LOGIN"Pencuri?!!!" tanya Vania kaget.
"Ya...ada seorang tamu terhormat di hotel ini yang kehilangan cincinnya yang dia taruh di mejanya, dia juga bilang, kalau pemuda bernama Davin ini yang berada di dekat meja, karena itu, pihak hotel akan memproses dulu kasus ini untuk menyelidiki persoalan ini," kata petugas hotel."Siapa tamunya? tunjukkan padaku," kata Vania penasaran. pegawai hotel langsung menunjuk ke restoran, dia menunjuk ke arah Ardy yang sedang tersenyum mengejek ke arah Vania dan Davin, Vaniapun langsung tahu, kalau itu semua adalah fitnah untuk Davin."Aku tidak mencuri, Van," bisik Davin kepada Vania."Aku tahu. ini pasti fitnah dari si kodok itu!" jawab Vania geram sambil menunjuk ke arah Ardy yang saat ini sedang tertawa-tawa di dalam restoran hotel."Yang penting bagiku, kamu tidak mempercayai fitnah itu. sekarang, kamu makanlah dulu, kamu kan sudah lapar. biar aku yang berusaha menjelaskan kepada mereka dan----""Tidak! rasa laparku sudah hilang. aku akan menemanimu menjalani pemeriksaan. karena aku yakin kalau kamu tidak bersalah apa-apa," tegas Vania."Tapi...kamu kan sudah lapar.""Pak, kami berdua akan menjalani pemeriksaan. dimana tempatnya?" tanya Vania kepada petugas hotel serta tidak menggubris perkataan Davin tadi."Ini ada Pak Satpam yang akan mengantar kalian ke sana," kata petugas hotel sambil menunjuk seorang petugas keamanan yang sedang mendatangi mereka.Saat ini, Vania tahu, kalau di dalam restoran hotel, Ardy masih mengawasi mereka, karena itu, karena kesalnya pada Ardy, Vania sengaja bergelayut manja di lengan Davin sambil berbisik mesra untuk sekalian menyemangati Davin dan membuat Ardy kesal, kemudian bersama Davin, Vania melangkah meninggalkan tempat itu.Di dalam restoran, benar saja perkiraan Vania tadi, Ardy sangat marah dengan kelakuan Vania itu, Ardy mengepalkan tangan dan memukuli kursi restoran yang tidak berdosa, dasar Ardy!Sesampainya di ruang pemeriksaan, seorang satpam senior, menatap wajah Davin, dia ingin berlaku bak seorang polisi di ruang interogasi yang berusaha meruntuhkan nyali terdakwa sebelum memulai pertanyaan-pertanyaannya."Kamu dicurigai mengambil sebuah jam tangan milik tuan Ardy yang tertinggal di atas meja tujuh ballroom hotel ini malam tadi. katanya, saat dia meninggalkan jam tangannya disitu, hanya ada kamu yang ada di situ," kata Pak Satpam memulai sidangnya."Semalam itu, aku bahkan tidak duduk di meja manapun, pak. sebagai seorang Cleaning Service, aku terbiasa berdiri di luar saat ada acara. semalam itu, sama saja. aku berdiri di luar, untuk kemudian naik ke panggung, jadi, aku pastikan, kalau aku tidak pernah duduk di meja manapun," jawab Davin tenang. jawaban yang membuat Vania senang."Tapi, ada seorang tamu terhormat di hotel ini yang bersikeras melihatmu mendekati meja itu dan mengambil jam tangan Rolexnya, itu yang pasti," kata Pak Satpam bersikeras."Gini aja, pak. hotel semewah ini, pasti ada CCTV kan? bapak boleh lihat disana, cari buktinya kalau aku memang mendekati meja itu atau tidak," kata Davin tenang."Gak bisa dong. perkataan tamu terhormat kami itu, sudah harga mati dan----""Gini aja, pak. pamanku seorang polisi. biar dia datang memeriksa kasus ini sekaligus melihat CCTV nya, supaya semuanya jadi terang benderang, gimana pak?" potong Vania berusaha menggertak karena sikap keras si Satpam yang nampaknya sudah diatur oleh Ardy itu, padahal sih, Vania tidak memiliki paman polisi sama sekali."Er....oh....eh...ya udah. gini aja, aku bebasin kamu. kamu boleh pergi," kata Satpam itu setelah gelagapan beberapa saat.Davin masih terdiam tapi, Vania langsung menarik tangannya untuk membawanya keluar."Kita makan aja yuk. makan di luar hotel aja. laper nih," bisik Vania di telinga Davin. Davinpun menganggukkan kepalanya.Akhirnya, mereka berdua menemukan sebuah rumah makan sederhana sekitar 50 meter di belakang hotel, mereka pun memesan makanan dan duduk berhadapan di meja tengah."Siang ini, kita keluar aja ya?" kata Vania sambil menatap rahang kokoh Davin."Keluar?""Iya. keluar dari hotel. sebenarnyakan, kita dapat dua hari nginap gratis di hotel, tapi, aku gak suka dengan fitnah-fitnah dari si Ardy, jadi, lebih baik kita keluar aja, ya?""Oke. aku setuju. sebenarnya, sayang juga sih, karena kamarnya cukup enak---""Nanti deh. kalau ada libur, kita nginap di hotel lain, aku kan punya member yang dapat voucher gede untuk nginap di hotel, dan----" Vania tidak meneruskan kata-katanya karena dia baru sadar kalau dia telah mengajak seorang pria untuk nginap bersamanya di hotel. dia baru sadar kalau tidak pantas mengucapkan kata-kata seperti itu, sehingga dia langsung terdiam."Kenapa terdiam? oh... Voucher hotelnya sudah terpakai ya? gak apa-apa kok kalau gitu. nanti aku yang kerja keras supaya bisa punya duit untuk kita nginap di hotel," kata Davin yang tidak sadar, kenapa Vania tadi terdiam."Eh....iya iya," jawab Vania asal-asalan. yang sebenarnya, dia cukup risih dengan pembicaraan nginap di hotel ini, karena seumur hidupnya, dia tidak pernah nginap berdua dengan cowok di hotel, rumah kost, apartemen atau apapun itu, yang semalam adalah yang pertama bagi Vania, untuk nginap bersama cowok, untungnya, walaupun sekamar, mereka tidur terpisah."Cerita dong soal kamu. masa kecil kamu, orang tua kamu dan cita-cita kamu. ayo dong?" kata Vania untuk mengalihkan pembicaraan."Aku...aku sebenarnya tidak lahir disini. aku berasal dari jauh. ibuku aja yang berasal dari sini tapi kemudian, ikut ayahku dan tinggal di tempat ayahku," kata Davin memulai ceritanya, dia berhenti sejenak karena bertepatan dengan datangnya seorang pelayan yang menaruh makanan pesanan mereka di meja makan."Oh, jadi? kamu itu berasal dari daerah gitu dan hanya ibumu yang berasal dari Jakarta. terus, kamu merantau ke Jakarta untuk mengadu nasib, gitu kan?" tebak Vania setelah pelayan pergi."Ehm... begitulah," jawab Davin. dia terpaksa berbohong karena memang masih belum ingin membuka jati dirinya yang sebenarnya kepada Vania. itu karena Davin ingin mendekati Vania, sebagai seorang miskin yang tidak punya apa-apa." Terus? teruskan dong ceritanya," desak Vania."Ehm... cita-cita ku sederhana. aku cuma ingin bertemu dengan seorang wanita, yang betul-betul menyayangiku, wanita yang bersedia untuk hidup denganku dalam suka dan duka hingga maut memisahkan.""Hihihi...""Kok ketawa sih?""Ya iyalah. aku kan nanya cita-cita. yang namanya cita-cita itu, dimana-mana berarti, cita-cita menjadi Dokter, jadi pilot, jadi pengusaha, gitu-gitu. kalau yang kamu bilang tadi itu, soal jodoh bukan cita-cita.""Wah. salah dong?""Ya salah. contoh nya kayak aku ini, Waktu kecil, aku sebenarnya cita-citanya ingin jadi Dokter, terus, waktu SMA, aku mulai berminat jadi Arsitek. akhirnya, waktu lulus SMA, akupun tidak jadi kuliah kedokteran, malah aku kuliah teknik. dan akhirnya, lulus jadi arsitek dan kerja di kantor kita. kalau kamu, kamu kuliah gak?""Aku tidak bisa, Lisa!” ujar Vino, membentak Lisa sambil menepis tangannya yang menyentuh bagian sensitifnya itu.Lisa terkejut. Dia tak menyangka Vino akan menolaknya sekasar ini.