LOGIN“Datanglah ke Rumah Sakit Insan Harapan, kamar no. 05. Ada pertunjukan yang sangat mengasyikkan untukmu, Irisha ....” Satu pesan misterius itu menghancurkan semua impian Irisha. Di balik pintu kamar itu, ia menyaksikan pengkhianatan yang tak akan pernah ia lupakan. Dari luka yang menyesakkan, lahirlah dendam, dendam yang menuntunnya melakukan hal paling gila dalam hidupnya, menikah dengan ayah kandung pria yang dulu ia cintai.
View MorePanggilan itu terputus. Tanpa jeda, Revan langsung membuka aplikasi pesan dan mengetik cepat pada seseorang. Ekspresinya berubah serius, dingin, penuh perhitungan. Irisha yang sedari tadi memperhatikannya tak bisa menahan rasa penasaran. “Om?” Revan mengangkat wajahnya. “Iya, Sayang. Ada apa?” “Sekarang Mbak Reni sudah tahu semuanya,” lanjut Irisha. “Lalu … rencanamu ke depan bagaimana?” Revan meletakkan ponselnya, menatap Irisha dalam-dalam. “Menurut kamu, om harus apa?” Irisha menyilangkan tangan di dada, senyumnya mengembang penuh makna. “Beri pasangan mesum itu pelajaran. Yang pantas.” Revan mengangguk pelan. “Tentu. Tapi kita tidak bisa gegabah. Kita harus susun strategi dulu. Kamu tahu sendiri … Dita masih belum mengakui kalau Rieno bukan anakku.” Tatapan Irisha menggelap, senyum di bibirnya perlahan memudar. “Iya juga,” Irisha mengangguk pelan. “Mereka pasti akan mengelak.” “Betul,” sahut Revan tenang. “Kita tunggu saja hasil tes DNA Reino dan Yuda. Semoga …
Setibanya di kediaman, Reni, wanita itu duduk dengan lesu di tepi sofa. Tatapannya menyapu foto pernikahannya dengan Yuda, pria yang selama dua puluh enam tahun menemani hidupnya, meski tak pernah ada satu pun anak yang lahir dari pernikahan itu. Bingkai foto itu terasa begitu berat untuk dipandang. Senyum mereka terpajang rapi, seolah menyimpan janji yang dulu diucapkan dengan keyakinan penuh. Reni menelan ludah, dadanya terasa sesak. Dengan tangan gemetar, ia meraih ponsel lalu menekan nama Yuda. Nada sambung terdengar panjang, namun tak kunjung ada jawaban. Sekali. Dua kali. Hingga akhirnya panggilan itu terputus dengan sendirinya. Reni menjatuhkan punggungnya ke sandaran sofa. Pandangannya kosong, pikirannya penuh oleh potongan-potongan kenangan yang kini terasa mencurigakan. “Apa benar Mas Yuda dan Mbak Dita …,” ucapnya bergetar, “… mereka selama ini mengkhianatiku?” Pertanyaan itu tak ada yang menjawab, namun perihnya terasa nyata. “Mas, angkat teleponnya jangan memb
Reni terbelalak. Tubuhnya seolah kehilangan tumpuan. “Apa … apa maksudnya, Mas?” ucapnya bergetar, “Mas Revan bercanda, kan?” Revan menggeleng pelan. Rahangnya mengeras, sorot matanya tetap dingin, seolah fakta itu sudah lama ia telan sendirian. “Saya berharap ini hanya bercanda. Tapi tidak, Ren.” Reni memundurkan tubuhnya. Tangannya refleks mencengkeram ujung meja agar tidak jatuh. “Tidak mungkin … Reino itu anak Mas Revan dan Mbak Dita. Semua orang bahkan tahu—” “Semua orang tahu dari cerita yang dibangun,” potong Revan tenang, tapi nadanya menyimpan luka yang dalam. “Tes DNA tidak pernah berbohong.” Hening menggantung, berat dan mencekik. “Lalu … apa hubungannya dengan Mas Yuda?” bisik Reni, matanya berkaca-kaca. Ia takut pada jawaban yang bahkan belum terucap. Revan menarik napas panjang. “Saya tidak ingin menuduh sembarangan. Tapi waktunya, sikap mereka, dan hasil tes itu … semuanya saling mengikat.” Reni menggeleng cepat, air mata mulai luruh. “Tidak … Mbak Dit
Revan hanya menggeleng pelan. Sudut bibirnya terangkat, senyum tipis yang tak bisa ia sembunyikan. Ada rasa lega yang perlahan merayap di dadanya. Ia sama sekali tak berniat bertemu dengan Reino. Ia memilih jalur yang paling dingin dan rapi, mengutus pengacaranya untuk datang langsung ke penjara dan menarik tuntutan itu atas namanya. Sementara itu, Dita sudah tiba di penjara. Tangannya saling meremas, jemarinya gemetar menahan cemas. Matanya terus menatap lurus ke depan, menunggu satu sosok yang sejak tadi membuat dadanya sesak. “Revan … Irisha …,” gumamnya penuh dendam. “Kalian boleh merasa menang sekarang. Tapi percayalah, aku akan membuat kalian membayar semua ini.” Langkah kaki terdengar mendekat. Reino muncul dari balik pintu besi, berjalan tertatih. Kakinya pincang, wajahnya babak belur, lebam ungu menghiasi pelipis dan rahangnya. Seketika, Dita menjerit histeris. “Reino!” Ia berlari menghampiri. “Astaga … apa yang mereka lakukan padamu, Nak?” Reino duduk perlahan












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.