LOGIN"Menikah denganmu demi harta keluarga Mozaus? Penawaran yang menarik, tapi apa untungnya buat aku, Arkael?" Tania menatap tajam sambil menyesap wine mahalnya.
Suasana sudut VIP kelab malam yang remang-remang mendadak terasa lebih dingin dari biasanya. Cahaya lampu gantung kristal kecil di atas meja mereka memantulkan kilau merah keunguan di permukaan cairan merah pekat di dalam gelas kristal Tania. Wanita itu menyandarkan punggungnya ke sofa kulit hitam, melipat kedua tangan di depan dada dengan postur tubuh yang menunjukkan dominasi penuh. Arkael tidak langsung menjawab. Ia menarik napas pelan, meresapi aroma alkohol dan parfum mewah yang menguar di sekitarnya. "Kau sudah menyebutkannya sendiri tadi, Tania. Kursi kepemimpinan Mozaus Corp tidak bisa diakses oleh orang luar tanpa aliansi darah atau pernikahan sah. Dengan menikahiku, kau otomatis melompati tembok pembatas kaum elite yang selama ini mengasingkanmu dari lingkaran inti dewan direksi." Tania mendengus pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis yang elegan. "Aliansi di atas kertas tidak cukup untuk membungkam para direktur tua di dewan komisaris, Arkael. Mereka adalah rubah-rubah tua yang haus darah. Begitu mereka tahu pernikahan kita palsu, mereka akan merobek-robek kita hidup-hidup dalam waktu kurang dari seminggu." "Siapa bilang kita akan membiarkan mereka tahu bahwa ini palsu?" balas Arkael tajam, mencondongkan tubuhnya ke depan hingga jarak wajah mereka hanya terpaut beberapa jengkal saja. "Di hadapan publik, pers dan dewan komisaris, kita akan menjadi pasangan paling serasi yang dimabuk cinta. Pernikahan ini harus terlihat sah secara hukum, agama, dan sosial." Tania menyipitkan matanya, mengamati setiap gerak-gerik dan sorot mata pria di hadapannya dengan penuh selidik. Rasa curiga yang mendalam masih membayangi benaknya. "Dan, apa jaminannya bahwa setelah aku membantumu menyingkirkan Paman Dhandra, kau tidak akan menendangku keluar dari istana begitu saja layaknya sampah?" "Jaminannya ada di tanganku dan di tanganmu secara bersamaan," jawab Arkael tanpa ragu. "Kontrak notaris independen yang akan disiapkan Jenar Baskara besok pagi. Di dalamnya tercantum klausul pembagian aset kekayaan sebesar lima puluh persen dari hak suara saham yang kudapatkan, serta hak veto penuh untukmu di divisi keuangan perusahaan." Tania tertegun sejenak. Angka lima puluh persen bukanlah tawar-menawar kecil, itu adalah pertaruhan terbesar dalam sejarah korporasi Mozaus. "Kau cukup berani menyerahkan separuh kerajaanmu demi sebuah sandiwara pernikahan?" "Kerajaan tidak ada artinya jika aku mati di tangan paman sendiri sebelum sempat mendudukinya," tukas Arkael dingin. "Jadi, bagaimana, Tania? Apakah tawaran ini cukup menggiurkan untuk meredakan rasa curigamu?" Tania terdiam, menimbang setiap risiko dan keuntungan yang terpampang di hadapannya. Tania tahu ini adalah kesempatan seumur hidup yang tidak akan pernah datang dua kali. "Baiklah. Aku terima tawaran gila ini. Tapi, ingat, aturan mainnya ada di tangan kita berdua. Tak boleh ada campur tangan emosi, tidak ada rasa kepemilikan, dan privasi masing-masing harus dijaga ketat." "Kesepakatan bagus," ucap Arkael singkat, mengangkat gelas minumannya dan mendentingkannya pelan ke gelas Tania sebagai tanda resmi dimulainya aliansi berbahaya tersebut. Tiba-tiba, suara getaran pendek dari ponsel yang diletakkan di atas meja memecah keheningan di antara mereka. Layar ponsel Tania menyala terang di tengah temaram cahaya ruangan VIP, menampilkan sebuah pesan singkat masuk dari nomor tersembunyi tanpa nama. Tania melirik layar ponsel itu sekilas, lalu keningnya berkerut dalam, ia meraih benda tersebut dengan jemari lentiknya, membuka pesan misterius yang baru saja masuk. Begitu ia membaca kalimat pada layar, napasnya tertahan seketika, dan warna merah di wajahnya mendadak memudar. Pesan itu bertuliskan, [Jangan bermain api dengan keluarga Mozaus, Tania.] Tania langsung membalikkan layar ponselnya ke bawah dengan gerakan cepat, seolah benda kecil itu baru saja berubah menjadi kalajengking beracun. Meskipun ia berusaha keras mempertahankan topeng ketenangannya di hadapan Arkael, kedutan halus di sudut mata kirinya tidak bisa lepas dari pengamatan tajam sang pewaris Mozaus. "Ada masalah?" tanya Arkael datar, matanya menyipit mengamati perubahan drastis pada gestur tubuh wanita di hadapannya. "Tak ada," jawab Tania cepat, suaranya sedikit meninggi untuk menutupi rasa gugup yang mendadak menyerang tenggorokannya. Tania meneguk sisa wine di gelasnya hingga tandas dalam sekali tenggak. "Hanya pesan sampah dari operator seluler atau spam promosi klub." Arkael tidak langsung percaya, ia meraih ponsel Tania yang tergeletak di atas meja tanpa meminta izin, gerakan yang begitu cepat hingga Tania tidak sempat menariknya kembali. Jemari Arkael mengetuk layar, membuka aplikasi pesan singkat yang baru saja menampilkan notifikasi tersembunyi tersebut. "Pesan dari operator seluler menggunakan nomor privat tanpa identitas yang dikirimkan langsung ke nomor pribadi eksklusifmu?" Arkael mengangkat sebelah alisnya, menatap lurus mata Tania dengan sorot penuh interogasi. "Jangan membodohiku, Tania. Siapa yang mengirim ini?" Tania menghembuskan napas berat, menyerah pada intrik yang dibangunnya sendiri. Tania merosotkan bahunya, menatap layar ponsel yang kini berada di tangan Arkael. "Aku tidak tahu. Demi Tuhan, aku tidak tahu siapa yang mengirimnya. Tapi, pesan itu membuktikan satu hal, ada seseorang di lingkaran dalam keluarga Mozaus yang mengawasi setiap langkah kita secara real-time." Arkael membaca ulang kalimat ancaman di layar ponsel tersebut. Pikirannya berputar cepat, merangkai setiap kemungkinan. Dhandra atau Kalandra pastinya tidak akan tinggal diam setelah melihat gerak-gerik mereka di kelab malam ini. Namun, pengintaian sedekat ini menyiratkan bahwa jaringan mata-mata keluarga besar sudah menembus lingkaran sosial terdekat Tania. "Artinya, musuh kita bergerak jauh lebih cepat dari perkiraan," ucap Arkael dingin, meletakkan kembali ponsel tersebut ke atas meja. "Mereka tahu kau sedang bersamaku malam ini. Dan, mereka mencoba memperingatkanmu agar mundur sebelum terlambat." "Mundur?" Tania mendengus sinis, senyum tajam kembali terukir di bibirnya meski ada sisa ketegangan di dadanya. "Kau keliru besar jika mengira ancaman murahan seperti ini bisa membuatku ciut, Arkael. Justru sebaliknya. Pesan ini membuktikan bahwa Dhandra dan komplotannya mulai merasa terancam dengan aliansi kita. Mereka takut." "Ketakutan adalah senjata paling mematikan bagi orang yang putus asa," balas Arkael sambil menegakkan punggungnya. "Mereka akan melakukan apa saja untuk menggagalkan pernikahan kita sebelum kontrak itu ditandatangani di hadapan notaris besok pagi." "Kalau begitu kita harus mempercepat waktunya," desak Tania, tatapannya menyala penuh ambisi. "Jangan tunggu sampai besok siang. Cari Jenar malam ini juga. Kita buat draf kontrak pernikahan itu sekarang, tandatangani, dan umumkan ke publik secepat kilat sebelum Dhandra sempat melancarkan serangan balasan." Arkael menatap wanita di depannya dengan kilatan kekasih tak kasat mata di matanya. Di balik sifat dingin dan ambisius sosialita itu, Tania ternyata memiliki nyali baja yang tidak kalah berbahaya dari para serigala di dewan direksi Mozaus Corp. Aliansi ini bukan lagi sekadar sandiwara hukum, melainkan pertarungan hidup dan mati di atas papan catur kekuasaan. "Kau benar," kata Arkael pelan, berdiri dari sofa dan merapikan jas hitamnya. "Aku akan menghubungi Jenar sekarang. Kita bertemu di kantor hukum pribadinya dalam waktu satu jam." Tania ikut bangkit berdiri, merapikan gaun malam hijau zamrudnya dengan gerakan anggun. Tania meraih tas tangan kecilnya berlapis kulit ular, lalu menatap Arkael dengan senyum penuh kemenangan. "Jangan terlambat, Suamiku. Permainan baru saja dimulai." Mereka meninggalkan ruang VIP kelab malam Vortex secara terpisah untuk menghindari sorotan kamera atau mata-mata bayaran yang mungkin mengawasi pintu utama. Arkael melangkah keluar menuju sedan hitam berlogo singa emas yang sudah siaga di tikungan jalan gelap. Di dalam mobil yang sunyi, ia segera merogoh ponselnya dan mendial nomor sang pengacara tua. "Jenar, batalkan seluruh jadwal pagimu," perintah Arkael tanpa basa-basi begitu sambungan telepon terhubung. "Siapkan draf kontrak pernikahan lengkap dengan klausul penuhnya malam ini juga. Kita tandatangani sebelum fajar menyingsing." "Baik, Tuan Muda," suara Jenar terdengar tenang di seberang sana, seolah ia sudah menduga instruksi mendadak tersebut. "Semua dokumen sudah saya siapkan sejak sore tadi di ruang kerja utama." Arkael menutup telepon, lalu menatap ke luar jendela mobil yang melaju membelah malam ibu kota. Bayangan Aurora sekilas melintas di kepalanya, menimbulkan rasa bersalah yang menusuk dada, ia tahu apa yang ia lakukan bersama Tania adalah pengkhianatan emosional terbesar terhadap wanita yang paling dicintainya. Namun, di dunia yang dipenuhi para pemangsa berdarah dingin ini, melindungi Aurora berarti harus merangkul iblis tergelap sekalipun. Mobil melaju kencang meninggalkan lampu-lampu kota, melesat menuju benteng istana Mozaus di mana takdir mereka berdua akan resmi disegel di atas kertas bermaterai darah."Jangan sok mengatur di kamar ini, Tania. Kita hanya rekan bisnis." Arkael melepas jasnya dengan kasar di kamar pengantin mereka yang mewah.Suara hempasan kain jas yang jatuh ke atas sofa beludru memecah keheningan malam di dalam kamar tidur utama istana Mozaus. Lampu gantung kristal memancarkan cahaya temaram yang menciptakan bayangan panjang di dinding pualam. Arkael berdiri tegak di hadapan meja rias besar, melonggarkan ikatan dasi hitam di lehernya dengan gerakan kasar yang mencerminkan sisa-sisa emosi akibat insiden di ruang makan tadi.Tania yang masih berdiri di dekat pintu masuk melipat kedua tangannya di dada.Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis yang sarat akan rasa jengkel. "Kau tidak perlu bersikap seolah-olah aku berniat merusak malam pertama kita, Arkael. Aku juga tidak punya ketertarikan sedikit pun pada mantan pesuruh jalanan yang mendadak jadi pengusaha ini."Arkael berbalik, menatap tajam wanita di hadapannya dengan sorot mata sedingin es. "Bagus kalau
Cahaya lampu kristal raksasa memantulkan kemegahan ruang makan utama istana Mozaus, tempat di mana meja panjang berbahan kayu jati tua dipenuhi berbagai hidangan mewah. Bau daging panggang bercampur rempah mahal menguar di udara, namun atmosfer di sekeliling meja justru terasa sangat membeku dan penuh ketegangan. Dhandra, Kalandra, dan Bramantyo duduk menempati kursi kehormatan dengan ekspresi wajah yang mengeras sempurna begitu pintu ganda ruang makan terbuka lebar.Langkah kaki tegas menggema di atas lantai marmer, memecah kesunyian malam saat dua sosok manusia melangkah masuk berdampingan."Kenalkan, ini wanita yang akan dinikahi oleh pewaris tunggal keluarga Mozaus," ucap Arkael dingin, suaranya membelah ruangan tanpa keraguan sedikit pun.Ia menggandeng lengan Tania erat, membiarkan sosialita bergaun malam sutra hitam itu berdiri tegak dengan senyum penuh kemenangan di sampingnya.Kehadiran Tania di tengah-tengah benteng keluarga inti Mozaus langsung memicu gempa kecil yang mem
"Menikah denganmu demi harta keluarga Mozaus? Penawaran yang menarik, tapi apa untungnya buat aku, Arkael?" Tania menatap tajam sambil menyesap wine mahalnya.Suasana sudut VIP kelab malam yang remang-remang mendadak terasa lebih dingin dari biasanya.Cahaya lampu gantung kristal kecil di atas meja mereka memantulkan kilau merah keunguan di permukaan cairan merah pekat di dalam gelas kristal Tania.Wanita itu menyandarkan punggungnya ke sofa kulit hitam, melipat kedua tangan di depan dada dengan postur tubuh yang menunjukkan dominasi penuh.Arkael tidak langsung menjawab. Ia menarik napas pelan, meresapi aroma alkohol dan parfum mewah yang menguar di sekitarnya. "Kau sudah menyebutkannya sendiri tadi, Tania. Kursi kepemimpinan Mozaus Corp tidak bisa diakses oleh orang luar tanpa aliansi darah atau pernikahan sah. Dengan menikahiku, kau otomatis melompati tembok pembatas kaum elite yang selama ini mengasingkanmu dari lingkaran inti dewan direksi."Tania mendengus pelan, sudut bibirnya
Dentuman bass musik elektronik berdenyut keras di balik dinding kedap suara klub malam Vortex, tempat di mana kemewahan dan dosa berpadu tanpa batas.Aroma alkohol mahal, parfum berkelas, dan asap shisha memenuhi udara remang-remang yang disiram cahaya laser merah-biru.Di sudut bar eksklusif lantai dua, Arkael melangkah pelan mengenakan setelan jas hitam tanpa dasi, menyapu pandangan ke sekeliling ruangan untuk memastikan tidak ada penguntit dari kubu Paman Dhandra yang mengekorinya. Arkael datang bukan untuk mencari pelarian atau kembali ke masa lalunya yang kotor sebagai pria sewaan, melainkan untuk menemui informan lama demi mengamankan dokumen aset pribadinya sebelum klausul tiga puluh hari mengunci pergerakannya."Mencari mangsa baru atau sedang bersembunyi dari takdirmu, Arkael?"Suara desisan halus berbalut aroma parfum *om Ford yang pekat menghentikan langkah Arkael tepat di depan meja bar.Arkael menoleh perlahan.Di hadapannya, Tania, wanita sosialita elit dengan gaun mala
"Kau boleh memegang seluruh saham perusahaan, tapi syaratnya mutlak, kau harus menikah dalam waktu satu bulan." Paman Dhandra tersenyum licik di balik kepulan asap cerutunya.Cahaya lampu meja kerja mahoni memantulkan bayangan asap kelabu yang mengepul di udara ruang baca perpustakaan pribadi kakek.Arkael berdiri tegak di hadapan meja besar tersebut, menatap lembaran dokumen hukum yang dibentangkan oleh Jenar dengan tangan sedikit gemetar menahan amarah.Di sekeliling ruangan, Dhandra Mozaus dan istrinya, Kalandra, berdiri berdampingan dengan senyum kemenangan yang sulit disembunyikan di wajah mereka."Syarat menikah?" Arkael menyipitkan mata, menatap tajam ke arah sang paman. "Apa hubungannya kepemilikan saham pengendali dengan status pernikahan?""Kakekmu ingin memastikan bahwa pewaris takhta Mozaus bukan hanya seorang berandalan jalanan yang tidak tahu aturan, melainkan kepala keluarga yang mapan secara sosial," jawab Dhandra santai, menjentikkan abu cerutunya ke asbak kristal. "D
"Selamat datang di kandang serigala, cucu malang." Sambutan penuh racun dari Bibi Kalandra menyambut langkah pertama Arkael menapaki lantai marmer putih kediaman utama Mozaus.Arkael menghentikan langkahnya tepat di tengah ruangan yang luasnya menyerupai balai istana kerajaan.Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit tinggi memantulkan cahaya berkilau di atas permadani wol merah tua yang membentang luas.Di sekeliling ruangan, belasan anggota keluarga besar Mozaus duduk di kursi sofa bergaya klasik dengan tatapan menilai, mencemooh, dan merendahkan.Aroma parfum mahal bercampur dengan ketegangan udara yang pekat memenuhi rongga dada."Kandang serigala?" Arkael balas menatap Kalandra tanpa gentar sedetik pun.Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis yang tipis. "Sayangnya, aku terbiasa hidup di jalanan di mana kelaparan jauh lebih berbahaya daripada anjing peliharaan rumahan seperti kalian."Kalimat dingin itu langsung membuat rahang Kalandra mengeras.Wanita paru