“Dengar, Lisa, aku tipe orang yang hanya bisa mencintai satu wanita di satu waktu. Kamu sudah mendapatkan kesempatan itu tetapi kamu lebih memilih menghancurkan hubungan kita. Karena itu, mulai sekarang, tolong jangan ganggu aku lagi. Permisi!" lanjut Vino, mencoba pergi.Tapi lagi-lagi tangan Lisa menahannya."Jangan begitu, Vino. Ingat, aku lebih cantik dan lebih seksi dari Joanna. Kamu pasti tidak bisa melupakan aku begitu saja. Aku yakin, hampir setiap malam kamu selalu mengingat aku. Iya kan? Akui aja. Aku tahu aku ini sukar untuk dilupakan oleh siapapun. Karena itu, ikuti strategi yang baru aku bahas denganmu tadi. Kita berdua akan kembali pacaran tetapi kali ini kita pacaran diam-diam di belakang mereka, sambil kita mendapat kesuksesan kita masing-masing dengan bantuan mereka berdua. Bagaimana?""Dit
"Kata-kata Paul itu ada benarnya, Joanna. Orang yang tidak berpendidikan seperti dia tidak seharusnya bermimpi untuk langsung dinaikkan menjadi kepala pabrik. Apa dia pikir karena dia sudah pacaran denganmu maka dia bisa seenaknya jadi kepala pabrik, heh! Jangan mimpi bilang sama dia!" kata Heri, membela Paul dan mencibir ke arah Vino.Bukannya terprovokasi, Vino malah semakin terlihat tenang."Terima kasih, Om. Aku juga sadar diri kok. Dan aku tidak tertarik dengan jabatan itu," ucap Vino.Melihat reaksi Vino ini, Heri menjadi kesal. Dia justru berharap Vino terpancing."Paman Heri tak perlu khawatir. Jabatan itu memang bukan untuk Vino," ucap Joanna, menantang Heri."Kamu anak kecil diam saja!""Aku punya mulut, paman. Aku bisa ngomong apa saja apalagi Paman merendahkan pacarku!""KAMU...," Heri maju 1 langkah ke depan, tapi Vino sudah menarik tangan Joanna dan meminta Joanna untuk mundur.Joanna mengerti. Dia pun segera mengajak Vino untuk mengambil makanan di meja makan yang jarak
Kekhawatiran Margareth terbukti. Joanna dipecat dari perusahaan? Yang benar saja. Apa yang akan terjadi nanti dengan putrinya itu? Bagaimana dia bisa bertahan?Tidak. Sebagai seorang ibu, Margareth tak mungkin membiarkan itu terjadi. Dia harus segera melakukan sesuatu."Joanna, jangan ucapkan kata-kata itu! Mama juga jangan memecat Joanna. Kalian berdua harus menghadapi semua ini dengan kepala dingin. Tolong, jangan keluarkan kata-kata yang akan kalian sesali di kemudian hari. Tenangkan diri kalian," kata Margareth. Dia menatap bergantian ke arah Herlin dan Joanna. Dia sungguh berharap kedua orang ini mengerti betapa seriusnya apa yang tengah mereka pertaruhkan ini.Di sisi lain, Joanna masih ingin membantah. Akan tetapi, Vino lekas memberi isyarat dengan jarinya agar dia tak melakukannya. Margareth sendiri langsung melotot ke arah Joanna, menegaskan bahwa sebaiknya dia tak memperpanjang masalah. Akhirnya Joanna pun tidak jadi mengucapkan apa yang sudah ada di ujung lidahnya.Herlin
Joanna terdiam seketika. Bibirnya kelu. Dia tidak mampu untuk menjawab pertanyaan Herlin."Aku memang cuma seorang buruh, oma," kata Vino akhirnya, karena dia melihat Joanna tidak juga membuka mulutnya."Aku bukan omamu! Buat kamu, kamu harus memanggil aku nyonya besar, bukan oma. Mengerti?!" Herlin memarahi Vino.Melihat Herlin memarahi Vino seperti itu, Joanna pun akhirnya memberontak."Memangnya apa salahnya kalau dia cuma buruh di pabrik kita, Oma? Apa salahnya?! Yang penting kan dia bukan pencuri, bukan penjahat! Dia bekerja untuk mencari uang dengan cara yang halal! Salahnya di mana?!"Herlin terkejut dengan sikap membangkang cucunya itu. Ini pertama kalinya Joanna sampai meninggikan suara seperti itu saat bicara dengannya.Herlin menarik napas sejenak. Dia merasa harus menasehati cucunya ini."Joanna, kamu itu sudah pernah dua kali aku jodohkan dengan pria yang baik. Anak dari keluarga yang kukenal, tetapi kamu sama ngeyelnya dengan ibumu ini, yang tidak mau dijodohkan hingga a
Meskipun Adi menjawab pertanyaannya tersebut dengan anggukan, Paul masih tak percaya. Dia tak percaya kalau pemuda itu hanyalah seorang buruh pabrik. Sambil menggeleng-gelengkan kepala, dia bertanya-tanya kenapa seorang buruh pabrik bisa sampai disambut dengan begitu hangat oleh Joanna.“Apa istimewanya dia?” pikirnya.Di titik inilah ia kebetulan melihat Stefani tengah mengamati pemuda itu.***Stefani nampak mengerut kesal, bibirnya manyun, wajahnya cemberut saat dia melihat Joanna bersama seorang pemuda tampan yang menurut Stefani, paling tampan dari semua pria yang pernah dilihat Joanna.Pemuda itu terlihat tampan dalam balutan baju-baju bermerek yang dikenakannya dan yang lebih membuat Stefani manyun itu karena Joanna yang mendapatkan pemuda tampan itu.Saat ini, rasa iri di dalam hati Joanna makin tak terkendali, jiwanya meradang, dia menatap marah ke arah pemandangan muda mudi di depannya itu yang semakin membuat hatinya panas sehingga tanpa terasa, dia mulai membanting-bantin
"Sampai nikah, tentu saja.""I like that.""Aku juga menyukai itu tapi mungkin masih agak lama, karena aku harus menabung lagi dari awal, semua penghasilan lku untuk mewujudkan keinginanku melamar kamu dan menikahi kamu. Tapi kamu jangan khawatir, aku akan kembali menyewa motor untuk mengambil order ojek online, supaya aku bisa menabung lebih banyak untuk acara kita nanti."Mendengar kata-kata Vino ini, Joanna tersenyum. Walaupun dia tahu penghasilan Vino tidak seberapa, tetapi Vino menunjukkan tanggungjawab yang besar untuk acara pernikahan yang dia siapkan itu, walaupun mungkin uang yang Vino kumpulkan nanti tidak akan sebanding dengan yang diinginkan keluarga besarnya, karena itu, Joanna berkata, "bagaimana kalau aku membantumu?""Maksud kamu?""Aku juga kan suka menabung dan tabunganku sudah cukup untuk kita melangsungkan acara pernikahan yang kita idamkan.""No, biaya untuk pernikahan itu, harus disiapkan oleh pengantin laki-laki. Tabungan kamu itu, biarlah untuk kamu sendiri, bi
"Sudah. jangan dulu memikirkan hal itu, setiap saat mereka akan segera datang ke sini, mari kita mengatur senapan-senapan mesin yang masih berada diatas truk-truk itu untuk diturunkan ke bawah untuk aku pakai nanti," kata Davin kepada A Hua.A Hua mengangguk dan berjalan lebih dulu menuju ke arah pad
Davin baru saja turun dari panggung, masih ada waktu untuk ke toilet, sebelum masuk ke acara selanjutnya, yaitu, pemilihan raja dan ratu jodoh. Sesaat setelah Davin keluar dari toilet, seseorang mendekati dan menyapanya."Tuan muda," sapa seorang lelaki yang umurnya sekitar akhir dua puluh tahunan
"Apa? Sayang, mengapa kamu pilih Cleaning Service itu?" tanya Ardy marah-marah dan mendelik ke arah Davin. Davin yang ditatap Ardy, akhirnya bersuara. "Aku memilih Vania," kata Davin yang secara resmi menyambut pilihan Vania kepadanya sambil menatap wajah Vania."Namanya Davin. Gak perlu kan, nyeb
Malam ini, ada acara besar di ball room hotel five season, yaitu acara ulang tahun PT. Agung Pratama, sebuah perusahaan besar yang bergerak di bidang pembangunan gedung, apartemen dan pengembangan perumahan kelas atas. Pemegang saham mayoritas yaitu, Phillip Collins dari Amerika serikat, selalu me







