MasukDentuman bass musik elektronik berdenyut keras di balik dinding kedap suara klub malam Vortex, tempat di mana kemewahan dan dosa berpadu tanpa batas.
Aroma alkohol mahal, parfum berkelas, dan asap shisha memenuhi udara remang-remang yang disiram cahaya laser merah-biru. Di sudut bar eksklusif lantai dua, Arkael melangkah pelan mengenakan setelan jas hitam tanpa dasi, menyapu pandangan ke sekeliling ruangan untuk memastikan tidak ada penguntit dari kubu Paman Dhandra yang mengekorinya. Arkael datang bukan untuk mencari pelarian atau kembali ke masa lalunya yang kotor sebagai pria sewaan, melainkan untuk menemui informan lama demi mengamankan dokumen aset pribadinya sebelum klausul tiga puluh hari mengunci pergerakannya. "Mencari mangsa baru atau sedang bersembunyi dari takdirmu, Arkael?" Suara desisan halus berbalut aroma parfum *om Ford yang pekat menghentikan langkah Arkael tepat di depan meja bar. Arkael menoleh perlahan. Di hadapannya, Tania, wanita sosialita elit dengan gaun malam belahan tinggi berwarna zamrud, menatapnya lekat sambil memutar gelas berisi Martini di jemarinya yang berhias berlian. Sudut bibir wanita itu terangkat membentuk senyum sinis yang menyimpan sejuta rahasia gelap. "Tania," panggil Arkael datar, tatapannya menyipit mengamati wanita yang dulu merupakan salah satu klien paling berpengaruh di lingkaran atas klub tersebut. "Kau tidak terlihat seperti sedang menikmati pesta malam ini. Ada apa? Target investasimu gagal?" Tania tertawa kecil, suara tawa yang terdengar dingin dan penuh perhitungan. Tania menyesap minumannya sebelum menjawab, "Investasi selalu bisa dicari, Arkael. Tapi, menemukan mantan pesuruh jalanan yang mendadak dilantik menjadi pewaris mutlak dinasti Mozaus? Itu adalah berita paling menarik di seluruh lantai bursa minggu ini." Arkael menegangkan rahangnya. Ia melangkah lebih dekat, menempatkan tubuhnya tepat di samping Tania untuk meredam suara mereka dari bisingnya musik. "Berita menyebar sangat cepat di antara para lintah darat berjas mewah. Siapa yang membocorkan keberadaanku padamu?" "Tidak perlu tahu siapa yang membisikkan berita itu, Sayang," balas Tania santai, melayangkan tatapan menyelidik ke arah setelan jas mahal yang membalut tubuh atletis Arkael. "Yang lebih menarik adalah, kudengar kau sedang pusing tujuh keliling mencari seorang istri dalam waktu tiga puluh hari demi mengamankan saham mayoritas dari cengkraman Paman Dhandra." Arkael menatap mata tajam wanita di sampingnya. Konflik batin mendadak bergejolak hebat di kepalanya, ia bertekad membawa Aurora keluar dari gang sempit dan melindunginya, namun melibatkan wanita yang dicintainya ke dalam kancah perang darah keluarga Mozaus sama saja dengan menyerahkannya pada serigala. Di sisi lain, Tania adalah predator berdarah dingin yang tidak memiliki rasa iba, artinya, wanita itu memahami aturan main dunia kotor mereka tanpa melibatkan emosi rapuh. "Kau tahu banyak hal, Tania. Apa tujuannya membongkar semua ini di hadapanku?" tanya Arkael tajam, mengabaikan nada menggoda yang terselip di suara wanita itu. "Tujuannya sederhana," ucap Tania mendekatkan wajahnya, aroma napasnya berpadu dengan dinginnya malam. "Aku bosan hanya menjadi boneka hias di antara para direktur tua korup yang mengatur pernikahan bisnis. Aku butuh kekuasaan, dan kau butuh legitimasi hukum untuk singgasana Mozaus." "Kau menawarkan aliansi?" selidik Arkael, mencerna setiap gerak-gerik wanita berdarah dingin itu. "Tepat sekali," jawab Tania tanpa ragu. "Pernikahan di atas kertas. Aku membantumu menyingkirkan cengkraman Dhandra dari dewan komisaris menggunakan relasi perbankanku, dan sebagai imbalannya, aku menduduki kursi nyonya besar Mozaus dengan seluruh fasilitas serta perlindungan hukum yang melekat." Arkael terdiam sesaat. Pilihan ini jauh lebih aman bagi Aurora, ia bisa menyembunyikan Aurora di tempat perlindungan rahasia tanpa harus menyeret wanita itu ke garis depan pertempuran keluarga. Namun, mempercayai ular beracun seperti Tania sama saja menaruh pisau di lehernya sendiri. "Kau pikir aku pria bodoh yang bisa kau setir semaumu, Tania?" ucap Arkael dingin, menguji batas kesabaran sang sosialita. "Bukan di setir, Arkael. Kita bekerja sama sebagai dua predator yang saling membutuhkan," balas Tania penuh percaya diri, mempertahankan kontak mata tanpa gentar. "Dhandra sedang menyiapkan jebakan besar di rapat pemegang saham minggu depan. Tanpa bantuanku, kau akan kehilangan separuh aset sebelum bulan ini berakhir." Arkael merenungkan setiap kata yang meluncur dari bibir Tania. Situasinya teramat mendesak, dan waktu terus berjalan mundur, ia tidak punya banyak pilihan jika ingin merobohkan dominasi sang paman dari dalam sistem korporasi global tersebut. Dengan gerakan cepat yang tidak terduga, Arkael maju selangkah, mencengkram pinggang Tania mendekat hingga tubuh mereka nyaris tanpa jarak di tengah kerumunan gemerlap klub malam. Tania sedikit terkesiap, napasnya tertahan sesaat oleh dominasi yang mendadak dipancarkan oleh pria di hadapannya. Arkael menunduk, mendekatkan bibirnya ke telinga wanita itu, lalu berbisik dengan suara rendah yang penuh ancaman. "Bagaimana kalau kita membuat kontrak pernikahan palsu yang saling menguntungkan?” Tania tidak langsung menjawab. Napas hangatnya bergesekan langsung dengan kulit leher Arkael, sementara jemarinya yang berhias kuku lentik perlahan merayap naik, mencengkram kerah jas pria itu dengan cengkraman yang sama tegasnya. Di balik tatapan mata mereka yang saling mengunci, pertarungan psikologis kelas berat tengah berlangsung tanpa suara di tengah dentuman bass kelab malam yang memekakkan telinga. "Kontrak pernikahan palsu?" bisik Tania akhirnya, suaranya terdengar bergetar kecil, bukan karena takut, melainkan karena adrenalin yang mendadak memuncak akibat taruhan besar yang disodorkan di hadapannya. "Kau pikir permainan hukum dewan direksi Mozaus bisa dikelabui hanya dengan secarik kertas perjanjian di atas meja pengacara picisan?" "Jangan meremehkan apa yang bisa kulakukan, Tania," balas Arkael dingin, mempererat cengkeraman di pinggang wanita itu hingga lekuk tubuh mereka menempel sempurna. "Aku tahu persis bagaimana cara kerja para tikus berdasi di lantai bursa. Jika kau ingin kursi kekuasaan itu, kau harus berani bertaruh di atas pisau bermata dua." Tania mendengus pelan, sebuah senyum penuh kemenangan tersungging di bibir merahnya yang mengkilap. "Kau telah berubah banyak, Arkael. Dulu kau hanya pesuruh jalanan yang patuh melayani bayaran klien. Sekarang, mata seekor serigala telah sepenuhnya mengambil alih dirimu." "Dunia yang memaksaku berubah," potong Arkael tandas. "Jadi, apa keputusanmu? Kita bermain di tim yang sama untuk menghancurkan Dhandra, atau kau memilih mundur dan melihatku meratakan seluruh aset keluargamu tanpa ampun?" "Aku tidak pernah terbiasa berada di pihak yang kalah, Sayang," jawab Tania tanpa ragu sedikitpun. Tania melepaskan tangannya dari kerah jas Arkael, lalu merapikan lipatan kain tersebut dengan gerakan lambat yang elegan. "Tapi, syaratku satu, begitu Dhandra tersingkir dan saham mayoritas berada di tangan kita, pembagian aset harus diatur di depan notaris independen. Aku tidak ingin menjadi korban kesekian dari kelicikan dinasti Mozaus." Arkael mengangguk tipis, menyetujui syarat logis dari wanita cerdas di hadapannya. "Kesepakatan diterima. Jenar akan menyiapkan draf kontrak hukumnya besok pagi sebelum matahari terbit." "Bagus," ucap Tania meneguk sisa Martini di gelasnya dalam sekali teguk, lalu meletakkan gelas kosong itu kembali ke atas meja bar dengan suara dentingan tajam. "Satu hal lagi, Arkael. Pamanmu tidak sebodoh yang kau kira. Dia sudah menyiapkan langkah antisipasi untuk menghadang legitimasi pernikahanmu di depan dewan komisaris. Kau butuh penampilan publik yang meyakinkan, seolah-olah kita adalah pasangan paling serasi yang dimabuk