ログイン"Ramli!" Aland sengaja menyebut nama samarannya dulu. Berharap ia bisa membangkitkan gairah Vina terhadap sosok pelayan itu yang sebenarnya kini sedang berada di hadapannya. "Iya, namanya Ramli bin Sanusi, dia pelayan yang sangat rajin, ulet, dan pekerja keras!" jawab Vina dengan tatapannya yang jauh menerawang. Jika teringat akan Ramli, wanita itu tidak bisa menahan kesedihannya dan juga kerinduannya yang begitu besar pada pria itu. "Sepertinya pelayan itu sangat baik dan bertanggung jawab, sampai-sampai Nyonya berkaca-kaca mengingatnya." "Iya, kamu benar. Dia pelayan yang sangat baik, bahkan saking baiknya dia bersedia untuk memberiku an...!" Vina langsung tersadar dan tidak melanjutkan kata-katanya lagi. "Memberi apa, Nyonya?" tanya Aland pura-pura. "Bukan apa-apa, lupakan! Dan sekarang aku mau ngomong lagi soal tadi!" Vina sengaja mengalihkan pembicaraan karena dirinya tak ingin terlalu larut dalam kesedihannya. "Ya sudah kalau begitu, terserah Nyonya saja. Silakan!"
Vina mengerutkan keningnya, ia tahu jika pandangan mata pelayan itu tertuju ke arah kedua kakinya yang terbuka. "Lihat aku!" Tiba-tiba Vina meminta Aland menatap dirinya. "Nggak apa-apa nih saya lihat, Nyonya!" sahut Aland yang masih belum berani menatap wajah Vina. Ia khawatir wanita itu marah dan berteriak lagi khawatir jika membuat baby Nala menangis lagi. "Iyaaa! Daripada mata kamu jelalatan lihatin kakiku, dasar!" sahut wanita. Seketika Aland mengangkat wajahnya dan terpaksa menatap wajah Vina dengan tatapan canggung. Sengaja ia melakukan itu agar wanita itu tidak menatapnya terlalu dalam, khawatir jika Vina akan mengenali dirinya lewat tatapan mata. "Maaf, Nyonya. Baiklah, apa yang ingin Anda katakan! Mengingat sudah malam dan saya harus pulang, anak-anak saya pasti sudah nungguin di rumah!" kata Aland. "Memangnya di rumah nggak ada ibunya? Sampai-sampai anakmu harus nungguin kamu!" sahut Vina. Aland menggelengkan kepalanya. "Sa-saya duda merana, Nyonya. Istri saya
Aland langsung menundukkan wajahnya dan berpura-pura takut, padahal ia sangat bangga dengan karyanya yang luar biasa. "Maaf, Nyonya. Sa-saya tidak bermaksud untuk melihatnya, saya cuma khawatir sama putri Nyonya, pasti kaget lagi dengar suara ibunya yang kayak petir!" jawab Aland apa adanya. Vina makin geram, ingin rasanya dia menjambak rambut pria itu tapi ia harus tenang karena sedang menyusui bayinya. "Kamu tuh memang pelayan yang menyebalkan, ya!" umpat wanita itu, meskipun begitu ia masih penasaran dengan apa yang terjadi padanya beberapa waktu yang lalu. "Dimohon jangan sering-sering marah, Nyonya. Saya khawatir nanti air susunya mampet, nggak lancar keluarnya, kasihan anak-anak Nyonya masih butuh ASI eksklusif dari Anda!" sahut Aland yang masih menundukkan wajahnya seolah ia sedang berbicara dengan lantai marmer di ruangan itu. Kali ini kesabaran Vina sedang diuji. Pertemuannya dengan pelayan restoran itu memang tidak terduga. Namun entah kenapa dirinya merasa jika pelay
"Memangnya siapa yang ngasih pertanyaan seperti itu! Nihh orang lama-lama bikin emosi saja!" sahut Vina yang makin kesal. "Ya siapa tahu aja Nyonya ngasih pertanyaan seperti itu, kan!" Wajah polos, tanpa dosa, itulah yang Aland andalkan. Padahal, ia adalah pemain yang sangat handal dan sangat berpengalaman. "Ha udah, udah! Nggak usah banyak bicara. Sebaiknya kamu jawab saja pertanyaanku sekarang!" sahut Vina. Namun, ia harus bicara empat mata dengan Aland karena ia tak ingin kedua baby sitter itu mendengarnya. "Sarah, Nancy, bisa kah kalian tinggalkan kami di sini?! Aku ingin bicara sama pria ini!" titah Vina kepada kedua wanita itu. "Baik, Nyonya!" Sarah dan Nancy segera meninggalkan Vina dan Aland berdua saja di ruangan itu. Setelah kedua wanita itu pergi, Vina mulai memberikan pertanyaan kepada Aland yang saat itu masih berdiri memvnggungi nya. "Sekarang jawab pertanyaanku dan kamu nggak boleh bohong!" "Siap!" Aland mengangguk yakin. Vina mengambil napas terlebih dah
Pria itu tertawa kecil dan ia tahu apa yang sedang dimaksud dengan bekas cupang. Ya, itu memang maha karya dari pria itu. Rasa rindunya pada mantan majikannya itu membuat dirinya begitu liar dan menggigit apa saja termasuk memberikan banyak tanda di payudara Vina. "Pasti kamu kaget melihat gigitan Mas Ramli, Vina! Itu cuma gigitan biasa, belum gigitan di tempat lainnya, bahkan kamu terlalu menikmatinya, Sayang!" batin Aland. Sarah dan Nancy, seketika terdiam dan meminta maaf. "Maaf, Nyonya. Kami tidak bermaksud menertawakan Anda, hanya saja habis makan apa sampai badan Nyonya merah-merah gituu? Perasaan Nyonya tidak punya riwayat alergi atau gatal-gatal!" kata Sarah. Vina kembali panik, ia harus bisa mencari alasan yang tepat agar kedua baby sitter itu tidak berpikiran macam-macam. "Ohhh ini tadi, iya, aku baru saja makan seafood pas makan malam tadi, ya mungkin karena itu jadi merah-merah seperti ini. Ah sudahlah, tidak perlu dibicarakan lagi, nanti juga hilang sendiri setela
Vina memutar bola matanya mendengar ucapan pelayan itu. Sementara itu Aland segera mengambil baby Nala dari baby sitter nya. Dengan sangat hati-hati dan penuh kelembutan, Aland menggendong bayi perempuan yang sedang menangis itu dengan sangat lembut. "Em, em, anak cantik, cup, cup sayang... Jangan nangis, ya..." Begitulah cara Aland menimang bayi perempuan itu sambil meletakkan tubuh mungil itu di dadanya, lalu ia menepuk-nepuk lembut punggung Nala agar bayi itu terasa nyaman. Pengalamannya saat di desa waktu Rendra, putranya lahir. Telah membuat Aland menjadi sosok ayah yang siaga dan pandai menenangkan anak bayi. Kemandiriannya waktu itu memberikan pelajaran yang sangat berharga untuknya. Sehingga dirinya bisa menenangkan bayi itu dengan sangat santai. Di sisi lain, Vina yang sedang menggendong baby Nathan cukup termangu melihat bagaimana caranya pelayan itu menenangkan putrinya. Penuh kelembutan bahkan lebih lembut dari cara dirinya menenangkan kedua anaknya. Dan anehnya, t







