LOGINElena, pembunuh bayaran terbaik dari Klan Bayangan, terpaksa menikahi Pangeran Arlon yang dikenal lemah demi sebuah misi rahasia. Rencananya sederhana, yaitu menyamar, selesaikan misi, lalu menghilang. Namun, semua berubah saat serangan terjadi di malam pertama mereka. Elena tertegun melihat sang Pangeran Tak Berguna justru menghabisi musuh dengan tangan kosong secepat kilat. Kini, keduanya terjebak dalam sandiwara besar. Di siang hari mereka adalah pasangan yang malang, namun di malam hari, mereka adalah duet maut paling mematikan.
View More"Dengarkan aku, gadis desa, jangan pernah bermimpi untuk tidur nyenyak di istana ini. Kamu hanyalah mainan baru untukku sebelum aku mengirim mu dan suamimu yang cacat itu ke liang lahat!"
Suara melengking Lady Clarissa memecah kesunyian koridor panjang Istana Belmont yang bernuansa dingin. Wanita bangsawan itu berdiri begitu angkuh, dibalut gaun mewah berwarna biru safir yang sangat mencolok dengan hiasan renda-renda mahal, di tangannya, sebuah kipas dari bulu merak digerakkan perlahan, menutupi separuh wajah cantiknya yang kini dipenuhi oleh binar kebencian serta tatapan meremehkan. Mata angkuhnya menatap lurus ke arah Elena yang berdiri dalam balutan gaun pengantin putih. Gaun itu terasa sangat tidak nyaman di tubuhnya, terlalu ketat di bagian pinggang dan membatasi ruang geraknya. "Wanita gila," gumam Elena, memutar bola matanya malas. Sembari mendengus sinis, Clarissa melangkah maju dan meludah tepat di ujung bawah kain gaun pengantin Elena yang suci. "Bersihkan itu dengan tanganmu sendiri sebelum kamu melangkahkan kaki masuk ke dalam paviliun bobrok suami mu, atau aku akan memastikan lidah lancang mu itu dipotong besok pagi-pagi sekali!" teriak Clarissa dengan nada tinggi yang memekakkan telinga. Di belakang Clarissa, para pelayan setianya langsung menyemburkan tawa mengejek secara serentak, menikmati pemandangan di mana seorang pengantin baru dari kalangan bawah langsung diinjak-injak di hari pertamanya. "Kenapa diam saja? Telingamu tiba-tiba tuli, ya?! Cepat berlutut di hadapanku dan bersihkan sepatuku sekarang juga!" bentak Clarissa lagi, wajahnya mulai berkerut kesal karena merasa diabaikan sepenuhnya oleh gadis di hadapannya. Elena perlahan mengangkat wajahnya yang semula tertunduk, di balik kain penutup wajah tipis yang menghalangi pandangan orang lain, kedua bola mata dingin Elena berkilat dengan tajam. Alih-alih menunjukkan ekspresi ketakutan atau memohon ampunan, justru seulas senyum tipis yang terlihat sangat manis tersungging di bibirnya. Sebuah senyuman menawan, namun menyimpan racun mematikan yang sanggup membuat bulu kuduk berdiri bagi siapa saja yang mampu membaca pancaran aura membunuhnya. Sebagai seorang pembunuh bayaran terbaik dan paling ditakuti dari Klan Bayangan, menghadapi intimidasi murah dari seorang wanita bangsawan yang manja seperti Clarissa ini sebenarnya perkara yang sangat sepele. Jika Elena mau, dia hanya membutuhkan waktu kurang dari tiga detik untuk menarik belati nya dan merobek tenggorokan wanita ini hingga darah segarnya mengotori lantai marmer istana yang berkilau.Namun, Elena tahu betul bahwa dia harus menahan diri dengan sangat keras. Ada harga diri klan dan sebuah misi rahasia yang taruhannya adalah nyawa. Tiba-tiba pikirannya melayang kembali ke peristiwa malam itu, tepat dua minggu yang lalu. Saat itu, hujan deras tengah mengguyur perbatasan hutan terlarang dengan sangat lebat, menyamarkan jejak seorang pria misterius berjubah hitam yang berjalan tergesa-depan menuju gubuk tua tempat persembunyiannya. "Targetmu kali ini bukan untuk mencabut nyawa, melainkan untuk menjadi seorang pengantin, kamu akan dinikahkan dengan Pangeran Arlon dari Kerajaan Belmont." Itulah satu-satunya alasan mengapa dia bersedia berdiri di koridor istana sialan ini sekarang, mengenakan gaun pengantin kaku yang sebenarnya telah dia modifikasi sedemikian rupa untuk menyembunyikan tiga buah belati kecil tajam di balik korset ketatnya. "Lady Clarissa, kan?" suara Elena mengalun dengan sangat lembut, namun setiap suku katanya membawa hawa dingin sedingin es musim dingin. "Sepertinya, seorang Lady terhormat dari keluarga bangsawan tinggi seperti Anda masih sangat membutuhkan kehadiran seorang guru tata krama untuk mengajari cara berbicara yang manusiawi," ucap Elena, menyipit kan mata nya di balik kain penutup wajah, masih mempertahankan senyum manisnya yang menipu. "Apa kau bilang?! Kau, gadis desa rendahan, berani-beraninya menghina diriku?!" bentak Clarissa membelalakkan matanya yang dilapisi riasan tebal tidak percaya. Napas Clarissa memburu, terkejut karena ada seseorang dari kelas bawah yang berani membalas ucapannya dengan begitu tenang. "Menghina? Oh, tentu saja tidak. Saya hanya merasa sangat menyayangkan betapa rendahnya tingkat tata krama yang Anda miliki sebagai cerminan keluarga Anda," jawab Elena dengan nada yang terkesan sangat santai tanpa beban. Elena mengambil langkah maju yang tegas, memangkas jarak di antara mereka hingga hanya tersisa beberapa sentimeter saja. Meskipun Lady Clarissa saat ini mengenakan sepatu dengan hak yang cukup tinggi, aura menekan yang pekat dari seorang pembunuh berdarah dingin yang dipancarkan oleh Elena membuat nyali wanita bangsawan itu menciut seketika. Tanpa sadar, kaki Clarissa melangkah mundur satu langkah dengan wajah yang mendadak memucat karena merasa terintimidasi oleh sepasang mata di depannya. "Mengenai perintah Anda sebelumnya untuk membersihkan noda ini..." ucap Elena memegang ujung kain gaun pengantinnya yang kotor terkena noda ludah. Sretttt Dengan sebuah gerakan yang secepat kilat dan tidak terduga dia merobek paksa bagian bawah gaunnya tersebut tanpa keraguan sedikit pun. Kain putih yang kini telah terlepas itu berada di genggaman tangan Elena. Sebelum Clarissa sempat membuka mulut untuk berteriak memanggil pengawal, Elena sudah melangkah maju dengan gesit, dia membungkuk sejenak, lalu menggunakan kain robekan kotor tersebut untuk mengelap bagian atas sepatu mahal milik Clarissa dengan gerakan yang sangat kasar dan menekan. "Nah, sekarang sepatu mahal milik Anda juga sudah memiliki noda yang sama persis dengan yang ada di gaun pernikahan saya. Dengan begini, bukankah semuanya menjadi adil?" ucap Elena dengan nada puas sembari melemparkan kain kotor yang basah itu tepat ke arah dada Clarissa. "KYAAAAA! BERANI-BERANINYA KAU MELAKUKAN INI PADAKU!" Teriak Clarissa dengan sangat histeris hingga suaranya melengking memenuhi seluruh sudut koridor istana. Wajah cantiknya yang semula putih karena bedak tebal kini berubah menjadi merah padam akibat amarah dan rasa malu yang luar biasa karena dipermalukan di depan para pelayannya sendiri. Clarissa mengangkat tangan kanannya, mengayunkannya dengan sekuat tenaga hendak mendaratkan sebuah tamparan keras di pipi Elena. Greb! "Aaaakkkkkkhhhh! Lepaskan tangan ku sekarang juga! Sakit, bodoh!" teriak Clarissa merintih kesakitan, matanya berkaca-kaca karena merasakan tulang pergelangan tangannya seperti hampir remuk di dalam genggaman Elena. "Dengarkan aku baik-baik, Lady Clarissa," bisik Elena, memajukan wajahnya dan berbicara dengan suara yang sangat rendah tepat di dekat telinga wanita itu. "Aku bukan bagian dari deretan pelayan atau budakmu yang bisa kau injak-injak dan kau perintah sesuka hatimu! Mulai hari ini, aku adalah istri sah dari Pangeran Arlon. Secara hukum dan status kerajaan, posisiku jauh lebih tinggi daripada dirimu yang hanya seorang Lady," lanjut Elena tersenyum miring. "Jika kamu memang memiliki niat yang besar untuk memotong lidahku, pastikan kamu memiliki cukup nyali dan keberanian untuk melakukannya dengan tanganmu sendiri besok, bukan hanya bisa bersembunyi di balik nama besar Bibimu yang seorang Ratu itu," ucap Elena lagi, menghentakkan tangan Clarissa dengan sangat kasar hingga tubuh wanita bangsawan itu sedikit terhuyung ke belakang dan ditangkap oleh para pelayannya. "KAU!""El, coba kamu lihat ini," panggil Arlon dengan suara setengah