Menukar Takdir Istri Sang Adipati

Menukar Takdir Istri Sang Adipati

last updateLast Updated : 2026-01-15
By:  Wei YunUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
5Chapters
8views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Bangkit dari kematian, seharusnya menjadi anugerah, namun bagi Song Liya, seorang guru SMA, itu adalah kutukan. Ia terbangun dalam tubuh Murong Shi, antagonis yang dibenci dalam Novel Gelora Cinta Sang Adipati, seorang istri bangsawan dengan reputasi buruk dan vonis hukuman mati yang tinggal menunggu waktu. Pernikahan politik tanpa cinta, suami dingin tak tersentuh, serta intrik menjadikannya pion yang siap dibuang kapan saja. Menolak mati sia-sia, Song Liya berbekal skill dan pengetahuannya dari masa depan, mengubah Murong Shi menjadi wanita yang tak lagi mudah diinjak. Dengan disiplin baja dan ketegasan, ia menyingkirkan kebiasaan lama, membangun tubuh dan wibawa, serta mengambil alih kendali hidupnya sendiri. Ia tak mencari cinta, tak mengejar pengakuan, yang ia inginkan hanya satu: bertahan hidup. Namun justru perubahan itulah yang menarik perhatian Adipati Xuan, pria sedingin es yang tak pernah menoleh padanya sebelumnya. Jarak yang ia ciptakan menjadi godaan, keteguhan yang ia bangun menjadi ancaman bagi ketenangan sang adipati. Di antara tatapan dingin dan keheningan yang sarat makna, benih perasaan mulai tumbuh, berbahaya, tak terduga, dan bisa menghancurkan segalanya. Saat Song Liya mengira telah memahami takdir Murong Shi, rahasia kelam keluarga Murong terkuak. Identitas palsu, masa lalu berdarah, dan saudari kembar  yang mengincar segalanya, termasuk suaminya. Dalam permainan kekuasaan dan cinta, satu langkah salah berarti kematian. Dan kali ini, Murong Shi tak berniat kalah.

View More

Chapter 1

Bab 1

"Murong Shi ... ayolah, biarkan aku menghangatkan dirimu malam ini," suara serak laki-laki menghentak kesadaran Song Liya. Ia membuka matanya dengan sentakan jantung yang hebat, seolah baru saja ditarik paksa dari kegelapan.

​Pemandangan di depannya sungguh di luar nalar. Ia tidak berada di aspal jalanan yang dingin setelah tertabrak motor saat mengejar muridnya yang ikut balap motor liar.

Kini, ia berada di atas ranjang kayu berukir naga yang sangat megah dengan kelambu sutra yang menjuntai halus. Aroma dupa cendana yang kuat dan pekat menusuk hidungnya.

​Song Liya terkesiap, berusaha mengumpulkan segenap kesadarannya yang masih terasa berkabut.

​Di mana ini? Apakah aku sudah mati dan bereinkarnasi? batin Song Liya panik.

Hal terakhir yang dia ingat adalah malam menjelang pagi itu; ia sedang menyusul muridnya yang nekat mengikuti balapan liar di pinggiran kota. Saat mencoba menghentikan aksi berbahaya itu, sebuah motor hilang kendali dan menghantam tubuhnya dengan keras.

​Sementara itu, seorang laki-laki bertelanjang dada dengan rambut hitam panjang yang terurai sebagian, baru saja menutup pintu kamar. Ia berbalik, lalu berjalan ke arah Liya dengan tatapan penuh gairah.

​Laki-laki itu terus maju hingga naik ke atas ranjang sambil terkekeh rendah. "Jangan malu-malu, Sayang. Bukankah kau yang memintaku datang ke sini melalui pesan rahasia itu?"

​”Apa?” Song Liya terbelalak. Ia bergerak cepat mundur ke sudut ranjang.

Namun, kain hanfu yang berat menghambat pergerakannya. Song Liya baru sadar bahwa saat ini ia mengenakan gaun sutra berwarna gading yang mewah dengan sulaman benang emas, bukan celana training dan kaos longgar yang biasanya ia pakai untuk tidur.

​Laki-laki itu berhasil menangkap kaki kanan Liya dengan kasar. "Mau lari ke mana? Kau sudah mengundangku, masa kau menolakku sekarang?"

​Liya bertahan dengan berpegangan kuat pada sisi ranjang. Tubuhnya tidak ikut tertarik meski pria itu menggunakan seluruh tenaganya. “Tidak …”

Pria itu menyeringai, "Kau semakin menarik jika berlagak melawan begini. Ayo, Murong Shi ... mari kita mulai malam panas kita."

​Song Liya tersentak hebat mendengar nama itu disebut lagi.

"Murong Shi …?" gumamnya tak percaya. Suaranya terdengar lebih lembut dan tinggi, bukan suara aslinya.

​Laki-laki itu terkekeh, tangannya mulai merayap naik ke betisnya. "Kenapa memanggil namamu sendiri? Suamimu yang seorang Adipati itu, bukankah dia sangat dingin dan selalu mengabaikanmu? Itulah sebabnya kau mencariku, kan?"

​Kini ingatan Song Liya menjernih secepat kilat. Malam itu, sesaat sebelum telepon tentang muridnya masuk, ia baru saja menamatkan bab terakhir sebuah novel populer berjudul Gelora Cinta Sang Adipati.

​’Ya Tuhan!’ Liya membelalak kaget. ‘Jangan-jangan aku masuk ke dalam alur cerita novel itu? Mengapa Murong Shi? Mengapa harus menjadi tokoh antagonis yang nasibnya berakhir di tiang gantungan!’ Song Liya menggeram putus asa dalam hati.

​Murong Shi dalam novel adalah wanita temperamental, arogan, dan jahat yang selalu membuat masalah bagi Adipati Xuan, suaminya. Namun, semua kelicikannya berakhir tragis setelah ia dijebak dalam sebuah skandal besar.

​Liya tidak punya waktu untuk meratapi nasib menjadi tokoh jahat karena pria bertelanjang dada itu kembali menerjang.

Napasnya berbau arak pekat, matanya merah, dan gerakannya sempoyongan namun agresif. Sebagai guru olahraga yang memiliki dasar bela diri yang kuat, insting Liya mengambil alih. Ia tidak menghindar lagi.

​Saat pria itu mendekat untuk menerkam, Liya menarik napas pendek. Dengan sudut yang sangat sempit di pojok ranjang, ia memutar pinggangnya.

Ia menggunakan teknik jepitan kaki, mengunci leher pria itu dengan kedua kakinya yang kuat, lalu membantingnya ke atas kasur dengan tumpuan berat tubuhnya.

​Pria itu memberontak, wajahnya memerah karena kehabisan oksigen. Ia berusaha membuka jepitan kaki Liya, namun jepitan itu terkunci rapat dengan teknik yang sempurna hingga akhirnya tubuh pria itu terkulai pingsan kehabisan napas.

​"Satu nol untuk Guru Olahraga," bisik Liya sambil melepaskan kunciannya. Ia mengibas kakinya yang sedikit sakit. Tubuh Murong Shi ternyata jauh lebih lemah dan jarang bergerak.

​Namun sepertinya kemenangan itu hanya bertahan sedetik. Dari balik pintu kayu yang besar, terdengar suara derap langkah kaki yang ramai dan teriakan melengking seorang wanita yang sangat ia kenal karakternya.

​"Murong Shi! Aku tahu kau di dalam! Dasar wanita tidak tahu malu!"

​BRAK! BRAK!

Pintu itu digedor dengan kasar dari luar.

"Buka pintunya! Beraninya kau menggoda suamiku di rumah orang lain! Murong Shi, keluar!"

​Liya mematung. Jantungnya berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar. "Gawat. Suara itu ... jebakan ini ... aku ingat bagian ini!"

​Pikirannya berputar cepat, memanggil kembali memori dari halaman-halaman novel. Ini adalah malam pesta ulang tahun Bangsawan Dao. Dalam cerita aslinya, Murong Shi memang sengaja datang ke kamar ini, tapi ia tidak tahu bahwa ia sedang masuk ke dalam perangkap yang lebih besar.

​"Su Wen!" desis Song Liya. "Ini semua gara-gara Su Wen."

​Ia ingat betul detailnya. Su Wen, yang dalam cerita adalah sahabat sekaligus saingan Murong Shi, menaruh dendam karena kalah taruhan permainan kartu Madiao.

Murong Shi yang angkuh memenangkan gelang giok berukir naga hitam milik Su Wen, dan wanita licik itu membalas dendam dengan merancang skandal perselingkuhan ini.

Dalam novel, skandal inilah yang membuat Adipati Xuan memiliki alasan kuat untuk semakin membenci Murong Shi yang berakhir dengan skandal yang membawanya ke tiang gantungan.

​’Kalau aku tertangkap sekarang, alur kematian tokoh antagonis ini akan dimulai,’ gumam Liya panik. ‘Aku harus mengubah nasib wanita jahat ini jika mau bertahan hidup!’

​Suara pintu yang dipaksa buka semakin nyaring. Song Liya melihat pria yang pingsan di ranjang. Dengan cepat, ia menyambar pakaian pria itu yang berserakan di lantai dan memakaikannya kembali secara asal-asalan ke tubuh lemas tersebut.

Ia menyelimutinya hingga ke dada, membuatnya tampak seolah-olah pria itu hanya sedang tidur lelap karena mabuk berat.

​"Tidurlah yang nyenyak, Tuan Mesum," bisik Liya tajam.

​Ia menoleh ke arah jendela. Satu-satunya jalan keluar. Ia membukanya dan mendapati kenyataan pahit: kamar ini berada di lantai dua.

Di bawah sana ada taman gelap yang dipenuhi tanaman berduri, tapi rutenya harus melewati atap bangunan yang sangat licin karena sisa hujan.

​KREK!

Suara kayu pintu mulai retak. Engselnya mulai goyah akibat dorongan paksa dari luar.

​"Tidak ada pilihan lain!"

​Song Liya melompat ke ambang jendela.

Dengan perasaan dongkol, ia mengangkat hanfu panjangnya yang mewah namun merepotkan, lalu mengikatkan ujung kainnya ke pinggang agar kakinya bisa bergerak bebas.

"Ah, andai sudah ada sneakers di jaman ini, aku tidak akan sesengsara ini," ucapnya sambil berdecak kesal.

​Ia menatap ke bawah sekali lagi lalu melompat ke luar jendela.

Tepat saat ujung jemarinya menutup jendela dari luar, pintu kamar di dalam sana jebol di dobrak hingga hancur berkeping-keping.

​"Mana dia?! Di mana jalang itu!" Suara Su Wen menggelegar di dalam kamar.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
5 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status