LOGINElena, pembunuh bayaran terbaik dari Klan Bayangan, terpaksa menikahi Pangeran Arlon yang dikenal lemah demi sebuah misi rahasia. Rencananya sederhana, yaitu menyamar, selesaikan misi, lalu menghilang. Namun, semua berubah saat serangan terjadi di malam pertama mereka. Elena tertegun melihat sang Pangeran Tak Berguna justru menghabisi musuh dengan tangan kosong secepat kilat. Kini, keduanya terjebak dalam sandiwara besar. Di siang hari mereka adalah pasangan yang malang, namun di malam hari, mereka adalah duet maut paling mematikan.
View MoreHujan deras mengguyur perbatasan hutan terlarang, menyamarkan jejak seorang pria berjubah hitam yang berjalan tergesa menuju sebuah gubuk tua. Di dalam gubuk itu, aroma amis darah dan kayu terbakar menyatu di udara.
Elena sedang membersihkan belati peraknya saat pintu gubuk nya terbuka. Ceklekk Dia tidak menoleh sedikit pun. Baginya, langkah kaki pria itu terlalu berat untuk ukuran seorang pembunuh, namun terlalu tenang untuk ukuran orang biasa. "Aku punya misi khusus untukmu, Misi yang tidak akan kamu temukan di papan pengumuman klan mu," ucap pria itu dengan suara serak. Elena akhirnya mengangkat wajahnya, menatap sosok yang wajahnya tertutup tudung jubah. Dia tidak mengenal pria ini, bahkan ketua klannya sendiri tidak memberitahu siapa identitas pengirim pesan ini. "Aku tidak menerima misi tanpa rincian yang jelas. Siapa targetnya?" tanya Elena datar, sambil menyarungkan belatinya kembali ke pinggang nya. Pria itu meletakkan sebuah kotak kayu kecil di atas meja yang rapuh. Saat dibuka, isinya adalah se kantong koin emas murni dan sebuah Surat. "Targetmu bukan untuk membunuh, melainkan menjadi pengantin. Kamu akan menikah dengan Pangeran Arlon dari Kerajaan Belmont," jawab pria misterius itu, suaranya terdengar bergetar saat menyebut nama pangeran tersebut. Elena tertawa sinis, sebuah tawa pendek yang tidak mencapai matanya. "Menjadi pengantin? Anda salah alamat. Aku dibayar untuk mencabut nyawa, bukan untuk melayani pria di ranjang," jawab Elena, menatap remeh ke arah koin-koin emas itu. Pria berjubah itu maju satu langkah, tangannya yang gemetar mencengkeram tepi meja. "Pangeran Arlon sedang diambang kematian. Wanita yang saat ini menjadi Ratu mencoba menghabisinya setiap hari dengan racun, jika Anda tidak di sana, dia akan mati sebelum bulan depan," ucap pria itu lagi, penuh penekanan. Elena terdiam sejenak. Dia pernah mendengar nama Pangeran Arlon. Rumor mengatakan pangeran itu adalah aib kerajaan, pria yang hanya bisa berbaring di tempat tidur dan menunggu ajal menjemput. "Kenapa Anda begitu peduli padanya? Apa hubunganmu dengan pangeran tak berguna itu?" tanya Elena, mencoba memancing informasi dari balik tudung pria itu. Pria misterius itu terdiam cukup lama, sebelum akhirnya berbalik menuju pintu keluar, meninggalkan aroma kerinduan dan kesedihan yang mendalam di ruangan itu. "Kamu tidak perlu tahu siapa Saya. Cukup pastikan dia tetap bernapas sampai waktunya tiba. Jika kamu gagal, bukan hanya kepalamu yang hilang, tapi seluruh klanmu akan rata dengan tanah," ucap pria sebelum akhirnya menghilang di balik kegelapan hujan. Elena menatap pintu yang terbuka lebar itu dengan perasaan campur aduk, dia tidak suka diperintah, apalagi oleh orang asing yang identitasnya tidak jelas. Namun, tantangan ini menarik perhatiannya. Menjadi istri dari seorang pangeran yang dibuang? Itu terdengar seperti samaran yang sempurna. **** Dua minggu kemudian, suasana di Istana Belmont sama sekali tidak terlihat seperti pernikahan agung. Tidak ada pesta, tidak ada rakyat yang bersorak. Yang ada hanyalah kesunyian yang mencekam di paviliun paling ujung, tempat yang lebih mirip penjara daripada kediaman seorang pangeran. Elena berdiri di depan cermin, mengenakan gaun pengantin berwarna putih yang terasa sangat kaku