LOGINDicap mandul, miskin, lalu diusir oleh keluarga istrinya setelah kehilangan pekerjaan, hidup Raka semakin hancur ketika memergoki wanita yang dicintainya berselingkuh dengan pria kaya. Di ambang keputusasaan, ia teringat wasiat mendiang ayahnya tentang sebuah kotak yang selama ini tak pernah berani ia buka. Di dalamnya tersimpan sebuah kitab bernama Cakra Asmara, berisi teknik yang mampu menyembuhkan berbagai penyakit sekaligus menaklukkan hati para wanita elite.
View More"Sayang, aku pengen nih..." rayu Raka sambil memeluk tubuh Maya yang berbaring di sampingnya. "main yuk?"
Namun, Maya langsung menepis pelukan Raka dengan kasar. Penolakan itu membuat Raka mengernyit sebelum akhirnya menatap istrinya dengan serius. "Maya, aku ini suamimu," ucap Raka tegas. "Kenapa kamu bersikap begini?" Maya bangkit dari tempat tidur lalu menatap Raka dengan sorot mata tajam. "Kalau kamu memang benar-benar suamiku, kenapa sampai sekarang kamu belum bisa kasih aku anak?" tanya Maya dengan nada tinggi. Ucapan itu membuat Raka seketika terdiam. Setelah beberapa saat, ia menarik napas panjang sebelum berusaha menjelaskan dengan tenang. "Maya, kita baru menikah satu tahun," jelas Raka. "Banyak pasangan yang sudah menikah lebih lama dari kita, tapi juga belum dikaruniai anak." Maya tersenyum sinis mendengar ucapan Raka. "Itu terus yang kamu bilang!" bantah Maya. "Aku sudah bosan dengarnya. Asal kamu tahu, aku sudah periksa kesuburan dan hasilnya normal." "Sabar, Maya. Mungkin ini memang cobaan buat kita," ujar Raka dengan tenang. "Lagi pula, kondisi keuangan kita sekarang sedang nggak baik. Aku nggak mau anak kita nanti tumbuh serba kekurangan. Anggap saja kita masih punya waktu buat mempersiapkan semuanya." "Dasar laki-laki nggak berguna!" ejek Maya sambil turun dari ranjang dan hendak melangkah pergi. "Sudah mandul, miskin pula!" Namun, belum sempat Maya melangkah, Raka sudah lebih dulu menahan tangannya dan berdiri di belakangnya. "Jaga ucapanmu, Maya," ucap Raka. "Memangnya aku seburuk itu di matamu?" "Kamu masih nanya?" Maya berbalik, lalu berkata dengan sinis. "Aku benar-benar menyesal sudah menikah sama laki-laki seperti kamu!" Maya menarik tangannya hingga terlepas dari genggaman Raka, lalu melangkah keluar kamar sambil mengambil ponselnya di meja rias. "kamu mau ke mana malam-malam begini?" tanya Raka tanpa beranjak sedikit pun. Maya tidak menjawab pertanyaan Raka dan langsung menutup pintu kamar dengan kasar. Raka menggeleng pelan sambil mengembuskan napas panjang. Raka melangkah menuju pintu. Namun, tepat saat tangannya hendak meraih gagang pintu, ia mendengar Maya sedang berbicara melalui telepon di ruang tamu. Langkahnya pun seketika terhenti. "Aku sudah muak di rumah ini. Jemput aku sekarang, Mas," ucap Maya di luar kamar. Mendengar percakapan itu, Raka segera membuka pintu dan bergegas menghampiri Maya yang sedang duduk di ruang tamu. Tanpa berpikir panjang, ia merebut ponsel dari tangan istrinya. "Siapa kamu? Berani sekali telepon istri saya malam-malam begini!" ujar Raka tegas sambil menempelkan ponsel itu ke telinganya. "Kamu ini kenapa, sih? Seenaknya saja rebut ponselku!" bentak Maya dengan kesal. "Diam!" hardik Raka sambil menatap Maya dengan sorot mata tajam. "Halo! Jawab! Kamu siapa?" seru Raka kepada orang di seberang telepon. Namun, pria di balik sambungan itu tidak memberikan jawaban. Sambungan telepon langsung terputus begitu saja. Maya segera merebut kembali ponselnya dari tangan Raka. "Mulai sekarang, jangan pernah ikut campur urusanku!" bentaknya. Emosi Raka seketika memuncak. Ia mengangkat tangannya, hendak menampar Maya. Namun, tangannya berhenti di udara dan bergetar hebat, berusaha menahan amarah yang memenuhi dadanya. "Dasar suami sialan!" Maya menatapnya dingin. "Coba saja kamu berani tampar aku. Aku laporkan kamu ke polisi!" Tanpa menunggu jawaban, Maya berbalik, membuka pintu dengan kasar, lalu pergi meninggalkan rumah. Raka hanya mampu menatap kepergian istrinya tanpa bisa berbuat apa-apa. Perlahan, ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa dan menutup wajah dengan kedua tangan. "Aku harus bagaimana sekarang?" gumam Raka lirih. Di tengah pikirannya yang kacau, Raka tiba-tiba teringat pesan terakhir ayahnya sebelum meninggal tiga tahun lalu. "Di dalam lemari ada sebuah kotak. Apa pun yang terjadi, jangan pernah buka kotak itu sebelum kamu menikah." Saat itu Raka hanya mengangguk sambil menahan tangis. "Iya, Yah. Aku janji." Selama tiga tahun, janji itu terlupakan olehnya. Kotak itu tetap tersimpan rapi di dalam lemari milik ayahnya, tak sekali pun ia menyentuhnya. Lamunannya buyar ketika terdengar suara mobil berhenti di depan rumah, disusul suara Maya yang sedang berbicara dengan seseorang. Tanpa berpikir panjang, Raka segera berlari keluar. Begitu tiba di halaman, ia melihat Maya berdiri di samping seorang pria di dekat sebuah mobil. "Bajingan! Berani-beraninya kamu dekati istriku!" teriak Raka penuh amarah. Namun, Maya sama sekali tidak menghiraukannya. Ia justru membuka pintu mobil, lalu menoleh kepada pria di sampingnya. "Ayo, Mas, kita pergi," ucap Maya dingin. "Nggak usah pedulikan laki-laki nggak berguna itu." Langkah Raka seketika terhenti. Ia hanya mampu mengepalkan kedua tangan sambil menatap mobil yang membawa istrinya pergi hingga akhirnya kendaraan itu menghilang di balik gelapnya malam. Raka kembali masuk ke dalam rumah dengan langkah gontai. Ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa dan menatap kosong ke depan, seolah seluruh tenaganya telah terkuras. "Semuanya sudah telanjur begini," gumamnya lirih. "Lebih baik aku periksa peninggalan Ayah sekarang, sebelum nanti aku lupa lagi.""Itu, Mas Raka," ucap Anin malu-malu. "Kita mau pesan terapi relaksasi."Raka sempat terdiam sambil menatap ketiga wanita di dekatnya."Kalian pasti lelah, ya?" tanya Raka. "Atau kalian mau libur?"Wajah Anin dan Rania seketika menunjukkan kekecewaan karena Raka tidak memahami maksud mereka. Mereka sebenarnya hanya ingin dipijat oleh Raka, bukan karena merasa lelah, melainkan karena ingin kembali merasakan sensasi yang mereka rasakan setiap kali mendapatkan pijatan darinya."Ehm... nggak kok, Mas Raka," jawab Anin. "Kita cuma mau dipijat aja.""Oh, ya sudah kalau begitu," jawab Raka sambil tersenyum. "Besok atau lusa aku akan memijat kalian bergantian."Ririn menoleh ke arah Anin dan Rania, lalu mengangguk senang."Mantap... Kita dipijat lagi sama Mas Raka," seru Anin dengan wajah ceria."Iya, nih. Sudah lama nggak merasakan pijatan Mas Raka," sambung Rania malu-malu."Dasar kalian ini," ucap Raka sambil tersenyum dan menggelengkan kepala.Beberapa saat kemudian, Pak Dirga dan Bunda L
"Surat ini berisi undangan untuk menghadiri Forum Komunikasi & Edukasi Regulasi Pelayanan Kesehatan Tradisional dan Alternatif," jelas Raka."Tunggu, Pak Raka," sela Pak Fajar sambil mengernyitkan dahi. "Aku merasa ada yang janggal dengan forum itu."Raka dan yang lainnya langsung menatap Pak Fajar dengan serius."Rumor apa, Pak Fajar?" tanya Raka. "Bisakah Anda menjelaskannya?""Jadi, waktu saya masih menempuh pendidikan..."Pak Fajar kemudian mulai menjelaskan. Saat masih menempuh pendidikan fisioterapi, ia sempat mempelajari teknik pijat tradisional. Namun, salah seorang seniornya pernah mengingatkan agar dirinya tidak terlalu mendalami terapi tradisional.Alasannya, organisasi kesehatan modern tidak menyukai praktik tersebut. Jika Pak Fajar tetap menggabungkan keahliannya dengan terapi tradisional, ia dikhawatirkan akan mengalami kesulitan ketika mencari pekerjaan."Awalnya aku tidak percaya," lanjut Pak Fajar. "Tapi setelah aku mencoba melamar pekerjaan dengan menyertakan keahlia
Kalimat itu membuat Kiera terdiam. Perempuan itu menundukkan kepalanya sejenak, seolah mencerna perkataan Raka, sebelum akhirnya kembali menatap lelaki di hadapannya."Terima kasih, Raka," ucap Kiera. "Aku nggak mau menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh semua pihak. Aku akan berusaha sebaik mungkin."Raka tersenyum, lalu menepuk bahu Kiera. "Bagus. Tapi ingat, jangan memaksakan diri.""Iya, Raka. Tenang saja," gerutu Kiera. "Kamu ini selalu saja menyuruhku untuk nggak memaksakan diri, padahal aku sendiri nggak melakukan apa-apa."Raka tersenyum mendengar celotehan Kiera. Begitu juga dengan yang lainnya. Suasana yang sebelumnya sempat terasa canggung di antara Raka dan Kiera pun kini perlahan mencair. Kiera bahkan sudah bisa kembali bercanda seperti biasanya."Sepertinya sudah cukup untuk hari ini," sahut Pak Fajar, lalu menoleh ke arah Maharani. "Bu Maharani, aku memiliki sebuah ide.""Ide? Jelaskan padaku," tanggap Maharani."Daripada kita bolak-balik untuk melatih Kiera di f
Raka hendak menjawab pertanyaan Maharani, tetapi suara dari arah belakang membuatnya menoleh."Aku ditinggal begitu saja. Parah banget!" seru Kiera. Namun, ketika tatapan mereka bertemu, wajah Kiera kembali memerah sebelum akhirnya ia segera memalingkan wajah, berusaha mengabaikan ingatan tentang sesi terapi tadi.Melihat perubahan ekspresi Kiera, Raka hanya bisa menghela napas. Ia bahkan mulai berpikir bahwa kejadian selama terapi tadi mungkin akan membuat Kiera merasa canggung atau bahkan marah kepadanya."Ya, kan, kamu tadi tidur," jawab Raka, berusaha bersikap santai. "Masa aku tungguin sambil bengong?""A-aku nggak tidur, kok," ucap Kiera tanpa menatap Raka.Maharani yang melihat keanehan sikap Kiera langsung menatap Raka dengan curiga."Raka, kamu habis melakukan apa dengan Kiera?" sahut Maharani.Raka dan Kiera tersentak kaget mendengar pertanyaan itu, sementara Ririn terlihat tersenyum kecil karena mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di ruang terapi."Memangnya apa lagi ya
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore