Se connecterMalam itu, Zafira duduk sendirian di tepi ranjang. Albert belum kembali ke kamar karena masih menyelesaikan beberapa pekerjaan di ruang kerjanya. Sementara itu, Zafira terus memikirkan percakapan mereka sore tadi.Bagaimana kau bisa mengetahui begitu banyak hal tentang Teddy?Pertanyaan Albert terus terngiang di kepalanya.Dia tahu suaminya mulai curiga. Bukan karena Albert menganggapnya pembohong, melainkan karena terlalu banyak hal yang dia ketahui tanpa alasan yang masuk akal.Zafira menunduk, menatap kedua tangannya.Dia ingin menceritakan semuanya.Dia ingin mengatakan bahwa Teddy bukan sekadar mantan pekerja mansion Hendro. Pria itu adalah orang yang telah menghancurkan hidupnya dalam kehidupan pertama. Dia juga ingin mengungkapkan bahwa Vivi bukan perempuan baik yang selama ini ditampilkan di hadapan Albert.Namun, bagaimana mungkin dia menjelaskan bahwa dirinya telah mati, kemudian mendapatkan kesempatan untuk hidup kembali?Siapa yang akan percaya pada cerita seperti itu?Alb
Albert masih memikirkan kesaksian Jatmiko ketika Pak Ardi mengetuk pintu dan masuk ke ruang kerjanya."Pak, saya sudah mendapatkan informasi tentang masa lalu Teddy."Albert segera mengalihkan pandangan dari layar laptopnya."Apa yang kau temukan?""Ternyata Teddy dibesarkan di sebuah panti asuhan. Dia tinggal di sana sejak kecil dan tidak memiliki keluarga yang diketahui oleh pengurus panti."Albert mengernyitkan dahi."Apakah kau sudah menemukan seseorang yang mengenalnya sejak kecil?""Sudah, Pak. Kami mendapatkan informasi mengenai seorang pria yang pernah tinggal di panti yang sama. Namanya Bima. Sekarang dia bekerja di sebuah bengkel di luar kota."Albert menutup laptopnya."Hubungi dia. Aku ingin berbicara dengannya.""Baik, Pak."Ardi segera mengatur pertemuan. Siang harinya, Bima datang ke kantor Albert dengan wajah sedikit gugup. Pria itu duduk di hadapan Albert sambil sesekali memperhatikan ruangan yang luas dan mewah."Terima kasih sudah datang," ujar Albert. "Saya ingin m
Albert belum puas dengan laporan yang diberikan Pak Ardi. Semakin banyak hal yang diketahuinya tentang Teddy, semakin besar pula keyakinannya bahwa pria itu bukan sekadar pekerja biasa di mansion Hendro."Ardi, aku ingin kau menemukan salah satu pekerja lama yang pernah berinteraksi langsung dengan Teddy," ujar Albert sambil menutup map di hadapannya. "Terutama orang yang mengetahui bagaimana dia bekerja di sana.""Baik, Pak. Saya akan mencarinya.""Dan jangan hanya mencari informasi tentang kematiannya. Aku ingin tahu kehidupan Teddy sebelum dia dinyatakan meninggal."Pak Ardi mengangguk, lalu keluar dari ruang kerja.Albert kembali menatap foto Teddy. Dalam foto itu, pria tersebut tampak biasa saja. Tidak ada sesuatu yang menunjukkan bahwa dia pernah menjadi orang kepercayaan Vivi.Namun, Zafira menyebut namanya dengan ketakutan yang begitu nyata.Albert masih mengingat bagaimana istrinya menangis ketika menuduh Vivi terlibat dalam kejadian-kejadian yang tidak pernah dia pahami. Saa
Vivi meninggalkan kafe dengan langkah tenang. Dari luar, tidak ada yang berbeda dari dirinya. Dia masih tampak seperti perempuan anggun yang tidak memiliki masalah apa pun. Namun, setelah masuk ke mobil, senyum di wajahnya perlahan menghilang. Albert mulai menyelidiki Teddy.Sebenarnya, Vivi sudah memperkirakan kemungkinan itu sejak Zafira menyebut nama Teddy di hadapan Albert. Hanya saja, dia tidak menyangka Albert akan bergerak secepat ini.Untungnya, dia tidak pernah meremehkan pentingnya menjaga jarak di depan orang lain. Selama ini, Teddy menjalankan tugasnya tanpa menarik perhatian. Bahkan ketika semua orang mengira pria itu telah meninggal, dia tetap menjalankan perintah Vivi secara diam-diam.Vivi mengambil ponselnya dan mengirim sebuah pesan singkat.Aku perlu bertemu denganmu malam ini. Ada perkembangan baru.Balasan datang tidak lama kemudian.Baik. Aku akan datang.Vivi menyimpan ponselnya.Dia tidak perlu menjelaskan panjang lebar kepada Teddy. Pria itu sudah mengenalnya
Albert masih duduk di ruang kerjanya ketika Pak Ardi masuk membawa beberapa lembar laporan.Sejak kematian Hendro, penyelidikan mengenai Teddy terus berjalan. Namun, sampai saat ini, mereka belum menemukan bukti yang cukup untuk memastikan apakah pria itu benar-benar meninggal dunia atau sengaja menghilang.Albert meletakkan pena yang sejak tadi dipegangnya."Bagaimana perkembangan penyelidikan Teddy?"Pak Ardi menghela napas pelan."Kami masih memeriksa catatan kematiannya, Pak. Ada beberapa informasi yang belum cocok, tetapi saya belum berani memastikan bahwa kematiannya dipalsukan."Albert mengangguk."Teruskan penyelidikannya. Aku ingin mengetahui kebenarannya, bukan sekadar menduga-duga.""Baik, Pak."Pak Ardi hendak menutup map yang dibawanya ketika tiba-tiba dia teringat sesuatu."Sebentar, Pak. Ada satu hal yang mungkin bisa membantu."Albert menoleh. "Apa?"Pak Ardi berpikir sejenak sebelum menjawab."Saya baru ingat, dahulu orang yang membawa Teddy bekerja di mansion keluarg
Malam itu, Albert belum juga pulang ke rumah.Di ruang kerjanya, pria itu duduk di balik meja dengan beberapa berkas terbuka di hadapannya. Sejak pemakaman Hendro, pikirannya terus dihantui oleh ucapan Zafira yang terdengar mustahil, tetapi entah mengapa sulit diabaikan.Zafira pernah berkata bahwa Vivi mendorongnya ketika sedang hamil. Dia juga menyebut nama Teddy, pria yang selama ini diyakini telah meninggal dunia.Dulu, Albert mungkin akan menganggap semua itu sebagai omong kosong. Namun, setelah kecelakaan yang hampir merenggut nyawa Zafira, dia tidak lagi bisa menepis kecurigaannya begitu saja.Ketukan terdengar di pintu."Masuk!"Pak Ardi melangkah masuk sambil membawa sebuah map cokelat."Pak, saya sudah mendapatkan informasi awal mengenai Teddy."Albert segera mengangkat wajahnya."Bagaimana?"Pak Ardi meletakkan map itu di atas meja, kemudian membukanya."Nama lengkapnya Teddy Pranata. Berdasarkan dokumen yang kami temukan, dia dinyatakan meninggal dunia sehari sesudah nyony
"Nona Zafira?"Suara pelayan yang terdengar dari ambang pintu membuat Zafira perlahan mengangkat kepalanya. Pandangannya masih terpaku pada kalender yang tergantung di dinding kamar. Tanggal yang tertera di sana begitu jelas hingga mustahil untuk disalahartikan.Tiga tahun. Ia benar-benar kembali t
“Albert mulai berubah.”Tubuh Zafira langsung menegang. Ia baru saja tiba di mansion keluarga ketika suara itu terdengar dari balik pintu ruang kerja ayahnya.“Bukankah itu berbahaya?” tanya seorang pria yang tidak dikenalnya.“Aku tahu.”Zafira membeku. Ia mengenali suara itu. Vivi, kakak tirinya.
Sebenarnya Pak Garda bukan sosok asing bagi keluarganya. Ayahnya mengenal pria itu cukup lama dan sesekali masih mengundangnya ke rumah untuk berbincang. Meski begitu, Hendro tidak pernah menjelaskan secara rinci urusan mereka. Dulu Zafira tidak terlalu memperhatikan keberadaan pria itu.Namun seka
Setelah keluarga Pratama meninggalkan rumah, suasana kediaman keluarga Hendro masih dipenuhi kegembiraan. Para pelayan lalu-lalang membereskan ruang tamu, sementara beberapa kerabat yang belum pulang masih membicarakan pertunangan yang baru saja terjadi.Semua orang tampak bahagia. Semua orang, kec







