Compartir

46| Ayahku?

Autor: Lefkilavanta
last update Fecha de publicación: 2026-08-29 21:09:12

Suara ketukan kayu pada tanah itu berhenti tepat di batas bayangan pohon jati.

“Siapa kamu? Kenapa kamu melakukan itu pada temanku?”

Luna memaku pijakan kakinya di atas tanah lembap kebun. Dadanya berombak kencang, menahan napas yang serasa menggumpal menjadi batu di tenggorokan.

“Kenapa diam saja?”

Dari balik rerimbunan semak yang kelam, sesosok tubuh perlahan melangkah keluar menembus temaram cahaya sore yang kian menipis.

Sosok pria tua berpostur agak membongkok, menopang tubuhnya pada seba
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Kembalinya Janda Wiratama   48| Monster Di Balik Pintu

    Aroma kamar kecil itu tak berubah. Bau debu tipis, kayu tua, dan jejak dingin angin malam yang dulu pernah menghempaskan batu ke kacanya.Luna menyeret langkahnya yang lunglai menembus pintu kayu yang berderit pelan. Langkah kakinya masih tertahan rasa nyeri yang berdenyut kaku di balik balutan perban tebal di perutnya. Nenek pulang ke kampung setelah keletihan mengurus kepulangannya dari rumah sakit.Untuk pertama kalinya setelah empat hari terasing di antara dinding kedap udara rumah sakit, Luna benar-benar sendirian.Ia melangkah mendekati jendela, menyibak tirai linen lusuh yang membatasi kamarnya dengan udara luar. Dari celah kaca yang kini direkatkan selotip hitam —bekas lemparan batu Selena— pandangannya melayang menatap kerlip lampu kota yang membiru di bawah langit malam.TOK. TOK.Ketukan di pintu depan memecah hening secara mendadak. Pelan, konstan, dan konsisten.Jantung Luna berdegup kencang, memicu nyeri di luka jahitannya. Ia melangkah ragu menuju pintu utama, memutar

  • Kembalinya Janda Wiratama   47| Susunan Puzzle yang Hilang

    Bip. Bip. Bip.Suara monitor jantung itu memukul telinga Luna secara berulang, monoton dan menyiksa.Aroma antiseptik yang tajam menusuk hidungnya saat Luna berusaha menggerakkan kepalanya. Langit-langit beton berwarna putih bersih menjadi hal pertama yang menyapa pandangannya. Di sekelilingnya, tirai linen putih melambai kaku ditiup pendingin udara, sementara selimut tebal membebat tubuhnya rapat-rapat.Setiap kali ia berusaha menarik napas, rasa sakit luar biasa menusuk di sisi kiri perutnya. Perban tebal menekan lukanya, membuat tiap tarikan napas terasa seperti sabetan sembilu. Tubuhnya terasa bagai wadah kosong yang dipaksa menyatu kembali dengan jahitan benang.Luna memalingkan wajahnya yang kaku. Di sisi ranjang, Nenek sedang meringkuk. Kepalanya bersandar di tepi kasur, sementara jemarinya yang keriput memeluk erat ujung selimut Luna.“Nek ….” suara Luna keluar sangat tipis dan parau.Tubuh tua itu mendadak tegang. Nenek mengangkat kepalanya seketika, menatap Luna dengan mat

  • Kembalinya Janda Wiratama   46| Ayahku?

    Suara ketukan kayu pada tanah itu berhenti tepat di batas bayangan pohon jati.“Siapa kamu? Kenapa kamu melakukan itu pada temanku?”Luna memaku pijakan kakinya di atas tanah lembap kebun. Dadanya berombak kencang, menahan napas yang serasa menggumpal menjadi batu di tenggorokan. “Kenapa diam saja?”Dari balik rerimbunan semak yang kelam, sesosok tubuh perlahan melangkah keluar menembus temaram cahaya sore yang kian menipis.Sosok pria tua berpostur agak membongkok, menopang tubuhnya pada sebatang tongkat kayu berukir kelam. Wajahnya dipenuhi kerutan dalam, namun sepasang matanya berkilat tajam. Pria itu, entah bagaimana, anehnya, … tidak asing bagi jiwa Luna maupun milik Yalinda yang meronta-ronta. "Kamu ...." bisik Luna parau, suaranya nyaris tersapu angin sore.Pria tua itu mengulas senyum tipis yang melengkung dingin di bibirnya yang kusam. "Lama tidak bertatap muka secara langsung, Anakku."Luna meremas ponselnya hingga jemarinya memutih. "Kenapa kamu mengirim pesan itu padaku

  • Kembalinya Janda Wiratama   45| Darah di Karyawisata

    Pagi itu, halaman sekolah dipenuhi keriuhan yang bising. Berderet-deret bus pariwisata berukuran besar terparkir rapi dengan mesin menyala, menyemburkan asap tipis ke udara pagi yang dingin. Para guru sibuk mengabsen siswa, sementara beberapa murid tertawa riang sambil menggeret koper berwarna-warni dan membawa kantong berisi makanan ringan.Di antara kerumunan itu, Luna berdiri tenang sendirian. Seragam sekolahnya terpasang rapi, hanya menyampirkan satu tas kain sederhana di bahunya.Matanya menatap kosong ke arah deretan bus, tetapi pikirannya tertambat penuh pada gema percakapannya dengan Lion semalam. Dia memutuskan untuk bertindak sendiri. Luna sendiri belum mampu membeberkan kenyataan paling gila di balik jiwanya.Saat bus mulai melaju meninggalkan keriuhan Jakarta, lanskap gedung-gedung tinggi perlahan mengabur, berganti menjadi hamparan pepohonan hijau dan jalanan pedesaan yang lengang.Luna menyandarkan kepalanya ke kaca jendela bus. Untuk pertama kalinya setelah berminggu

  • Kembalinya Janda Wiratama   44| Bantu aku!

    Langkah kakinya terseret lelah menyusuri trotoar kusam sepulang dari kafe. Seragam sekolah yang dilapisi celemek tadi masih melekat melekat, rambutnya yang biasanya terikat rapi kini mencuat sedikit berantakan.Saat ia mendongak menatap Halte Pintu Air yang remang, pandangannya terbentur pada pendar lampu neon putih dari sebuah minimarket 24 jam di samping halte.Pintu kaca otomatis bergeser terbuka.Sesosok pemuda melangkah keluar sambil membawa sebotol air mineral dingin. Jaket denimnya yang khas tampak familier di mata Luna.Lion.Luna mendadak berhenti di pijakan kakinya.Lion pun ikut membeku. Botol air di tangannya menggantung pasrah di udara.Mata mereka beradu di bawah keremangan lampu jalan. Tak ada sapaan hangat, bahkan senyuman memecah canggung pun tidak. Pertengkaran hebat mereka yang lalu masih menyisakan dinding tak kasat mata.Luna menghembuskan napas panjang. Paru-parunya serasa sesak jika harus terus memelihara jarak ini. Dengan sisa tenaga yang menguap dari tubuhnya

  • Kembalinya Janda Wiratama   43| Nona Batu Misterius

    Pintu kaca gedung Wiratama Group mengatup di belakang Luna, memutus sapuan udara dingin pendingin ruangan dan melemparnya kembali ke dalam pengapnya udara Jakarta. Langkah kakinya kaku saat menyeberang jalan, terseret bagai orang yang baru saja lolos dari eksekusi.Ia belum mendapatkan jawaban. Darian tidak mengucapkan satu kata pun untuk mengonfirmasi nama anak laki-laki itu.Namun, ada satu hal yang terus merayapi benak Luna. Bayangan wajah Darian di detik-detik terakhir. Raut rahasia yang terkuak itu memancarkan kecemasan murni.Tepat saat ia hendak melangkah menyebrang jalan, ponsel di saku seragamnya bergetar kencang. Luna menariknya keluar.Jangan tanyakan semuanya sekaligus.Luna menghentikan langkahnya di tengah trotoar. Napasnya tertahan. Belum sempat ia menyusun balasan, layar kembali berkedip menampilkan pesan berikutnya dari nomor yang sama.Satu jawaban akan membawamu pada jawaban berikutnya.Lalu, hening. Tidak ada getaran lanjutan. Tidak ada desakan baru.Luna menurunk

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status