Chapter: Rahasia Sang CEO TerbongkarSiang itu, ketika Alena masih berada di kantor, Bu Mira datang berkunjung ke rumahnya. Bu Rina yang sedang berada di ruang tengah langsung tersenyum ketika membuka pintu."Eh, Bu Mira.""Hai, Bu Rina.""Silakan masuk."Bu Mira membawa sebuah tas besar di tangannya."Maaf mengganggu.""Ah, tidak.""Kebetulan Alena masih di kantor."Bu Mira mengangguk."Tidak apa-apa."Bu Mira tertawa kecil."Aku tiba-tiba ingin ngobrol saja dengan kamu."Mereka kemudian duduk di ruang tamu. Setelah berbasa-basi sebentar, Bu Rina tiba-tiba teringat sesuatu. Sebenarnya sejak beberapa hari lalu ada satu hal yang mengganjal pikirannya. Ia ingin bertanya kepada Bu Mira, tetapi selalu mengurungkan niat. Namun kali ini kesempatan datang begitu saja."Bu Mira...""Hm?""Bu boleh tanya sesuatu?""Tentu."Bu Rina terlihat sedikit ragu."Dulu...""sebelum Leon menikah dengan Cyntia...""Leon pernah punya pacar?"Bu Mira langsung tertawa."Kenapa tiba-tiba bertanya itu?"Bu Rina ikut tersenyum."Entahlah.""Aku c
Zuletzt aktualisiert: 2026-08-15
Chapter: Cemburu Diam-diamMalam itu, Leon akhirnya tiba di rumah. Begitu memasuki ruang tengah, ia melihat Bu Mira sudah menunggunya di sofa sambil menikmati secangkir teh. Bu Mira mengangkat wajah dan melirik jam di dinding."Hmm... cepat juga pulangnya.""Iya, Bu."Leon meletakkan kunci mobil di atas meja."Alena tadi kelihatannya agak lelah. Jadi aku langsung mengantarnya pulang.""Biar dia cepat istirahat."Bu Mira mengangguk pelan. Namun beberapa detik kemudian, tatapannya berubah penuh selidik."Leon.""Hm?""Sejak kapan kau mengundang Ibu datang ke perusahaanmu?"Leon yang baru hendak duduk langsung berhenti."Kenapa?""Jangan pura-pura tidak tahu."Bu Mira menyipitkan mata."Ibu datang membawa kue sebanyak itu.""Lalu memanggil Alena calon menantu di depan semua karyawanmu."Leon terdiam. Sementara Bu Mira menyandarkan tubuhnya ke sofa."Padahal setahuku kalian sepakat merahasiakan hubungan kalian di perusahaan."Leon menghela napas."Iya.""Nah."Bu Mira menunjuk putranya."Berarti memang ada sesuatu.
Zuletzt aktualisiert: 2026-08-14
Chapter: Rahasia yang LainSetelah semua kue dibagikan, suasana kantor perlahan kembali normal. Namun bagi Alena, semuanya justru terasa semakin kacau. Beberapa orang mengucapkan selamat kepadanya. Ada yang menggoda. Bahkan ada yang terang-terangan bertanya sejak kapan dirinya dan Leon berhubungan.Alena hanya bisa tersenyum malu. Untungnya, Bu Mira tidak terlalu lama berada di kantor. Setelah berpamitan, wanita itu meninggalkan beberapa kotak kue untuk dibagikan kepada para karyawan.Begitu semuanya selesai, Alena langsung menuju ruang Leon. Ia mengetuk pintu."Masuk."Alena membuka pintu. Leon yang sedang duduk di belakang mejanya mengangkat wajah. Begitu melihat ekspresi Alena, ia langsung mengerutkan kening."Kenapa?"Alena berjalan mendekat."Om tahu tidak apa yang baru saja terjadi?"Leon tampak tenang."Apa?""Ibu Om datang ke kantor."Leon mengangguk santai."Oh.""Oh?"Alena menatapnya tidak percaya."Ibu Om datang membawa kue sebanyak itu.""Terus memanggil aku calon menantu di depan semua orang!"Leo
Zuletzt aktualisiert: 2026-08-13
Chapter: Bukan KebetulanJam istirahat siang membuat suasana kantor sedikit lebih ramai. Beberapa karyawan berkumpul di area pantry sambil menikmati makan siang. Namun kali ini, bukan hanya makanan yang menjadi bahan pembicaraan. Nama Alena kembali muncul."Menurut kalian, kenapa Pak Leon sampai membela Alena seperti itu?""Padahal dia memang salah.""Iya.""Kalau aku jadi Pak Leon, mungkin aku juga akan membelanya."Seorang karyawan perempuan langsung meliriknya."Kenapa?""Karena Alena cantik."Mereka tertawa kecil.Namun seorang lainnya justru menggeleng."Jangan-jangan..."Ia menurunkan suaranya."Alena memang sedang mendekati Pak Leon.""Serius?""Entahlah.""Tapi coba pikir.""Pak Leon biasanya paling tegas kalau menyangkut pekerjaan.""Kenapa sekarang ketika Alena melakukan kesalahan, dia malah sibuk mencari sisi positifnya?""Benar juga."Bisikan itu semakin berkembang."Katanya mereka sering pulang bareng.""Aku juga pernah lihat.""Pagi-pagi juga pernah diantar.""Serius?""Iya.""Kalau begitu..."S
Zuletzt aktualisiert: 2026-08-13
Chapter: Kesalahan yang DicariSejak percakapan dengan Maya pagi itu, Nadia semakin memperhatikan pekerjaan Alena. Bukan lagi sekadar karena rasa curiga. Kali ini Nadia benar-benar ingin menemukan jawabannya.Apakah Alena memang memiliki kemampuan seperti yang dikatakan Leon?Atau selama ini ia hanya terlihat menonjol karena mendapat perhatian dari atasannya?Nadia kemudian memberikan Alena sebuah tugas baru. Sebuah proyek yang cukup penting dan membutuhkan ketelitian tinggi."Alena.""Iya, Bu?""Ini data awal untuk proyek klien. Saya ingin kamu membuat analisis dan proyeksi awalnya."Alena menerima beberapa dokumen dari tangan Nadia."Baik, Bu.""Besok pagi saya ingin melihat hasilnya.""Besok pagi?"Nadia mengangguk."Apakah terlalu cepat?"Alena melihat dokumen di tangannya. Tidak sedikit. Namun ia tidak mengeluh."Baik, Bu. Saya usahakan."Maya yang kebetulan berada tidak jauh dari sana diam-diam memperhatikan. Ia bahkan sempat bertukar pandang dengan Nadia. Keduanya berharap tugas tersebut akan menunjukkan kel
Zuletzt aktualisiert: 2026-08-12
Chapter: Siap Jadi IstriPagi itu, Alena baru saja keluar dari kamar ketika bel rumah berbunyi.Ting tong...Ia masih mengenakan pakaian rumah bergambar karakter kelinci yang lucu. Rambutnya pun belum benar-benar dirapikan, hanya diikat asal dengan karet rambut."Siapa pagi-pagi begini?"Bu Rina yang sedang berada di dapur ikut menoleh."Memangnya siapa lagi?"Alena berjalan menuju pintu sambil menguap kecil. Begitu pintu dibuka, ia langsung terdiam."Om?"Leon berdiri di depan rumah dengan senyum tenang."Selamat pagi.""Pagi."Alena menatapnya dari atas sampai bawah."Lho, kok pagi-pagi sudah datang?""Om mau tanya sesuatu.""Apa?""Boleh ikut sarapan?"Alena langsung menyipitkan mata."Kenapa minta sarapan di sini?"Leon mengangkat alis."Memangnya tidak boleh?""Boleh.""Tapi aku curiga.""Curiga apa?"Alena menyilangkan tangan di depan dada."Om mau irit, ya?"Leon terdiam sebentar. Kemudian mengangguk santai."Iya. Kok tahu?"Alena langsung terkekeh."Ih, pelit."Leon malah tertawa."Kan Om harus berhem
Zuletzt aktualisiert: 2026-08-11
Kehidupan Kedua Pengantin Pengganti
DramaWanita KuatDark RomancePewarisBaik HatiBeraniPengkhianatanReinkarnasiPengantin Pengganti
Ia mati sebagai istri Albert Pratama, bersama anaknya yang belum lahir. Namun ketika membuka mata, ia kembali ke masa sebelum semuanya dimulai.
Kali ini, Zafira melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat: kematiannya sendiri… kematian ayahnya… dan satu kata yang mengikat semuanya-tumbal.
Albert, pria yang pernah ia cintai, kini penuh misteri.
Vivi, kakak tirinya, menyimpan kebenaran yang terlalu rapi.
Dan Pak Garda, peramal yang “menyelamatkan” Albert… mungkin sumber dari semua takdir itu.
Di kehidupan keduanya, ia tidak lagi ingin menjadi korban. Ia ingin membongkar takdir, sebelum dia dan semua orang yang ia cintai mati sekali lagi.
Lesen
Chapter: Rencana Melenyapkan Lebih CepatSetelah Albert berangkat ke kantor, Zafira tidak langsung kembali ke kamar. Pikirannya masih tertuju pada percakapan pagi tadi. Ada begitu banyak hal yang belum terjawab.Tentang Vivi.Tentang Garda.Dan terutama tentang Teddy yang namanya terus muncul dalam rangkaian kejadian aneh yang menimpanya.Zafira akhirnya memutuskan untuk mengunjungi ayahnya. Mungkin Hendro bisa memberikan jawaban yang selama ini ia cari.Sesampainya di rumah sakit, Zafira mendapati Hendro sedang duduk di dekat jendela sambil membaca koran."Ayah."Hendro mengangkat wajah."Zafira?""Iya.""Kemari."Zafira duduk di samping tempat tidur.Ia tersenyum kecil."Ayah kelihatan lebih baik.""Sudah jauh lebih baik."Hendro melipat korannya."Ada apa? Jarang-jarang kamu datang pagi-pagi begini."Zafira terdiam sesaat. Kemudian memutuskan untuk memulai dari sesuatu yang lebih ringan."Ayah...""Hm?""Apakah Ayah ingat Pak Garda?"Hendro tampak berpikir sejenak. Kemudian wajahnya berubah seperti baru mengingat sesuatu
Zuletzt aktualisiert: 2026-08-15
Chapter: Dua RahasiaPagi itu, Zafira bangun dengan pikiran yang masih dipenuhi foto yang dikirim Vivi. Ia sudah menyimpannya.Bukan karena percaya pada apa yang ingin ditunjukkan wanita itu, tetapi karena ia tahu foto tersebut bisa menjadi bukti jika suatu saat Vivi melakukan sesuatu yang lebih jauh.Namun sepanjang malam, gambar itu tetap berputar di kepalanya.Albert berada di ruang kerja Vivi.Dan Vivi memeluknya.Zafira tahu satu hal dengan pasti. Albert memang meminta izin keluar kemarin. Tetapi ia tidak tahu ke mana suaminya pergi. Albert juga tidak pernah mengatakan bahwa ia menemui Vivi.Mungkin memang tidak ada yang perlu diceritakan.Mungkin pertemuan itu hanya urusan pribadi yang tidak berhubungan dengannya.Mungkin juga Albert ingin merahasiakan pertemuan itu.Namun mengapa Vivi sengaja mengirim foto tersebut?Zafira menghela napas. Ia tidak boleh membiarkan rasa cemburu menguasai pikirannya. Selama ini ia selalu berusaha berpikir jernih. Dan kali ini pun ia harus melakukan hal yang sama.Se
Zuletzt aktualisiert: 2026-08-14
Chapter: Kepercayaan yang Kembali GoyahSejak Albert pergi, Zafira terus memikirkan satu hal. Mungkin sudah waktunya ia berhenti diam.Selama ini ia selalu berhati-hati. Ia tahu siapa Vivi sebenarnya. Ia tahu bahwa wanita itu tidak akan berhenti hanya karena satu rencananya gagal. Ia tahu di kehidupan pertama Vivi yang membunuhnya.Namun Zafira juga sadar, ada satu hal yang tidak mungkin ia katakan kepada Albert. Bagaimana mungkin ia menjelaskan bahwa dirinya mengetahui semua itu karena pernah mengalami kehidupan sebelumnya?Albert pasti tidak akan percaya.Bahkan mungkin ia akan menganggap Zafira sedang mencari perhatian atau berprasangka buruk karena terlalu takut kehilangan suaminya.Karena itu, Zafira memilih cara lain. Ia akan membuat Albert melihat sendiri. Sedikit demi sedikit."Aku harus membuat Mas Albert mulai menyadari siapa sebenarnya Kak Vivi."Zafira bergumam pelan. Ia tidak akan menuduh. Tidak akan menceritakan sesuatu yang tidak bisa dibuktikan. Ia hanya akan menunjukkan kejadian-kejadian kecil.Perkataan V
Zuletzt aktualisiert: 2026-08-13
Chapter: Pilihan yang Tak Bisa DiubahVivi masih berdiri di depan jendela ketika suara ketukan terdengar dari luar.Tok! Tok!"Nona, Pak Albert sudah datang."Jantung Vivi langsung berdegup lebih cepat.Albert.Setelah apa yang terjadi di gala malam sebelumnya, ia tidak menyangka pria itu akan datang menemuinya secepat ini."Suruh masuk."Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Albert masuk seorang diri. Tatapan mereka bertemu. Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara. Vivi berusaha tersenyum."Kamu datang."Albert mengangguk."Aku ingin bicara denganmu.""Silakan duduk."Mereka kemudian duduk berhadapan. Vivi menatap Albert penuh harap. Dalam hatinya, ia masih mencoba mencari alasan kedatangan pria itu. Mungkin Albert datang karena memikirkan dirinya. Mungkin malam tadi membuatnya sadar bahwa perasaannya terhadap Vivi belum benar-benar hilang. Namun harapan itu perlahan runtuh ketika Albert mulai berbicara."Aku ingin meminta maaf."Vivi mengerutkan kening."Untuk apa?""Belakangan ini mungkin sikapku membuatmu merasa tida
Zuletzt aktualisiert: 2026-08-12
Chapter: Kepingan yang TerbukaSejak Pak Ardi meninggalkan rumah, suasana di ruang keluarga terasa lebih sunyi.Albert masih duduk di sofa sambil memandangi layar laptop yang menampilkan rekaman CCTV.Zafira memperhatikannya dari samping. Ia tahu, sejak pagi tadi pikiran Albert tidak pernah benar-benar tenang.Penjambretan.Telepon palsu dari rumah sakit.Minuman yang membuatnya kehilangan kendali.Dan kini rekaman yang memperlihatkan seseorang yang sempat bicara dengan Vivi, berada di sekitar pelayan yang membawa minuman kepadanya.Semua kejadian itu mulai membentuk sebuah pola. Namun ada satu hal yang belum diketahui Albert. Vivi.Zafira menundukkan pandangan. Ia sebenarnya bisa mengatakan semuanya. Ia bisa memberitahu Albert bahwa Vivi bukan sekadar wanita yang cemburu. Ia tahu bahwa wanita itu memiliki niat buruk terhadap dirinya. Ia tahu bahwa Vivi pernah berusaha menyingkirkannya.Namun bagaimana ia menjelaskan semua itu?Bagaimana ia mengatakan bahwa sebagian besar pengetahuannya berasal dari kehidupan yang
Zuletzt aktualisiert: 2026-08-11
Chapter: Jejak yang TertinggalPagi itu, setelah sarapan ringan di kamar hotel, Albert akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah.Kondisinya sudah jauh lebih baik dibandingkan malam sebelumnya. Meski tubuhnya masih sedikit lemas, ia sudah bisa beraktifitas secara normal, karena pengaruh obatnya juga sudah hilang.Zafira terus memperhatikannya."Mas sudah tidak apa-apa?"Albert mengangguk."Aku baik-baik saja.""Jangan memaksakan diri.""Aku tidak akan."Albert tersenyum tipis."Justru karena itu aku ingin segera pulang.""Kenapa?""Aku ingin memeriksa beberapa hal."Zafira langsung memahami maksudnya."CCTV?"Albert mengangguk."Iya.""Aku ingin tahu siapa yang berada di balik penjambretanmu.""Lalu kenapa telepon dari rumah sakit bisa dilakukan.""Dan yang paling penting..."Albert berhenti sejenak."...siapa yang memasukkan sesuatu ke dalam minumanku."Zafira terdiam. Kejadian semalam kembali terbayang."Apa Mas yakin ada seseorang yang sengaja melakukannya?"Albert menatapnya serius."Aku tidak yakin.""Tapi ak
Zuletzt aktualisiert: 2026-08-10