LOGINSebagai pemulung miskin, aku menemukan gelang warisan Ayah yang memaksaku menjalin kedekatan paling intim dengan para wanita—setiap “penyatuan” dengan mereka memicu mimpi yang mengungkap jalan menuju kekayaan.
View MoreJaka menelan ludah berulang kali. “Ta-tapi… dari mana kau bisa mengetahui semua skenario ini, Kandita?” tanya Jaka parau, suaranya hampir tak terdengar.Kandita perlahan menundukkan kepala. Bahunya berguncang halus seraya air mata bening mulai menggenang dan menetes membasahi pipi mulusnya. “Dari ibuku… Nyai Sekarsari. Semua ini diceritakannya tepat sebelum kematian tragisnya di tangan ayahku sendiri.”“I-ibumu?”Kandita mengangguk pelan, mengusap lelehan air mata di wajahnya dengan ujung lengan gaunnya. “Iya, Jaka,” jawabnya sangat lirih, sarat akan duka yang teramat mendalam. “Di detik-detik akhir hayatnya, Ibuku membisikkan pesan terakhir padaku. Dia memintaku melakukan apa saja agar ayahku tidak pernah berhasil menguasai tiga pusaka langit itu. Karena… jika ketiga pusaka itu jatuh ke tangan Sagara Wisesa, Negeri Tirtawana ini akan hancur lebur, dan seluruh penghuni Desa Ujung Karang akan menerima imbasnya.Buk!Lutut Jaka mendadak lemas hingga ia terduduk di atas hamparan rumput T
“A-ada apa ini?” Jaka membelalak hebat, matanya menyapu sekeliling dengan cemas.Tanah Tirtawana yang semula memancarkan ketenangan tiada tara mendadak berganti rupa menjadi begitu mencekam. Danau yang awalnya tampak sejernih kristal kini berkilat menakutkan, memantulkan pendar merah pekat dari sang purnama yang tergantung kusam di langit-langit dimensi ini. Gemerisik daun bambu dan aroma teratai yang menentramkan tergilas oleh pendar hawa gersang yang menusuk hingga ke sumsum tulang.“Jaka…” lirih Kandita seraya melangkah makin mendekat. Jemari tangannya mengepal erat di depan dada, sementara matanya yang berkaca-kaca menatap Jaka penuh gantung harapan. “Aku tidak tahu apakah ini suratan takdir yang sudah digariskan para leluhur atau bukan, tapi… aku sangat yakin, keselamatan negeri ini dan seluruh nyawa di Desa Ujung Karang kini berada di tanganmu.”Glek!Jaka menelan ludah susah payah, merasakan kerongkongannya mendadak menyempit. “M-maksudmu apa, Kandita?” tanya Jaka dengan nada b
Dada Jaka kembali berdesir pelan tatapan mata Kandita mengunci sorot matanya. Ada keseriusan yang amat dingin terpancar dari balik sepasang manik jernihnya, sebuah isyarat terselubung bahwa ajakan tersebut bukanlah sekadar obrolan biasa, melainkan pintu masuk menuju rahasia besar yang menyelimuti keberadaan mereka di Tirtawana. Namun, sebelum Jaka sempat melangkahkan kaki, sebuah cengkeraman halus memagut pergelangan tangannya. Jaka menoleh dan mendapati Arum menatapnya dengan raut cemas. Matanya yang indah memancarkan rasa waswas yang tak mampu disembunyikan. Walau racun Ki Jagad telah musnah dan rona kehidupan kembali mewarnai parasnya, ketakutan akan bahaya yang baru saja mereka lalui masih membayang jelas di ingatan sang istri. "Jaka... mau ke mana?" bisik Arum lirih, jemarinya meremas jemari Jaka kian erat, seolah takut jika sang suami akan mendadak hilang tersedot ke kegelapan alam asing ini. Jaka merendahkan tubuhnya, berlutut di sisi dipan Arum dengan mentari buatan Tirta
"Arum..." bisik Jaka parau, napasnya masih terengah-engah tepat di atas wajah istrinya. Pandangan Arum yang semula kabur perlahan-lahan memperjelas sosok pria yang berada di atas tubuhnya. Pendar pucat di wajah Arum sirna sepenuhnya, berganti dengan rona merah alami yang memancar dari kulit mulusnya. Racun pekat yang tadinya menggerogoti jalur energi sukmanya kini telah musnah, dinetralkan sepenuhnya oleh benih hangat dan energi murni yang memenuhi rahimnya. "Jaka... kamu... kamu selamat?" lirik Arum pelan. Jemari halusnya yang kini kembali bertenaga terangkat, mengelus lembut rahang Jaka yang masih basah oleh peluh. "Aku selamat, Sayang. Dan kamu... kamu sudah pulih," balas Jaka seraya mengecup kening Arum penuh kehangatan. Jaka merosotkan tubuhnya perlahan ke samping, menarik napas dalam-dalam saat merasakan fisiknya sendiri telah bugar kembali secara utuh. Nyeri di dadanya hilang tanpa bekas, digantikan oleh pendar energi murni dari tiga pusaka yang kini mengalir stabil di dala
Jaka tercengang, ia benar-benar tidak menyangka Bu Lilis akan memberi tawaran seperti ini. Jaka terpaku, matanya terhenti pada belahan kembar wanita itu yang mengintip di balik daster kerah rendah yang ia pakai. “Anu, Bu… saya…” Jaka benar-benar gugup. Tawaran seperti ini tentu saja sangat menggi
Setibanya di rumah, Jaka langsung membuka amplop pemberian Bu Susi sambil mengatur posisi kejantanannya yang masih mengeras. “Hah?” Jaka terkejut, ternyata isi amplop itu lumayan banyak. “Satu, dua, tiga, empat…” Jaka terbelalak. “Lima ratus ribu?” Jaka menggeleng, ia benar-benar tidak menyangka
Akhirnya sore itu, Jaka mengurungkan niatnya untuk mengais barang bekas. Ia memilih mengantar Bu Susi sampai ke rumah yang kebetulan satu arah dengan rumahnya. Sepanjang perjalanan, mata Jaka tidak pernah lepas dari dua bukit kembar guru itu yang tampak naik turun seirama langkah kakinya. Kaos Jak
Setelah makan siang, Jaka duduk di depan rumah sambil menghisap sebatang rokok. Pikirannya masih melayang memikirkan beberapa kejadian aneh yang dialaminya hari ini. Dari mulai sikap warga yang mulai lebih baik kepadanya sampai perubahan fisiknya yang membuat Jaka sendiri heran. Jaka meraba otot l






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore