MasukSemua orang bilang cinta bisa menyembuhkan segalanya, tapi bagaimana jika cinta justru membuka luka yang seharusnya tidak pernah disembuhkan? Elena tidak pernah menyangka sekali pun dalam hidupnya, bekerja untuk Alexander Dreven akan menyeretnya ke dunia yang tak seharusnya ia tahu, dunia di balik tatapan dingin sang CEO, karena di balik tatapan itu tersimpan sesuatu yang bisa menyelamatkan atau menghancurkan dunia.
Lihat lebih banyakElena mengeratkan jari- jemarinya di tali tas saat berdiri di depan gedung pencakar langit itu. Nafasnya sedikit tertahan saat membaca papan nama berwarna emas dengan tulisan besar di lobi. Quantum Vale Corp.
Elena menghembuskan napas panjang, lalu melangkah masuk. Seorang resepsionis memeriksa kartu ID-nya sebelum mempersilahkannya menuju lift. "CEO baru sudah menunggu di lantai atas," kata wanita itu dengan senyum profesional. "CEO baru," pikir elena, ia tidak tahu siapa namanya. HRD hanya mengatakan bahwa ia akan bekerja untuk seseorang yang sangat selektif. Namun, apa pun itu, Elena bertekad untuk melakukan pekerjaannya dengan sebaik mungkin, lalu masuk ke dalam lift. Pintu lift terbuka dengan bunyi halus. Elena melangkah keluar, menuju meja resepsionis eksekutif yang berada di depan pintu kayu besar. "Kamu, Elena?" Seorang wanita paruh baya bertanya. Elena mengangguk. "Silakan masuk! Tuan Alexander sudah menunggumu." Langkah Elena terhenti seketika. Nama yang disebut wanita itu tidaklah asing baginya. "Tidak mungkin. Itu pasti hanya kebetulan, kan?" Pikir Elena dan dengan hati yang tiba-tiba berdebar. Elena mengatur napasnya, lalu mengetuk pintu sebelum mendorongnya perlahan. Namun saat matanya bertemu dengan pria yang duduk di balik meja besar, tubuhnya langsung membeku. Pria itu bersandar di kursinya, mengenakan setelan hitam sempurna, dan ekspresinya dingin dan penuh kuasa. Mata kelamnya menatapnya tanpa emosi. Namun di balik tatapan itu, Elena tahu ada sesuatu yang tidak diketahui olehnya. Luka lama yang belum sepenuhnya sembuh kembali menganga. Dunia Elena seakan runtuh dalam sekejap. "Ini tidak mungkin. Dari jutaan orang di luar sana, kenapa harus dia?"pikir Elena. "Kau ...." suara Elena tercekat di tenggorokan. Alexander mengangkat alisnya, lalu bersandar ke depan. "Lama kita tidak bertemu, Elena." Suaranya terdengar dingin dan jauh seperti bukan Alexander yang dulu ia kenal. Elena menggigit bibirnya menahan gemetar di ujung jemarinya. Selama lima tahun terakhir, ia sudah berusaha keras untuk melupakan pria itu, menata kembali hidupnya setelah pria itu pergi begitu saja tanpa penjelasan. Namun, melihatnya sekarang begitu dekat dan begitu nyata, Elena tiba-tiba menyadari satu hal yang menyakitkan bahwa ia tidak pernah benar-benar bisa melupakan Alexander dan lebih buruk lagi hatinya masih berdetak untuk pria itu. "Sial!"pikir Elena. "Duduk!" perintah Alexander. Suara pria itu membuat Elena tersentak dari lamunannya. Ia menguatkan hatinya, lalu melangkah dengan kaki yang terasa kaku, kemudian duduk di kursi di seberang meja. Ia menegakkan punggung dan mencoba bersikap profesional meskipun pikirannya masih berantakan. Alexander mengamati wajah Elena terlalu lama hingga Elena harus menahan dirinya untuk tidak menghindari tatapannya. "Tidak kusangka kamu yang akan mengisi posisi ini," katanya akhirnya. Suaranya datar, tapi ada sesuatu di balik nada itu yang sama sekali tidak bisa Elena baca. Elena menelan ludah. "Aku juga tidak menyangka, Pak Alexander." Ada kilatan aneh di mata pria itu saat mendengar panggilan formal itu. Dulu nama itu selalu terdengar lebih hangat di bibirnya dan sekarang semuanya sudah berbeda. Alexander bersandar di kursinya dan jemarinya saling bertaut. "Lima tahun berlalu, tapi kamu masih menghindari menatapku lebih dari tiga detik." Elena merasakan hawa panas menjalari tengkuknya. Ia mengangkat dagunya sedikit lebih tinggi. "Aku hanya ingin bersikap profesional." Alexander tersenyum kecil, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Profesional, ya?" Ia mengetuk meja berkali-kali dengan jarinya, lalu mencondongkan tubuh sedikit ke depan. "Bagaimana jika aku bilang aku tidak ingin kamu bekerja di sini?" Elena terkesiap. "Apa?" Jantungnya mencelos. "Apa itu berarti ia akan langsung dipecat?" pikir Elena. Alexander tidak menjawab hanya menatapnya dalam-dalam seakan sedang menimbang sesuatu. Lana menekan jemarinya ke pahanya dan berusaha meredam kegugupan yang sedang melandanya. Ia tidak bisa kehilangan pekerjaan ini setelah susah payah mendapatkannya. Ia akhirnya berkata dengan suara yang lebih tegas dari yang ia perkirakan, "Kalau memang Anda tidak ingin aku ada di sini, kenapa aku dipanggil?" Alexander tersenyum kecil. "Sederhana saja." Ia berdiri dari kursinya, lalu berjalan mengitari meja hingga berdiri di hadapannya. Elena menahan napas saat pria itu bersandar ke meja dan menatapnya dari atas. "Aku hanya ingin tahu, apakah aku masih bisa membuatmu gemetar seperti ini." Elena tercekat. "Bajingan," batin Elena. Alexander tahu bagaimana kehadirannya masih mempengaruhi Elena. Ia juga tahu bagaimana suara dan tatapannya masih bisa membuat hati wanita itu resah, tapi Elena menolak untuk kalah. Elena mendongak dan membalas tatapan pria itu dengan mata yang tidak ingin menunjukkan kelemahannya. "Aku di sini untuk bekerja, Pak Alexander." Ia menekankan panggilan formal itu. "Dan perasaanku atau perasaan Anda tidak ada hubungannya dengan profesionalisme." Mata Alexander menyipit, lalu bibirnya melengkung dalam senyuman tipis yang penuh arti. "Baiklah!" katanya akhirnya. "Kita lihat seberapa lama kamu bisa bertahan." Elena keluar dari ruangan itu dengan kaki yang sedikit gemetar. Ia hampir saja bisa merasakan napas yang selama ini ia tahan akhirnya keluar saat ia berdiri di koridor dan mencoba menenangkan dirinya. Alexander bukan hanya cinta pertamanya, tapi ia juga adalah luka terbesar yang pernah ia miliki dan sekarang ia harus bekerja di bawah pria itu sehari-hari tanpa bisa menghindar. Ia sekarang benar-benar dalam masalah besar.Malam semakin larut ketika mobil Alexander melaju di jalanan sepi menuju tempat yang dikatakan Audrey. Elena duduk diam di kursi penumpang, sesekali melirik ke belakang untuk memastikan kondisi sahabatnya. Audrey masih terlihat pucat dan kelelahan, tetapi matanya waspada, seolah-olah kapan saja seseorang bisa muncul dan menyerangnya.Elena menggigit bibirnya dan pikirannya dipenuhi kekhawatiran. Ia ingin bertanya lebih jauh kepada Audrey, tetapi setelah apa yang mereka lalui tadi, ia tahu bahwa sahabatnya belum siap berbicara.“Kita hampir sampai,” ujar Alexander, membuyarkan keheningan.Elena menoleh ke luar jendela. Mereka telah meninggalkan jalan utama dan sekarang memasuki daerah hutan yang cukup lebat. Jalanan kecil membentang di depan mereka, menuju sebuah bangunan kayu tua yang tersembunyi di antara pepohonan.Audrey menegakkan tubuhnya. “Kita bisa bersembunyi di sini untuk sementara. Tempat ini milik seseorang yang aku percayai.”Alexander memarkirkan mobil, tetapi ia tidak la
Suasana menegang seketika. Elena dan Alexander berdiri kaku di depan Audrey, sementara sekelompok pria bersenjata mengepung mereka. Elena bisa mendengar napas Audrey yang tidak teratur dan matanya dipenuhi oleh ketakutan. “Letakkan senjata kalian!" ulang salah satu pria bersenjata dengan suara dingin. Alexander tidak langsung menuruti dan matanya menyapu keadaan sekitar, mencari celah untuk melawan atau kabur. Elena menelan ludahnya dan jantungnya berdebar kencang, tetapi ia berusaha tetap tenang. “Siapa kalian?” tanyanya dengan suara setenang mungkin. Pria yang berbicara tadi hanya tersenyum sinis. “Pertanyaan yang bagus, tapi kurasa itu bukan sesuatu yang perlu kalian ketahui sekarang.” Alexander mendecak pelan. “Kalau kalian ingin menangkap kami, kenapa repot-repot berbicara? Kenapa tidak langsung menembak saja?” Pria itu terkekeh. “Karena bos kami ingin berbicara dengan kalian.” Elena dan Alexander saling bertukar pandang. Ini buruk, tetapi sebelum ada yang bisa bergerak, t
“Tempat aman,” jawab Alexander singkat. Ia keluar dari mobil dan mengisyaratkan Elena untuk mengikutinya.Mereka masuk ke dalam gudang yang terlihat kosong dari luar, tetapi di dalamnya terdapat peralatan teknologi yang tersembunyi dengan baik. Monitor-monitor besar memenuhi salah satu sudut ruangan, sementara rak-rak besi diisi dengan berbagai perlengkapan.Elena menatap sekeliling dengan takjub. “Kau sering ke sini?”Alexander tersenyum kecil. “Hanya kalau aku butuh sesuatu.”Tiba-tiba, seseorang muncul dari balik meja komputer. Seorang pria tua dengan kacamata dan rambut berantakan.“Kamu cepat sekali,” kata pria itu sambil mengunyah permen karet.“Aku tidak suka membuang waktu,” jawab Alexander.Pria itu adalah Ethan, peretas yang tadi dihubungi Alexander yang sedang menggerakkan jarinya di keyboard dengan kecepatan luar biasa."Ethan, kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Elena."Peralatan teknologi di sini lebih lengkap dari tempatku sebelumnya makanya aku datang cepat-cepat ke s
Bekas jejak kaki dan jejak itu belum lama dibuat, lalu Alexander memperhatikan jejak itu dan rahangnya mengatup erat. “Kita tidak sendirian.”Elena menelan ludahnya dengan rasa takut yang menjalari tubuhnya. Mereka memutuskan untuk mengikuti jejak itu yang menuju ke sebuah ruangan di ujung lorong. Pintu kayu besar berdiri di depan mereka dan sedikit terbuka.Alexander mengangkat tangannya dan memberi isyarat agar Elena tetap diam. Dengan hati-hati, ia pun mendorong pintu itu. Ruangan itu kosong, tetapi di tengah ruangan ada sesuatu yang membuat Elena menahan napasnya. Sebuah kursi besi dengan tali di sisinya seolah-olah seseorang baru saja diikat di sana dan di lantai ada sebuah benda tergeletak, sebuah ponsel dengan layar yang sudah retak.Elena mengenali benda itu seketika. Ponsel itu milik Audrey dan jantungnya mencelos.Alexander meraih ponsel itu dan memeriksanya. “Tidak ada baterai,” gumamnya.Elena menggigit bibirnya. “Dia pasti baru saja di sini.”Alexander menatap sekeliling












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.