Share

Bab 10

Alya menundukkan kepalanya dan berpikir.

Hana tidak hanya cantik, tetapi juga luar biasa.

Kemudian, yang paling penting, wanita ini telah menyelamatkan nyawa Rizki.

Kalau dirinya adalah Rizki, mungkin dia akan menyukainya juga.

Setelah temannya Hana datang, Hana berbicara dengan temannya untuk waktu yang cukup lama. Pria itu mengenakan jas putih. Akhirnya, pandangan pria itu jatuh ke wajah Alya. Lalu, dia mengangguk dan datang menghampirinya.

"Halo, kamu temannya Hana, ya? Namaku Farhan Pramudya."

Alya mengangguk padanya. "Halo."

"Kamu demam?"

Farhan bertanya dengan lembut, punggung tangannya hendak menyentuh kening Alya.

Tangannya yang tiba-tiba mendekat mengakibatkan Alya tanpa sadar menghindar. Reaksi Alya membuat Farhan tersenyum. "Aku hanya mau mengecek suhumu."

Setelah itu dia pun tidak melanjutkan, tetapi dia mengeluarkan sebuah termometer dan berkata, "Ayo kita ukur suhumu dulu."

Alya menerima termometer itu darinya.

Di belakangnya, terdengar suara Rizki yang berkata, "Kamu tahu cara pakai termometer, 'kan?"

Alya terdiam.

Dia tidak menjawabnya, bagaimana mungkin dia tidak tahu cara menggunakan termometer?

Akan tetapi, karena dia sedang sakit dan kepalanya agak pusing, dia bergerak dengan lambat.

Setelah dia menggunakannya, Farhan menerangkan bahwa dia harus menunggu sebentar.

Melihat ini, Hana pun mengambil kesempatan untuk mengenalkan Farhan pada Rizki.

"Rizki, ini Farhan yang sebelumnya aku bicarakan di telepon. Kemampuan medisnya sangat hebat, tetapi dia suka kebebasan. Jadi, dia kembali ke sini dan membuka klinik ini. Farhan, ini Rizki. Dia ...."

Dia terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata dengan malu, "Dia temanku."

"Teman?" Sebutan ini membuat Farhan mengangkat alisnya. Setelah itu, matanya tidak sengaja menatap wajah Alya, lalu dia kembali menatap wajah Rizki. "Halo, aku Farhan. Senang bertemu denganmu."

Setelah beberapa saat, Rizki pun berjabat tangan dengannya. "Rizki."

"Aku tahu."

Farhan menampilkan senyum yang misterius, lalu dia berkata dengan ambigu, "Aku sering dengar Hana membicarakanmu, penilaiannya terhadapmu sangat tinggi."

"Farhan ...." Hana seperti terpicu oleh sesuatu, seketika pipi putihnya menjadi kemerahan.

"Kenapa? Apa aku salah bicara? Bukankah kamu sering memujinya di depan semua orang?"

"Sudah, kamu jangan bicara lagi."

Ketika mereka berbicara, Rizki menundukkan pandangannya dan melirik Alya.

Wanita itu duduk di sana, kelopak matanya sedikit terkulai. Beberapa helai rambut hitamnya jatuh di samping pipinya dan menutupi separuh keningnya. Di saat yang sama, rambutnya juga menutupi matanya yang indah, menyembunyikan semua emosinya.

Dia duduk dengan tenang, tidak terlibat dan seperti orang asing.

Seketika wajah Rizki menjadi masam.

Lima menit kemudian.

Farhan mengecek suhu Alya, lalu mengerutkan keningnya. "Suhunya cukup tinggi, bagaimana kalau kamu disuntik saja?"

Namun, Alya mendongak dan berkata, "Aku nggak mau disuntik."

Mendengar ini, Farhan meliriknya dan tertawa. "Apa kamu takut sakit? Jangan khawatir, aku akan melakukannya dengan lembut."

Hana juga mengangguk setuju. "Benar, Alya. Kesehatanmu itu penting."

Alya menggelengkan kepalanya dan bersikeras berkata, "Aku nggak mau disuntik dan minum obat."

Sifatnya yang keras kepala membuat Rizki mengerutkan kening.

"Kalau begitu, kita hanya bisa melakukan pendinginan fisik. Aku akan mengambil obat dan alat-alatnya. Sementara itu, gunakan kain basah untuk mendinginkan kepalamu, jangan sampai demammu makin tinggi."

Ketika Farhan pergi, Hana berkata, "Aku akan ikut membantumu."

Setelah mereka berdua pergi, hanya Alya dan Rizki yang ada di ruangan tersebut.

Alya merasa sangat pusing.

Dia ingin mengambil kain basah untuk mendinginkan dirinya, tetapi ... sekarang dia tidak punya tenaga.

Saat ini, Rizki yang sejak tadi terdiam tiba-tiba mengucapkan dua kata, "Terlalu dramatis."

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status