Share

BAB 43 — Titik

Author: Noobunagi
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-10 18:00:40

Mereka berangkat keesokan paginya sebelum langit terang.

Bukan karena perlu terburu-buru, tapi karena Rengganis bilang bahwa di Rimba yang sedang berubah, subuh adalah waktu paling stabil. Bayu bergerak paling dapat diprediksi di antara gelap dan terang, sebelum sesuatu yang lebih besar mulai aktif.

"Seberapa jauh?" tanya Arka saat mereka berjalan keluar.

"Enam jam kalau jalur biasa. Lima kalau lewat jalur yang aku tahu."

"Lebih cepat, tapi tidak nyaman. Akar lebih

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 44 — Catatan Damar Wangi

    Malam setelah kembali dari titik itu, Rengganis tidak langsung bicara.Menyalakan tungku. Membuat teh. Duduk di lantai dengan cara yang sama seperti selalu — tapi ada sesuatu yang berbeda di cara dia duduk malam ini. Lebih berat. Lebih seperti seseorang yang sedang memutuskan sesuatu yang sudah lama ditunda.Arka menunggu."Catatan Damar Wangi," kata Rengganis akhirnya. "Aku tidak bilang aku tidak tahu di mana — aku bilang kita perlu mencarinya.""Bedanya?"

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 43 — Titik

    Mereka berangkat keesokan paginya sebelum langit terang.Bukan karena perlu terburu-buru, tapi karena Rengganis bilang bahwa di Rimba yang sedang berubah, subuh adalah waktu paling stabil. Bayu bergerak paling dapat diprediksi di antara gelap dan terang, sebelum sesuatu yang lebih besar mulai aktif."Seberapa jauh?" tanya Arka saat mereka berjalan keluar."Enam jam kalau jalur biasa. Lima kalau lewat jalur yang aku tahu.""Lebih cepat, tapi tidak nyaman. Akar lebih tinggi, pohon lebih rapat, dan ada bagian yang harus dilalui di bawah air setinggi lutut.""Jalur itu," kata Arka.Rengganis hanya berjalan....Dua jam pertama terasa lebih mudah daripada perjalanan ke Akar Wangi.Bukan karena medannya berbeda, tapi karena Arka sudah tahu cara membaca Rimba. Cara memilih langkah, membiarkan niat terbaca, dan berada di tempat ini tanpa melawannya.Yang berubah adalah Rimba itu sendiri.Makhluk-makhluk yang biasan

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 42 — Kembali ke Rimba

    Perjalanan kedua ke Rimba Dayak Batin terasa berbeda dari yang pertama.Bukan karena jalannya berubah. Jalan besar yang sama, jalan tanah yang sama, desa kecil yang sama di perbatasan. Tapi ada sesuatu yang berbeda di cara Arka berjalan di dalamnya — lebih sedikit memperhatikan hal-hal yang dulu perlu dia perhatikan, lebih banyak ruang di kepalanya untuk memperhatikan hal-hal yang baru.Seperti perbedaan antara pertama kali masuk ruangan gelap dan kali kedua — gelap yang sama, tapi mata yang sudah tahu cara mulai membacanya....Di warung per

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 41 — Bulan Ketiga

    Bulan ketiga pengobatan Prawira dimulai dengan kabar yang tidak Arka antisipasi.Tabib itu datang sendiri ke rumah — tidak menunggu jadwal kunjungan rutin. Duduk di ruang tamu dengan wajah yang tidak menunjukkan kabar buruk tapi juga tidak menunjukkan kabar baik. Hanya wajah seseorang yang punya sesuatu untuk disampaikan dan ingin menyampaikannya dengan benar.Arka, ibunya, dan Prawira duduk di hadapannya.Sari diusir ke kamar — dengan protes yang cukup keras untuk terdengar dari dua pintu."Siklus kedua," kata tabib itu, "meresp

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 40 — Balasan

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 39 — Surat Kedua

    Surat kedua dari Rengganis datang di akhir bulan kedua.Arka membacanya di teras pagi itu, sebelum sarapan, dengan kopi yang belum habis di tangannya."Rimba berubah lebih cepat dari yang aku perkirakan. Bukan di tepi — di bagian dalam. Senggelong yang biasanya tinggal di sana sudah tidak ada. Bajang Akar di sungai kecil sudah pergi sejak dua minggu lalu. Makhluk yang sudah jadi bagian Rimba selama ratusan tahun tidak pergi tanpa alasan.Bayu di bagian dalam mulai tidak stabil — bergerak dengan pola yang tidak pernah aku lihat sebelumnya.

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 3 — Laras Satu Tidak Perlu ke Sini

    Minggu pertama di padepokan mengajarkan Arka satu hal:Diabaikan lebih melelahkan dari diserang.Serangan bisa dilawan. Tapi ketika sistem sendiri yang menempatkanmu di sudut paling jauh, memberimu fasilitas paling tua, dan tidak mengharapkan apapun darimu tidak ada yang bisa dilawan. Hanya ada pil

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 2 — Selamat Datang di Padepokan

    Padepokan Bayu Medang Agung berdiri di atas bukit barat kota.Di bawah: pasar, gang, bau rempah dan kehidupan. Di atas: batu-batu ukiran ratusan tahun, pohon beringin yang akarnya menyatu dengan dinding, dan udara yang lebih berat, penuh konsentrasi Bayu yang mengalir lebih deras di sini dari manap

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 1 — Anak Pandai Besi

    Tiga hari setelah Awakening, Arka sudah bosan bersedih.Bukan karena sudah ikhlas. Tapi karena sedih tidak mengubah angka di atas kepalanya. Sudah dicoba. Tidak ada efeknya.Jadi dia bangun, cuci muka, dan mulai lagi....Pagi itu dia duduk di tepi ranjang dengan tangan terangkat, mencoba sesuatu y

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 0 — Sebelum Angka Itu

    Namanya dipanggil urutan dua belas.Arka melangkah ke tengah lingkaran batu Awakening dengan kepala tegak. Sekitar dua ratus orang menonton, teman sekelas, keluarga yang ikut, beberapa Wiku senior yang tugasnya mencatat. Di atas kepala semua siswa yang sudah dipanggil sebelumnya, angka-angka mengam

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status