Share

A42. Meluapkan Amarah pt 2

Penulis: Cheezyweeze
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-22 21:48:46

Alex merasa seperti buronan. Setiap hari ponsel Alex selalu bergetar dan itu sangat mengganggu. Seperti pagi itu John kembali menghubungi Alex dan lagi Alex tidak mengangkatnya. Hal itu membuat John mengirim pesan.

Beberapa pesan sebelumya pun Alex belum membacanya.

Dengusan kasar keluar dari mulut Alex. Dengan terpaksa pria itu bangkit dari ranjangnya dan mendekati jendela. Alex menarik tali tirai untuk membukanya.

Di luar masih gelap dan jeleknya Alex harus bangun pagi di musim dingin yang baru saja menyapa. Sebenarnya Alex ingin sekali bermalas-malasan.

Alex menyandarkan tubuhnya pada dinding dekat jendela. Pandangannya jauh menembus kaca jendela, lalu kepalanya menoleh ke arah nakas.

"Apa sebaiknya aku balas pesan dia?" ucapnya lirih.

Alex melangkah mendekati nakas, akan tetapi dia mengurungkan niatnya untuk membalas pesan dari John. Alex lebih tertarik melangkah ke dapur untuk membuat secangkir kopi hangat untuk teman santai di pagi buta.

Alex menyesap kopi yang ada di ca
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kembalinya Sang Mantan Pasukan Elite   A108. Menjadi Pion Penyerang

    Rolland menatap layar ponsel itu terlalu lama. Foto buram dengan sudut miring. Cahaya malam memantul di rahang tegas seorang pria yang berdiri sendirian di tepi jalan. "Foto ini ...." Rolland menatap dalam-dalam. Orang yang ada di dalam foto itu adalah orang yang paling sulit untuk diajak kerjasama.Bukan foto baru dan justru itu yang membuatnya berbahaya. Foto lama, arsip, atau hasil pengawasan jarak jauh yang disimpan rapi, dikeluarkan pada saat yang tepat. Konsorsium tidak butuh alamat. Mereka hanya perlu satu bukti.[Bagaimana kau bisa mengenalnya?][Kau tidak perlu tahu soal itu.]"Apa cara ini akan berhasil?" pikir Rolland.Rolland baru tahu jika julukan Alex adalah pembunuh brutal dan hantu Pegadaian. Ia juga paham jika Alex tidak mudah dirayu."Ini yang ku janjikan," kata suara di seberang sambungan, dingin dan tanpa aksen. "Kebenaran dan kemenangan itu bernilai mahal."Rolland mengusap wajahnya. "Aku t

  • Kembalinya Sang Mantan Pasukan Elite   A107. Kekuatan Baru

    Rolland berdiri di depan cermin retak, membalut luka di bahunya dengan tangan gemetar. Bukan karena sakit ... bagi Rolland rasa sakit sudah lama menjadi teman. Melainkan karena kemarahan yang tidak menemukan jalan keluar. Setiap balutan adalah pengingat_ bahwa ia kalah lagi. Benigno. Nama itu seperti racun yang menempel di lidahnya. Di markas sementara. Sebuah gedung kosong yang disamarkan sebagai gudang logistik, anak buah Rolland bergerak dengan langkah ragu. Tidak ada teriakan dan tidak ada tawa. Mereka tahu ritmenya berubah. Mereka tahu keberanian tanpa kekuatan hanyalah bunuh diri yang ditunda. "Laporan," kata Rolland dingin. Seorang pria maju, menunduk. "Upaya kedua kita gagal. Jalur distribusi yang kita sentuh sudah bersih dan mereka sedang menunggu." Rolland menahan napas. "Menunggu kita." "Ya." Ia mengingat malam itu, sergapan cepat, senyap, presisi.

  • Kembalinya Sang Mantan Pasukan Elite   A106. Harga Sebuah Nama

    Alex tidak tidur malam itu. Ia duduk di ruang tamu dengan lampu mati, hanya cahaya kota yang menyelinap lewat celah tirai. Ponsel tergeletak di meja—layarnya gelap, tapi terasa seperti mata yang terus mengawasi. Pesan tanpa nama itu masih terbayang. -Jika kau kembali, akan ada yang jatuh.- Siapa? Pertanyaan itu berputar, menggigit pelan. Ia tahu jawaban paling jujur ad adalah siapa saja. Di pasukan elite, keseimbangan rapuh. Kembalinya satu nama besar bisa menggeser segalanya. Jabatan, kepercayaan, bahkan nyawa. Dari kamar, Zea terbatuk kecil. Alex bangkit refleks, memastikan anak itu tidur kembali. Ia berdiri di ambang pintu, menatap wajah Zea yang tenang. Dunia ini ... rumah kecil, napas anak yang teratur terasa nyata. Terlalu nyata untuk dipertaruhkan. Pagi datang dengan ketukan yang tidak ia harapkan.

  • Kembalinya Sang Mantan Pasukan Elite   A105. keputusan Alex

    Sehari setelahnya. Alex berdiri di dapur dengan secangkir kopi yang sudah dingin. Ia tidak ingat kapan terakhir kali ia menyesapnya. Pikirannya terlalu bising—lebih bising dari dentuman senjata atau teriakan perintah di medan tempur. Kembali ke pasukan elite. Kalimat itu terus berputar, menabrak dinding kepalanya. Sebagian dirinya yang terlatih, disiplin, dan tahu arti komando ingin mengangguk dan berkata ya. Namun bagian lain, yang lebih sunyi dan lelah, mengingatkan satu hal yang tidak pernah tercatat di laporan misi—harga dari sebuah keputusan. Ia menoleh ke ruang tamu. Zea tertidur di sofa, memeluk bantal, cat kuku warna-warni masih menempel di jemarinya—jejak kecil dari permainan yang tidak berbahaya. Pemandangan itu menahan Alex di tempatnya. Jika ia kembali, dunia yang ia tinggalkan tidak akan menunggunya tetap utuh. Teleponnya bergetar. Pesan dari Jo

  • Kembalinya Sang Mantan Pasukan Elite   A104. Memanggil Alex

    Ledakan pertama terdengar seperti guntur yang tersesat. Di markas pasukan elite, getaran itu merambat lewat lantai beton, membuat gelas kopi bergetar tipis. Monitor-monitor taktis menyala, menampilkan gelombang aktivitas tidak wajar di wilayah pelabuhan. Suara tembakan ... terpotong, teredam jarak tapi tetap cukup jelas bagi telinga yang terlatih. TJ berdiri di tengah ruang komando, rahangnya mengeras. Rambutnya yang tersisir rapi tidak menyembunyikan ketajaman tatapannya. Ia tidak perlu laporan lengkap untuk tahu apa yang sedang terjadi. "Perang mafia," gumamnya. "Dan bukan perang kecil.' Seorang operator mendekat. "Sumber suara konsisten dengan senjata otomatis. Intensitas menurun ... lalu naik lagi. Sepertinya salah satu pihak terdesak." TJ menatap peta digital. Dua nama berkelip di kepalanya. Nama lama yang tidak pernah benar-benar mati-Benigno ... Rolland. Ia menghela napas pelan, lalu berbalik. "Panggil

  • Kembalinya Sang Mantan Pasukan Elite   A103. Hari Penentuan

    Malam yang menentukan. Malam pecah sebelum tembakan pertama dilepaskan. Gudang di pinggir pelabuhan tampak tenang dari kejauhan—terlalu tenang untuk sebuah pertemuan dua raja kotoran. Lampu-lampu kapal berkelip, memantul di air hitam. Di balik kontainer baja, orang-orang Benigno sudah mengambil posisi. Mereka tidak banyak bicara. Benigno berdiri di tengah, mantel gelapnya jatuh lurus, wajahnya tanpa emosi. Ia tidak membawa senjata. Kepercayaan diri adalah pelindung terbaiknya. Ya, karena dijaga oleh para anak buahnya. "Biarkan mereka masuk," katanya singkat. "Dan tutup pintu belakang." Di sisi lain, Rolland datang dengan senyum tipis yang dipaksakan. Anak buahnya menyebar, mata waspada, jari dekat pelatuk. Ia tahu Benigno berbahaya, tapi ia juga tahu mundur terlalu cepat berarti mati perlahan "Kita bisa bicara," kata Rolland keras, melangkah ke dalam gudang. "Tidak perlu ada per

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status