Home / Thriller / Kelir Getih (Layar Berdarah) / Api di Tengah Alun-Alun

Share

Api di Tengah Alun-Alun

Author: Ammi Poe YP
last update Last Updated: 2025-10-14 09:00:39

Manik-manik kayu cendana itu terasa dingin di telapak tangan Raka, tetapi pikirannya terbakar. Mobil yang dikemudikan Kirana membelah jalanan Yogyakarta dalam keheningan yang jauh lebih bising daripada hiruk pikuk pasar yang baru saja mereka tinggalkan. Raka terus membuka dan menutup genggamannya, merasakan setiap detail ukiran gunungan kecil itu menusuk kulitnya. Sebuah jejak. Sebuah tanda tangan. Sebuah hantu.

“Berhenti memikirkannya,” kata Kirana akhirnya, matanya tetap lurus menatap jalanan yang padat. Suaranya datar, tetapi ada nada gusar yang tak bisa ia sembunyikan. “Kau membiarkannya masuk ke kepalamu, Raka. Itulah yang dia mau. Permainan psikologis.”

“Permainan psikologis tidak meninggalkan benda ini,” sahut Raka lirih, tanpa mengalihkan pandangan dari benda di tangannya. “Hanya aku dan ayahku yang tahu soal manik-manik ini. Banyu… Banyu mungkin pernah melihatnya, tapi dia tidak akan tahu artinya.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kelir Getih (Layar Berdarah)   Durna

    Jenazah Komjen Leksmono—sosok ayah Kirana yang diidolakan sekaligus ditakuti karena ketidaksempurnaannya, ksatria yang jatuh dan mewariskan trauma, pilar logika yang menjadi sandaran Kirana dalam persembunyiannya—telah dieksekusi Wira di jantung kantor polisi, di jantung keyakinan Kirana. Dia gugur dalam posisi Wayang Durna. Drona, guru agung yang mati karena pengkhianatan informasi, dan kematiannya menjadi tanda bahwa ia telah membelokkan Kurusetra ke dalam tembok kita, Komandan. Posisi tubuhnya seperti Wayang Durna yang jatuh dari kereta, terhuyung oleh berita bohong. Kain putih menutupi sebagian wajahnya. Arsip kepolisian—seluruh catatan Wira yang kita kumpulkan—hancur. Mereka sudah hilang.”Kirana tidak bergerak. Ponsel satelitnya tergeletak di lantai marmer rumah sakit, memancarkan nada sambung yang memekakkan telinga. Pemandangan Kirana yang jatuh keheningan total lebih mengerikan bagi Raka daripada darah yang ia batukkan sebelumnya. Komjen Leksmono adalah tiang penyangga yang K

  • Kelir Getih (Layar Berdarah)   Rang Perenungan

    Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, mengurangi jarak di antara mereka. Raka bisa mencium samar aroma seragamnya yang sudah lelah. Ini adalah pengakuan, sebuah sumpah, dan sebuah peringatan.“Dia gagal membunuhku sebagai Bima yang keras kepala. Dia gagal membuatmu memilih antara aku dan masa depan Lakon,” ujar Kirana, suaranya dipenuhi tekad dingin, meskipun air mata sudah mengering. “Tapi dia sekarang tahu. Dia tahu siapa kelemahanmu, Arjuna.”Kirana menjauhkan tangannya dari Raka, meskipun matanya menolak putus kontak.“Aku sudah berjuang keras sepanjang hidupku untuk tidak memiliki hubungan pribadi yang akan digunakan orang lain sebagai senjata. Aku menjadi Kompol yang logis, dingin, tanpa kelemahan,” katanya, suaranya sedikit bergetar karena emosi yang tertahan. “Tetapi Wira melihat menembus dinding pertahananku. Dia melihat anak kecil yang haus validasi di balik seragam ini. Dan yang lebih parah, dia melihat bagaimana kau memandangku.”Raka hendak memprotes, tetapi Kirana memotong

  • Kelir Getih (Layar Berdarah)   Sandiwara

    Raka Permadi merasakan kata itu menghantamnya bukan sebagai suara, melainkan sebagai getaran. Itu adalah gema yang muncul dari setiap sendi tubuhnya, menanggapi racun perlahan dari wayang ayahnya. Kegelapan menutup pandangannya, meninggalkan hanya sisa bayangan Wayang Ki Anom yang meleleh di tanah dingin Imogiri, sebuah lambang tragis dari cinta yang beracun.Ia tidak sadar berapa lama ia tergeletak. Hanya sensasi kejatuhan, rasa panas yang membakar pembuluh darah, dan rasa dingin dari batu-batu nisan yang mencium pipinya. Samar-samar, Raka mendengar teriakan. Bukan lagi suara anak-anak yang direkam, bukan pula ejekan Wira. Ini adalah teriakan nyata.“Raka! RAKA! Bangun, sialan!”Suara Kirana Prameswari. Kuat, mendesak, dan kini penuh histeria yang belum pernah Raka dengar sebelumnya. Kirana sudah bebas.Raka membuka matanya yang berat. Penglihatannya kabur. Kirana ada di depannya, tangannya gemetar hebat. Ia berhasil melepaskan diri dari ikatan di ruang perenungan, mungkin menggunaka

  • Kelir Getih (Layar Berdarah)   Makna Sejati

    Coretan itu adalah Wayang Bima, terikat rantai, diposisikan seperti terkurung di sebuah sel. Di sebelahnya, tulisan tangan Kapten Wira: “Bima terkunci, menunggu Arjuna memutus rantai logika.”Raka melanjutkan perjalanan di lorong sempit itu. Coretan di dinding berganti. Kini ia melihat sebuah gambar Kirana, dihiasi detail seragam polisi, duduk di depan wayang-wayang Kurawa yang gugur. Itu adalah pemandangan yang sama persis dengan yang Raka bayangkan selama ini: Kirana dihadapkan pada hasil logis dari kejahatan yang sempurna.Kau sudah hampir di sini, Raka. Jangan sia-siakan kesempatanmu untuk menjadi pahlawan.Raka mendengar suara samar di ujung lorong—rintihan tertahan. Itu Kirana.Ia mempercepat langkahnya, tetapi lorong itu tiba-tiba terbuka ke sebuah ruang perenungan yang kecil, terbuka ke langit malam, dikelilingi tembok batu tinggi. Di tengah ruangan itu, ada batu nisan tunggal, bukan nisan raja, melainkan nisan tanpa nama, diselimuti dupa yang masih mengepulkan asap tebal.Dan

  • Kelir Getih (Layar Berdarah)   Coretan

    Raka Permadi berdiri di kegelapan Imogiri, seolah dipaku oleh bisikan Bayangan Utama. Di tangan kirinya Wayang Arjuna—dirinya. Di tangan kanannya Wayang Ki Anom Suroso—ayahnya, sang dalang yang bunuh diri. Dan di kakinya, Wayang Bima yang robek, Wayang Kirana yang siap ditumbalkan.Ia menatap ponsel di tangannya. Pesan Kirana: "Raka, ada sesuatu yang kutemukan di mobilku. Di..." Terputus. Ini bukan sinyal hilang, ini adalah Kirana yang terputus secara brutal. Entah teleponnya dihancurkan atau dia diserang.Pilihan itu terasa sangat nyata, panas, dan dingin sekaligus. Wira tidak hanya memaksanya memilih antara menyelamatkan kekasih dan memenangkan lakon; Wira memaksanya memilih antara menjadi manusia atau menjadi dalang.Jadilah Parikesit sejati. Raja yang naik takhta dari tumpukan jenazah orang yang paling kau sayangi.Raka memejamkan mata, memproses ledakan suara yang ia dengar sebelumnya. Itu ledakan kecil, mungkin hanya peledak suara untuk menakuti, atau alarm. Tetapi Wira adalah m

  • Kelir Getih (Layar Berdarah)   Rekaman

    Dan di denah itu, terdapat titik merah di sebuah sudut kecil, disertai tulisan: “DWIPA’S VOICE: FINAL SULUK.”Raka segera bergerak menuju sudut yang ditunjuk denah. Ia mendapati ada lubang kecil tersembunyi di dinding kayu, yang ditutup tirai usang.Dia menyibak tirai itu, dan melihat di baliknya, sebuah kotak perekam digital kecil yang berkedip pelan. Kotak itu dihubungkan ke pengeras suara kecil, dan di sampingnya, ada mikrofon dengan tanda logo DWIPA. Wira sudah pergi, tetapi meninggalkan jejak suaranya—suara DWIPA—untuk didengar oleh siapa pun yang berani masuk ke panggung sunyi itu.Raka menyentuh tombol Play pada perekam digital itu. Dia tahu, dia sedang melangkah ke jebakan audio yang dipersiapkan dengan cermat.Suara itu muncul, tenang dan berwibawa, persis suara Kapten Wira.“Selamat datang di Panggung Sunyi, Raka Permadi. Aku tahu kau akan datang. Dan kini kau melihat apa yang harus kulihat selama bertahun-tahun: semua korban itu hanyalah boneka yang harus gugur. Kau juga bo

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status