di tubuhnya. Di balik korset gaun itu, dia menyembunyikan tiga buah belati kecil yang siap dia gunakan kapan saja. "Jangan pasang wajah seperti itu, Nona. Anda harus terlihat bahagia hari ini," ucap seorang pelayan tua dengan nada mengejek, sambil merapikan kain penutup wajah Elena. Elena tidak membalas, mata dingin nya hanya menatap tajam ke arah pintu kamar yang terbuka, memperlihatkan koridor istana yang dijaga oleh pengawal dengan wajah-wajah angkuh. "Ayo, Ratu Selena sudah menunggu di aula utama. Beliau ingin melihat hadiah yang dia pilihkan untuk Pengeran lemah itu," ajak si pelayan, sambil menarik lengan Elena dengan kasar. Elena mengikuti langkah pelayan itu menuju aula. Di sana, di atas singgasana yang megah, duduk seorang wanita dengan pakaian serba mewah dan mahkota emas yang berkilauan. Ratu Selena. Di sana juga berdiri seorang pemuda tampan namun memiliki tatapan mata yang sangat licik, Pangeran Arkan, anak sang Ratu yang dulunya seorang Selir, kini dia menjadi pangeran mahkota. "Jadi, ini dia gadis dari keluarga rendahan yang akan menemani Arlon di sisa hidupnya?" ucap Ratu Selena, suaranya melengking tinggi, memenuhi aula utama. Ratu Selena bangkit dari duduknya, berjalan mendekati Elena dengan langkah yang anggun namun penuh penggunaan dari tatapan mata nya. Dia mengamati Elena dari ujung kepala sampai ujung kaki seolah sedang melihat barang rongsokan. "Ingin ku congkel matanya," batin Elena, geram. "Ingat posisimu, gadis kecil, kamu hanya pengantin cadangan yang aku beli untuk menenangkan suara-suara sumbang di luar sana, jangan berharap bisa menjadi ratu di istana ini," bisik Ratu Selena tepat di telinga Elena, penuh dengan ancaman. Elena tetap diam, namun jemarinya sudah meraba gagang belati di balik gaunnya, dia harus menahan diri, untuk tidak langsung merobek jantung wanita tua itu, karena ini belum waktunya untuk membuat keributan. "Berani sekali wanita rendahan sepertimu, hanya berdiri diam tanpa memberi hormat!" bentak Ratu Selena, menunjuk Elena dengan berang karena merasa diabaikan. Elena sedikit membungkuk, sebuah gerakan formalitas yang sangat malas dia lakukan, sebenarnya. Kalau bukan karena misinya, dia tidak akan sudi membungkuk kan badannya, pada wanita ular itu. "Maafkan saya, Yang Mulia Ratu. Saya hanya terlalu terpesona oleh kecantikan anda yang, sangat palsu," ucap Elena, tanpa rasa takut. "Kau!" teriak Ratu Selena, melotot kan matanya. Wajah Ratu Selena memerah karena marah, dia merasa ditantang oleh gadis desa yang dia anggap tidak ada harganya ini. "PENGAWAL! CEPAT SERET WANITA HINA INI KE PAVILIUN BINTANG!" Teriak Ratu Selena, penuh kemarahan. Elena diseret, lebih tepatnya dia membiarkan dirinya dituntun, menuju paviliun paling terpencil di istana itu. "Sial! Hari pertama di tempat ini sudah membuat ku benar-benar muak," batin Elena kesal. Baru beberapa langkah Elena diseret menjauh dari hadapan Ratu, langkah mereka terhenti oleh sosok wanita muda dengan gaun biru safir yang sangat mencolok. Wanita itu berdiri angkuh, memegang kipas bulu merak yang menutupi separuh wajahnya yang cantik namun terlihat angkuh. Lady Clarissa. "Jadi ini sampah yang Bibi pilihkan untuk Pangeran itu?" ucap Clarissa dengan nada meremehkan. Clarissa berjalan memutari Elena, lalu tiba-tiba tangan halusnya mencengkeram rahang Elena dengan kuat, kuku-kukunya yang tajam dan panjang menusuk kulit pipi Elena. "Dengarkan aku, gadis desa. Jangan pernah bermimpi untuk tidur nyenyak di istana ini. Kamu hanyalah mainan baru untukku sebelum aku mengirimmu dan suamimu yang cacat itu ke liang lahat," bisik Clarissa, lalu dia meludah tepat di ujung gaun pengantin Elena.Di paviliun Bintang, Pangeran Arlon dan Elena sudah berada berbaring di atas ranjang yang sama, tapi sudah lebih dari lima belas menit, tidak ada percakapan diantara mereka