LOGINWandi, adalah seorang kurir miskin yang hidup mengenaskan. Namun suatu hari, ia mengalami kecelakaan yang mengubah hidupnya. Bagaimana kisah Wandi selanjutnya? Ikuti kisahnya di buku yang bertajuk 'Kurir Pemilik Sistem' ini.
View MoreArini menghela napas panjang. "Baiklah. Aku percaya. Kamu tidak pernah berbohong padaku.""Terima kasih, Rin."Noval yang dari tadi asyik bermain dengan mobil-mobilan Hot Wheel di lantai, tiba-tiba berhenti. Dia menatap tas ransel hitam di atas meja."Pa, itu tas apa? Kok belum pernah diliat?" tanya Noval.Wandi menoleh ke tas ransel. "Itu tas Papa, Nak. Isinya keris.""Keris? Apa itu keris?""Keris itu... senjata tradisional Jawa. Bentuknya seperti pisau, tapi berkelok-kelok.""Kayak apa, Pa? Noval mau lihat."Wandi ragu sejenak. Dia menatap Arini. Arini mengangguk."Perlihatkan saja, Wan. Dia anak-anak. Tidak akan mengerti.""Baik."Wandi berdiri, mengambil tas ransel, lalu membukanya perlahan. Dia mengeluarkan bungkusan kain beludru hitam, lalu meletakkannya di atas meja. Dengan hati-hati, dia membuka kain beludru itu.Keris itu tergeletak di atas meja, bilahnya yang berkelok sebelas luk berkilauan di bawah cahaya matahari siang yang masuk melalui jendela. Gagang kayu hitam dengan
Wandi membungkus keris itu dengan kain beludru, memasukkannya ke tas ransel, lalu berdiri. Dia menyalami Kyai Slamet, memberinya amplop berisi uang sebagai tanda terima kasih."Kyai, saya pamit.""Hati-hati di jalan, Mas. Keris ini sekarang titipan Tuhan kepada Mas. Jangan sia-siakan.""Tidak akan, Kyai."Wandi berjalan keluar. Di luar, matahari sudah semakin tinggi. Wandi menaiki NMAX hitamnya, menyalakan mesin, dan melaju meninggalkan gang sempit.Pikirannya masih kacau. Tapi hatinya tenang."Aku keturunan prajurit Kerajaan Sunda. Keris ini adalah warisanku. Dan aku akan menjaganya."Di luar, matahari sudah semakin tinggi. Jakarta di pagi hari tetap sibuk, tetapi Wandi tidak merasakan kebisingan. Pikirannya masih dipenuhi dengan penglihatan di alam batin, sosok pria tua dengan janggut putih, cahaya keemasan, kata-kata tentang keturunan prajurit Kerajaan Sunda."Kamu tidak sendirian."Wandi menaiki NMAX hitamnya, menyalakan mesin, dan melaju perlahan meninggalkan gang sempit. Minimap
Kyai Slamet mengambil cobek kecil berisi kemenyan, lalu menyalakannya dengan korek api. Api kecil membakar kemenyan, mengeluarkan asap putih tipis yang mengepul ke udara. Aroma kemenyan yang khas, wangi, sedikit tajam, tetapi menenangkan, mulai memenuhi ruangan."Mas Wandi, duduk yang tenang. Pejamkan mata. Atur napas. Biarkan pikiran Mas kosong."Wandi memejamkan mata. Dadanya naik turun perlahan. Tangannya di atas pangkuan, telapak tangan menghadap ke atas. Dia mencoba mengosongkan pikirannya, mencoba tidak memikirkan Arini, Noval, Andre, atau masalah-masalah lain. Fokus hanya pada keris. Pada getaran yang dia rasakan ketika memegang keris itu."Mas Wandi, sekarang buka mata."Wandi membuka mata. Asap kemenyan mengepul di depannya, membentuk lingkaran-lingkaran yang perlahan menghilang."Mas Wandi, ambil keris itu. Pegang dengan kedua tangan. Rasakan."Wandi meraih keris itu. Gagang kayu hitam terasa dingin di telapak tangannya. Tapi tidak lama kemudian, dingin itu berubah menjadi h
Matahari baru saja muncul di ufuk timur ketika Wandi sudah terbangun dari tidurnya. Cahaya pagi yang lembut masuk melalui celah-celah tirai kamar, menciptakan garis-garis tipis berwarna keemasan di lantai keramik. Burung-burung pipit mulai berkicau di pohon mangga halaman depan, bersahutan dengan suara ayam tetangga yang sesekali berkokok. Wandi tidak tidur nyenyak semalam. Pikirannya terlalu sibuk memikirkan ritual yang akan dia jalani pagi ini. Dia sudah memeluk Arini dan Noval sebelum mereka tidur, dan Arini sempat bertanya, "Wan, kamu kenapa gelisah?" Wandi hanya menjawab, "Besok aku ada urusan penting, Rin. Doakan aku." Arini mengangguk, tidak bertanya lebih lanjut.Wandi bangkit dari kasur, berjalan ke kamar mandi, dan membasuh wajahnya dengan air dingin. Dia menatap bayangannya di cermin, wajah yang kini tidak lagi kusam, mata yang tajam, dan tubuh yang kekar. Dia mengambil handuk, mengelap wajahnya, lalu berjalan ke lemari.Di dalam lemari, terbungkus kain beludru hitam, keris






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews