LOGINSejak percakapannya dengan Vivi, Pak Garda belum bisa merasa tenang.Ada banyak pertanyaan yang ingin dia ajukan, tetapi dia tidak tahu harus memulainya dari mana. Selama ini, dia selalu berusaha memenuhi permintaan Vivi tanpa terlalu banyak bertanya. Dia mengira dengan membantunya, setidaknya bisa sedikit menebus kesalahan masa lalunya.Namun, perkataan Albert telah mengubah segalanya. Jika Teddy memang terlibat dalam kematian Hendro, berarti persoalan yang selama ini dianggapnya sederhana ternyata jauh lebih rumit.Pak Garda mengambil ponselnya, lalu mencari nomor Vivi. Dia ingin menghubungi perempuan itu lagi, tetapi akhirnya mengurungkan niatnya. Jika terus bertanya melalui telepon, Vivi mungkin hanya akan memberikan jawaban yang sudah dipersiapkannya.Dia harus bertemu langsung lagi. Siang harinya, Pak Garda kembali menghubungi Vivi.“Aku ingin bertemu denganmu. Ada beberapa hal yang belum sempat kita bicarakan kemarin.”Vivi yang sedang memeriksa beberapa dokumen di ruang kerjan
Pak Garda meletakkan cangkir tehnya ketika Albert kembali mengeluarkan beberapa lembar foto dari dalam map.“Apakah Bapak masih ingat foto-foto ini?”Pak Garda melirik sekilas. Wajahnya langsung mengenali beberapa foto yang memperlihatkan dirinya bersama Teddy.“Sepertinya sudah cukup lama,” jawabnya tenang.“Benar. Tetapi saya menemukan beberapa foto yang menunjukkan Bapak bertemu Teddy dalam kesempatan berbeda.”Albert meletakkan foto pertama di atas meja.“Dalam foto ini, Bapak datang bersama Vivi. Namun, pada foto berikutnya, Bapak terlihat sedang berbicara dengan Teddy tanpa kehadiran Vivi.”Pak Garda memperhatikan foto tersebut.Dia sebenarnya masih mengingat pertemuan-pertemuan itu. Namun, dia tidak ingin Albert mengetahui terlalu banyak tentang hubungan mereka.“Vivi memang beberapa kali meminta bantuanku untuk mengurus persoalan Teddy,” jawabnya.“Jadi, Bapak cukup mengenalnya?”“Tidak juga. Aku hanya mengenalnya melalui Vivi.”Albert mengamati wajah pria di hadapannya.“Maaf
Albert masih memikirkan hasil penyelidikan tentang Teddy ketika Pak Ardi kembali memasuki ruang kerjanya. “Maaf mengganggu, Pak. Ada informasi tambahan dari pemilik toko tempat Teddy pernah bekerja.” Albert mengangkat wajah. “Apa yang dia temukan?” “Selain foto yang sebelumnya dikirimkan, ternyata dia masih menyimpan beberapa foto lama lainnya. Setelah saya menghubunginya kembali, dia mencoba memeriksa arsip foto yang pernah diambil di tokonya.” Pak Ardi mengeluarkan sebuah amplop berisi beberapa lembar foto. Albert segera mengambilnya. Foto pertama memperlihatkan Teddy sedang berdiri di depan toko bersama Vivi dan Pak Garda. Foto kedua menunjukkan Vivi sedang berbicara dengan pemilik toko, sementara Teddy berdiri tidak jauh dari mereka. Namun, foto ketiga membuat Albert berhenti lebih lama. Dalam foto tersebut, Pak Garda terlihat sedang duduk bersama Teddy di sebuah meja kecil di bagian belakang toko. Tidak ada Vivi di sana. Albert mengamati foto itu dengan saksama. “Apa
Pak Ardi segera menunjukkan pesan dari pemilik toko kepada Albert.“Pak, pemilik toko mengatakan masih memiliki sebuah foto lama yang mungkin berkaitan dengan Teddy.”Albert yang sedang memeriksa beberapa dokumen langsung mengangkat wajah.“Foto apa?”“Dia belum menjelaskan secara terperinci. Katanya, foto itu diambil ketika Teddy masih bekerja di sana.”Albert meletakkan berkas yang dipegangnya.“Hubungi dia. Minta agar foto itu disimpan baik-baik. Jangan sampai hilang atau jatuh ke tangan orang lain.”“Baik, Pak.”“Dan satu lagi, jangan beri tahu siapa pun tentang foto tersebut. Aku ingin melihatnya sebelum kita mengambil kesimpulan.”Pak Ardi mengangguk.Albert kembali bersandar di kursinya. Ada perasaan bahwa penyelidikan mereka mulai menemukan arah yang lebih jelas.Selama ini, mereka hanya mengandalkan kesaksian orang-orang yang pernah mengenal Teddy. Namun, sebuah foto bisa memberikan petunjuk yang lebih kuat, terutama jika di dalamnya terdapat orang-orang yang selama ini berus
Pagi itu, Albert mengambil keputusan untuk menemui Pak Garda.Dia tidak ingin hanya mengandalkan kesaksian pemilik toko. Ada banyak hal yang harus dipastikan, terutama mengenai alasan pria itu pernah datang bersama Vivi untuk menemui Teddy.Sebelum berangkat, Albert sempat berbicara dengan Zafira.“Aku akan menemui Pak Garda hari ini,” katanya sambil merapikan jam tangan.Zafira yang sedang duduk di tepi ranjang langsung mengangkat wajah.“Sendiri?”“Iya. Aku ingin berbicara dengannya secara langsung. Kalau aku datang bersama Pak Ardi, mungkin suasananya akan terasa seperti pemeriksaan.”Zafira mengangguk pelan.“Jangan langsung menuduhnya.”Albert tersenyum tipis. “Aku tahu. Aku hanya ingin mendengar penjelasannya.”“Dan kalau dia tidak mau menjawab?”“Berarti aku harus mencari cara lain untuk mengetahui kebenarannya.”Albert mendekati Zafira, kemudian mengecup keningnya.“Kamu istirahat saja. Jangan terlalu banyak berpikir.”Zafira tersenyum kecil.Namun, setelah Albert pergi, senyu
Pagi itu, Albert baru saja menyelesaikan rapat ketika Pak Ardi mengetuk pintu ruang kerjanya.“Maaf, Pak. Saya sudah berhasil menghubungi pemilik toko tempat Teddy pernah bekerja.”Albert mengangkat wajahnya.“Bagaimana hasilnya?”“Pemilik toko bersedia memberikan keterangan. Dia juga sudah memeriksa beberapa foto yang saya bawa.”Pak Ardi meletakkan sebuah map di atas meja.“Ada satu foto yang langsung dikenali olehnya.”Albert membuka map itu. Di antara beberapa foto yang dikumpulkan Pak Ardi, terdapat foto Pak Garda.Alis Albert langsung berkerut.“Pak Garda?”“Benar, Pak. Pemilik toko mengenali beliau sebagai pria yang pernah datang bersama Vivi untuk menemui Teddy.”Albert terdiam.Untuk beberapa saat, dia hanya menatap foto tersebut, seolah berharap ada penjelasan lain yang lebih masuk akal.Pak Garda bukan orang asing baginya. Selama ini, Albert menghormati pria itu karena pernah memberikan peringatan yang menyelamatkannya dari kecelakaan pesawat. Bahkan, beberapa kali dia masi
Zafira tidak tahu bagaimana ia bisa keluar dari rumah Pak Garda dengan langkah yang masih terlihat tenang. Padahal di dalam dirinya, semuanya seperti sedang runtuh.,Suara-suara yang baru saja ia dengar terus berputar di kepalanya."Aku khawatir Zafira mulai mencurigai sesuatu.""Bukankah sejak awal
Pagi-pagi sekali Zafira sudah meninggalkan rumah. Ia tidak memberi tahu siapa pun ke mana akan pergi. Bahkan ketika Vivi bertanya mengapa ia tampak terburu-buru saat sarapan, Zafira hanya tersenyum tipis dan mengatakan bahwa ia ingin berjalan-jalan.Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi berbaga
Sebenarnya Pak Garda bukan sosok asing bagi keluarganya. Ayahnya mengenal pria itu cukup lama dan sesekali masih mengundangnya ke rumah untuk berbincang. Meski begitu, Hendro tidak pernah menjelaskan secara rinci urusan mereka. Dulu Zafira tidak terlalu memperhatikan keberadaan pria itu.Namun seka
Setelah keluarga Pratama meninggalkan rumah, suasana kediaman keluarga Hendro masih dipenuhi kegembiraan. Para pelayan lalu-lalang membereskan ruang tamu, sementara beberapa kerabat yang belum pulang masih membicarakan pertunangan yang baru saja terjadi.Semua orang tampak bahagia. Semua orang, kec







