun — tapi juga tidak menunjukkan keterkejutan.
Pagi setelah Kilat Cilik meledak ke tiga arah sekaligus, Empu Sardulo duduk di bangku kayunya seperti biasa.Cangkir teh. Tangan terlipat. Menatap kerusakan semalam bekas hangus berbentuk bintang di tanah, batu yang jatuh dari tembok, pohon di sudut yang kulit kayunya masih berserakan di rumput.Arka berdiri di hadapannya. Menunggu."Lahan ini tidak cukup besar," kata Empu Sardulo akhirnya."Kamu yang bilang itu sekarang."







