MasukDi kosan barunya, Dimas—seorang programmer—tak pernah menyangka akan kembali bertemu Karina, guru les privat yang dulu diam-diam ia kagumi. Kekaguman yang dulu sempat berujung pada satu kesalahan fatal—saat Dimas mencium sang guru di tengah sesi belajar. Sejak itu, Karina menghilang tanpa jejak. Kini mereka bertemu lagi dalam keadaan yang jauh berbeda. Karina adalah pemilik kos tempat Dimas tinggal—dan juga seorang istri yang terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Suaminya kasar, tak setia, dan hanya memanfaatkan Karina demi menutup hutang keluarga. Sampai suatu malam, saat luka dan amarah menelan logika, Karina datang dengan mata sembab dan suara bergetar. “Dimas... hamili aku.” Akal sehat Dimas menolak. Gila. Tidak mungkin dia melakukannya. Karina mantan gurunya, pemilik kosnya, orang yang dia hormati, juga ... Wanita yang bersuami. Namun ... tubuh Dimas, juga setan dalam jiwanya menggelora, 'Bukankah suaminya kasar, tak setia dan tak lebih layak untuk membahagiakannya dibanding dirimu?' Detik itu, urat kewarasan Dimas terputus. Follow ig author : @harucchi224
Lihat lebih banyak“Pak, saya punya ide yang lebih baik. Tapi ….” Dimas berbisik dengan suara yang gemetar. “Saya yang akan jadi umpan.”Di tengah fokus kemudi, Dimas dan Bramanta terlibat pembicaraan serius mengenai bagaimana mereka menjebak pelaku. Tak berselang lama, panggilan ditutup.Karina menatap Dimas dengan kilatan tak percaya. Kecemasan menggantung pekat di wajahnya. “Dim. kamu mau apa? Umpan gimana maksudnya?”“Aku mau mancing mereka.” Dimas melirik spion tengah, menemukan motor itu masih membuntutinya. Kakinya mengatur kecepatan gas untuk melambat, sengaja.Untuk menunggu dikejar.Samar, dari arah yang jauh di belakang, terdengar suara sirine yang melengking tanpa jeda. Dimas kembali menatap spion tengah, menemukan pengendara motor berwarna merah sedang melaju kencang ke arahnya. Meliuk-liuk lincah, memotong jalur dengan brutal.Jantung Dimas berdentum keras begitu menemukan sesuatu yang diangkat penumpang belakang motor itu.Sebilah parang yang panjang dengan ujung runcing, sesekali mengila
Dimas mengakhiri panggilannya dengan Bramanta. Napasnya dihembuskan berat.Seharusnya, begitu orang suruhan Reno menyerang Jimmy, tim pengawalan yang dikirim Pak Bramanta segera menghentikan pelaku, membekuk mereka dan melakukan pertolongan pada Jimmy yang mungkin terluka. Tetapi, yang didengar Dimas dari Pak Bramanta justru berita buruk.“Tim yang bertugas baru saja berganti. Ada miskomunikasi di lapangan sehingga mereka belum menemukan lokasi saudara Jimmy. Saat ini kami sedang bergerak untuk menyusul yang bersangkutan.”Dimas mengurut dahi. Tangannya bergegas menekan tombol untuk menghubungi Jimmy. Karina yang duduk di kursi sebelahnya menatap Dimas cemas. “Ada kabar apa Dim? Kamu nggak apa-apa?” Karina bergumam pelan. “Jimmy.” Dimas menarik napas panjang. “Firasatku nggak enak. Kayaknya dia beneran ‘kena’.” ucapnya. Mereka masih berada di dalam mobil yang memarkir di bahu jalan. Kondisi mesin mobil masih menyala. Nada sambung di seberang berganti menjadi suara Jimmy. Suara pria
Jimmy sebenarnya sudah tahu bagaimana dia akan diserang. Dimas sudah memberinya peringatan dari jauh-jauh hari, bahwa akan ada seseorang yang mengendarai motor merampas tasnya begitu dia keluar dari depan gang. Karena itu, sebelum langkahnya keluar dari bibir gang, tubuhnya sudah bersiap. Bersiap melompat dengan posisi seolah ‘berhasil dicelakai’. Ransel yang dia bawa setiap pulang kerja sebenarnya selalu dikosongkan, sesuai instruksi Dimas. Tak ada barang berharga miliknya. Kecuali, satu botol air mineral penuh sebagai pemberat, dan hard-disk drive kosong yang disiapkan Dimas dengan tulisan tangan Jimmy di casing-nya: ‘file penting, jangan hilang’.Tulisan itu sengaja, untuk memancing rasa penasaran pelaku agar hard-disk itu tidak dibuang.Karena di casing-nya juga terpasang ….GPS tracker, alat untuk melacak lokasi.Begitu seseorang menarik ransel yang Jimmy gantungkan asal di belakang bahu, Jimmy tak melawan, dia pura-pura melepaskan pegangan tasnya. Bersamaan dengan itu, satu hen
Saat Dimas akan kembali menjawab Jimmy, sebuah tangan dingin menyentuh lengannya pelan. Dimas tersentak. Karina membuka matanya. “Dim … pelan-pelan mengemudinya. Aku nggak apa-apa.” Karina berbisik lirih. Tergesa Dimas mengakhiri panggilan Jimmy. Dikuasai kekhawatiran, dia menepikan mobilnya ke bahu jalan. Pria itu memutar bahu ke arah Karina. Matanya menatap Karina dengan luapan tak percaya. “Kar. Kamu pingsan tadi! Kamu ….” Dimas memejamkan mata seraya mengurut sebelah pelipisnya. “Maaf aku hanya pura-pura. Kalau aku nggak lakukan itu, kamu bakal kena pukul dia Dim!” Karina menatap Dimas dengan tatapan tegas yang menyiratkan rasa bersalah. Dimas terdiam, masih mengatur napasnya yang naik turun. Antara ingin marah karena jantungnya hampir copot, lega karena Karina hanya pura-pura, dan juga terharu dengan niat Karina melindunginya. “Dim, Jimmy dalam bahaya. Kamu ingat rencana kita? Ini waktunya.” Karina menatap Dimas lekat, penuh kesungguhan. Detik itu juga, Dimas meneka






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak