Mag-log inMalam itu, Yalinda mati di tangan suaminya sendiri, Darian Wiratama—penutup dari pernikahan yang hanya menyisakan penyiksaan dan pengkhianatan. Dunia menganggap kisahnya selesai. Mereka salah. Tuhan memberinya kesempatan kedua. Jiwanya terbangun dalam tubuh seorang gadis sederhana bernama Luna Asteria. Wajah baru. Hidup baru. Namun, luka dan dendam yang sama. Kesempatan kedua ia gunakan untuk menghancurkan. Dengan identitas baru, Yalinda menyusun balas dendam tanpa ampun—perlahan, terencana, dan mematikan—pada pria yang telah merenggut segalanya darinya. Di tubuh Luna, Yalinda mengubur moral dan belas kasihan. Kini, hidupnya hanya memiliki satu tujuan membuat Darian Wiratama membayar setiap luka, hingga tak tersisa apa pun.
view moreManik matanya tak bergerak, menatap pemuda di depannya. Buket bunga tergeletak begitu saja di atas meja. Yalinda tak pernah menyangka sejauh ini hubungan terlarang akan terbentuk. Pemuda ini baru berusia 18 tahun, sedangkan dirinya sudah bersuami.
“Kamu menolakku?” Dia menatap Yalinda tanpa berkedip. Tatapannya selalu sama, hangat dan penuh harap.
Namanya Lion Bagaskara. Tetangga di samping unit apartemen tempatnya tinggal. Yalinda hanya menganggapnya sebagai adik dan hubungan terjalin begitu saja. Namun, Lion menggunakan hatinya, alih-alih logikanya.
Lion menganggukkan kepala. “Aku tahu ini salah, Nona Yalinda. Aku hanya ….”
“Aku akan memprogram bayi tabung dengan suamiku.” Yalinda menyela kalimat pemuda itu. “Kami akan punya anak.”
Yalinda menelan ludah, menatap bunga itu, kemudian menatap mata Lion. “Lion, terimakasih telah mencintaiku. Namun ….” Dia mendorong buket itu mendekat pada Lion. “Berikan ini pada gadis di sekolahmu. Dia pasti akan menerimanya.”
Yalinda tahu semua ini akan terjadi.
Lion selalu datang ketika dia butuh pundak setelah suami memaki dan menyiksanya habis-habisan. Lion selalu menyapanya setiap pagi, mengikutinya berjalan dengan alasan satu jalur dengannya. Bahkan Lion mengingat hari ulang tahunnya dan menjadi orang pertama yang merayakannya.
“Kenapa tidak menceraikannya saja?” Lion berbicara begitu tenang, menyerbu. “Aku akan menjadi laki-laki yang membelamu.”
Yalinda tersenyum tipis melalui sudut bibirnya yang lebam. “Dia suamiku. Orang yang bersamaku hampir 10 tahun lamanya.”
Lion menghela napas panjang, menahan sakit yang tak bisa ia ucapkan. Ia menundukkan kepala. “Baiklah … aku mengerti.”
“Kita akhiri hubungan apa pun itu, Lion. Aku tidak ingin kamu salah paham lagi.” Yalinda berkata dengan lembut, seulas senyum menutup kalimatnya.
Lion mengenali tatapan itu, selalu saja begitu. Penuh kesedihan dan kesunyian.
Yalinda beranjak dari tempatnya, berpaling dan hendak meninggalkan Lion di sana. Namun, pemuda itu menghentikan langkah kakinya.
“Apakah suamimu yang kaya raya itu bisa membelikan rok baru untukmu?”
Yalinda menoleh, menatapnya.
Lion menunjuk dengan bola matanya. “Ujung rok panjangmu berlubang.”
Tak ada jawaban. Yalinda melirik ujung rok yang jatuh di betisnya. Benar, lubang kecil bukan bagian dari model di roknya.
“Aku bisa menjahitnya. Aku suka menjahit.” Yalinda beralasan. Kembali mengulang senyum yang sama, lalu berpaling dari Lion.
Pemuda itu menatap kepergian Yalinda dengan sendu. Ada banyak yang ingin ia katakan, bukan hanya tentang mengungkapkan perasaan cintanya, tetapi juga tentang menyelamatkan hidup perempuan tragis itu. Namun, semuanya hanya berakhir pada helaan napas panjang darinya.
====
Yalinda kembali ke apartemen. Unit ini bisa dibilang kawasan elit Jakarta. Yalinda bukan orang susah, meskipun juga bukan orang kaya. Namun, suaminya, Darian Wiratama, adalah bagian dari elit Jakarta. Hidupnya tak serba kekurangan, hanya begitu tragis dan menyedihkan.
Saat Yalinda membuka pintu apartemen, sesuatu menghantam dirinya lebih dari apa pun yang pernah dia bayangkan. Darian bertelanjang dada, sedangkan perempuan di atas pangkuannya hanya mengenakan pakaian dalam yang memperlihatkan lekuk tubuhnya.
Seketika kemarahan dan kepedihan bergulung di dada Yalinda. “Darian,” gumam Yalinda lirih.
Darian menoleh. Matanya berubah gelap, seolah api telah menyala dalam dirinya. Selena, perempuan di atas pangkuan Darian, hanya tersenyum sinis. Bekas alkohol berserak di mana-mana.
“Apa yang kamu lakukan?” Dia masuk ke dalam apartemen, tanpa melepas sepatunya. “Kamu berselingkuh di rumah kita?”
“Kenapa?” Lelaki itu tertawa. “Kamu tidak terima?” Darian menggeram, suaranya penuh kebencian.
Yalinda mencoba melangkah maju, hendak menampar Selena di belakang Darian. Namun, Darian menangkap lengannya. Pertengakaran meledak begitu saja.
Serangan fisik dimulai setelah Darian menyeret tubuh Yalinda menjauh. Ia ditarik, dijatuhkan, dan dihantamkan berkali-kali ke dinding apartemen.
“Kamu mau apa jika aku selingkuh, huh?” Amarah meledak hebat. “Kamu mau lapor polisi dan menghancurkan reputasiku, huh!”
Setiap pukulan membuat dunia Yalinda berputar, setiap benturan menggoreskan rasa sakit yang tak tertahankan. Selena hanya berdiri di sana, matanya menyala-nyala, seolah menonton pertunjukan brutal yang diperuntukkan bagi orang lain.
Darian melempar tubuh Yalinda ke lantai. Memberi jejakkan sekali. “Kamu tidak pandai berdandan!” Dia menjejak lagi, kali ini di punggung Yalinda. “Kamu bodoh!” Satu pijakan mendarat di lehernya. “Dan sekarang tidak tahu diri?”
Yalinda berusaha membela diri, tetapi Darian lebih kuat dan lebih kejam. Tangan dan tubuhnya terseret ke lantai, dibenturkan ke meja, ke dinding, lagi dan lagi.
“Kamu tidak berguna, Yalinda!” Dia memberi pukulan keras di wajah Yalinda. “Aku muak denganmu!”
Darah mulai menetes, membuat lantai apartemen terlihat menyeramkan.
“Sayang, jangan terlalu keras padanya. Dia bisa mati,” ucap Selena dengan lembut. Nada bicaranya begitu menggoda.
Darian menoleh pada Selena. “Haruskah aku membunuhnya?”
Darian menarik rambut panjang Selena, menyeret tubuh lemah itu di balkon apartemen, lalu mengangkat tubuhnya.
“Kamu sudah tidak berguna lagi, Yalinda.” Daria mencekik leher Yalinda, tak peduli darah di kening istrinya menetes di punggung tangannya. “Ayahmu yang tua dan bodoh itu sudah menyerahkan perusahaannya padaku, jadi aku bisa mengusir kalian.”
Yalinda meneteskan air matanya. Bukan karena sakit, tetapi karena pengkhianatan di depan mata. “Aku bersumpah … aku akan membunuhmu.”
Darian tertawa terbahak-bahak. “Dengan apa?”
“Setelah ini aku akan mengusir keluargamu dan mengklaim kekayaan itu untuk perusahaanku!”
Darian memperkuat cengkeraman jari jemarinya di leher Yalinda, membuat perempuan itu meronta, mulai kehilangan ruang untuk bernapas. Tangannya memukul-mukul lengan Darian.
“Matilah wanita jalang!” Ketika Darian mendorongnya, Yalinda tersentak. Angin dingin menyambar wajahnya saat tubuhnya tergelincir. Tubuhnya jatuh ke jalanan. Darah merembes dari belakang kepala. Seluruh tulang tubuhnya berasa remuk begitu saja.
Yalinda menatap langit mendung yang menggantung di cakrawala, bahkan bintang dan bulan enggan menemani kematiannya yang tragis. Tubuhnya tak bisa bergerak, seolah aspal jalanan di depan apartemen telah mengucinya. Bibirnya pun seolah enggan berteriak minta tolong.
“Nona Yalinda?” Suara itu membangunkan sedikit kesadarannya.
Yalinda menoleh perlahan. Di sana dia melihat Lion. Pemuda itu berdiri, tetapi lututnya gemetar hebat. Satu langkah ingin mendekat, tetapi kengerian menolaknya untuk bergerak. Melihat wanita yang dia cintai tergelatak tak berdaya di ambang kematian bukan bagian dari rencananya hari ini.
Dengan tangan yang berlumuran darah, Yalinda meletakkan jarinya di bibir—sebuah kode sunyi: diam, jangan menjerit, jangan lakukan apa pun sekarang.
“Nona Yalinda,” gumam Lion lirih. Air mata jatuh begitu saja saat Yalinda menutup matanya. Tangannya jatuh terkulai di samping genangan darah miliknya sendiri.
Lion berlari mendekatinya, menatap unit apartemen Yalinda yang sunyi. Namun, ia tahu Yalinda tak akan bunuh diri.
“Nona Yalinda, tolong bertahan. Aku mohon.” Dia meletakkan kepala Yalinda di atas pengkuannya.
Jari jemari yang masih kosong, merogoh ponsel di saku celana seragam sekolah yang masih ia kenakan, mencoba meminta bantuan meskipun ia tahu tidak ada lagi tanda kehidupan pada tubuh Yalinda.
Dua hari berlalu begitu saja. Kalimat terakhir Luna tidak membuat Lion menghubunginya. Senyap tanpa respons, Lion punya pendirian yang luar biasa hebat. Hari ini sekolah baru dimulai. Luna berjalan menyusuri lorong sekolah. Ramai dan padat, tetapi tak seorang pun akrab dengannya. Hingga langkah kakinya terhenti di depan tangga naik ke kelasnya. Lion Bagaskara. “Kamu sepertinya menungguku,” ucap Luna padanya. Seulas senyum terlukis di bibir ranumnya. Lion menolak mengakui fakta itu, meskipun sebenarnya iya. “Ikut aku.” Dia memberi perintah. Kalimat singkat, lalu pergi dari hadapan Luna, memimpin arah langkah kaki mereka berdua. Atap sekolah adalah tujuannya. Suasana yang sepi, tak ada mata yang mengawasi atau telinga yang akan mendengar. Lion berbalik, jaraknya tak cukup jauh dari gadis bersurai hitam panjang itu berada.“Ceritakan,” kata Lion singkat. “Satu hal saja. Yang tidak ada di berita.”Luna menarik napas. Dadanya terasa sesak. Bukan karena takut, tetapi karena ingatan.
Langit mulai gelap ketika Luna berdiri di depan pagar besi rumah mewah itu. Di jual. Kalimat yang pertama kali ia temukan sesampainya dia di sana. Rumah ayah Yulinda.“Bajingan itu benar-benar mengambil semuanya bahkan hanya beberapa hari setelah kematianku,” gumam Luna sembari menatap rumah mewah di depannya. “Seharusnya aku tidak mencintainya.” Luna berdiri lama. Terlalu lama untuk seorang gadis SMA yang kebetulan lewat. Dadanya menegang. “Di mana ayah sekarang?” Keluarga Darian tidak hanya membunuhnya secara fisik. Dia melakukan hal yang lebih kejam—mengambil segalanya, lalu membiarkan yang hidup tanpa apa-apa.Luna mengepalkan tangan. Kukunya menekan telapak, tetapi wajahnya tetap tenang. Dendam itu tidak meledak. Hanya menumpuk seperti bom waktu yang mulai menghitung mundur.Saat Luna berbalik, ia sedikit tersentak. Seseorang berdiri tak jauh darinya. Lion Bagaskara. Lion yang sama, yang memakinya siang ini. Pemuda itu menatap rumah yang sama dengan ekspresi yang sulit dibaca
Luna membuka matanya pelan, menahan napas sejenak, lalu mengembuskannya perlahan. Manik matanya menatap langit-langit kamar—kusam. Bukan lagi lantai marmer apartemen Darian. Bukan kamar luas dengan jendela besar. Hanya plafon kusam, kipas angin tua, dan bau kayu lembap yang menempel di udara.Ia beranjak dari tempat duduk, menatap pantulan bayangan tubuhnya di cermin rias di depannya. “Benar. Aku bukan Yalinda.” “Aku harus membiasakan diri,” gumamnya pelan. Jujur saja, dia tak tahu bagaimana bisa jatuh tertidur semalam. Yang ia ingat, semua yang dirasakan hanyalah kenyamanan yang ia rindukan ketika hidup sebagai Yalinda. Ia mandi, mempelajari batas tubuh barunya. Bahu yang lebih sempit. Lengan yang lebih ringan. Bekas luka yang tidak ada. Untuk sesaat, ada perasaan ganjil—kehilangan sekaligus kebebasan.Selepas mandi, ia mendandani diri. Mengenakan seragam sekolah, memoles wajah ala kadarnya, dan menyematkan nama Luna di dada kanannya. Di dapur kecil, seorang nenek menunggu. Rambu
Hujan deras menetes di jendela sekolah menimbulkan suara ketukan yang monoton. Dia membuka mata. Semuanya gelap. Lekas ia membuang ember yang menutupi kepalanya.Ruangan ini dingin dan sempit. Aroma sabun dan lantai sekolah yang basah menyengat hidungnya. Ia mencoba menggerakkan tangan dan terhentak kaget. Tubuhnya terasa kecil, kurus, tak familiar … dan muda. Tangannya lebih lentik dan jari-jarinya halus. Saat menoleh, ia menyadari sesuatu yang membuatnya membeku. Pantulan cermin itu bukan dirinya, melainkan orang lain.“S–siapa …” Dia merangkak mendekat, menyentuh permukaan cermin di sudut ruang toilet. “Siapa yang ….” Anehnya, pantulan di dalam cermin mengikutinya. Hingga ia sadar, itu bukan bayangan orang lain, melainkan dirinya sendiri. Yalinda kaget bukan main. Ia mundur tersentak. “Apa yang terjadi?” Ingatannya kembali pada malam sebelumnya. Dia mati di tangan suaminya dan orang terakhir yang ia temui adalah Lion. “Apa yang terjadi padaku?” Yalinda beranjak dari tempatnya.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.