berbisik, memanggil Elena tanpa menoleh ke belakang.Elena membuka matanya perlahan, mengusap pelipisnya yang masih berdenyut, lalu berjalan mendekati Arlon dengan langkah yang agak limbung."Ada apa? Kamu menemukan jejak anak buah Arkan?" tanya Elena masih sedikit lemas."Bukan. Lihat ukiran kuno ini," jawab Arlon menunjuk ke arah permukaan batu yang sudah dia bersihkan.Di sana, terukir sebuah simbol kuno berbentuk bunga matahari besar yang mekar sempurna, dengan detail kelopak yang sangat rapi.Ukiran itu tampak sangat tua, namun polanya benar-benar persis dengan gambar bunga matahari yang selalu disukai Elena, bahkan mirip dengan simbol pada kotak misterius dari pria bertudung hitam itu.DegElena terpaku di tempatnya berdiri, matanya menatap lekat-lekat ke arah ukiran batu tersebut.Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, dan ada rasa hangat yang aneh kembali menjalar dari ujung jarinya hingga ke seluruh tubuh, perl
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah jendela kamar, tepat mengenai wajah Arlon. Pangeran itu mengerjap-erjap, lalu meregangkan otot lehernya yang terasa kaku karena semalaman tidur dengan posisi bersandar di tepi ranjang.Begitu matanya terbuka sempurna, hal pertama yang dia lihat adalah kasur jerami di sampingnya yang sudah kosong dan rapi."El?" panggil Arlon setengah berbisik, suaranya masih serak khas orang baru bangun tidur.Tidak ada jawaban, seketika Arlon langsung menegakkan tubuhnya dengan panik, mengira terjadi sesuatu pada istrinya. Namun, pintu kamar mendadak terbuka pelan dan sosok Elena masuk sambil membawa sebuah bungkusan kain kecil."Jangan teriak-teriak, ini masih terlalu pagi untuk ukuran pedagang bangkrut yang pemalas," ucap Elena ketus, sambil menutup pintu kembali dengan sikutnya."Astaga, kamu membuatku jantungan, aku kira kamu diculik oleh anak buah Arkan saat aku ketiduran," ucap Arlon mengembuskan napas lega, lalu kembali duduk lemas di lantai.
Mendengar frasa Klan Penyembuh Matahari, Elena mendadak merasa dadanya sangat sesak, kepalanya mendadak berdenyut menyengat, membuat gadis itu refleks memegangi pelipisnya dengan tangan yang sedikit gemetar."Elena? Kamu kenapa?" tanya Arlon panik, wajah jahilnya langsung hilang total berganti kekhawatiran, bahkan dia lupa dengan nama samaran mereka."Kepalaku... mendadak pusing sekali," bisik Elena jujur, suaranya agak melemah, sebuah pemandangan yang sangat langka bagi seorang pembunuh bayaran berdarah dingin."Ada rasa hangat yang aneh di dadaku, rasanya seperti tempat itu memanggilku..." ucap Elena lirih.Arlon meremas pelan jemari Elena, menyalurkan kehangatan tubuhnya untuk menenangkan istrinya."Tenang, El, atur napas mu perlahan, kita tidak bisa menarik perhatian mereka sekarang," ucap Arlon, khawatir.Elena memejamkan matanya selama beberapa detik, menghirup napas dalam-dalam lalu mengembuskan nya perlahan sampai denyut di kepalanya agak mereda.Begitu dia membuka mata, dia l
"Aktingku lumayan bagus kan tadi, Elna? Pria itu langsung percaya kalau aku ini pedagang miskin," tanya Arlon, melirik Elena.Elena mengikat tali kudanya dengan kencang, lalu menoleh ke arah Arlon dengan senyuman miring yang tipis."Lumayan untuk ukuran pangeran yang selama ingin tidak pernah tahu dunia luar, tapi jangan senang dulu, kamar di atas pasti sangat kotor, dan tugas kita yang sebenarnya adalah menguping pembicaraan orang-orang di dalam kedai nanti saat makan malam," ucap Elena, menatap Arlon.Arlon mengusap tengkuknya sambil menatap bangunan kedai kayu yang tampak reyot itu."Iya, aku tahu. Tapi jujur, Elna, bau kotoran kuda di samping sini benar-benar menguji penciumanku. Ayo cepat masuk sebelum aku pingsan duluan," ajak Arlon, sudah mulai rewel.Pangeran buangan yang belum terbiasa dengan dunia luar itu, terlihat kurang nyaman dengan keadaan di luar, yang ternyata lebih kotor dari pada Paviliun Bintang tempat dia tinggal selama ini."Manja sekali, pdahal tadi di hutan gay






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.