LOGINDi kosan barunya, Dimas—seorang programmer—tak pernah menyangka akan kembali bertemu Karina, guru les privat yang dulu diam-diam ia kagumi. Kekaguman yang dulu sempat berujung pada satu kesalahan fatal—saat Dimas mencium sang guru di tengah sesi belajar. Sejak itu, Karina menghilang tanpa jejak. Kini mereka bertemu lagi dalam keadaan yang jauh berbeda. Karina adalah pemilik kos tempat Dimas tinggal—dan juga seorang istri yang terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Suaminya kasar, tak setia, dan hanya memanfaatkan Karina demi menutup hutang keluarga. Sampai suatu malam, saat luka dan amarah menelan logika, Karina datang dengan mata sembab dan suara bergetar. “Dimas... hamili aku.” Akal sehat Dimas menolak. Gila. Tidak mungkin dia melakukannya. Karina mantan gurunya, pemilik kosnya, orang yang dia hormati, juga ... Wanita yang bersuami. Namun ... tubuh Dimas, juga setan dalam jiwanya menggelora, 'Bukankah suaminya kasar, tak setia dan tak lebih layak untuk membahagiakannya dibanding dirimu?' Detik itu, urat kewarasan Dimas terputus. Follow ig author : @harucchi224
View MoreSatu ketukan lagi, dan Dimas mulai ragu apakah dia salah alamat.
Papan kecil bertuliskan “KOS KOSONG” jelas terpampang di pagar depan sebuah rumah dua lantai, karena itu dia datang ke sini—malam-malam, dengan koper dan ransel, berharap menemukan tempat tinggal baru secepatnya. Kamar kos yang dia tempati sebelumnya cukup memberatkan kantong. Sedangkan pesangon PHK dari perusahaan teknologi yang memberhentikannya setahun lalu sudah mulai menipis. Dimas sadar dia harus pindah ke kosan yang lebih sederhana. Tok! Tok! Tok! Tok! Tok! Sejenak, Dimas menunduk, memastikan ia tidak salah rumah. Tetapi tidak. Ini benar—nomornya sesuai. Namun baru saja dia hendak mengetuk sekali lagi, suara samar dari balik jendela membuat tubuhnya menegang. Suara decakkan bersahutan dengan deru napas yang terengah. “Aahh!” lenguhan itu terdengar mengacaukan pikiran. Suara-suara sensual itu tak ayal membuat jantung dan tubuh Dimas bergetar. Dimas meneguk saliva. Kakinya yang kini berdiri di luar jendela ruang tamu rumah pemilik kos kini terasa sedikit limbung. Di balik jendela yang tak tertutup sempurna itu—di dalam ruang tamu, tampak seorang wanita yang sedang memunggungi Dimas, duduk nyaman di sofa yang menempel dengan jendela. Layar ponselnya terpampang jelas tengah memperlihatkan adegan demi adegan dewasa hingga Dimas yang berdiri di luar dapat melihatnya. Mengenyahkan gugup, Dimas mengerjap sekilas. Kepalan tangannya kembali menjangkau daun pintu. Tok. Tok. Tok. "Permisi?" Namun suara Dimas tampaknya masih belum cukup kuat untuk mengalahkan desahan-desahan sensual dari ponsel di tangan wanita itu. Lalu, sepasang mata Dimas melebar ketika menemukan tangan wanita itu mulai menjamah dirinya sendiri, memeluk lengan, lalu mulai meraba, menyusup ke area di antara kedua pahanya. Pikiran Dimas seketika berkabut. Bukan mustahil dirinya akan ikut tenggelam dalam dorongan yang sama bila dia berlama-lama di sini. “Permisi?” Dimas mengeraskan suara. Barulah wanita itu tersentak dan mematikan ponsel. “Sebentar…” Suara perempuan itu terdengar lebih dekat, dan Dimas segera menegakkan tubuh. Pintu terbuka perlahan, menampilkan sosok yang membuatnya hampir kehilangan kata. Dimas terpaku. Ini… tidak mungkin. Darahnya seakan surut ke bawah. Pikirannya mendadak kosong selama beberapa detik. “Kak Karina?” mulut Dimas bergumam pelan. Tak berniat memanggil, namun nama itu meluncur secara refleks. Mana mungkin dia melupakan wajah yang dulu tak pernah gagal membuat dadanya berdebar? Membuat matanya kerap mencari, dan membuat telinganya menyimak penuh setiap kalimat yang keluar dari mulut wanita ini? Kak Karina. Guru privatnya saat SMA. Wanita yang dulu dia kagumi diam-diam. Wanita berwajah cantik, dengan kemolekan tubuhnya yang membuat Dimas kerap meneguk ludah. Sampai akhirnya … dulu, muncul satu hari berbahaya ketika tak ada orang di rumah, Dimas yang saat itu masih SMA, tak mampu melawan desakan dalam dirinya. Hingga, sebuah kecupan singkat mendarat mulus di bibir wanita itu. Wanita yang seharusnya dia hormati. Dan setelah itu, semuanya berantakan. Tak ada lagi hari-hari belajar bersama Karina. Tak ada lagi sesi belajar mendebarkan di sebelah wanita anggun yang membuatnya berdebar. Karina berhenti mengajar, tak lagi menerima murid mana pun, tepat setelah kejadian itu. “Kamu ….” Suara Karina yang terperangah dengan tangan menutup mulut seketika menyadarkan Dimas, membawa pikirannya kembali ke momen saat ini. Namun detik berikutnya, Dimas tersadar dan membelalak. Darahnya berdesir seiring jantungnya menghentak keras. Matanya memindai penampilan Karina yang kini terlihat terlalu … Terbuka. Gaun malam tipis itu hanya menutup tubuhnya sebatas paha, memperlihatkan kaki jenjangnya yang mulus bak porselen. Bahan gaun yang tampak licin itu jatuh dan membentuk lekuk tubuhnya yang meliuk sempurna. Seakan tak cukup, gundukan bulat yang berhimpitan di area dada wanita itu membuat Dimas hampir lupa caranya bernapas. Tanpa sadar, tangan Dimas mengeratkan genggamannya pada gagang koper kabin yang diseretnya. Lama tak bertemu wanita yang pernah membuatnya berdebar, sekarang jantungnya harus menghadapi godaan sebegini dahsyat? “Ada perlu apa?” suara Karina sedikit bergetar. Wajahnya yang sedikit memerah berpaling gelisah ke arah lain. Tangannya mengusap lengan dengan gerakan kaku. Dimas berdehem kecil. Dia memperbaiki posisi tali ransel besar yang dia pakai. “Saya baca tulisan di depan, ada kamar kos kosong di sini. Kalau boleh, saya berniat untuk pindah malam ini.” Karina mengerjap setelah terdiam beberapa saat. “Tunggu sebentar. Saya ambil kunci.” Setelah kalimat itu, Karina berbalik, masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Dimas yang kini sibuk menenangkan jantungnya sendiri. Tangannya menarik rambut ke belakang. Napasnya dihembuskan panjang. Apa dia akan benar-benar tinggal di kosan dengan Karina sebagai pemilik kosnya? Karina, wanita yang dulu—bahkan hingga kini, pesonanya membuat irama jantungnya berderap kencang. Dan Karina, yang baru saja dia lihat sedang menjamah dirinya sendiri … sambil menonton video dewasa? Dimas tak tahu ini keberuntungan atau justru … petaka. Setelah Karina keluar dengan membawa kunci, wanita itu memimpin Dimas melewati sebuah tangga besi melingkar yang berada di depan teras. Tangga itu langsung menuju teras balkon lantai dua. Ada tiga kamar yang disewakan, semuanya berada di lantai dua dengan posisi berderetan. Karina membuka kunci, lalu melangkah masuk ke dalam kamar dan menyalakan saklar lampu. Wanita lalu berjalan di sekitar kamar, “Kami sudah sediakan kasur single, satu lemari pakaian, satu meja kerja, satu bantal, satu kipas angin. Nggak ada AC. Kamar mandi, dapur, kulkas, jemuran dan ruang cuci jemur, dipakai bersama-sama. Kebersihan tanggung jawab bersama. Jika membawa alat elektronik tambahan, tolong infokan ke saya.” Karina memutar bahu, menatap Dimas dengan alis terangkat. “Kalau mau merokok silakan di balkon, sudah disediakan asbak di sana. Untuk peraturan, yang paling utama selain dilarang membuat kebisingan ….” Karina terdiam, mengambil jeda sesaat. “Adalah nggak boleh membawa masuk perempuan.” ucap Karina tegas. Sebuah pikiran gila melintas dalam benak Dimas. Bagaimana jika perempuan yang dia inginkan justru sudah berada di dalam? Detik itu, hampir Dimas menampar wajahnya sendiri. Betapa godaaan Karina sanggup mengacaukan akal sehatnya.Dimas hampir menahan napas ketika Karina menurunkan wajahnya ke bawah, ke bagian pribadinya yang sudah mendesak tegak. Jakunnya naik turun merasakan kecanggungan.Waktu seolah berhenti. Menciptakan hening yang hanya diisi suara tetesan air dari kran. Bunyinya pelan, namun entah mengapa seperti dentuman raksasa di telinga Dimas. Kehangatan kulit Karina yang kontras dengan dinginnya keramik lantai kamar mandi, kini mengacak-acak kesadarannya. Karina terpaku, matanya yang masih basah dengan sisa tangis menatap dada Dimas yang naik turun dengan ritme cepat. Lalu beralih pada wajah Dimas yang kini memerah hebat hingga ke telinga.“Dim ….” Karina berbisik pelan. Suaranya serak, nyaris tak terdengar.Dimas menarik tangannya, melepas sentuhan dari area berbahaya itu. “Maaf.” ucapnya, dengan suara yang diselingi napas cepat, sebuah wujud nyata dari hadirnya desakan kebutuhan.“Kecoaknya udah nggak ada. Aku keluar.” Dimas berbalik cepat. Namun tangan Karina menariknya. “Tunggu.”Dimas kembali
“Kar. Sementara, kita pulang ke kontrakanmu dulu.” Dimas menatap kosong pada layar ponselnya. Sementara itu, Karina membeku. Alisnya lantas bertaut, seolah bisa menebak apa yang sedang terjadi.“Ada masalah lagi … di apartemen?”Dimas mengangguk, lalu menjawab sambil mengusap wajahnya. “Iya. Aku lupa untuk diskusi dengan manajemen soal saran keamanan dari mereka.” Napasnya lalu dihembuskan berat. Diliriknya jam tangan. Sudah lewat dari tengah malam. “Sekarang sudah selarut ini.”“Mau diantar sekalian ndak Mas?” Suara itu memecah fokus Dimas. Membuatnya tersadar bahwa Agus masih berada di antara mereka. Pria itu sedang merapikan tensimeter dan melepas sarung tangan karet dari tangannya.“Tak antar sekalian naik ambulans. Sampeyan kaca mobilnya pecah, toh?” Agus bertanya tanpa mengalihkan fokus dari kotak peralatan medis yang dipeluknya.Dimas melirik Karina, bertanya tanpa suara. Wanita itu mengangkat bahunya sejenak, sepenuhnya melepas keputusan pada Dimas.“Nggak perlu. Gue pesen ta
Dimas melirik Agus tajam. “Dalam pengawasan gue.”“Siap Mas.” Agus mengangguk cepat. “Ngomong-ngomong, anu … karena ndak ada kursi, kita ke kabin belakang ambulans gimana Mas?” Agus mengarahkan satu jempolnya ke arah ambulans. Dimas beralih ke arah Karina, wanita itu mengangguk setuju. Maka, keduanya mengikuti Agus menuju pintu belakang ambulans. Di dalam, Karina duduk dengan Dimas mendampingi di sebelahnya.“Mbak Karina, permisi ya. Saya tensi dulu.” ucap Agus dengan nada bicara profesional. Dia memasang alat pengukur tensi di lengan Karina. Gerakannya penuh hati-hati, sadar bahwa Dimas mengawasinya.“Tensinya agak tinggi ya, Mbak. Wajar karena syok.”Dimas mengepalkan tangan. Ucapan Agus mengalirkan sesuatu yang membuat napasnya tercekat. Ketika Agus merapikan perangkat pengecek tensi itu, tatapan Karina pindah pada Dimas, seperti mencari rasa aman. Dimas meraih tangan wanita itu, menggenggamnya. Sesuatu yang dulu tak akan pernah dia lakukan di depan Agus maupun Jimmy.Namun sekar
“Maaf?” Dimas mendengus. “Mudah banget lo bilang maaf.”Agus menunduk lebih dalam. “Saya tahu saya salah. Saya dibutakan kondisi darurat Mas. Ibu saya waktu itu sekarat. Saya butuh uang untuk operasi Ibu. Saya ingat Mas Dimas sempat kasih saya uang melalui Koh Jimmy, sepuluh juta. Itu uang yang sangat cukup untuk biaya operasi Ibu saya Mas. Tapi saat itu … saya terlalu … menjaga harga diri.” Agus terbatuk kecil, seperti berusaha menenangkan dirinya sendiri.“Lalu, Pak Reno datang dan kasih saya tawaran itu Mas. Awalnya saya pikir, dengan saya bantu Pak Reno, saya juga bisa berdamai dengan dendam di dalam diri saya sendiri Mas. Tapi ternyata … setelah saya sadari, yang saya rasakan ketika melihat sampeyan dengan Mbak Karina itu bukan dendam.” Agus menghela napas berat. “Tapi rasa iri.”Dimas mengikuti arah pandangan Agus. Pada bagaimana kakinya memainkan batu di ujung sepatu. Mungkin dia gelisah. Mungkin butuh keberanian besar baginya untuk mengakui itu.“Saya iri sama sampeyan yang bi






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore