Mag-log inSebagai pemulung miskin, aku menemukan peninggalan rahasia Ayah berupa gelang misterius yang mengikatku pada takdir tak terduga. Setiap kali terhubung lebih dalam dengan wanita terpilih, sebuah penglihatan hadir dalam mimpiku, membukakan jalan dan petunjuk rahasia menuju kekayaan yang tak terbayangkan.
view more“Ahh! Shh! Pelan-pelan, Pak.”
Desahan itu terdengar samar, nyaris tertelan sunyi sore, namun cukup jelas untuk membuat langkah Jaka terhenti. Ia yang tengah mengais barang-barang bekas di gudang plastik terbengkalai di sudut desa mendadak membeku. Jantungnya berdegup lebih cepat, antara terkejut dan penasaran. “Suara siapa itu?” batinnya. Jaka berjalan mendekat dan melihat pintu belakang gudang sedikit terbuka. Harusnya tidak ada orang di sini, ini gudang terbengkalai yang sudah di tutup setahun lalu, apalagi letaknya jauh dari keramaian desa. Ia mengendap-endap, langkahnya pelan namun terarah pasti menuju pintu tersebut. “Shh! Saya takut, Pak!” Suara itu terdengar lagi. Jaka mengerjap, jantungnya berdebar kencang. “Itu jelas suara desahan, enggak salah lagi,” batinnya. Bermodalkan rasa penasaran yang membumbung tinggi, Jaka mengintip dari celah pintu yang terbuka. Dan seketika matanya terbelalak. “P-Pak Kades?!” gumamnya sambil menutup mulut. Di dalam gudang, Jaka melihat Pak Herman—Kades Desa Gunung Jati—sedang berbuat mesum dengan Marni, janda kembang yang kerap membuat mata lelaki melotot saat ia lewat karena bodynya yang aduhai. Jaka membeku, ia tidak menyangka akan melihat pemandangan seperti ini. Pak Kades sedang mencumbu Marni sambil tangannya terus meremas dua bukit kembar janda itu yang masih terbalut daster. Jaka menelan ludah, ia mundur perlahan. Namun sial, kakinya tidak sengaja menginjak jerigen yang ia letakkan tadi hingga menimbulkan suara cukup nyaring. “Ah, sial!” gerutu Jaka. Di dalam, Pak Kades tersentak mendengar suara tersebut. Marni juga panik, janda itu buru-buru merapikan dasternya yang mulai tersingkap. Pak Kades langsung mengintip untuk melihat siapa di luar. “Jaka?!” Matanya terbelalak saat menemukan Jaka sedang berdiri kaku di luar. “Ngapain kamu di sini?” Pak Kades yang awalnya sedikit takut, langsung kembali mendapatkan keberaniannya saat melihat orang di sana hanyalah Jaka, si pemulung yang bukan siapa-siapa. Jaka menelan ludahnya. Seharusnya di sini, Pak Kades lah yang harus takut, karena skandalnya dengan janda kembang desa ketahuan. Tapi nyatanya tidak, malah Jaka yang tampak gemetaran. Pak Kades menatapnya dengan tajam, menyiratkan ancaman tanpa kata-kata. “Jaka, awas ya kalau kamu berani membeberkan apa yang kamu lihat tadi.” “Anu, enggak, Pak. Saya—” “Saya bisa usir kamu sekarang juga dari kontrakan,” potong Pak Kades kembali memberi ancaman. “Kamu ingat, kontrakan kamu sudah nunggak tiga bulan. Saya dan istri masih berbaik hati karena kamu masih berkabung karena kematian ibumu minggu lalu.” Pak Kades terus memberikan intimidasi kepada Jaka, agar pemuda itu benar-benar ciut nyalinya untuk membeberkan masalah ini. Jaka mengangguk pelan, keringat dingin mulai membasahi keningnya. Di depan, Pak Kades berdiri membusungkan dada, sementara di belakangnya, Marni masih sibuk membetulkan kancing dasternya dengan wajah yang memerah—entah karena nafsu yang terputus atau karena amarah. “Ingat Jaka! Kamu jangan berani macam-macam, kamu tidak punya siapa-siapa di sini!” bentak Pak Kades lagi memberi ancaman. Tanpa menunggu jawaban Jaka, kepala desa itu langsung menggandeng tangan Marni dan mengajaknya pergi dari sana. Setelah kepergian Pak Kades, Jaka menghela napas berat. Tidak ada yang bisa ia lakukan, ancaman Pak Kades begitu nyata. Memikirkan uang untuk membayar tunggakan kontrakan yang sudah tiga bulan saja cukup membuat kepala Jaka pusing, jadi ia sama sekali tidak ingin menambah masalah baru. Jaka lebih memilih diam. Lagi pula, apa yang dikatakan Pak Kades benar. Jaka hanya seorang diri di sini, dia yatim piatu. Sore itu, Jaka akhirnya pulang membawa karung berisi beberapa jerigen bekas dan botol plastik lainnya. Sesampainya di rumah, ia langsung meletakkan karung itu di belakang. Namun belum sempat ia beristirahat, suara ketukan pintu terdengar begitu keras di depan. Brak Brak! “Jaka?!” Jaka tersentak, ia cukup mengenal suara itu. Itu suara Bu Lilis, istrinya Pak Kades. Bu Lilis yang mengurus kontrakan di sini, wanita itu juga yang suka menagih sewa kepada para penghuni. Jaka menghela napas berat, ia tahu akan kena semprot lagi karena belum punya uang untuk membayar kontrakan. Jaka membuka pintu dan mendapati Bu Lilis berdiri sambil berkacak pinggang di sana. Matanya bak singa betina yang ingin menerkam mangsa. “Mana uangnya?!” bentak Bu Lilis. “Jangan bilang hari ini juga enggak ada.” Jaka menelan ludah. Suara Bu Lilis menggelegar seperti petir di siang bolong, padahal parasnya cukup cantik untuk seukuran wanita yang hampir kepala empat. Bahkan Jaka sendiri terkadang suka melamun saat melihat istri Pak Kades itu, dua bukit kembarnya cukup menggoda apalagi ia sering mengenakan daster berkerah rendah. “Kenapa malah bengong?!” bentak Bu Lilis lagi yang menyadarkan Jaka dari lamunannya. “Anu, Bu. Saya minta waktu dua hari lagi, uangnya belum cukup,” ujar Jaka memohon. “Dua hari, dua hari. Udah tiga bulan kamu nunggak. Kalau enggak ada hari ini, kamu kemasi barang-barangmu dan keluar sekarang juga! Masih banyak orang yang mau nyewa kontrakan ini, bukan kamu saja,” bentak Bu Lilis lagi. “Bu, saya mohon, Bu. Jangan usir saya. Beri waktu saya dua hari lagi.” Jaka benar-benar merengek, memohon untuk diberi waktu lagi. Bu Lilis menarik napas dalam-dalam, wanita itu menatap Jaka cukup tajam. “Satu hari lagi. Besok sore kalau kamu belum punya uang, kamu harus keluar dari sini!” Tanpa menunggu jawaban, Bu Lilis langsung pergi dari sana meninggalkan Jaka yang membeku di ambang pintu. “Gimana ini, ya?” Jaka benar-benar bingung, di mana ia harus mencari uang untuk membayar kontrakan yang menunggak selama tiga bulan. Jaka memutar otaknya. Penghasilannya dari memulung barang bekas benar-benar tidak mencukupi, hanya cukup buat makan sehari-hari saja, kadang juga kurang. Ia akhirnya memutuskan untuk menggeledah benda-benda apa saja yang ada di dalam rumah yang kiranya bisa ia jual. Pikirannya benar-benar kacau, hidup sebatang kara di usia yang baru menginjak 23 tahun bukanlah suatu yang mudah. Ia akhirnya masuk ke dalam kamar mendiang ibunya. Ia mulai menggeledah, namun sayang, tidak ada apa-apa. Semasa hidupnya sang ibu hanya buruh cuci. Jadi tidak ada peninggalan mendiang yang kiranya berharga. Jaka menghela napas berat, ia membuka lemari mendiang sang ibu. Itu tempat satu-satunya yang belum ia periksa. Jaka mulai menggeledah isi lemari tersebut yang hanya berisi pakaian tua yang sudah lusuh. Hingga tidak sengaja ia membuka laci paling bawah di dalam lemari. Ada sesuatu di sana yang langsung menarik perhatiannya. “Apa ini?” Jaka menemukan sebuah kotak kayu. Ia langsung mengambilnya, berharap di dalam ada perhiasan atau apa saja yang bisa ia jual. Jaka membukanya, dan seketika senyum tipis langsung terlukis di bibirnya. Ternyata di dalam kotak itu ada beberapa lembar uang lima puluh ribuan yang totalnya ada 500 ribu. Namun bukan itu saja, di sana juga ada gelang yang tampak kusam dan karatan, dan juga ada secarik kertas. Jaka segera mengambil kertas tersebut. Ada tulisan di sana yang ia yakin itu tulisan mendiang ibunya. “Jaka, kalau kamu menemukan kotak ini berarti ibu sudah tiada. Maaf, ibu tidak meninggalkan apa-apa untukmu. Hanya uang ini tabungan yang ibu punya, pergunakanlah sebaik mungkin. Dan satu lagi, jagalah gelang ini baik-baik, Nak, ini gelang peninggalan mendiang ayahmu dulu.”Setelah berbenah dan mengenakan pakaian perjalanan terbaik mereka, Jaka dan Arum melangkah keluar kamar. Di ambang pintu utama istana, Panglima Wira Perkasa, Beno yang tampak segar dengan pakaian pas badannya, serta Kandita yang kini telah mengenakan jubah kebesarannya sebagai penguasa Tirtawana, telah menanti."Semuanya sudah siap?" tanya Kandita. Suaranya terdengar tenang, meski senyum di bibirnya menyembunyikan kegetiran perpisahan yang teramat dalam. “Kita akan menuju danau ilusi, menjemput seseorang, dan dari sana kita akan mengantar Jaka dan yang lainnya.”"Siap, Tuan Putri," jawab Jaka mantap.Kandita mengangguk memberi isyarat. Mereka pun berjalan beriringan meninggalkan pelataran istana, menaiki kereta kencana yang disiapkan khusus oleh Kaum Bulan Hitam menuju gerbang kota Tirtawana.Kereta kencana berlapis kayu mahoni dan hiasan ukiran perak itu meluncur mulus membelah jalanan kota batu putih Tirtawana. Di sepanjang rute, rakyat yang mulai beraktivitas pagi itu menunduk horm
Sinar matahari fajar kian meninggi, menyepuh tirai sutra jendela dengan kilau keemasan yang menenangkan. Di dalam keheningan kamar yang hangat itu, Jaka perlahan membuka matanya. Pandangannya langsung disambut oleh wajah damai Arum yang tertidur lelap dalam dekapan kanannya, serta Kandita—sang penguasa baru Tirtawana—yang bernapas teratur dengan kepala bersandar di dadanya. Tiga garis pusaka di tubuh Jaka berdenyut lembut, seirama dengan detak jantungnya yang kini selaras dengan ritme alam Tirtawana. Jaka menghela napas panjang, meresapi kehangatan yang melingkupi raganya. Ia tahu, fajar ini membawa serta panggilan kepulangan ke Alam Atas. Gerbang dimensi di pesisir Karang Panjang telah pulih, menunggu langkahnya dan Arum untuk kembali ke dunia asal mereka, sementara Beno barangkali sudah bersiap dengan segala celoteh khasnya di luar sana. Namun, sebelum fajar sepenuhnya beranjak naik dan menghentikan waktu tenang ini, Jaka mengeratkan sedikit dekapannya, membiarkan detik-detik ter
Mendengar desahan Kandita, gairah Jaka semakin memuncak hebat. Ia mengangkat kaki Kandita di atas bahunya, membuat batang perkasanya bisa menghujam lebih dalam. Plak Plok! “Ahh, Jaka… dalam banget…” racau Kandita sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tak mampu membendung nikmat yang menjalar dari selangkangan hingga ke ubun-ubunnya. Irama senggama yang liar dan penuh gairah terus mengguncang peraduan megah kamar istana Tirtawana. Suara decak kecipak kulit yang beradu dengan desahan napas berat memenuhi setiap sudut ruangan, menciptakan sebuah simfoni kenikmatan yang memabukkan di ambang fajar. Jaka bergerak semakin bertenaga di atas tubuh Kandita. Panggulnya menghantam masuk dengan ritme cepat dan dalam, membuat sang putri melenguh panjang tak karuan. "Ahhn... Jaka... ya, terus di situ... ahh!" jerit Kandita tertahan, matanya terpejam erat menikmati setiap sentakan kuat yang menghantam dinding rahimnya. Arum yang duduk bersandar di kepala ranjang tak tinggal diam. Melihat maduny
Pipi Kandita merona merah padam hingga ke lehernya. Pujian hangat yang meluncur dari bibir Jaka seketika meluruhkan sisa-sisa pertahanan diri dan rasa malunya. Dalam dekapan tangan kekar Jaka, raga sang putri terasa begitu ringan dan lemas, sepenuhnya menyerahkan takdir dan gairahnya pada pemuda yang telah menyatu dengan sukmanya. Jaka merebahkan tubuh Kandita secara perlahan di tengah-tengah peraduan megah yang berselimut sutra. Gaun tidur tipis yang melingkupi raga Kandita tersingkap halus saat Jaka membaringkannya, memamerkan paha mulusnya yang sudah basah oleh lelehan cairan kehangatan. Arum yang bersandar di kepala ranjang bergeser mendekat. Tanpa sedikit pun kecemburuan, jemari lenturnya terangkat mengusap lembut rambut panjang Kandita yang berantakan di atas bantal. "Tenanglah, Kandita..." bisik Arum penuh kehangatan, mengusap kening sang putri yang basah oleh keringat dingin. "Malam ini… Jaka milik kita bersama.” Kandita menatap Arum dengan sepasang mata yang berkaca-kaca,
Jaka tercengang, ia benar-benar tidak menyangka Bu Lilis akan memberi tawaran seperti ini. Jaka terpaku, matanya terhenti pada belahan kembar wanita itu yang mengintip di balik daster kerah rendah yang ia pakai. “Anu, Bu… saya…” Jaka benar-benar gugup. Tawaran seperti ini tentu saja sangat menggi
Setibanya di rumah, Jaka langsung membuka amplop pemberian Bu Susi sambil mengatur posisi kejantanannya yang masih mengeras. “Hah?” Jaka terkejut, ternyata isi amplop itu lumayan banyak. “Satu, dua, tiga, empat…” Jaka terbelalak. “Lima ratus ribu?” Jaka menggeleng, ia benar-benar tidak menyangka
Akhirnya sore itu, Jaka mengurungkan niatnya untuk mengais barang bekas. Ia memilih mengantar Bu Susi sampai ke rumah yang kebetulan satu arah dengan rumahnya. Sepanjang perjalanan, mata Jaka tidak pernah lepas dari dua bukit kembar guru itu yang tampak naik turun seirama langkah kakinya. Kaos Jak
Setelah makan siang, Jaka duduk di depan rumah sambil menghisap sebatang rokok. Pikirannya masih melayang memikirkan beberapa kejadian aneh yang dialaminya hari ini. Dari mulai sikap warga yang mulai lebih baik kepadanya sampai perubahan fisiknya yang membuat Jaka sendiri heran. Jaka meraba otot l






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Mga Ratings
RebyuMore