LOGINWandi, adalah seorang kurir miskin yang hidup mengenaskan. Namun suatu hari, ia mengalami kecelakaan yang mengubah hidupnya. Bagaimana kisah Wandi selanjutnya? Ikuti kisahnya di buku yang bertajuk 'Kurir Pemilik Sistem' ini.
View MoreMatahari baru saja terbit ketika Wandi melangkah keluar dari kontrakannya. Langit Jakarta masih jingga muda, diselimuti kabut tipis yang membuat udara terasa lebih ringan sebelum panas menyengat datang. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir pusing yang masih menempel di kepala.Semalam Tina membersihkan lukanya dalam diam. Hanya desahan kesal sesekali yang keluar dari bibirnya saat kapas menyentuh luka. Wandi tahu istrinya masih marah. Masih kecewa. Masih memikirkan cerai. Tetapi tangannya tetap teliti menyeka darah kering, mengoleskan Betadine, dan memasang perban baru. Itu sudah cukup untuk membuat Wandi berharap.Nila rewel sepanjang malam. Perut kecilnya kosong. Wandi hanya bisa memanaskan bubur instan sisa, tiga bungkus tipis yang dibagi untuk pagi, siang, dan malam. Besok? Ia tidak berani memikirkannya.Dompetnya hanya menyisakan empat puluh ribu rupiah. Hitungannya kemarin salah. Uang ongkos kirim sudah habis untuk hal-hal kecil yang tidak ia ingat lagi.“Pokoknya hari ini
Wandi mengangkat wajah perlahan. Matanya menatap Tina lama, menelusuri garis lelah di wajah istrinya, lalu beralih ke Nila yang sudah tertidur lagi di kasur tipis. Pipi mungil Nila masih basah oleh air mata, bibir kecilnya mengerucut seperti sedang menahan mimpi buruk.Di atas kepala Tina, angka hijau itu terus berdetak. 1.208. Sekarang 1.175. Angka kecil yang menyusut perlahan, tepinya semakin kuning pudar seperti daun yang mulai layu di musim kemarau.“Tin,” kata Wandi perlahan, suaranya hampir hilang di antara isak tangis Nila. “Aku hanya minta satu hal.”“Apa?” Tina bersedekap, bahunya tegang.Wandi melangkah mendekat. Tangan kirinya yang tidak terluka meraih kedua tangan Tina. Jari-jarinya kasar, dingin, kapalan karena mencuci piring dan pakaian tanpa sabun yang cukup. Ia menggenggamnya dengan lembut, merasakan getar kecil di telapak tangan istrinya.“Aku minta maaf,” ucapnya, suaranya rendah dan berat. “Bukan hanya hari ini. Tetapi untuk semua hari yang sudah kita lewati. Maaf karena
Tina tidak menjawab. Matanya menyapu Wandi dari ujung rambut yang acak-acakan sampai sepatu bot yang masih berlumur debu dan darah kering. Tatapan itu dingin, datar, seperti memandang orang asing yang baru masuk ke rumahnya. Udara di dalam kontrakan terasa pengap dan panas, tetapi Wandi merinding hingga bulu kuduknya berdiri.“Tin, aku…”“Berasnya mana?” potong Tina. Suaranya datar, tanpa nada.Wandi terdiam. Mulutnya terbuka, tetapi lidahnya kelu. Beras. Ia lupa. Benar-benar lupa.“Ta-tadi aku kecelakaan, Tin,” katanya tergesa, suaranya serak. “Tabrakan dengan mobil di Thamrin. Kepalaku…”“Berasnya mana?” Tina mengulang, masih dengan suara yang sama. Dingin seperti es.“Tin, dengarkan aku dulu…”“WANDI!” teriak Tina tiba-tiba. Suaranya memecah ruangan kecil itu. Nila yang tertidur di gendongannya tersentak bangun, langsung menangis kencang, tubuh kecilnya menggeliat. Tina tidak menggubris. Matanya yang berkaca-kaca tetap tertuju pada Wandi. “BERASNYA MANA? SUDAH BERKALI-KALI AKU BILANG BERAS
Wandi menepuk saku celananya yang sudah tipis. Uang delapan puluh ribu rupiah dari ongkos kirim hari ini masih utuh di dompet usang. Motornya meringis setiap kali roda depan menginjak aspal, spion patah menggantung miring, lampu depan pecah berserakan, setang bengkok seperti tulang yang patah tak tersambung. Besok bengkel pasti menagih dua ratus ribu, mungkin lebih. Cicilan motor yang terlambat tiga bulan menumpuk menjadi satu juta dua ratus ribu. Belum lagi utang tetangga untuk susu Nila minggu lalu. Ia menghela napas panjang, bahunya turun lesu. Jam di pergelangan tangan menunjuk pukul enam sore saat paket terakhir diserahkan. Kue ulang tahun diterima ibu-ibu di Menteng dengan senyum tipis, meskipun matanya sempat melirik boks yang penyok. Dokumen asuransi dilempar begitu saja ke meja resepsionis di Kuningan yang sibuk bermain ponsel. Baju online di Kebon Sirih hanya dititipkan kepada satpam kompleks karena penghuninya tidak ada di rumah. Beruntung tidak ada keluhan langsung. “Ya sud






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.