berdua."Elena," panggil Pangeran Arlon pelan."Apa lagi?" tanya Elena, melirik Pangeran Arlon dengan ekor matanya."Besok, saat kamu bertemu Selena, jangan pernah takut, karena jika dia berani menyentuhmu, aku sendiri yang akan meratakan istana ini malam itu juga, meski aku harus terbunuh sekalipun, setidak nya penawar ku, aman," ucap Pangeran Arlon, melirik Elena sekilas."Terimakasih untuk malam ini Elena, dan terimakasih sudah sudi masuk ke dunia ku..." lanjut Pangeran Arlon, lirih.Elena hanya diam, namun ada sedikit rasa hangat yang tidak biasa menjalar di dadanya mendengar ucapan posesif suaminya itu."Simpan bicaramu untuk besok, Pangeran. Sekarang, tidurlah, aku tidak mau jadi janda secepat itu," ucap Elena, memunggungi Pangeran Arlon.Pangeran Arlon tersenyum kecil, sambil menatap langit-langit kamarnya n
"Bawa mayat-mayat ini! Dan kau, gadis desa," ucap Pangeran Arkan menunjuk Elena dengan ujung pedangnya."Besok pagi Ibu Ratu akan memanggilmu, jelaskan detail pria berjubah itu padanya, jika kamu berbohong, nasibmu akan lebih buruk dari mayat-mayat ini," lanjut Pangeran Arkan, angkuh.Setelah para pengawal membawa pergi mayat-mayat itu dan meninggalkan paviliun, suasana kembali sunyi.Pintu yang rusak dibiarkan begitu saja, meninggalkan angin malam yang dingin menusuk tulang.Elena tetap diam di posisinya sampai dia yakin langkah kaki para pengawal sudah benar-benar menjauh."Mereka sudah pergi," bisik Elena datar.Detik itu juga, Pangeran Arlon membuka matanya, tidak ada lagi raut kesakitan, pria itu tampak sangat menikmati sentuhan tangan Elena.Dengan perlahan, Pangeran Arlon mendudukkan tubuhnya dengan santai di atas lantai yang masih menyisakan noda darah, menatap Elena dengan tatapan yang sulit diartikan."Aktingmu lumayan juga, Istriku. Air mata buatan itu hampir membuatku tert
TRANG BHUK BHUK BRAKKKK "AAAAAAKKKKKKKHHH!" Suara tendangan di dan suara jeritan, memenuhi paviliun bintang. Pangeran Arlon yang biasanya hanya terbaring lemah di ranjang nya, kini tengah membantai puluhan pembunuh bayaran itu. BRAKK BRAKK BHUK Elena yang masih berada dai balik punggung Pangeran Arlon, mendengus saat melihat lebih banyak lagi penyusup yang masuk lewat jendela. "Cih, mereka benar-benar niat membunuhmu malam ini!" ucap Elena, berdecak kesal. Elena baru saja akan menerjang maju dengan belatinya, tapi langkahnya terhenti, saat dia melihat Arlon yang tadi berdiri tegak seperti monster, tiba-tiba limbung. Tubuh Pangeran Arlon goyah, pedang di tangannya hampir jatuh dan wajah nya kembali pucat. "Pangeran?" panggil Elena mengernyit. Baru saja tangan mereka terlepas karena Elena hendak menyerang, untuk membantu Pangeran Arlon, tapi Arlon justru langsung ambruk berlutut. Uhuk Uhuk Uhuk Pangeran Arlon terbatuk hebat, mulut nya mengeluarkan d
"Bersihkan itu dengan tanganmu sendiri sebelum kau masuk ke paviliun, atau aku akan memastikan lidahmu dipotong besok pagi!" Teriak Clarissa, diiringi tawa mengejek dari para pelayannya. "Kenapa diam saja? Telingamu tuli, ya?! Cepat berlutut dan bersihkan!" bentak Clarissa, merasa diabaikan. Elena perlahan mengangkat wajahnya. Alih-alih ketakutan, dia justru menyunggingkan senyum tipis yang terlihat sangat manis, namun menyimpan racun bagi orang yang bisa membaca aura membunuhnya. "Lady Clarissa, kan?" suara Elena terdengar lembut, namun dingin. "Seperti nya Lady Clarissa membutuhkan guru tatakrama," ucap Elena, masih dengan senyum manis nya. "Apa kau bilang?! Kau berani menghinaku?" ucap Clarissa, membelalakkan matanya. "Menghina? Oh, tidak. Saya hanya menyayangkan betapa rendahnya tata krama Anda," jawab Elena santai. Elena melangkah maju, membuat jarak di antara mereka hilang. Meskipun Clarissa memakai sepatu hak tinggi, aura Elena yang menekan membuat wanita bang
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.