cinta." "Publik tidak butuh cinta, Tania. Mereka hanya butuh keyakinan bahwa kekuasaan ini memiliki pewaris sah yang tidak bisa digoyahkan," balas Arkael tegas. Arkael melepaskan rangkulannya dari pinggang Tania, menegakkan kembali postur tubuhnya yang tegap. Tanpa mengucapkan selamat tinggal atau basa-basi khas sosialita, Arkael membalikkan badan dan melangkah pergi meninggalkan meja bar, menembus kerumunan orang-orang yang berdansa liar di bawah kelap-kelip lampu disko. Tania terpaku sejenak di tempatnya, menatap punggung Arkael yang semakin menjauh menuju pintu keluar klab malam Vortex. Senyum misterius terkembang di bibirnya, menyadari bahwa ia baru saja menautkan nasibnya dengan salah satu predator paling berbahaya yang pernah dilahirkan oleh keluarga Mozaus. Di luar gedung, udara malam ibu kota menyambut Arkael dengan hembusan angin dingin yang menusuk tulang. Arkael melangkah masuk ke dalam sedan hitam berlogo singa emas yang telah menantinya di parkiran khusus. Mesin mobil menderu halus, membelah jalanan aspal basah yang memantulkan lampu-lampu neon kota. Namun, di balik keputusannya menggandeng Tania sebagai istri kontrak untuk mengecoh dewan direksi, sebuah duri tajam masih menusuk relung hatinya, bayangan Aurora. Arkael tahu, menyembunyikan rencana pernikahan palsu ini dari wanita yang paling dicintainya adalah sebuah pertaruhan moral yang sangat kejam. Jika Aurora sampai mengetahui bahwa dirinya terikat pernikahan formal dengan wanita lain demi ambisi kekuasaan, dunia kecil yang mereka bangun di gang sempit itu pasti akan runtuh berkeping-keping. Arkael mengepalkan tangan kanannya di atas jok kulit mobil, bersumpah dalam hati bahwa setelah singgasana Mozaus berhasil ia rebut dan para pengkhianat itu bersujud di kakinya, ia akan menebus seluruh air mata Aurora dengan seluruh kekayaan dunia yang kini berada dalam genggamannya."Jangan sok mengatur di kamar ini, Tania. Kita hanya rekan bisnis." Arkael melepas jasnya dengan kasar di kamar pengantin mereka yang mewah.Suara hempasan kain jas yang jatuh ke atas sofa beludru memecah keheningan malam di dalam kamar tidur utama istana Mozaus. Lampu gantung kristal memancarkan cahaya temaram yang menciptakan bayangan panjang di dinding pualam. Arkael berdiri tegak di hadapan meja rias besar, melonggarkan ikatan dasi hitam di lehernya dengan gerakan kasar yang mencerminkan sisa-sisa emosi akibat insiden di ruang makan tadi.Tania yang masih berdiri di dekat pintu masuk melipat kedua tangannya di dada.Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis yang sarat akan rasa jengkel. "Kau tidak perlu bersikap seolah-olah aku berniat merusak malam pertama kita, Arkael. Aku juga tidak punya ketertarikan sedikit pun pada mantan pesuruh jalanan yang mendadak jadi pengusaha ini."Arkael berbalik, menatap tajam wanita di hadapannya dengan sorot mata sedingin es. "Bagus kalau
Cahaya lampu kristal raksasa memantulkan kemegahan ruang makan utama istana Mozaus, tempat di mana meja panjang berbahan kayu jati tua dipenuhi berbagai hidangan mewah. Bau daging panggang bercampur rempah mahal menguar di udara, namun atmosfer di sekeliling meja justru terasa sangat membeku dan penuh ketegangan. Dhandra, Kalandra, dan Bramantyo duduk menempati kursi kehormatan dengan ekspresi wajah yang mengeras sempurna begitu pintu ganda ruang makan terbuka lebar.Langkah kaki tegas menggema di atas lantai marmer, memecah kesunyian malam saat dua sosok manusia melangkah masuk berdampingan."Kenalkan, ini wanita yang akan dinikahi oleh pewaris tunggal keluarga Mozaus," ucap Arkael dingin, suaranya membelah ruangan tanpa keraguan sedikit pun.Ia menggandeng lengan Tania erat, membiarkan sosialita bergaun malam sutra hitam itu berdiri tegak dengan senyum penuh kemenangan di sampingnya.Kehadiran Tania di tengah-tengah benteng keluarga inti Mozaus langsung memicu gempa kecil yang mem
"Menikah denganmu demi harta keluarga Mozaus? Penawaran yang menarik, tapi apa untungnya buat aku, Arkael?" Tania menatap tajam sambil menyesap wine mahalnya.Suasana sudut VIP kelab malam yang remang-remang mendadak terasa lebih dingin dari biasanya.Cahaya lampu gantung kristal kecil di atas meja mereka memantulkan kilau merah keunguan di permukaan cairan merah pekat di dalam gelas kristal Tania.Wanita itu menyandarkan punggungnya ke sofa kulit hitam, melipat kedua tangan di depan dada dengan postur tubuh yang menunjukkan dominasi penuh.Arkael tidak langsung menjawab. Ia menarik napas pelan, meresapi aroma alkohol dan parfum mewah yang menguar di sekitarnya. "Kau sudah menyebutkannya sendiri tadi, Tania. Kursi kepemimpinan Mozaus Corp tidak bisa diakses oleh orang luar tanpa aliansi darah atau pernikahan sah. Dengan menikahiku, kau otomatis melompati tembok pembatas kaum elite yang selama ini mengasingkanmu dari lingkaran inti dewan direksi."Tania mendengus pelan, sudut bibirnya
Dentuman bass musik elektronik berdenyut keras di balik dinding kedap suara klub malam Vortex, tempat di mana kemewahan dan dosa berpadu tanpa batas.Aroma alkohol mahal, parfum berkelas, dan asap shisha memenuhi udara remang-remang yang disiram cahaya laser merah-biru.Di sudut bar eksklusif lantai dua, Arkael melangkah pelan mengenakan setelan jas hitam tanpa dasi, menyapu pandangan ke sekeliling ruangan untuk memastikan tidak ada penguntit dari kubu Paman Dhandra yang mengekorinya. Arkael datang bukan untuk mencari pelarian atau kembali ke masa lalunya yang kotor sebagai pria sewaan, melainkan untuk menemui informan lama demi mengamankan dokumen aset pribadinya sebelum klausul tiga puluh hari mengunci pergerakannya."Mencari mangsa baru atau sedang bersembunyi dari takdirmu, Arkael?"Suara desisan halus berbalut aroma parfum *om Ford yang pekat menghentikan langkah Arkael tepat di depan meja bar.Arkael menoleh perlahan.Di hadapannya, Tania, wanita sosialita elit dengan gaun mala
"Kau boleh memegang seluruh saham perusahaan, tapi syaratnya mutlak, kau harus menikah dalam waktu satu bulan." Paman Dhandra tersenyum licik di balik kepulan asap cerutunya.Cahaya lampu meja kerja mahoni memantulkan bayangan asap kelabu yang mengepul di udara ruang baca perpustakaan pribadi kakek.Arkael berdiri tegak di hadapan meja besar tersebut, menatap lembaran dokumen hukum yang dibentangkan oleh Jenar dengan tangan sedikit gemetar menahan amarah.Di sekeliling ruangan, Dhandra Mozaus dan istrinya, Kalandra, berdiri berdampingan dengan senyum kemenangan yang sulit disembunyikan di wajah mereka."Syarat menikah?" Arkael menyipitkan mata, menatap tajam ke arah sang paman. "Apa hubungannya kepemilikan saham pengendali dengan status pernikahan?""Kakekmu ingin memastikan bahwa pewaris takhta Mozaus bukan hanya seorang berandalan jalanan yang tidak tahu aturan, melainkan kepala keluarga yang mapan secara sosial," jawab Dhandra santai, menjentikkan abu cerutunya ke asbak kristal. "D
"Selamat datang di kandang serigala, cucu malang." Sambutan penuh racun dari Bibi Kalandra menyambut langkah pertama Arkael menapaki lantai marmer putih kediaman utama Mozaus.Arkael menghentikan langkahnya tepat di tengah ruangan yang luasnya menyerupai balai istana kerajaan.Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit tinggi memantulkan cahaya berkilau di atas permadani wol merah tua yang membentang luas.Di sekeliling ruangan, belasan anggota keluarga besar Mozaus duduk di kursi sofa bergaya klasik dengan tatapan menilai, mencemooh, dan merendahkan.Aroma parfum mahal bercampur dengan ketegangan udara yang pekat memenuhi rongga dada."Kandang serigala?" Arkael balas menatap Kalandra tanpa gentar sedetik pun.Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis yang tipis. "Sayangnya, aku terbiasa hidup di jalanan di mana kelaparan jauh lebih berbahaya daripada anjing peliharaan rumahan seperti kalian."Kalimat dingin itu langsung membuat rahang Kalandra mengeras.Wanita paru







