LOGINKarena masa lalu orang tuanya yang cukup kelam, serta sifat yang cenderung tertutup dan agak pemalu, seorang pemuda sering mendapat perlakuan tak menyenangkan, terutama oleh para wanita di sekitar tempat tinggalnya. Namun, semua perlakuan buruk itu berubah ketika pemuda itu menemukan sebotol cairan aneh iseng menggunakannnya. Beberapa wanita yang sering meremehkan anak muda itu, berubah dan seakan berlomba untuk menjerat anak muda tersebut.
View MoreGemuruh suara petir menggelegar. Menyentak sebagian umat manusia yang sedang terkurung air dari langit. Hujan deras disertai angin dan petir masih mengguyur sebagian wilayah bumi.
Udara begitu terasa dingin hingga menyebabkan sebagian penduduk di salah satu muka bumi memilih merapatkan tubuhnya dengan selimut atau apapun yang bisa digunakan untuk menghalau rasa dingin yang menerpa kulit mereka. Tapi tidak dengan seorang pemuda, yang saat ini tengah ada di rumahnya yang sangat sederhana. Pemuda itu tengah menghadapi satu keluarga terpandang yang menemui pemuda itu dengan amarah yang meledak. "Kamu menyukai anakku? Apa kamu sedang bermimpi!" Ucap lantang seorang pria paru baya terdengar seperti petir yang baru saja menyambar. Pria paruh baya itu menatap penuh benci dan ejekan kepada pemuda yang sedang tertunduk menahan amarah dan malu. "Kamu ini hanya pemuda miskin tak berpendidikan, pengangguran, berani-beraninya menyukai anak saya, apa kamu nggak bisa ngaca, hah!" Pemuda itu agak terkesiap. Matanya menatap orang yang baru saja melontarkan hinaan pedas kepadanya. Ada rasa amarah yang membakar benaknya, namun apa daya pemuda itu tidak bisa meluapkan amarah itu karena dia sadar diri posisi dia saat ini sebagai tersangka. "Heh, Oji! Kamu tuh harusnya sadar dini, keluarga kamu tuh beda level!" hinaan yang sama juga keluar dari anggota keluarga pria itu yang turut datang. Pemuda yang akrab dipanggil Oji hanya bisa kembali menunduk. Dia sungguh tidak menyangka akan diinjak harga dirinya seperti ini. "Nggak perlu kamu ngaku-ngaku ke semua orang kalau kamu menyukai Arinda, nggak perlu," ucap sosok wanita yang usianya terbilang masih muda. "Gara-gara ulah kamu itu, Arinda sampai jadi bahan omongan semua orang. Kamu puas, bikin kami sekeluarga malu? Hah!" Bentak wanita yang sama. Oji tidak menunjukan reaksi apapun. Dia tidak menyangka, kalau yang candaannya akan berakibat seperti ini. "Kamu itu harusnya berpikir dulu, sebelum mengakui ke semua orang. Kita bukan level kamu yang setara dengan kamu," sosok wanita muda lainnya juga turut bersuara. "Kamu pikir, dengan kamu menyebar gosip tentang perasaan kamu yang menyukai Arinda, kami akan senang gitu?" Tidak! Itu penghinaan bagi keluarga besar kami." "Tapi aku tidak pernah menyebar gosip apapun, Mbak," kali ini Oji berusaha membela diri. "Sungguh, aku tidak tahu, siapa yang menyebar gosip itu?" "Alah, nggak usah bohong!" bentak sosok wanita lain lagi penuh kekesalan. "Terus fungsinya apa, kamu menyimpan foto Arinda, hah! Mau kamu santet?" Oji kembali terbungkam. Dia terpojok, tak bisa membela diri lagi. "Benar-benar nggak tahu diri banget kamu. Udah ayok, Pa, kita, pulang, alergi aku berada di rumah kumuh seperti ini." "Ingat, kalau sampai terjadi apa-apa sama anak saya, akan aku habisi kamu, paham!" Ancam si pria paruh baya. "Kalau sampai gosip itu tak kunjung reda, jangan harap kamu akan tenang tinggal di kampung ini. Camkan itu!" Pria yang dikenal sebagai penguasa kampung itu pun pergi bersama tiga wanita, anggota keluarganya. Oji mendongak, menatap penuh benci pada orang-orang yang baru saja menghinanya. Dadanya bergemuruh dan tangannya terkepal kuat. "Oji." Tiba-tiba ada suara lirih, yang memanggil nama pemuda itu. Oji pun menoleh dan secara mendadak hatinya terasa sesak. "Nenek," ucapnya lirih. Seorang wanita tua berusia sekitar enam puluh tahun mendekat. Wanita itu terisak lalu menggengam tangan cucunya. Sedari tadi, wanita itu memilih diam di dapur, sembari menahan sesak kala mendengar cucunya dihina oleh orang ternama di kampung. Nenek ingin membela, tapi tadi Oji sempat melarangnya dan meminta sang Nenek diam saja dan bersembunyi. "Bagaimana bisa mereka sangat jahat sama kamu, Ji? Apa mereka tidak punya hati?" Nenek berkata dengan suara gemetar. "Udahlah, Nek, nggak usah dipikirkan," Oji berusaha bersikap tenang. "Lagian, yang berharap jadi menantu Pak Cokro ya siapa. Baru dengar gosip aja, mereka langsung panas." Nenek tercenung menyaksikan sikap cucunya yang terkesan cuek. "Emang yang menyebar gosip itu siapa?" Tanya Nenek. "Kok bisa ada gosip seperti itu?" Oji sontak tersenyum sinis. "Aku tahu orangnya, Nek. Karena cuma dia yang tahu, kalau aku mengagumi anaknya Pak Cokro, benar-benar teman pengkhianat." Nenek kembali tercenung. "Aku pergi dulu, Nek, aku harus segera menyelesaikan masalah ini." "Mau kemana? Hujannya deras banget. Jangan melakukan perbuatan yang buruk. Nenek nggak mau kamu ada masalah lagi." "Tenang, Nek, cuma mau minta penjelasan saja," Oji pun bersiap untuk pergi. Begitu mantel sudah terpakai, Oji segera menuju motor butut yang telah lama mati pajak. Motor yang sudah basah kuyup itu dia nyalakan. Tak butuh waktu lama, motor pun melaju, menembus hujan yang masih deras. Oji mengarahkan motor itu ke salah satu rumah. Tapi sayang, di tengah perjalanan, tiba-tiba Oji merasakan ada yang aneh dengan motornya. "Ah, sial!" Umpatnya begitu motor berhenti. "Motornya kenapa lagi? Bikin kesal aja." Dalam guyuran hujan deras, Oji terus meluapkan kekesalannya sambil mencoba memeriksa motor butut peninggalan orang tuanyam "Brengsek! Sialan! Motor nggak ada gunanya!" maki Oji sambil menendang motor itu hingga terjungkal. Oji benar-benar meluapkan amarahnya yang sedari tadi dia pendam kepada motornya. Dadanya kembang kempis dengan amarahnya yang begitu besar, dia merutuki nasibnya saat ini. Puas melampiaskan amarahnya, Oji kembali memperbaiki posisi motornya lalu menuntun motor itu menuju ke tempat yang lebih terang dan bisa untuk berteduh. Begitu menemukan tempat yang sesuai, Oji segera mengarahkan motornya ke sana dan kembali memeriksa keadaan motor. "Apa itu?" Di saat matanya mengedar ke arah lain, tanpa sengaja, Oji melihat sebuah kotak kayu teronggok diantara batuan kerikil. Karena penasaran, Oji meraih kotak tersebut dan mencoba mengeringkannya karena basah terkena air hujan. Kening Oji berkerut kala melihat isinya. "Punya siapa ini?" Anak muda itu mengangkat satu persatu isi dalam kotak. "Uangnya tiga ratus ribu dan ini," Oji memperhatikan barang yang kini ada di genggamannya. "Kaya parfum, tapi kok nggak bau wangi," ucapnya, lalu dia membaca tulisan yang tertera dalam botol tersebut. "Semprotkan di area ketiak saja untuk mendapatkan hasil yang lebih memuaskan." Kening Oji semakin berkerut tajam. "Aneh, nggak ada baunya sama sekali, tapi disemprotkan ke ketiak. Emang apa fungsinya?" Oji meletakan botol tersebut berikut uangnya ke dalam kotak. Lalu kotak diletakķan di dekat kakinya dan dia kembali fokus ke motornya. Hingga beberapa puluh menit kemudian, Oji pun merasa puas karena motornya bisa dinyalakan. Di saat dia hendak pergi, matanya kembali terusik dengan kotak yang dia temukan. Oji memungut kotak tersebut. "Ini nggak ada yang merasa kehilangan apa gimana?" Gumamnya. Oji pun kembali membuka kotak tersebut. "Kalau ditinggalkan, sayang banget ini ada duitnya. Tapi kalau dibawa, nanti yang punya nyariin gimana?""Eugh..." suara khas tanda orang bangun tidur, keluar dari mulut pemuda yang saat tengah terbaring di atas karpet. Tubuhnya pun sedikit bergerak namun tiba-tiba tubuh itu terdiam dan merasa aneh.Anak muda yang akrab dipanggil Oji segera membuka matanya dan melempar tatapan ke arah lain. Betap terkejurnya anak itu kala matanya menangkap seseorang wanita."Kamu sudah bangun?" Dengan entengnya wanita itu malah melempar pertanyaan sambil melempar senyum."Apa yang kamu lakukan, Mbak?" Oji mengangkat tubuhnya sedikit dan wajahnya masih diliputi rasa heran.Wanita itu malah semakin tersenyum lebar dan nampak tersipu. "Maaf, ya, kalau aku lancang. Soalnya aku udah nggak tahan."Oji masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Dia lantas mengedarkan pandangannya ke sekitar dan raut herannya semakin kelihatan."Tadi kamu ketiduran. Sampai tokoku tutup kamu nggak bangun-bangun, jadi aku terpaksa tarik tubuh kamu ke dalam," tanpa diminta, wanita yang mengaku janda itu langsung memberi penjelasa
"Bukankah itu kotak kayu parfum kita?" Seorang pria nampak kaget begitu melihat benda yang dia kenal, teronggok diantara tumpukan sampah.Sosok pria itu pun mendekat untuk memastikan kalau dia tidak salah lihat. "Tuh, kan, benar, ini kotak ramuan itu, Jo!" Serunya antusias."Loh, iya,"rekan dari pria itu pun tak kalah senang. "Wah, akhirnya kita menemukan petunjuk baru," dia langsung celingukan, memperhatikan sekitarnya. "Kira-kira, sampah ini berasal dari rumah yang mana?""Itu dia yang harus kita cari tahu," ucap sosok yang saat ini mengenakan kaos hitam. "Pasti ini sampah salah satu rumah yang ada di sekiar sini."Sang rekan mengangguk dan mengiyakan. "Ya udah, kita cari rumah yang kehilangan parfum dulu. Setelah itu kita tinggal fokus cari orang yang menemukan kotak parfum ini.""Oke!" Kedua pria itu semakin semangat dalam melakukan usaha pencarian. Sedangkan di tempat lain, orang yang menemukan kotak kayu itu, sedang fokus dengan pekerjaan.Oji saat ini tengah sibuk melayani pem
"Ji, apa mungkin, Arinda marah sama kamu gara-gara dia pengin bermain ranjang juga?" Tiba-tiba Karin melempar pertanyaan yang membuat Oji terperanjat.Anak muda itu menoleh, menatap wanita yang tersenyum kepadanya, lalu Oji berpaling dan memilih memejamkan matanya."Kalau bisa sih, disaat seperti ini, kita jangan membahas orang lain dulu, Mbak," ucap Oji. "Bukankah kamu ngajak aku ke sini, untuk bersenang-senang? Jadi, nggak perlu lah, kita membahas hal yang tidak penting."Sekarang, giliran Karin yang tertegun. Wanita itu lantas tersenyum dan memilih mengalah dengan cara kembali mencium aroma ketiak Oji.Tidak ada obrolan lagi di antara mereka. Hingga beberapa menit berlalu, Karin baru menyadari kalau pria yang baru saja memuaskannya, kini telah terlelap."Sepertinya, kamu capek banget ya, Ji?" Gumam Karin, menatap lekat wajah anak muda yang terlelap. Dia tersenyum, lalu menempelkan bibirnya pada pipi Oji.#####Hingga beberapa jam kemudian, tubuh Oji menunjukan sebuah pergerakan, ya
Dua wanita yang sama-sama sudah memiliki cucu itu masih asyik berbincang. Sedangkan di luar warung, dua pria juga masih dalam kebingungan.Di saat bersamaan, datang lagi seorang wanita, memasuki warung tersebut. Wanita itu lebih muda dan sepertinya dia baru saja pergi karena dia datang menggukan motor maticnya."Eh, ada Nenek Sani," wanita itu terlihat sumringah sambil menyapa wanita yang usianya lebih tua darinya.Sapaan itu bukanya disambut dengan baik, tapi Nenek Sani malah terdiam dengan raut yang menandakan kalau dia terkejut. Nenek Sani cukup kenal dengan sosok wanita muda dan mereka sebenarnya hampir tak bertegur sapa tiap kali bertemu dan terkesan kurang ramah.Maka itu, Nenek Sani kaget, waktu sosok wanita itu bersikap ramah kepadanya. Beruntung, Nenek langsung menyadari sikapnya dan dia segera membalas sapaan dengan senyuman."Mbak Nadia darimana?" Tanya si pemilik warung. "Baru pulang kerja?""Iya nih, Mbok," balas Nadia sambil mencomot satu gorengan tempe. "Mbok aku minta






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.