LOGINBangun sebagai tokoh antagonis yang ditakdirkan mati, Song Liya menolak tunduk pada alur novel. Dalam tubuh Murong Shi, ia menantang intrik, pernikahan politik, dan rahasia keluarga berdarah. Ketika perubahan dirinya justru memikat Adipati Xuan yang dingin, cinta dan bahaya berjalan beriringan. Saat rahasia kelam keluarga Murong dan saudari kembar tersembunyi terungkap, cinta, ambisi, dan pengkhianatan bertabrakan. Dalam permainan takdir ini, satu pilihan salah, berarti kematian dan Murong Shi bersumpah akan menang.
View MorePagi itu, dapur Paviliun Anggrek dipenuhi aroma gurih yang menggugah selera. Liya sibuk menata potongan ayam tepung krispi dan udang rebus dengan siraman saus jeruk limau yang segar- resep dari masa depan- ke dalam kotak-kotak kayu. Hari ini adalah agenda berbagi makanan di Akademi Shin Yue, dan Liya ingin memastikan keponakannya, Long Yuan, membawa porsi yang lebih dari cukup untuk teman-temannya. Sebelum melangkah keluar, Liya berhenti di depan cermin perunggu. Ia merapikan helai rambutnya dan menoleh ke arah pelayan setianya. "Xiao Cui, bagaimana? Apakah penampilanku sudah cukup pantas untuk bertemu para orang tua bangsawan di sekolah hari ini?" Xiao Cui mendekat, meneliti wajah majikannya dengan saksama. Tiba-tiba keningnya berkerut. "Nyonya Muda, anting Nyonya ... hilang satu di telinga kiri." Liya meraba telinganya dan mendesah kesal. Benar saja, perhiasan itu entah jatuh di mana. "Ah, aku tak punya waktu lagi untuk mencarinya sekarang. Cepat ambilkan sepasang anting baru
Udara tengah malam di Kediaman Long terasa seperti tusukan ribuan jarum es yang menembus kulit. Sunyi merajai setiap sudut pelataran, hanya sesekali terputus oleh derik jangkrik yang bersembunyi di balik bebatuan taman. Namun, bagi Liya, dinginnya malam tak sebanding dengan api rasa penasaran yang membakar benaknya. Bayangan tubuh Long Xuan yang terbelenggu rantai dengan urat-urat hitam yang menonjol mengerikan terus menghantui tidurnya. Dengan langkah seringan kapas, Liya menyelinap keluar dari Paviliun Anggrek. Ia bergerak mengendap-endap, memanfaatkan bayang-bayang pilar kayu yang besar untuk menghindari patroli penjaga malam. Tujuannya satu: Paviliun Phoenix. Bangunan itu tampak menjulang angker di bawah cahaya rembulan yang pucat, seolah-olah menyimpan ribuan rahasia yang tak boleh tersentuh dunia luar. Pintu depan paviliun tidak terkunci rapat. Liya mendorongnya perlahan, menimbulkan derit halus yang hampir tak terdengar. Ruang kerja suaminya di lantai dasar tampak begitu te
Malam telah jatuh menyelimuti ibu kota. Liya melangkah keluar secara diam-diam, dari gerbang samping kediaman Long dengan pakaian yang lebih sederhana, kerudung tipis menutupi sebagian wajahnya. Ia sengaja tidak menggunakan kereta kuda berlogo keluarga Adipati; ia tidak ingin kepulangannya nanti meninggalkan jejak dari pengawasan penjaga gerbang. Bahkan kepada Xiao Cui, ia hanya berpesan kalau ia tidak ingin diganggu di kamarnya, sebuah dusta kecil yang terpaksa ia lakukan demi kerahasiaan misinya. Sekitar dua blok dari kediaman, sebuah kereta sewaan sederhana telah menunggunya. Liya naik dengan cepat, hatinya berdegup kencang. Ia tahu, bertemu pria lain di malam hari adalah skandal besar, namun rasa penasaran akan sabotase pelana itu jauh lebih besar daripada rasa takutnya pada aturan kuno. Di Kedai Teh Liu Cha, sebuah ruangan pribadi di lantai dua telah dipesan. Di sana, Chen Yuan sudah menunggu dengan perasaan yang meluap-luap. Sejak menerima secarik kertas siang tadi, imajina
Pagi itu, suasana di depan gerbang Akademi Shin Yue tampak begitu sibuk. Kereta-kereta kuda mewah pengantar putra-putri bangsawan berjajar rapi. Liya baru saja melepas Long Yuan masuk ke kelasnya ketika matanya mulai menyapu area sekitar dengan tatapan tajam. Pikirannya masih tertuju pada potongan tali pelana yang tersimpan rapat di tasnya. Investigasi mandiri ini harus dimulai sekarang.Target pertamanya adalah Chen Yuan. Namun, baru saja ia hendak melangkah, Liya menyadari bahwa berdiri terlalu lama dengan Guru Sastra itu di bawah pengawasan ketat penjaga sekolah dan wali murid lainnya adalah langkah yang ceroboh. Ia perlu suasana yang lebih tertutup. Dengan gerakan cepat, Liya mengambil kuas dan menuliskan pesan singkat di secarik kertas: “Temui aku malam ini di Kedai Teh Liu Cha. Ada hal penting yang ingin kutanyakan.”Saat ia menyerahkan kertas itu kepada Chen Yuan dengan gerakan yang nyaris tak terlihat, Liya berbalik terburu-buru hingga tak sengaja bahunya menghantam sosok l






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews