Kurir Pemilik Sistem

Kurir Pemilik Sistem

last updateLast Updated : 2026-07-07
By:  BoardMarkerUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
8Chapters
8views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Wandi, adalah seorang kurir miskin yang hidup mengenaskan. Namun suatu hari, ia mengalami kecelakaan yang mengubah hidupnya. Bagaimana kisah Wandi selanjutnya? Ikuti kisahnya di buku yang bertajuk 'Kurir Pemilik Sistem' ini.

View More

Chapter 1

Tabrakan (part 1)

Langit Jakarta siang itu mendung, tebal seperti lapisan kapas kotor yang menekan atap gedung-gedung. Awan kelabu menggantung rendah, menyembunyikan sinar matahari hingga udara terasa lembap dan berat. Wandi melaju pelan di pinggir Jalan Thamrin, motor bututnya menggelegar dengan suara knalpot bolong yang sudah lama tak diganti.

Seragam hijau lumutnya lengket di punggung, tulisan “SURAT CEPAT” memudar di balik noda keringat yang melebar. Tiga paket terguncang pelan di boks belakang: kotak kue ulang tahun yang diikat rapat, map dokumen tebal untuk asuransi, dan plastik baju online shop yang sudah agak penyok.

Dia melirik jam Casio di pergelangan tangan kirinya. Jarum pendek mendekati angka dua, jarum panjang menunjuk angka 27. Keringat mengalir deras dari pelipisnya, membasahi bekas jerawat di pipi yang hitam legam.

Bahunya terasa kaku, tangan kanannya memutar gas dengan gerakan hafal. “Jam setengah dua,” gumamnya sambil mengelap dahi dengan lengan baju yang sudah basah.

Menteng masih jauh, Kuningan pasti macet, Kebon Sirih… bayangan wajah istrinya yang mengerut sudah muncul di benaknya. Motornya menyelinap di celah-celah mobil yang merayap. Ban depan menginjak genangan air kecil, cipratan lumpur menempel di sepatu botnya yang usang.

Tangan kirinya sesekali menekan klakson pendek, meminta jalan dari sedan yang enggan bergeser. Tujuh tahun berkeliling kota ini membuatnya tahu setiap lubang aspal yang bisa membuat ban kempes, setiap polisi tidur yang suka membuat paket di boks bergeser.

Lampu merah menyala di depan. Wandi mengerem perlahan, ban motor berdecit pelan di aspal. Di sebelah kiri, seorang bapak dengan helm setengah tabung duduk diam di atas Beat putih.

Di sebelah kanan, Xenia abu-abu dengan kaca gelap berhenti rapat. Truk Fuso besar di depan mengembuskan asap hitam tebal dari knalpot bawahnya setiap kali mesinnya mendengung. Wandi menghela napas panjang, bahunya turun naik.

Saku celananya bergetar. Dia merogoh dengan satu tangan, menarik ponsel Android berlayar retak. Layar menyala redup. Pesan dari Tina: “Wandi, tolong beli beras nanti. Beras kita habis. Jangan lupa.” Senyum tipis muncul di bibirnya yang kering. Jari-jarinya yang kasar mengetik cepat: “Iya. Ntar malem tak bawain.” Tombol kirim ditekan. Ponsel dimasukkan kembali ke saku.

Lampu hijau menyala. Truk Fuso di depan bergerak lambat, roda besarnya berputar sambil mengeluarkan asap lagi. Wandi memutar gas, mengikuti dari belakang. Angin panas siang menyapu wajahnya. Matanya sempat terangkat ke langit, mendung tetap tebal, tapi ada sesuatu.

Titik kecil keperakan bergerak cepat di antara celah gedung-gedung tinggi. Terlalu cepat untuk pesawat biasa. Alisnya berkerut, tapi sebelum pikiran itu sempat terbentuk…

Dari sebelah kanan, Avanza hitam melesat keluar jalur dengan kecepatan tinggi. Ban mobil itu meraung. Wandi hanya sempat menoleh.

Brak!

Dunia berputar. Tubuhnya terangkat ringan, melayang beberapa saat seperti daun kering tertiup angin kencang. Lalu benturan keras menyambar sisi kanan tubuhnya. Bahu, pinggul, kaki semuanya menghantam aspal dengan suara berat.

Kepalanya membentur keras, helm murahnya terlepas dan menggelinding jauh. Rasa sakit meledak, panas dan tajam, seolah tulang-tulangnya retak sekaligus. Darah hangat mengalir dari hidung, menetes ke bibir, rasa logam asin memenuhi mulut.

Suara-suara datang bertubi-tubi, tapi teredam seperti di dalam air.

“Ada yang ketabrak!”

“Pak! Bapak gak apa-apa?!”

“Panggil ambulans! Cepat!”

“Sopirnya kabur! Platnya mahal, cuma dua angka!”

Wandi mencoba membuka mata. Langit kelabu terlihat buram, berputar pelan. Tubuhnya tak mau bergerak. Jari-jarinya berkedut lemah di aspal panas. Napasnya pendek-pendek, setiap tarikan terasa seperti ada pisau di rusuk.

Pikirannya melayang ke Tina, ke anak perempuan mereka yang berusia dua tahun, ke paket-paket yang mungkin sudah berantakan. Namun, lidahnya terasa berat, tak bisa mengeluarkan suara.


Lebih dari empat ratus kilometer di atas Bumi, di balik bayangan Bulan, sebuah struktur kristal hitam mengambang diam. Permukaannya menyerap cahaya bintang, tak memantulkan apa pun, menyatu dengan kegelapan ruang angkasa.

Di dalam ruang kendali yang diterangi cahaya kehijauan samar, makhluk-makhluk plasma bercahaya melayang di kursi antigravitasi. Tubuh mereka berubah-ubah bentuk pelan, seperti asap tebal yang bernyawa.

Komandan Thar’Xul berdiri di depan layar holografik besar. Cahaya oranye kuat berdenyut di seluruh tubuh plasmanya, semakin terang saat fokusnya meninggi.

Gambar Wandi muncul jelas di layar: wajah hitam legam penuh peluh, seragam basah, motor butut di tengah kemacetan. Data mengalir di samping gambar itu, riwayat perjalanan harian, pesan WA dengan istrinya, bahkan detak jantungnya yang sedang meningkat karena kecelakaan.

“Target terkunci,” ucap Thar’Xul. Suaranya bergetar dalam frekuensi yang menggema di dinding kristal. “Senjata Kalibrasi Kehidupan sudah siap.”

Di sampingnya, Letnan Vex’Ra menggerakkan tentakel plasmanya gelisah, cahaya kehijauannya berfluktuasi cepat. Tubuhnya mendekat ke layar, memperbesar foto Wandi yang sedang tergeletak di jalan. “Komandan, subjek ini… hanya kurir biasa. Motornya masih cicilan telat. Tidak ada akses militer, tidak ada pengetahuan ilmiah. Mengapa dia?”

Cahaya oranye di tubuh Thar’Xul berubah merah menyala. Denyutannya semakin cepat. “Perintah Dewan Tinggi sudah final, Letnan. Subjek W-2771 dipilih karena ketidakpentingannya. Tidak ada yang akan mencarinya terlalu dalam. Tidak ada yang akan curiga. Sistem Angka Kehidupan akan aktif tanpa gangguan. Ini protokol eksperimen Dunia Bawah.”

Vex’Ra terdiam sejenak, cahayanya meredup. Namun, matanya, atau apa yang berfungsi sebagai mata, masih tertuju pada gambar Wandi yang kini menunjukkan denyut nadi lemah. “Dia bahkan tak tahu kami mengamatinya. Semua data hidupnya… terbuka begitu saja.”

Thar’Xul tidak menjawab. Ia hanya menggerakkan satu tentakel, memberi isyarat.

Di ujung pesawat, kanon kristal panjang mulai bercahaya. Energi keemasan berkumpul, berputar membentuk pusaran kecil yang semakin besar. Cahaya itu semakin terang, memenuhi ruang kendali dengan kilauan hangat.

“Tembak,” perintah Thar’Xul datar.

Vex’Ra menyentuh panel. Kanon melepaskan tembakan. Seberkas cahaya keemasan melesat menembus ruang angkasa, melintasi atmosfer Bumi tanpa terdeteksi, menuju titik kecil di Jalan Thamrin, di mana suara sirene ambulans mulai terdengar samar.

Di bawah, Wandi masih tergeletak. Matanya setengah terbuka, melihat langit kelabu yang kini seolah berdenyut pelan dengan cahaya aneh yang hanya ia lihat sesaat.

Rasa sakit masih menusuk, namun ada sesuatu yang baru. Sebuah angka samar muncul di sudut penglihatannya, berdenyut lemah seperti detak jantung sendiri.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status