
Om Ganteng, Nikah Yuk!
Om, nikah yuk?”
Hanya demi dua mangkuk bakso, Alena nekat menyatakan cinta pada seorang pria tampan yang baru ia lihat pertama kali di depan minimarket.
Sayangnya, Leon Mahardika, CEO muda pewaris perusahaan besar, hanya menganggap Alena bocah ingusan yang lucu dan menggemaskan.
“Om nggak mau nikah sama anak kecil. Bukannya bikin nyaman, yang ada bikin pusing.”
Tidak terima diremehkan, Alena bersumpah suatu hari nanti Leon pasti akan menyesal.
Dan lima tahun kemudian…
mereka dipertemukan kembali.
Kini Leon pernikahannya hancur dan status duda melekat padanya. Tapi tetap saja tidak mengurangi perempuan yang suka padanya.
Sementara Alena telah berubah menjadi wanita cantik dengan lesung pipi manis, tubuh proporsional, dan sifat jahil yang mampu mengguncang pertahanan Leon sedikit demi sedikit.
Alena masih menyukai Leon. Bedanya, kali ini ia tidak lagi mengejar terang-terangan.
Ia memilih menggoda Leon perlahan… sampai pria itu mulai kehilangan kendali.
Masalahnya, Leon sadar satu hal berbahaya:
gadis kecil yang dulu pernah ia tertawakan kini justru menjadi satu-satunya wanita yang sulit ia lupakan.
Akankah Leon jatuh ke pelukan Alena…
atau justru pria dingin itu yang akhirnya kehilangan kendali dan mengejar wanita yang dulu ia anggap anak kecil?
Read
Chapter: Jangan Ikut Blind Date!Beberapa saat kemudian, pintu ruang rapat terbuka. Begitu Leon keluar setelah hampir satu jam berada di dalam, seseorang langsung menghampirinya.Ibunya.Mira sudah tidak sabar."Sudah selesai?""Iya, Bu.""Bagus."Leon mengangguk pelan. Ia sudah terlalu lelah untuk bertanya kenapa ibunya masih ada di sana. Kalau dipikir-pikir, jawabannya pasti sama.Menemaninya.Atau lebih tepatnya...Mengawasinya.Mira langsung berjalan di samping putranya."Aku tadi jalan-jalan.""Hm.""Terus aku ke bawah.""Hm.""Terus aku ketemu Alena."Langkah Leon langsung melambat."Hah?"Mira sama sekali tidak menyadarinya."Aku sudah bilang, jangan ganggu Alena saat kerja.""Ibu tidak ganggu.""Lalu?""Justru Ibu bikin dia santai sejenak.""Hah?""Ibu ajak ngobrol-ngobrol.""Namanya perempuan pasti suka ngobrol.""Ibu...""Anaknya lucu ya."Leon mulai tidak tenang."Bu...""Polos.""Bu.""Dan imut.""Bu.""Malah Ibu sudah tidak heran."Leon menelan ludah."Tidak heran apa?""Kenapa kamu menganggap dia sepert
Last Updated: 2026-06-27
Chapter: Blind DateKeesokan paginya, Alena berangkat kerja dengan wajah lesu. Bahkan sejak turun dari kendaraan sampai masuk ke ruang marketing, senyum yang biasanya selalu menghiasi wajahnya sama sekali tidak terlihat.Tentu saja perubahan itu langsung ditangkap oleh seseorang.Sisca.Wanita itu langsung menggeser kursinya mendekat."Lena.""Hm?""Ayo senyum.""Hmm.""Aku kangen lesung pipimu."Alena tetap diam."Jangan pelit-pelit.""Hmm."Sisca mulai gelisah. Biasanya Alena memang gampang tersipu, gampang malu, tetapi selalu ceria dan tidak pernah semurung ini. Akhirnya Alena mengangkat sudut bibirnya sedikit.Namun... senyum itu begitu kaku.Sisca langsung memegang dada."Jangan begitu dong."Alena mengernyit."Kenapa?""Lebih baik kamu marah.""Hah?""Senyum kayak gitu bikin aku takut."Alena langsung menghela napas. Daripada berdebat dengan Sisca, lebih baik diam.Namun ternyata... diam juga tidak membuat sahabatnya berhenti bicara."Lena.""Hm?""Di dunia ini cowok banyak."Alena meliriknya."Buk
Last Updated: 2026-06-26
