로그인Aland memang menoleh ke belakang. Tapi pria itu sedang tidak menoleh ke arah tiga wanita itu. Justru, ia terpaku pada seseorang yang sedang bersama seorang anak laki-laki yang seusia putrinya. Iya, dia melihat seorang pria yang sedang menggandeng anak laki-laki yang memakai seragam sekolah yang sama dengan Raisya. Di sisi lain, ketiga wanita itu nampak percaya diri jika Aland sedang melihat mereka. Ketiganya nampak salah tingkah dengan merapikan rambut dan bulu mata mereka. Seolah-olah Aland sedang memperhatikan netes. Nyatanya, kedua mata Aland tertuju pada seorang pria yang sangat dikenalnya. Pria itu nampak akrab dengan seorang anak kecil yang bertubuh gembul. "Erick!" panggil Aland. Ya, sosok itu adalah Erick Hermawan, anak kandung Nyonya Ratna Antika tak lain adalah sang Tante. "Erick!" panggil Aland lebih keras. Pria itu pun menoleh. Aland tidak salah lihat karena pria yang diduga Erick itu memang dia. Erick sendiri juga sangat terkejut saat melihat wajah Aland di se
Aland tidak bisa menyangkalnya karena sang istri lebih tahu kekurangannya ketimbang dirinya sendiri. "Udah, udah. Jangan bicarakan rambut lagi. Ayo berangkat! Biar Mama di rumah saja!" ajak Aland pada Raisya. Bocah perempuan itu jingkrak-jingkrak kegirangan karena keinginannya untuk ditemani oleh sang ayah akan dituruti. "Tapi apa kamu nggak ke kantor, Mas? Gimana dengan kerjaan kamu? Katanya ada rapat?" tanya Vina yang sudah tahu jadwal sang suami. "Tidak apa-apa, aku bisa wakilkan ke Romi!" jawab Aland sambil menggandeng tangan putrinya, bersiap untuk mengantarnya pergi ke sekolah. "Jangan khawatir, aku pasti bisa!" imbuh pria ini itu lagi. Vina lebih percaya pada suaminya. Meskipun nantinya orang melihatnya sedikit aneh, orang tua murid laki-laki datang ikut menunggu putrinya yang sedang sekolah. "Ayo, salim dulu sama Mama!" titah Aland kepada anaknya itu. Raisya pun segera menurut, ia salim dan mencium tangan sang ibu. Vina mencium kening putrinya dan memberikan nasehat pada
Hari-hari pun berlalu. Kehidupan Aland beserta keluarganya semakin bahagia. Ia dan Vina melihat perkembangan anak-anak mereka yang semakin hari semakin bertumbuh besar. Bagas dan Ayu sudah masuk perguruan tinggi. Sedangkan Rendra, ia sekolah menengah ke atas. Sedangkan si kembar Nathan dan Nala masih duduk di kelas enam SD dan sebentar lagi mereka sudah masuk sekolah setingkat SMP. Semua anak-anaknya ia sekolahkan di sekolah internasional. Bahkan Bagas dan Ayu, mereka kuliah di luar negeri karena kecerdasan mereka. Aland sangat bangga sekali dengan anak-anak itu. Meskipun mereka bukan anak kandungnya tapi Aland sudah menganggapnya sebagai anaknya sendiri. Di sisi lain, si kecil Raisya. Rupanya bocah cantik dan mungil itu sudah masuk taman play group. Ia tumbuh menjadi gadis yang cantik seperti ibunya, Vina. Sayang, Raisya memiliki sifat introvert sekali sehingga ia tidak mudah bergaul dengan orang luar. Hari pertama bocah itu masuk sekolah. Vina sudah excited untuk menganta
Dengan perasaan gugup Ani membalas uluran tangan Erik. Pria itu menyentuh tangan Ani dengan lembut. "Erick!" katanya sambil menyebut namanya sendiri. Ani pun membalasnya dengan menyebut namanya. Untuk kali pertama Erick melihat wajah wanita dengan penuh pesona. Entahlah seolah ia merasa bahwa Ani adalah wanita yang berbeda dari lainnya. Ani langsung melepaskan tangannya Karena ia merasa Erik megenggamnya cukup lama. "Maaf, aku harus pulang!" kata wanita itu buru-buru pergi. Ia masih takut meskipun ia tahu bahwa Erick adalah anak nyonya Ratna. Namun, Erick langsung han wanita itu. "Tunggu!" katanya. Ani berhenti tapi ia tidak berani menoleh. "Maaf, aku harus pulang. Aku harus menyusui anakku!" jawab Ani. "Ohhh oke tidak apa-apa. Ngomong-ngomong kenapa suamimu tidak ikut? Harusnya kamu jangan pergi sendirian, nanti kalau ada apa-apa bagaimana? Seperti ini tadi misalnya!" kata Erick. Ani pun membalikkan badan dan menjawab pertanyaan pria itu. "Aku tidak punya suami. Y
Aland sudah menduganya. Ia dihadiahi pup sang anak yang bewarna kuning fresh. Anehnya, pria itu cuma tersenyum dan terlihat sudah biasa. Bahkan ia tak jijik untuk membersihkan pup bayinya lalu mengganti popoknya dengan yang popok bersih. "Hmmmm, eeknya bau acem. Nakal kamu, ya. Suka ngasih ayah parfum aroma kecut! Untung saja ayahmu ini sudah terlatih dengan ginian," gerutu pria itu sambil sibuk mengganti popok bayinya. Di sisi lain Vina yang melihat itu, wanita itu tertawa kecil. Betapa sang suami sangat telaten merawat anaknya yang masih kecil. Sambil tiduran, Vina menyapa suaminya yang sedang sibuk menjadi baby sitter. "Sedang apa, Pak? Anaknya eek, ya?" Suara Vina langsung terdengar di telinga pria itu. Tanpa menoleh, Aland masih sempat-sempatnya menjawab. "Sedang gantiin popok, Nyonya. Maklum, anak saya doyan nyusu seperti ayahnya!" Jawaban pria itu langsung membuat Vina tertawa kecil. "Ayahnya doyan nyusu juga?" goda Vina lagi. "Doyan dong! Apalagi susu cap nona!" j
Keduanya saling menatap. "Mas, Raisya menangis!" kata Vina yang merasa tak enak hati karena ia belum bisa membuat suaminya puas. Siapa sangka jika Aland lebih mementingkan anaknya ketimbang dirinya sendiri. Meskipun dengan wajah sedikit kecewa, tapi ia harus mendahulukan sang anak. Mungkin sang anak ingin minum susu atau popoknya sudah basah. "Kamu tunggu di sini, biar aku yang lihat!" ucap Aland sambil beranjak pergi dari tubuh istrinya. "Tidak usah, Mas. Biar aku saja. Kamu tunggu di sini!" tolak Vina seraya beranjak berdiri. Tapi Aland langsung menahannya. "No! Jika aku mengatakan kamu tetap di sini, tetap di sini dan jangan kemana-mana! Biar aku yang mengurus!" katanya sambil membaringkan tubuh istrinya yang masih polos. "Tenang saja, aku tahu apa yang harus aku lakukan, Tuan putri!" ucap Aland sebelum dirinya pergi menghampiri box bayi anaknya. Vina pun menurut, ia mengingatkan sang suami di mana botol susu untuk sang bayi. Vina sengaja menyimpan ASI nya dalam botol dan