Chapter: Misi Rahasia di ParisBeberapa minggu kemudian, mereka benar-benar tiba di Paris. Brandon yang kini berusia tiga tahun tampak sangat bersemangat. Tangannya menggenggam tangan Leon, sementara tangan satunya menggenggam tangan Alena. “Mama! Lihat!” Alena tersenyum. “Iya, Sayang.” “Bagus!” “Bagus sekali.” Di belakang mereka, Mira dan Ibu Alena berjalan sambil tertawa melihat tingkah Brandon. “Dulu Leon dan Alena ke Paris berdua,” kata Mira. “Sekarang sudah bertiga,” jawab Ibu Alena. “Dan membawa kami.” Keduanya tertawa. Setelah beristirahat sejenak di hotel, mereka memutuskan untuk makan malam di sebuah restoran yang terkenal dengan suasananya yang hangat dan hidangan khas Prancis. Brandon duduk di antara Leon dan Alena, sementara Mira dan Ibu Alena duduk di seberang mereka. “Brandon mau makan apa?” tanya Alena sambil membuka menu. “Yang enak.” Leon tertawa kecil. “Semua makanan di sini enak.” Brandon menunjuk gambar makanan di menu. “Itu.” Alena melihatnya. “Steak?” Brandon mengangguk man
Last Updated: 2026-09-28
Chapter: Kembali ke ParisTiga tahun berlalu. Rumah Leon dan Alena kini tidak pernah benar-benar sepi. Ada suara langkah kaki kecil yang berlari dari ruang tengah menuju taman. Ada suara tawa. Ada mainan yang terkadang berserakan di lantai. Dan tentu saja, ada satu anak laki-laki yang hampir setiap pagi berhasil membuat seluruh rumah bangun lebih cepat daripada alarm.“Brandon!”Suara Alena terdengar dari lantai atas. Seorang anak laki-laki berusia tiga tahun berlari sambil tertawa.“Papa!”Leon yang baru keluar dari ruang kerja langsung membuka kedua tangannya. Brandon berlari dan memeluk kakinya.“Papa!”Leon membungkuk dan mengangkatnya.“Selamat ulang tahun, jagoan Ayah.”Brandon tertawa.“Hari ini Brandon tiga tahun!”“Iya.”Leon mencium pipinya.“Sudah besar.”Brandon langsung menggeleng.“Belum.”Alena yang baru turun tangga tertawa.“Menurut dia, kalau sudah besar nanti baru boleh melakukan apa saja.”Brandon menoleh.“Mama!”Ia mengulurkan kedua tangannya. Alena mendekat dan mencium pipinya.“Selamat
Last Updated: 2026-09-28
Chapter: Hari yang DinantiPagi itu sebenarnya dimulai seperti pagi-pagi biasa. Leon sedang berdiri di depan meja makan sambil menuangkan air ke dalam gelas ketika mendengar suara Alena dari kamar. “Sayang…” Leon langsung menoleh. “Iya?” Tidak ada jawaban. Ia meletakkan gelasnya dan berjalan menuju kamar. “Alena?” Ketika sampai di depan pintu, Leon melihat istrinya sedang duduk di tepi tempat tidur. Wajahnya terlihat sedikit pucat. “Ada apa?” Alena menatapnya. “Perutku terasa aneh.” Leon langsung panik. “Aneh bagaimana?” “Seperti…” Alena berhenti sebentar. “Seperti mulas.” Leon membeku. “Mulas?” Alena mengangguk. Leon langsung melihat jam. Kemudian melihat Alena. Lalu melihat jam lagi. “Jangan-jangan…” “Jangan panik dulu.” “Aku belum panik.” Alena mengangkat alis. “Wajahmu panik.” Leon menarik napas panjang. “Oke. Aku tenang.” Beberapa menit kemudian rasa sakit itu kembali. Alena memegang perutnya. “Sayang…” Leon langsung mendekat. “Bagaimana?” “Sepertinya lebih sakit.” Kali ini Le
Last Updated: 2026-09-28
Chapter: Ketika Hari Itu Semakin DekatBeberapa minggu berlalu begitu cepat. Perut Alena kini semakin besar. Setiap pagi, ia membutuhkan sedikit waktu lebih lama untuk bangun dari tempat tidur. Bukan karena malas, tetapi karena tubuhnya terasa semakin berat.Leon sudah terbiasa menjadi orang pertama yang membantunya.“Pelan-pelan,” katanya setiap kali Alena mencoba bangun.“Aku masih bisa sendiri, sayang.”“Aku tahu.”“Kalau tahu, kenapa masih dibantu?”Leon tersenyum sambil mengulurkan tangan.“Karena aku suamimu.”Alena mendengus kecil, tetapi tetap menerima tangannya.“Alasan.”“Alasan yang bagus.”Alena akhirnya berdiri.Belakangan ini Leon memang semakin perhatian. Ia tidak lagi membiarkan Alena membawa barang berat. Bahkan untuk mengambil sesuatu yang hanya berjarak beberapa langkah, Leon sering kali lebih dulu bergerak.Suatu pagi, Alena sedang duduk di sofa sambil memandangi beberapa pakaian bayi yang sudah mereka siapkan.Tangannya mengusap salah satu baju kecil berwarna putih.“Sayang.”“Hm?”“Menurutmu Brandon n
Last Updated: 2026-09-27
Chapter: Sisca yang Mendadak KalemSiang itu Alena sedang duduk santai di ruang keluarga ketika bel rumah berbunyi. Ia menoleh."Siapa, ya?"Leon yang sedang bekerja di meja tidak jauh darinya ikut melihat ke arah pintu. Pelayan rumah kemudian membukakan pintu. Tak lama kemudian terdengar suara yang sudah sangat dikenal Alena."Alena!"Alena langsung tersenyum."Suara itu..."Beberapa detik kemudian Sisca muncul dengan membawa sebuah tas besar. Namun ada sesuatu yang berbeda.Alena mengernyitkan dahi. Sisca tidak datang sendirian. Di belakangnya berdiri Dimas. Alena langsung membelalakkan mata."Eh?"Sisca tersenyum malu."Hai."Alena menatap Dimas. Kemudian menatap Sisca. Lalu kembali menatap Dimas."Kalian?"Dimas tersenyum."Halo, Lena."Leon yang melihat dari belakang langsung ikut tersenyum."Silakan duduk."Sisca berjalan masuk. Namun biasanya jika datang, Sisca akan langsung menguasai ruangan dengan cerita panjang dan suara yang ramai.Hari ini tidak. Ia malah duduk dengan tenang di samping Dimas. Alena semakin
Last Updated: 2026-09-27
Chapter: Belajar Menjadi AyahSejak pemeriksaan terakhir, ada satu perubahan kecil dalam diri Leon. Ia menjadi jauh lebih sering memperhatikan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah dipikirkannya.Pagi itu, Alena baru saja selesai sarapan ketika melihat Leon duduk di sofa sambil membaca sesuatu dari ponselnya. Alena mendekat."Sayang, kamu sedang apa?"Leon langsung mematikan layar."Enggak ada."Alena menyipitkan mata."Kenapa disembunyikan?"Leon tersenyum."Bukan sesuatu yang perlu kamu lihat.""Memangnya apa?""Rahasia."Alena semakin penasaran. Ia duduk di samping Leon lalu mencoba mengambil ponselnya. Leon mengangkat tangan."Jangan.""Kenapa?""Aku sedang belajar.""Belajar apa?"Leon akhirnya menyerah. Ia menunjukkan layar ponselnya. Alena membaca judul yang tertera. Panduan Menjadi Ayah untuk Pertama Kalinya. Alena langsung tertawa."Serius?"Leon mengangguk."Serius.""Kamu baca beginian?""Iya."Alena mengambil ponselnya dan membaca beberapa bagian. Kemudian ia tertawa lagi."Ini ada bagian cara mengganti
Last Updated: 2026-09-26
Kehidupan Kedua Pengantin Pengganti
Ia mati sebagai istri Albert Pratama, bersama anaknya yang belum lahir. Namun ketika membuka mata, ia kembali ke masa sebelum semuanya dimulai.
Kali ini, Zafira melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat: kematiannya sendiri… kematian ayahnya… dan satu kata yang mengikat semuanya-tumbal.
Albert, pria yang pernah ia cintai, kini penuh misteri.
Vivi, kakak tirinya, menyimpan kebenaran yang terlalu rapi.
Dan Pak Garda, peramal yang “menyelamatkan” Albert… mungkin sumber dari semua takdir itu.
Di kehidupan keduanya, ia tidak lagi ingin menjadi korban. Ia ingin membongkar takdir, sebelum dia dan semua orang yang ia cintai mati sekali lagi.
Read
Chapter: Vivi Mulai TakutHari pemakaman Hendro akhirnya tiba. Langit terlihat mendung sejak pagi, seolah ikut merasakan kesedihan yang menyelimuti keluarga itu. Zafira berdiri di sisi makam dengan mata sembap. Tangannya menggenggam tangan Albert erat.Ia masih sulit menerima kenyataan bahwa ayahnya telah pergi. Kemarin ia masih bisa berbicara dengan Hendro. Sekarang... yang tersisa hanya sebuah makam."Ayah..."Suara Zafira bergetar."Maafkan aku."Air matanya kembali jatuh."Aku belum sempat membalas semua kebaikan Ayah.""Kupikir aku diberi kesempatan untuk menyelamatkan ayah..."'Ternyata aku tetap saja gagal."Albert berdiri di sampingnya. Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menggenggam tangan Zafira lebih erat.Setelah pemakaman selesai, satu per satu orang mulai meninggalkan tempat itu. Namun Zafira masih berdiri di sana. Tatapannya tertuju pada makam Hendro."Aku akan mencari tahu siapa yang melakukan ini, Yah."Albert menoleh. Zafira mengepalkan tangannya."Aku tahu aku tidak punya bukti.""Tapi ak
Last Updated: 2026-08-26
Chapter: Kebenaran yang Mulai DicariZafira perlahan membuka mata. Cahaya putih dari langit-langit membuat pandangannya terasa silau. Beberapa detik ia hanya diam, mencoba mengingat apa yang terjadi.Kemudian ingatannya kembali.Ayahnya.Zafira langsung berusaha bangun."Ayah..."Gerakannya membuat Albert yang duduk di samping tempat tidur segera berdiri."Fira, jangan bangun dulu.""Ayah di mana?"Suara Zafira bergetar. Albert terdiam. Ia tahu cepat atau lambat Zafira harus mengetahui kenyataannya."Mas...""Ayah bagaimana?"Zafira menatapnya penuh harap. Namun melihat wajah Albert yang tiba-tiba muram, senyum kecil di wajahnya perlahan menghilang."Mas..."Albert menggenggam tangannya."Fira...""Ayah sudah tenang di sana."Zafira membeku. Air matanya langsung menggenang."Jangan...""Mas...""Ayah..."Albert mengusap punggung tangannya."Aku sudah mengatur penguburan untuk Ayah."Zafira menutup mulutnya. Tangisnya pecah."Aku belum sempat bicara dengan Ayah.""Aku belum sempat mengatakan apa-apa."Albert memeluknya."
Last Updated: 2026-08-24
Chapter: Rahasia di Balik Perubahan ZafiraRumah sakit kembali dipenuhi kesibukan. Setelah pemeriksaan dilakukan, dokter akhirnya keluar dari ruang pemeriksaan. Albert yang sejak tadi menunggu langsung berdiri."Dokter, bagaimana keadaan istri saya?"Dokter tersenyum."Secara umum kondisinya baik. Pingsannya kemungkinan besar disebabkan oleh shock berat dan kelelahan setelah kecelakaan."Albert menghela napas lega."Syukurlah."Namun dokter belum selesai."Ada satu hal lagi."Albert mengerutkan kening."Apa, Dok?"Dokter tersenyum."Selamat. Istri Anda sedang hamil muda."Albert terdiam."Hamil?""Iya."Untuk beberapa detik, Albert seperti tidak mampu mencerna perkataan itu. Kemudian wajahnya perlahan berubah. Senyum muncul tanpa ia sadari."Kami akan punya anak?"Dokter mengangguk."Usianya masih sangat muda, jadi untuk sementara istrinya harus banyak beristirahat dan menghindari kelelahan."Albert mengangguk berkali-kali."Baik, Dok. Saya akan menjaganya."Setelah dokter pergi, Albert masih berdiri di tempatnya. Ia menatap p
Last Updated: 2026-08-23
Chapter: Bukan Aku yang MemburunyaZafira berdiri dengan tubuh gemetar. Air matanya terus mengalir ketika pandangannya tertuju kepada Vivi.Ayahnya baru saja meninggal. Orang yang sejak kecil menjadi tempatnya pulang kini terbaring tidak berdaya di hadapannya.Namun di balik kesedihan itu, ada sesuatu yang jauh lebih kuat.Kemarahan.Semua kejadian yang selama ini berusaha ia susun tiba-tiba bercampur menjadi satu. Kecelakaan yang pernah dialami ayahnya. Kecelakaan yang baru saja menimpanya. Ancaman yang ia terima.Dan sekarang... Hendro meninggal, padahal saat keluar dari Rumah Sakit, dokter sudah menyatakan Hendro sehat. Dan yang paling tidak bisa Zafira terima adalah... di kehidupan keduanya, ternyata dia tetap gagal menyelamatkan ayahnya.Zafira menunjuk Vivi dengan tangan gemetar."Kau!"Vivi tersentak."Kau pembunuh ayah!"Ruangan langsung hening. Albert yang berdiri di samping Zafira menatap istrinya."Fira..."Namun Zafira seperti tidak mendengar. Ia terus menatap Vivi dengan mata penuh kebencian."Kau yang mem
Last Updated: 2026-08-22
Chapter: Kau PembunuhnyaBab 76 — Rahasia yang Terlambat TerungkapVivi baru saja pulang ketika ia melihat Hendro masih berada di ruang tengah."Ayah belum tidur?"Hendro tidak menjawab. Ia hanya menatap Vivi dengan tatapan yang membuat langkah wanita itu terhenti."Ada apa, Yah?""Kau anak kurang ajar!"Vivi terkejut."Ayah?"Hendro menunjuknya dengan tangan gemetar."Katakan padaku apa yang sudah kau lakukan kepada Zafira!"Wajah Vivi seketika berubah."Apa maksud Ayah?""Jangan berpura-pura!"Hendro terdengar marah."Aku sudah ingat semuanya."Vivi membeku."Aku ingat kejadian hari itu. Aku ingat apa yang sudah kau lakukan.""Ayah mungkin salah ingat.""Diam!"Bentakan Hendro membuat Vivi terdiam."Zafira selalu baik kepadamu."Hendro menggeleng dengan kecewa."Dia tidak pernah membencimu meskipun kalian sering berbeda.""Tapi kau malah mencelakainya."Vivi mengepalkan tangannya."Ayah tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.""Aku tahu cukup banyak!"Hendro melangkah mendekat."Selama ini aku selalu merasa
Last Updated: 2026-08-20
Chapter: Kecurigaan yang Tak Sengaja TumbuhPagi berikutnya, Zafira akhirnya diperbolehkan pulang. Meski dokter masih meminta agar ia banyak beristirahat, Zafira sudah merasa jauh lebih baik Luka di kepalanya masih terasa nyeri, tetapi dibandingkan beberapa jam sebelumnya, tubuhnya sudah jauh lebih kuat.Albert datang menjemputnya. Begitu melihat Zafira keluar dari kamar, ia langsung menghampiri."Pelan-pelan.""Aku bisa jalan sendiri, Mas.""Aku tahu."Albert tetap memegang lengannya. Zafira menatapnya sekilas, lalu tersenyum kecil."Mas benar-benar berubah.""Berubah bagaimana?""Jadi cerewet."Albert mendengus."Kalau kamu tidak membuatku khawatir, aku juga tidak akan cerewet."Zafira terkekeh pelan.Namun ketika mereka sampai di luar rumah sakit, ia melihat dua orang pria berdiri tidak jauh dari mobil.Zafira menatap Albert."Siapa mereka?""Orang keamanan.""Mas...""Jangan protes."Albert membuka pintu mobil untuknya."Mulai sekarang kamu tidak boleh pergi sendirian."Zafira menghela napas. Ia tahu tidak ada gunanya memba
Last Updated: 2026-08-19