ログインDi kosan barunya, Dimas—seorang programmer—tak pernah menyangka akan kembali bertemu Karina, guru les privat yang dulu diam-diam ia kagumi. Kekaguman yang dulu sempat berujung pada satu kesalahan fatal—saat Dimas mencium sang guru di tengah sesi belajar. Sejak itu, Karina menghilang tanpa jejak. Kini mereka bertemu lagi dalam keadaan yang jauh berbeda. Karina adalah pemilik kos tempat Dimas tinggal—dan juga seorang istri yang terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Suaminya kasar, tak setia, dan hanya memanfaatkan Karina demi menutup hutang keluarga. Sampai suatu malam, saat luka dan amarah menelan logika, Karina datang dengan mata sembab dan suara bergetar. “Dimas... hamili aku.” Akal sehat Dimas menolak. Gila. Tidak mungkin dia melakukannya. Karina mantan gurunya, pemilik kosnya, orang yang dia hormati, juga ... Wanita yang bersuami. Namun ... tubuh Dimas, juga setan dalam jiwanya menggelora, 'Bukankah suaminya kasar, tak setia dan tak lebih layak untuk membahagiakannya dibanding dirimu?' Detik itu, urat kewarasan Dimas terputus. Follow ig author : @harucchi224
もっと見るSesampainya di penthouse, Rudi langsung menyambut segera setelah Dimas memarkir mobil. “Tuan, ada tamu yang sudah menunggu anda sejak siang.” ucapnya sambil menunduk hormat. “Oh ya? Siapa?” Dimas menutup pintu mobil. “Silakan temui, Tuan.” Kening Dimas bertaut tajam. Tidak biasanya Rudi membiarkan pertanyaannya menggantung. Saat Dimas melangkah masuk, dia mencium aroma harum masakan yang pekat. Wangi yang familiar dalam ingatan. Jantungnya langsung berdegup keras saat benaknya diselubungi rindu. Langkahnya diayun cepat. Kaki Dimas terhenti tepat di ambang pintu dapur. Di sana, di balik meja marmer yang biasanya hanya diisi oleh makanan katering hotel atau masakan koki pribadi, sosok wanita paruh baya sedang sibuk menata piring. Wangi opor ayam yang selalu jadi andalan Ibu di setiap kepulangan Dimas, kini nyata memenuhi indra penciumannya. Wanita itu menoleh. Tangannya yang memegang serbet makan gemetar hebat. Matanya yang mulai berkerut dimakan usia seketika basah saat m
Dimas mematikan mesin mobil, namun dia tidak segera turun. Dari spion tengah, Dimas memperhatikan janur kuning di belakang sana dengan senyum tertahan. Siapa sangka, ternyata Caca dan Agus berjodoh.Setelah turun lebih dulu, Dimas memutari mobil dan membukakan pintu untuk Karina. Dia kemudian membuka pintu tengah, dengan sangat hati-hati menggendong Arkan yang mulai menggeliat bangun. Bayi itu mengerjapkan mata, menatap ayahnya dengan pandangan mengantuk yang menggemaskan."Ayo, Jagoan. Kita lihat paman Agus pakai jas." bisik Dimas yang disambut tawa kecil Karina.Saat mereka melangkah memasuki lobi gedung, suara heboh Genta langsung menggelegar, mengalahkan volume musik pengiring acara pernikahan Agus.“WOI, DIM!”Pandangan Dimas langsung terarah ke tengah ruangan. Tempat di mana Jimmy berdiri di tengah aula, mengenakan batik yang sebenarnya formal elegan tetapi malah dipasangkan dengan sepatu kets kesayangannya. Genta di sebelah Jimmy. Terlihat lebih makmur dengan setelan kemeja ya
2 tahun kemudian …“Bagaimana Tuan? Apa sudah cukup ukuran piguranya?” Rudi bertanya hati-hati. Pria itu berdiri mendampingi Dimas yang kini menatap penuh penilaian ke arah dinding besar di ruang utama penthouse.“Cukup. Ukurannya ideal.” Dimas menjawab tenang. Alih-alih memperhatikan ukuran bingkai, matanya kini memindai wajah-wajah bahagia yang ‘dibekukan’ di dalam foto-foto itu.Ada bingkai bertipe portrait, dengan foto dirinya dan Karina yang berdiri berhadapan, saling menyatukan kening dalam balutan pakaian pengantin. Ada foto Melia, Bapak, Dimas dan Karina yang berdiri berjajar dengan baju dilapisi pelampung, bersiap menikmati wahana banana boat. Potret itu diambil di hari kedua setelah pernikahan mereka. Sudut bibir Dimas naik tipis. Bapak tampak begitu tegang di sana. Beliau menyembunyikan ketakutan yang akhirnya pecah dalam bentuk teriakan histeris bernada gahar saat wahana benar-benar dijalankan. Mengingat itu, Dimas meloloskan dengusan geli.Dimas menggeser sedikit posisi
“Boleh sambungkan teleponnya ke Ibu, Pak?” Suara kebisingan tipis terdengar dari seberang telepon, disusul hening panjang yang menyesakkan dada. Dimas memejamkan mata, membiarkan angin malam Jakarta menerpa wajahnya. Dia tahu Ibu sedang memegang ponsel, meski tak ada suara yang keluar. "Bu..." suara Dimas melembut. "Besok lusa, aku menikah.” Hening. Masih tak ada suara di seberang. “Kalaupun Ibu masih belum bisa menerima keputusanku, apa Ibu nggak bisa hadir untuk melihat, bahagianya aku hari itu Bu?” Masih hening. Namun, Dimas bisa mendengar isakan tertahan yang sangat tipis. "Bu.” Dimas meneguk ludah, berusaha menenangkan tenggorokannya yang tercekat. “Aku nggak minta Ibu memaafkan aku. Aku cuma ingin Ibu hadir sebagai saksi bahwa anak Ibu sudah menemukan bahagianya, bersama Karina." Klik. Sambungan terputus sepihak. Dimas memejamkan mata erat-erat. Napasnya dihela panjang. Matanya menatap layar ponsel yang kini gelap. Perlahan, Dimas merasakan sepasang lengan melingkar
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
評価
レビューもっと