Chapter: Memilih CalonKeesokan paginya...Leon benar-benar mulai merasakan hidupnya berubah. Kalau biasanya ia bebas pergi ke mana pun, sekarang berbeda.Ke mana pun ia pergi, selalu ada satu orang yang mengikutinya.Ibunya.Pagi itu Leon baru saja mengambil kunci mobil."Sudah mau berangkat?""Iya.""Ibu ikut."Leon hanya bisa mengangguk pasrah.Begitu tiba di perusahaan...Mira langsung ikut turun dari mobil, menyapa para karyawan dengan ramah, bahkan sesekali berhenti mengobrol dengan mereka.Melihat tingkah ibunya, Leon sampai merasa wanita itu sudah naik jabatan menjadi sekretaris pribadi keduanya.Leon mulai punya firasat buruk."Bu.""Hm?""Ibu mau ke mana?""Ikut kamu."Leon menghela napas."Tapi Ibu tidak ada urusan di kantor.""Siapa bilang?""Lalu urusannya apa?""Menemani anak."Leon benar-benar kehabisan kata-kata.Sepanjang hari...Leon bahkan tidak pernah benar-benar sendirian. Saat menuju ruang rapat... Mira ikut sampai depan pintu."Mau meeting, Bu.""Iya.""Ibu tunggu."Saat Leon keluar
Last Updated: 2026-06-25
Chapter: Dua Ibu, Dua RencanaSore itu...Jam kerja akhirnya usai. Sebagian besar karyawan mulai berkemas untuk pulang. Namun tidak dengan Leon. Pria itu justru menghela napas panjang begitu keluar dari ruangannya.Seharian ini... ia sama sekali tidak memiliki kesempatan mendekati Alena. Padahal sejak pagi sudah ada rencana di kepalanya.Sepulang kerja... ia ingin mengajak Alena makan malam. Bukan untuk berkencan. Setidaknya menurut pengakuannya sendiri.Ia hanya ingin menjelaskan semua kesalahpahaman yang terus menumpuk.Tentang Cynthia.Tentang ibunya.Dan tentang boneka singa yang ternyata malah membuat keadaan semakin rumit.Namun semua rencana itu langsung buyar. Karena begitu keluar dari lift... seseorang sudah berdiri sambil tersenyum manis.Ibunya."Sudah selesai?"Leon langsung memejamkan mata."Sudah, Bu.""Bagus."Mira langsung merangkul lengan putranya."Yuk pulang."Leon hanya bisa mengangguk pasrah. Sepanjang perjalanan menuju parkiran, Mira terus mengobrol.Mulai dari menu makan malam.Sampai membah
Last Updated: 2026-06-25
Chapter: Tidak MengertiBegitu Leon dan Mira menghilang ke dalam lift...Area marketing mendadak hening.Lima detik.Sepuluh detik.Lalu..."AAAAAA!"teriak Sisca.Alena yang masih berusaha menenangkan jantungnya sampai terlonjak dari kursinya."Apa lagi sih?!"Sisca langsung menunjuk lift yang sudah tertutup."Itu!""Itu apa?""'Nanti Alena bisa resign!'"Sisca menirukan suara Leon dengan dramatis. Alena langsung memegang kepala."Tolong jangan diulang.""Tidak bisa.""Kenapa?""Karena aku merinding."Alex menghela napas."Aku juga dengar.""Nah kan!"Sisca langsung menepuk meja."Itu bukan kalimat bos biasa."Alena mendelik."Itu kalimat orang yang takut kehilangan karyawan.""Bohong.""Benar."Seperti biasa, Alena memilih diam daripada harus adu mulut dengan Sisca. Ekspresi Sisca sangat serius. Bahkan terlalu serius."Aku tahu sekarang.""Apa?""Pak Leon pasti sudah membayangkan masa depan."Alena langsung memejamkan mata."Tolong jangan mulai.""Tidak."Sisca mengangkat telunjuk."Analisis ini berdasarka
Last Updated: 2026-06-24
Chapter: Jangan Sampai Ibu Tahu!Alena sudah benar-benar hampir putus asa. Karena perasaannya sudah tidak tenang, di kepalanya sekarang hanya ada satu ketakutan.Aduh mati aku.Jangan-jangan aku mau dituduh jadi pelakor lagi.Penyebab hubungan mereka bermasalah.Dan karena terlalu panik ... tanpa sadar Alena malah menambahkan,"Aku juga tidak minta apa-apa.""Hm?""Maksud saya..."Alena langsung ingin menepuk mulutnya sendiri. Namun semuanya sudah terlambat."Aku tidak minta apa-apa."Mira mulai penasaran."Lalu?""Pak Leon sendiri yang antar boneka singa."Hening.Mira membeku."Hah?"Alena ikut membeku.Astaga.Kenapa omongan seperti itu keluar dari mulutnya?"Apa?"Mira berkedip."Boneka singa?"Alena langsung ingin menghilang dari muka bumi.Sementara di kejauhan ... Sisca yang sedang menguping hampir jatuh dari kursinya."ASTAGA!""Kali ini aku juga bakal kena masalah!"Alex buru-buru menarik lengannya."Kok bisa?""Aku kan konsultannya!""Hah?"Tapi Sisca malah berdiri dan menegakkan tubuhnya."Duduk!""Tapi in
Last Updated: 2026-06-24
Kehidupan Kedua Pengantin Pengganti
Ia mati sebagai istri Albert Pratama, bersama anaknya yang belum lahir. Namun ketika membuka mata, ia kembali ke masa sebelum semuanya dimulai.
Kali ini, Zafira melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat: kematiannya sendiri… kematian ayahnya… dan satu kata yang mengikat semuanya-tumbal.
Albert, pria yang pernah ia cintai, kini penuh misteri.
Vivi, kakak tirinya, menyimpan kebenaran yang terlalu rapi.
Dan Pak Garda, peramal yang “menyelamatkan” Albert… mungkin sumber dari semua takdir itu.
Di kehidupan keduanya, ia tidak lagi ingin menjadi korban. Ia ingin membongkar takdir, sebelum dia dan semua orang yang ia cintai mati sekali lagi.
Read
Chapter: Ajak Bukan MaduZafira menatap meja yang kini kosong. Jantungnya masih berdebar kencang. Buku itu tidak mungkin hilang sendiri. Yang tahu keberadaannya hanya dia dan pria yang mengintip apa yang sedang dilakukannya.Berarti...Pria tadi kembali ke ruangan ini dan mengambilnya.Atau...Ada orang lain yang bekerja sama dengannya.Mengingat hal itu, Zafira langsung mengambil keputusan. Ia keluar dari ruang kerja dan memanggil salah satu pelayan."Tolong panggil Kepala Pelayan.""Baik, Nona."Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya datang menghampirinya."Nona Fira?""Saya ingin semua pelayan yang sedang bekerja di mansion berkumpul."Kepala pelayan tampak sedikit bingung."Semuanya, Nona?""Iya.""Sekarang."Meskipun heran, pria itu tetap mengangguk."Baik, Nona."Kurang dari lima belas menit kemudian, para pelayan mulai berkumpul di aula. Beberapa tampak kebingungan. Beberapa lagi saling berbisik.Zafira berdiri di depan mereka sambil mengamati satu per satu wajah yang ada.Bukan dia.Bukan.Bukan j
Last Updated: 2026-06-27
Chapter: Wajah di Balik PintuBegitu memasuki mansion, Zafira langsung menoleh ke sekeliling. Rumah itu terasa lebih sepi dari biasanya. Ia menghentikan salah satu pelayan yang kebetulan melintas."Ayahku ke mana?"Pelayan itu segera membungkuk hormat."Tuan Hendro sudah berangkat, Nona.""Sepertinya beliau pergi ke perusahaan.""Tadi pagi beliau berangkat bersama Nona Vivi.""Begitu ya..."Zafira mengangguk pelan.Sedikit rasa kecewa muncul di wajahnya. Ia sengaja datang pagi-pagi dengan harapan bisa berbicara lagi dengan ayahnya. Namun ternyata kali ini mereka justru berangkat ke perusahaan.Seketika ingatannya melayang pada sebuah percakapan beberapa bulan sebelum dirinya bertunangan dengan Albert. Saat itu, ia pernah bertanya kepada Hendro."Ayah.""Hm?""Kenapa Ayah tidak menyerahkan perusahaan kepada Kak Vivi saja?""Dia jauh lebih berpengalaman dibanding aku."Hendro yang sedang membaca berkas langsung mengangkat kepalanya."Lalu bagaimana denganmu?"Zafira terkekeh pelan."Aku?""Ayah sendiri yang menyuruh
Last Updated: 2026-06-26
Chapter: Mulai KhawatirBegitu suara mobil Zafira menghilang di balik gerbang mansion, Mina, pelayan kepercayaan Albert, masih berdiri di teras sambil memperhatikan kepergiannya.Setelah memastikan tidak ada seorang pun yang memperhatikannya, ia perlahan mengeluarkan ponsel dari saku celemeknya.Sebuah nomor yang sudah sangat dikenalnya segera dihubungi. Tidak lama kemudian sambungan tersambung."Nona."Suara Mina terdengar pelan."Nyonya sudah keluar lagi."Di seberang sana, Vivi yang baru saja tiba di ruang kerjanya langsung menghentikan langkah."Ke mana?""Maaf, Nona.""Saya tidak berani bertanya.""Takut Nyonya mulai curiga."Mina berhenti sejenak sebelum melanjutkan."Kemarin saat saya memberanikan diri bertanya hendak ke mana, Nyonya langsung marah."Alis Vivi langsung berkerut."Marah?""Iya, Nona.""Biasanya Nyonya sangat ramah kepada kami.""Tapi kemarin nyonya langsung bertanya, apakah setiap kali keluar rumah harus melapor kepada saya.""Itu sebabnya hari ini saya tidak berani bertanya lagi.""Ba
Last Updated: 2026-06-25
Chapter: Pagi yang BerbedaPagi itu, Zafira terbangun lebih dulu. Sinar matahari yang masuk melalui celah tirai membuatnya perlahan membuka mata. Beberapa detik ia hanya berbaring diam sambil menatap langit-langit kamar.Lalu kejadian semalam kembali teringat.Mata Zafira langsung membesar.Bulan madu.Albert.Kamar mandi.Dan dirinya yang kabur seperti seorang buronan.Wajahnya langsung memanas.Refleks ia menoleh ke samping.Lalu membeku.Albert masih tertidur.Untuk beberapa saat, Zafira hanya menatap pria itu. Sejujurnya, ini pertama kalinya ia memperhatikan Albert sedekat ini setelah kembali ke masa lalu. Biasanya ia selalu berusaha menjaga jarak. Namun pagi ini, entah kenapa, ia justru memperhatikannya.Saat tidur, Albert terlihat jauh berbeda.Tidak dingin.Tidak sulit didekati.Tidak pula terlihat seperti pria yang rela memanfaatkan dirinya demi menyelamatkan Vivi. Tanpa sadar, Zafira terus memandanginya.Lalu...Mata Albert tiba-tiba terbuka. Tatapan mereka langsung bertemu. Jantung Zafira nyaris melon
Last Updated: 2026-06-24
Chapter: MenghindarAlbert menghela napas panjang. Entah kenapa, rasa kesalnya perlahan menghilang. Digantikan oleh perasaan lain yang sulit dijelaskan.Karena di depannya sekarang tidak ada wanita misterius yang penuh rahasia.Yang ada hanyalah Zafira.Zafira yang ceroboh.Zafira yang sering bertindak sesuka hati.Dan anehnya ... versi itulah yang terasa lebih nyata.Perlahan Albert menegakkan tubuhnya. Namun ia tidak langsung menjauh. Tatapannya masih tertuju pada wajah Zafira yang memerah karena malu.Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara. Sampai akhirnya sudut bibir Albert terangkat tipis."Kau tahu."ucapnya pelan.Zafira langsung menegang."Hm?""Bukankah sejak siang tadi kau terus mempermasalahkan bulan madu?"Mata Zafira langsung membesar.Ia tidak menyukai arah pembicaraan ini.Sama sekali tidak."Ma-Mas Albert..."Namun Albert justru sedikit membungkukkan tubuhnya.Membuat jarak mereka kembali memendek."Kalau begitu..."Suara pria itu terdengar rendah."Kenapa kita tidak mulai bulan ma
Last Updated: 2026-06-23
Chapter: Benar-benar LupaKeheningan langsung turun di antara mereka. Untuk beberapa detik, Albert tidak menjawab. Vivi menatapnya tajam."Kau benar-benar sudah berubah, Mas Al.""Aku tidak berubah."jawab Albert cepat."Jangan berpikir yang tidak-tidak."Vivi tersenyum tipis. Namun tatapannya masih penuh kecurigaan."Benarkah?"Albert mengembuskan napas panjang."Bagaimanapun juga dia adikmu, Vivi.""Walaupun kalian berbeda ibu, dia tetap keluargamu.""Dan dia juga menyayangimu."Vivi terdiam. Namun Albert melanjutkan sebelum wanita itu sempat menyela."Aku bukan berubah.""Aku hanya merasa kasihan padanya."Suaranya terdengar lebih pelan."Karena seperti yang kau tahu...""Umurnya tidak akan panjang."Kalimat itu membuat Vivi membeku sesaat. Albert memalingkan pandangannya ke arah halaman mansion yang mulai gelap."Kalau memang waktunya tidak banyak lagi, apa salahnya membuatnya bahagia?""Paling tidak..."Ia berhenti sejenak."Itu bisa mengurangi rasa bersalahku.""Karena aku dan kau sudah memanfaatkannya."
Last Updated: 2026-06-22