LOGINIa mati sebagai istri Albert Pratama, bersama anaknya yang belum lahir. Namun ketika membuka mata, ia kembali ke masa sebelum semuanya dimulai. Kali ini, Zafira melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat: kematiannya sendiri… kematian ayahnya… dan satu kata yang mengikat semuanya-tumbal. Albert, pria yang pernah ia cintai, kini penuh misteri. Vivi, kakak tirinya, menyimpan kebenaran yang terlalu rapi. Dan Pak Garda, peramal yang “menyelamatkan” Albert… mungkin sumber dari semua takdir itu. Di kehidupan keduanya, ia tidak lagi ingin menjadi korban. Ia ingin membongkar takdir, sebelum dia dan semua orang yang ia cintai mati sekali lagi.
View More“Albert mulai berubah.”
Tubuh Zafira langsung menegang. Ia baru saja tiba di mansion keluarga ketika suara itu terdengar dari balik pintu ruang kerja ayahnya. “Bukankah itu berbahaya?” tanya seorang pria yang tidak dikenalnya. “Aku tahu.” Zafira membeku. Ia mengenali suara itu. Vivi, kakak tirinya. Tangan Zafira yang menggenggam vas bunga perlahan mengencang. Awalnya ia hanya ingin memberi kejutan kepada ayahnya setelah menerima pesan singkat yang dikirim pria itu beberapa saat lalu. 'Kalau sempat datang ke mansion ya. Ayah kangen sama putri Ayah.' Pesan sederhana itu membuatnya langsung mengubah tujuan perjalanan. Apalagi hari ini suasana hatinya sedang sangat baik. Kehamilannya telah memasuki bulan ketujuh dan hasil pemeriksaan terakhir menunjukkan bahwa bayinya tumbuh sehat. Tidak lama lagi ia akan bertemu dengan buah hati yang selama ini ia tunggu. Belakangan ini bahkan sikap Albert Pratama mulai berubah. Pria yang selama ini bersikap dingin itu perlahan menunjukkan perhatian. Ia mengingatkannya untuk makan tepat waktu, memarahinya jika terlalu lelah bekerja, bahkan sesekali diam-diam menyiapkan makanan kesukaannya. Perhatian-perhatian kecil itu membuat harapan yang selama ini ia pendam kembali tumbuh. Mungkin Albert mulai mencintainya. Namun kini, berdiri di depan pintu ruang kerja ayahnya, perasaan hangat itu lenyap tanpa jejak. “Sebelum semuanya terlambat, Zafira harus mati.” Deg. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Napasnya tercekat. Apa maksud Vivi? Mengapa kakak tirinya mengatakan hal seperti itu? “Apakah Albert sudah tahu?” tanya pria tadi. “Belum.” “Kalau dia tahu, semuanya akan berakhir.” Vivi tertawa pelan. “Tapi dia mulai mencurigai beberapa hal.” “Karena itu kita harus bertindak sekarang.” Tubuh Zafira mulai gemetar. Naluri buruk memenuhi dadanya. Ia tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan, tetapi instingnya mengatakan bahwa semua ini berhubungan dengannya. Lalu suara Vivi kembali terdengar. “Aku tidak akan membiarkan Zafira hidup lebih lama lagi.” Brak! Vas bunga terlepas dari tangannya dan pecah berkeping-keping di lantai. Suara itu memecah keheningan. Percakapan di dalam ruangan langsung terhenti. Wajah Zafira memucat. Pintu ruang kerja perlahan terbuka. Dan saat itulah dunia Zafira runtuh. “Ayah...?” Suara Zafira bergetar. Tubuh Hendro masih duduk di kursi kerjanya. Namun ada sesuatu yang sangat salah. Wajah pria itu pucat. Matanya tertutup. Salah satu tangannya terkulai lemas di sisi kursi. Tidak bergerak, juga tidak bernapas. Jantung Zafira langsung mencelos. “Ayah!” Ia berusaha berlari masuk, tetapi langkahnya terhenti saat Vivi muncul dari balik pintu. Tatapan wanita itu begitu asing. Begitu dingin. Sungguh berbeda dengan biasanya. Seolah orang yang berdiri di hadapannya bukanlah kakak yang selama ini ia kenal. “Kak... apa yang terjadi?” “Ternyata kau mendengarnya.” “Apa yang kau lakukan pada Ayah?” Vivi tersenyum tipis. “Kau tidak perlu tahu.” Air mata langsung menggenang di mata Zafira. “Kak, jawab aku!” Senyum Vivi perlahan menghilang. “Bukankah orang mati tidak membutuhkan penjelasan?” Tubuh Zafira membeku. Ketakutan mulai menguasai seluruh tubuhnya. “Lakukan.” Perintah Vivi terdengar datar. Pria yang berdiri di belakangnya langsung bergerak. Zafira refleks berbalik dan berusaha melarikan diri. Namun tubuhnya yang sedang hamil membuat langkahnya jauh lebih lambat. Dalam hitungan detik pria itu berhasil menangkapnya. “Lepaskan aku!” “Tolong!” Air mata mulai mengalir di pipinya. “Vivi! Tolong!” Namun Vivi hanya berdiri diam. Tidak ada belas kasihan sedikitpun dalam tatapannya. “Apa salahku padamu?” teriak Zafira. Untuk sesaat Vivi terdiam. Kemudian senyum tipis muncul kembali di bibirnya. “Salahmu?” Tatapannya berubah dingin. “Tidak ada.” “Kesalahanmu hanya satu.” Vivi menatapnya lurus. “Kau terlahir sebagai putri ayah yang paling dicintai.” Dorongan keras menghantam tubuh Zafira. “Aaaah!” Tubuhnya kehilangan keseimbangan. Semuanya terjadi begitu cepat. Tubuhnya terjatuh ke belakang dan menggelinding menuruni tangga panjang itu. Benturan demi benturan menghantam tubuhnya. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh. Hingga akhirnya ia terhenti di dasar tangga. Napasnya tercekat. Perutnya terasa seperti dihancurkan. Lalu ia merasakan sesuatu yang hangat mengalir di antara kedua kakinya. Darah. Banyak sekali darah. “Anakku...” Tangannya yang gemetar langsung memegangi perutnya. Air mata terus mengalir tanpa henti. “Tolong...” “Tolong selamatkan anakku...” Namun tidak ada yang datang.Tidak ada yang menolongnya. Di atas tangga, Vivi hanya berdiri memandang dengan wajah datar. Seolah hidup dan mati Zafira sama sekali tidak berarti. Kesadarannya mulai memudar.Pandangannya perlahan mengabur.Mengapa? Mengapa Vivi begitu membencinya? Bukankah mereka keluarga? “Apa yang terjadi?” Suara yang sangat dikenalnya terdengar dari kejauhan. Albert. Zafira berusaha membuka matanya. Sosok suaminya berdiri beberapa langkah darinya. “Tidak ada yang terjadi,” jawab Vivi tenang. “Dia jatuh sendiri karena tidak hati-hati.” Kemudian wanita itu tersenyum. “Bukankah sejak awal kita sudah tahu kalau ini akan terjadi?” Tubuh Zafira menegang. “Dia hanyalah tumbal.” Air mata kembali mengalir dari sudut matanya. Tumbal? “Dan setelah semuanya selesai, aku akan menjadi istrimu.” Albert membeku. Ia tidak membantah, juga tidak menyangkal. Tidak mengatakan bahwa semua itu bohong. Saat itulah hati Zafira benar-benar hancur. Jadi selama ini dirinya memang hanya tumbal. Korban yang sudah dipersiapkan sejak awal. Namun ketika kesadarannya hampir hilang sepenuhnya, ia melihat sesuatu yang tidak pernah ia duga. Penyesalan. Mata Albert memerah. Pria itu berlutut di sampingnya. Kemudian membungkuk hingga bibirnya berada di dekat telinganya. “Aku menyesal, Fira.” Suaranya bergetar. “Sungguh menyesal telah menjadikanmu tumbal.” Air mata jatuh dari mata Zafira. Terlambat. Semuanya sudah terlambat. “Aku sudah berusaha melindungimu.” Suara Albert terdengar semakin berat. “Mengapa semuanya tetap terjadi?” “Mengapa takdir ini tidak bisa diubah?” Pandangan Zafira mulai gelap. Suara-suara di sekitarnya perlahan menghilang. Dan bersama anak yang belum sempat lahir ke dunia, Zafira mengembuskan napas terakhirnya. Bersambung........Hari pemakaman Hendro akhirnya tiba. Langit terlihat mendung sejak pagi, seolah ikut merasakan kesedihan yang menyelimuti keluarga itu. Zafira berdiri di sisi makam dengan mata sembap. Tangannya menggenggam tangan Albert erat.Ia masih sulit menerima kenyataan bahwa ayahnya telah pergi. Kemarin ia masih bisa berbicara dengan Hendro. Sekarang... yang tersisa hanya sebuah makam."Ayah..."Suara Zafira bergetar."Maafkan aku."Air matanya kembali jatuh."Aku belum sempat membalas semua kebaikan Ayah.""Kupikir aku diberi kesempatan untuk menyelamatkan ayah..."'Ternyata aku tetap saja gagal."Albert berdiri di sampingnya. Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menggenggam tangan Zafira lebih erat.Setelah pemakaman selesai, satu per satu orang mulai meninggalkan tempat itu. Namun Zafira masih berdiri di sana. Tatapannya tertuju pada makam Hendro."Aku akan mencari tahu siapa yang melakukan ini, Yah."Albert menoleh. Zafira mengepalkan tangannya."Aku tahu aku tidak punya bukti.""Tapi ak
Zafira perlahan membuka mata. Cahaya putih dari langit-langit membuat pandangannya terasa silau. Beberapa detik ia hanya diam, mencoba mengingat apa yang terjadi.Kemudian ingatannya kembali.Ayahnya.Zafira langsung berusaha bangun."Ayah..."Gerakannya membuat Albert yang duduk di samping tempat tidur segera berdiri."Fira, jangan bangun dulu.""Ayah di mana?"Suara Zafira bergetar. Albert terdiam. Ia tahu cepat atau lambat Zafira harus mengetahui kenyataannya."Mas...""Ayah bagaimana?"Zafira menatapnya penuh harap. Namun melihat wajah Albert yang tiba-tiba muram, senyum kecil di wajahnya perlahan menghilang."Mas..."Albert menggenggam tangannya."Fira...""Ayah sudah tenang di sana."Zafira membeku. Air matanya langsung menggenang."Jangan...""Mas...""Ayah..."Albert mengusap punggung tangannya."Aku sudah mengatur penguburan untuk Ayah."Zafira menutup mulutnya. Tangisnya pecah."Aku belum sempat bicara dengan Ayah.""Aku belum sempat mengatakan apa-apa."Albert memeluknya."
Rumah sakit kembali dipenuhi kesibukan. Setelah pemeriksaan dilakukan, dokter akhirnya keluar dari ruang pemeriksaan. Albert yang sejak tadi menunggu langsung berdiri."Dokter, bagaimana keadaan istri saya?"Dokter tersenyum."Secara umum kondisinya baik. Pingsannya kemungkinan besar disebabkan oleh shock berat dan kelelahan setelah kecelakaan."Albert menghela napas lega."Syukurlah."Namun dokter belum selesai."Ada satu hal lagi."Albert mengerutkan kening."Apa, Dok?"Dokter tersenyum."Selamat. Istri Anda sedang hamil muda."Albert terdiam."Hamil?""Iya."Untuk beberapa detik, Albert seperti tidak mampu mencerna perkataan itu. Kemudian wajahnya perlahan berubah. Senyum muncul tanpa ia sadari."Kami akan punya anak?"Dokter mengangguk."Usianya masih sangat muda, jadi untuk sementara istrinya harus banyak beristirahat dan menghindari kelelahan."Albert mengangguk berkali-kali."Baik, Dok. Saya akan menjaganya."Setelah dokter pergi, Albert masih berdiri di tempatnya. Ia menatap p
Zafira berdiri dengan tubuh gemetar. Air matanya terus mengalir ketika pandangannya tertuju kepada Vivi.Ayahnya baru saja meninggal. Orang yang sejak kecil menjadi tempatnya pulang kini terbaring tidak berdaya di hadapannya.Namun di balik kesedihan itu, ada sesuatu yang jauh lebih kuat.Kemarahan.Semua kejadian yang selama ini berusaha ia susun tiba-tiba bercampur menjadi satu. Kecelakaan yang pernah dialami ayahnya. Kecelakaan yang baru saja menimpanya. Ancaman yang ia terima.Dan sekarang... Hendro meninggal, padahal saat keluar dari Rumah Sakit, dokter sudah menyatakan Hendro sehat. Dan yang paling tidak bisa Zafira terima adalah... di kehidupan keduanya, ternyata dia tetap gagal menyelamatkan ayahnya.Zafira menunjuk Vivi dengan tangan gemetar."Kau!"Vivi tersentak."Kau pembunuh ayah!"Ruangan langsung hening. Albert yang berdiri di samping Zafira menatap istrinya."Fira..."Namun Zafira seperti tidak mendengar. Ia terus menatap Vivi dengan mata penuh kebencian."Kau yang mem
"Nona Zafira?"Suara pelayan yang terdengar dari ambang pintu membuat Zafira perlahan mengangkat kepalanya. Pandangannya masih terpaku pada kalender yang tergantung di dinding kamar. Tanggal yang tertera di sana begitu jelas hingga mustahil untuk disalahartikan.Tiga tahun. Ia benar-benar kembali t
“Albert mulai berubah.”Tubuh Zafira langsung menegang. Ia baru saja tiba di mansion keluarga ketika suara itu terdengar dari balik pintu ruang kerja ayahnya.“Bukankah itu berbahaya?” tanya seorang pria yang tidak dikenalnya.“Aku tahu.”Zafira membeku. Ia mengenali suara itu. Vivi, kakak tirinya.
Zafira tidak tahu bagaimana ia bisa keluar dari rumah Pak Garda dengan langkah yang masih terlihat tenang. Padahal di dalam dirinya, semuanya seperti sedang runtuh.,Suara-suara yang baru saja ia dengar terus berputar di kepalanya."Aku khawatir Zafira mulai mencurigai sesuatu.""Bukankah sejak awal
Pagi-pagi sekali Zafira sudah meninggalkan rumah. Ia tidak memberi tahu siapa pun ke mana akan pergi. Bahkan ketika Vivi bertanya mengapa ia tampak terburu-buru saat sarapan, Zafira hanya tersenyum tipis dan mengatakan bahwa ia ingin berjalan-jalan.Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi berbaga






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore