LOGINRosalynd Von Shanza terpaksa melangkah masuk ke dalam istana Kerajaan Blackwood. Ia hadir bukan membawa ambisi, melainkan sebagai korban pengkhianatan Permaisuri Cassandra Von Shanza. Terdesak tekanan Ibu Suri yang menuntut hadirnya ahli waris, Rosalynd dipaksa menjadi selir bagi Kaisar Kenneth Blackwood. Di balik kemegahan dinasti modern yang dingin, Rosalynd tidak akan tinggal diam sebagai bidak. Jika Permaisuri Cassandra mengira ia akan tunduk, ia salah besar. Pembalasan dendamnya baru saja dimulai.
View More"Kaisar malam ini akan datang. Bersiaplah dan jangan berani-berani membuat kesalahan jika kau masih ingin hidup dengan tenang.”
Kalimat itu masih terngiang di kepalanya.
Seluruh dunianya seolah hancur saat kakaknya sendiri, Permaisuri Cassandra, menyuruhnya untuk tidur dengan suaminya sendiri…
Itu artinya… ia harus tidur dengan pria paling berkuasa di kekaisaran itu.
Padahal selama ini ia mempercayai bahwa sang kakak akan melindunginya dari segala masalah, termasuk intrik politik kekaisaran.
Namun sekarang wanita itu malah menyeretnya langsung ke dalamnya.
Di tengah rasa berkecamuk dengan pikirannya sendiri, dua dayang senior masuk tanpa permisi.
Mereka membawa baki berisi minyak wangi serta beberapa pilihan perhiasan. Tanpa memperdulikan air mata yang masih meninggalkan jejak di ujung netra Rosalynd.
Rosalynd menatap keduanya dengan mata penuh harap.
“Aku mohon… lepaskan aku…”
Namun kedua dayang itu tak memperdulikannya.
Mereka mulai melucuti pakaian yang masih melekat di tubuh Rosalynd dengan gerakan yang kaku dan dingin.
“Maafkan kami, Nona… Kami hanya mengikuti perintah Yang Mulia Permaisuri.”
Kedua dayang itu mengabaikan permintaan Rosalynd.
Mereka bergerak cepat, mengoleskan minyak wangi ke tubuhnya. Mereka bergerak cepat mengoleskan minyak wangi ke tubuhnya.
Sebuah gaun tidur sutra tipis berwarna merah tua yang sangat minim melekat di tubuh Rosalynd.
Setelah memasang kan sepasang anting permata, salah satu dayang senior itu mundur.
"Kaisar sudah berada di depan paviliun, Nona. Jaga sikap Anda," peringatan dayang itu dengan nada datar.
Tanpa menunggu balasan dari Rosalynd, kedua dayang itu langsung keluar dari kamar.
Pintu yang tebal itu langsung ditutup dan dikunci rapat dari luar, seolah sedang mengurung Rosalynd.
****
Aroma kayu cendana serta anggur tua langsung menusuk indra penciumannya, memicu rasa pusing sekaligus rasa ketakutan yang menjalar hingga ke ujung jempol kakinya.
Ruangan itu terlihat sangat luas, warna hitam mendominasi ruangan tersebut, dengan warna abu-abu serta aksen emas yang memancarkan aura dominasi yang mengintimidasi.
Di tengah ruangan, sebuah ranjang besar dengan kelambu berwarna emas berdiri kokoh, seolah siap merenggut seluruh harga diri yang tersisa dalam jiwanya.
Rosalynd terduduk sendirian di tepi ranjang dengan tubuh yang bergetar hebat, menangkup kedua tangannya di atas pangkuannya untuk menyembunyikan rasa cemasnya.
"Pelayan baru yang dijatuhi hukuman, atau hadiah untukku?"
Rosalynd terlonjak saat suara berat itu tiba-tiba memecah keheningan.
Di depannya, seorang pria bertubuh tegap dan mengenakan jubah hitam sudah berdiri di hadapannya.
Ia benar-benar tak sadar kapan pria ini masuk.
Pria itu tertawa pendek. Suara yang tidak hangat sama sekali. "Permaisuri Cassandra tidak pernah menyuruh orang ke paviliun ini untuk hal yang baik." Ia mencondongkan tubuh.
"Kau pasti jalang yang harus kupakai, ya.”
Dia mengulurkan tangan, menyentuh dagu Rosalynd dengan jari yang dingin.
Rosalynd menggenggam ujung roknya. "T-tolong lepaskan aku. Yang Mulia. Ini pasti salah."
Wajahnya yang tampan menatap Rosalynd tanpa ekspresi. Sepasang netra elangnya yang sangat tajam langsung mengunci sosok Rosalynd yang seolah menyerahkan dirinya di tepi ranjang.
Tak ada binar gairah atau rasa ketertarikan di sorot matanya.
"Oh? Ternyata kau, adik ipar…" Suara Kenneth terdengar sangat berat, serak serta dipenuhi dengan penghinaan.
"Katakan padaku.... Perintah apa yang kakakmu berikan padamu sehingga kau merangkak ke atas ranjangku seperti ini?"
"Saya tidak merangkak ke ranjang Anda, Yang Mulia," Rosalynd berusaha membela dirinya.
Ia mencoba menepis tangan Kenneth dari dagunya.
"Permaisuri yang meminta Saya kemari. Saya tidak mengerti apapun, Yang Mulia." Mohon Rosalynd.
Kenneth terkekeh sinis.
Bukannya melepaskanmu justru ia semakin menekan jempolnya di dagu Rosalynd dan memaksa wanita itu menatap lurus ke arahnya.
"Jangan berlagak polos, Rosalynd. Klan Shanza tidak pernah mengirim wanita ke kamar ini tanpa rencana dibaliknya." Desis Kenneth tajam.
Rosalynd mengepalkan tangannya sekuat mungkin.
Penghinaan itu benar-benar melukai harga dirinya.
"Jika memang anda menilai bahwa Saya sehina itu, silahkan minta Saya untuk pergi dari sini, Yang Mulia."
Rosalynd kembali memohon belas kasih sang kaisar supaya dilepaskan.
Mendengar permintaan itu justru membuat amarah muncul pada kaisar Kenneth. Ego sang penguasa terlihat di kedua netranya.
Kenneth lalu melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga tubuh Rosalynd terjatuh di atas kasur.
"Kau salah jika kau pikir bisa keluar dari kamar ini setelah menyulut emosiku, Rosalynd." Tutur Kenneth dingin sembari melempar jubahnya ke lantai.
Pria itu merangkak naik ke atas ranjang dan mengunci pergerakan Rosalynd di bawah kungkungannya.
Rosalynd yang panik pun mencoba merangkak keluar. Akan tetapi, pergerakan Kenneth lebih cepat dari yang dia kira.
Dengan cepat, Kenneth mencengkeram kedua pergelangan tangannya dan menguncinya ke atas kepala dengan kuat.
"To-tolong. Le-lepaskan saya, Yang Mulia."
Itu merupakan kalimat terakhir yang mampu diucapkan oleh Rosalynd sebelum Kenneth mengambil apa yang diberikan oleh Permaisuri nya sendiri.
"Nikmati malam pertama, Adik Iparku."
Bersambung
Siang itu, matahari bersinar cukup terik. Akan tetapi, suasana di pelataran paviliun Mawar terasa sangat dingin.Rosalynd melangkah melewati gerbang melengkung yang dipenuhi hiasan mawar merah darah yang cantik dan anggun. Di belakangnya, Lily mengikuti Rosalynd dengan berjalan menunduk sambil membawa baki sederhana milik Rosalynd."Selamat datang, selir Rosalynd. Saya adalah kepala pelayan di paviliun mawar. Panggil saja dayang Nina," ujar salah satu wanita paruh baya dengan seulas senyum kaku yang dipaksakan.Sembilan pelayan lain yang sudah berjejer rapi di depan aula membungkuk hormat, namun pandangan mereka begitu dingin.Rosalynd tersenyum."Terima kasih atas sambutan kalian. Kalau begitu, tolong bantu saya untuk menata barang-barang di kamar utama." pinta Rosalynd."Tentu saja, Selir Rosalynd. Itu memang sudah menjadi tugas kami untuk memastikan Anda tidak kekurangan apa pun," respon dayang Nina.Begitu para pelayan baru sibuk memindahkan dan menata barang, Rosalynd bergegas m
Suasana kamar mendadak sunyi. Suara pip dari terputusnya sambungan alat komunikasi di balik pisau itu seolah merenggut semua nya.Kondisi Lily sudah jatuh terduduk lemas di lantai marmer yang dingin. Wajahnya pucat pasi dan netranya terbelalak kaget."N—Nona. A—apa tadi suara Kaisar? Jadi, sejak tadi Kaisar Kenneth mendengar semua pembicaraan kita?"Rosalynd terdiam.Jemarinya mencengkram erat gagang pisau lipat hingga buku-buku jarinya memutih. Pilihan yang diberikan oleh Kenneth tidak bisa diganggu gugat. Ia harus patuh pada skenario kebohongan yang dibuatnya atau tewas di tangan pisau milik sang Kaisar sendiri."Berdiri, Lily. Seka air matamu sekarang juga!" perintah Rosalynd tegas. "Jika dia memang ingin menghabisi kita, dia tidak akan repot memperingatkan ku lewat pisau ini." Terang Rosalynd pada Lily supaya Lily tidak semakin ketakutan.Tak lama, terdengarlah suara ketukan pintu kamar."Selir Rosalynd. Waktu istirahat anda telah habis. Ibu Suri memerintahkan anda untuk segera
Pintu tersembunyi di balik lemari kayu ek berderit pelan. Jantung Rosalynd berdegup kencang, tangannya spontan menarik sisa robekan gaun untuk menutupi tubuhnya.Akan tetapi, setelah ditunggu beberapa detik keluarlah wanita berpakaian pelayan sederhana melangkah keluar dengan buru-buru."Nona Rosalynd! Ya Tuhan, Nona!"Ternyata itu adalah Lily. Wajah Lily yang pucat pasi dan matanya yang berkaca-kaca menatap kondisi tuannya yang sudah tidak karuan seperti ini."Lily? Bagaimana bisa kau tau jalan rahasia ini?" bisik Rosalynd terkejut.Hening. Lily justru segera berlari mendekat, lalu menyelimuti tubuh gemetar Rosalynd dengan jubah wol hitam tebal yang dibawanya."Saya menguping pembicaraan pengawal, Nona. Saya sangat mencemaskan anda setelah Anda menjerit semalam," jawab Lily dengan suara yang gemetar menahan tangis."Lihatlah kondisi anda, Nona. Gaun yang telah robek dan rahangmu memerah karena tamparan permaisuri Cassandra."Rosalynd justru tersenyum tipis."Tenang saja, aku baik-ba
Matahari pagi itu belum sempat menampakkan wujudnya di ufuk timur, namun pintu paviliun obsidian sudah digedor dengan sangat berwibawa."Perhatian, selir Rosalynd. Ibu Suri dan Permaisuri Agung telah tiba!" seru dayang Martha dari balik pintu kamar.Rosalynd tersentak kaget.Jantungnya berdegup kencang dan melirik sprei putih yang sudah terkena noda merah darah kaisar yang sudah mengering.Karena tak ada jawaban dari dalam, pintu dibuka paksa menggunakan kunci master yang dibawa oleh dayang Martha. Langkah kaki anggun namun masih membawa wibawa tegas yang dipimpin Ibu Suri, diikuti dengan permaisuri Cassandra yang menatap dingin sekaligus cemas ke arah Rosalynd."Bagaimana malam pertama mu, Rosalynd?" selidik ibu Suri langsung tanpa basa-basi.Pandangannya langsung tertuju pada ranjang.Rosalynd menunduk, tangannya meremas sisa gaun sutranya yang sudah tidak karuan."Saya—Saya telah melaksanakan kewajiban Saya, Ibu Suri.""Rosalynd! Mengapa pakaianmu tak beraturan seperti itu?" poton
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews