LOGINSubuh hari pertama, Rengganis membangunkan Arka sebelum langit terang.Hanya berdiri di dekat tikarnya sampai Arka terbangun sendiri, entah karena kehadirannya atau karena Rimba punya cara sendiri untuk membangunkan orang."Bangun," katanya. Sudah ada dua cangkir teh di meja.Arka duduk. Minum. Pahit seperti kemarin."Hari ini kita tidak ke dalam," kata Rengganis "Hari ini kamu belajar mendengar.""Mendengar apa?""Rimba."...Mereka berjalan keluar sebelum matahari naik.Bukan jauh, hanya ke tepi kecil di sekitar tempat tinggal Rengganis, di mana pohon-pohon masih rapat tapi masih ada cahaya yang masuk dari atas. Rengganis berdiri di antara dua akar besar, tangan di sisi tubuh, mata setengah terpejam."Tutup matamu," katanya."Dengarkan."Arka mendengarkan, suara daun, suara angin yang tidak terasa di kulit tapi terdengar di atas, suara
Tempat tinggal Rengganis bukan rumah.Bukan gubuk juga. Lebih seperti sesuatu yang tumbuh dari Rimba sendiri, dinding dari kayu yang tidak ditebang tapi dibentuk, atap dari daun yang disusun berlapis sampai hujan tidak bisa masuk, lantai dari tanah yang sudah dipadatkan selama bertahun-tahun sampai terasa seperti batu.Di sudut ada tungku kecil. Di dinding ada rak dengan botol-botol yang isinya tidak bisa langsung Arka identifikasi. Di pojok ada tikar yang sudah tipis dari sering dipakai.Tidak ada yang berlebihan. Tidak ada yang kurang.Rengganis masuk tanpa bersuara. Menyalakan tungku dengan gerakan yang sudah ribuan kali dilakukan. Menaruh dua cangkir di meja.Arka duduk di kursi satu-satunya. Rengganis duduk di lantai bukan karena tidak ada tempat lain, tapi seperti memang itu posisi yang lebih nyaman untuknya."Bungkusannya," kata Rengganis.Arka menyerahkan bungkusan dari Empu Sardulo.Rengganis membukanya perlahan. Di dalam kain tua itu ada benda kecil. Kristal bening, tidak le
Perjalanan ke Rimba Dayak Batin butuh tiga hari jalan kaki dari batas kota Medang Agung.Hari pertama, jalan besar yang masih ramai. Pedagang, petani, gerobak yang berderit di atas batu. Arka berjalan di antara semua itu dengan tas kecil di punggung dan angka 1 yang mengambang di atas kepalanya yang tidak ada yang perhatikan karena semua orang terlalu sibuk dengan urusannya sendiri.Pertama kalinya dia merasa tidak terlihat.Bukan tidak dianggap seperti di padepokan. Tapi benar-benar tidak terlihat, anonim, satu dari ratusan orang yang sedang pergi ke suatu tempat dengan alasannya masing-masing.Itu terasa lebih ringan dari yang dia bayangkan....Hari kedua, jalan tanah yang makin sempit. Pemukiman makin jarang. Pohon-pohon makin tinggi dan makin rapat. Udara berubah, lebih lembab, lebih berat, dengan bau tanah basah yang tidak ada di Medang Agung.Di desa kecil terakhir sebelum masuk ke wilayah Rimba, Arka berhenti
Seminggu itu terasa lebih pendek dari yang Arka rencanakan.Bukan karena banyak yang harus disiapkan secara fisik, tas kecil, beberapa pakaian, buku catatan baru, bungkusan dari Empu Sardulo yang tidak dia buka. Persiapan fisik selesai dalam dua hari.Yang memakan waktu adalah hal-hal yang tidak bisa dimasukkan ke dalam tas....Hari pertama, Arka ke padepokan untuk terakhir kalinya sebagai siswa.Bukan untuk upacara. Tidak ada yang mengumumkan kepergiannya. Hanya be
Prawira tidak ada di bengkel saat Arka pulang.Bukan hal yang langsung mengkhawatirkan, mungkin di dalam rumah, mungkin di warung sebelah, mungkin sedang istirahat. Tapi ada sesuatu di cara bengkel itu berdiri hari ini yang terasa berbeda dari hari-hari sebelumnya.Lebih sunyi. Lebih diam.Seperti ruangan yang sudah lama tidak dihuni.Arka masuk ke dalam rumah.Ibunya ada di dapur tapi tidak memasak. Duduk di kursi dengan tangan di pangkuan dan wajah yang tidak menunjukkan apapun dengan cara yang justru menunjukkan terlalu banyak."Ibu."Sekar menoleh. Matanya sudah merah di tepinya bukan baru menangis, tapi sudah lama menahan sesuatu dan baru saja tidak bisa menahan lagi."Bapakmu," katanya pelan, "di kamar."...Prawira berbaring di kasurnya.Bukan posisi orang yang tidur, posisi orang yang lelah dengan cara yang tidak bisa dipulihkan dengan tidur. Matanya terbuka saat Arka masuk. Menatap langit-langit dengan cara yang Arka kenal, cara menatap sesuatu yang tidak ada di sana tapi tet
Dua minggu setelah malam di bengkel itu, surat dari Paguyuban Empu datang.Bukan diantar utusan kali ini datang langsung ke tangan Arka melalui anggota yang sudah dia kenal, pria tua dengan jubah tanpa lambang yang selalu sudah ada sebelum orang lain tiba. Mereka bertemu di kedai teh yang sama di kota bawah.Cangkir teh. Dua orang. Surat di meja di antara mereka."Baca dulu," kata pria tua itu.Arka mengambil surat itu....Isinya panjang lebih panjang dari yang Arka bayangkan untuk sebuah keputusan. Penuh dengan bahasa formal Paguyuban yang berlapis-lapis, tapi intinya ada di paragraf keempat:Teknik Lapisan Bayu dan Irama Ganda, sebagaimana didemonstrasikan oleh Arka Prawirasuta dalam proses verifikasi yang berlangsung selama tiga bulan, dinyatakan VALID sebagai teknik Olah Rasa yang sah. Pengembangan lebih lanjut diizinkan dan didokumentasikan sebagai preseden pertama dalam kategori teknik berbasis akumulasi iteratif.







