LOGINSebagai pemulung miskin, aku menemukan peninggalan rahasia Ayah berupa gelang misterius yang mengikatku pada takdir tak terduga. Setiap kali terhubung lebih dalam dengan wanita terpilih, sebuah penglihatan hadir dalam mimpiku, membukakan jalan dan petunjuk rahasia menuju kekayaan yang tak terbayangkan.
View MoreJaka mengangkat pedang itu tinggi-tinggi, mengerahkan seluruh sisa tenaga. Garis-garis pusaka di tubuhnya yang kini bergetar hangat seolah sedang memasuk energi yang meluap-luap ke dalam tubuhnya. Jaka langsung mengayunkan pedangnya dalam satu busur melingkar yang sempurna, menebas tepat ke arah leher Sagara. “Mati kau, bajingan!” teriak Jaka, mendedikasikan seluruh kemampuannya dalam tebasan pamungkas ini. Srash! Tebasan itu mendarat dengan presisi yang luar biasa sempurna. Darah segar menyembur, menguar ke udara bagai air mancur merah, bersamaan dengan terpisahnya kepala Sagara Wisesa dari batang tubuhnya yang berlumuran darah. Buk! Kepala itu menggelinding bebas di atas papan kayu yang hangus, membuat Kandita yang melihat pemandangan mengerikan itu langsung menutup mulut dan matanya rapat-rapat. Sekalipun ia membenci Sagara Wisesa atas segala kekejian yang telah diperbuat, penguasa laut barat itu pada akhirnya tetaplah ayah kandung yang membesarkannya. “Yes! Berhasil! Jaka
Jaka tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu bahkan selama sepersekian detik. Tanpa menunggu kepulan asap hitam itu menipis, ia melesat maju menerjang kabut dengan tumpuan kedua kakinya yang begitu kuat hingga papan panggung melengkung patah. "Mati kau, Penguasa Keparat!" bentak Jaka dengan suara parau yang penuh gelora kemarahan. Dengan pengerahan kekuatan fisik murni yang memadat di seluruh serabut otot lengannya, Jaka menghantamkan tinju kanannya telak tanpa ampun ke arah rahang bawah Sagara Wisesa. Bugh! Hantaman mentah itu terdengar begitu mengerikan, menciptakan gaung keras hingga bunyi retakan tulang pipi bergemeretak di udara. Kepala Sagara tersentak mendadak ke atas, tubuh tegapnya terdorong mundur tiga langkah besar dengan muncratan darah segar menyembur dari mulutnya yang menganga. "Bajingan tengik!" raung Sagara murka, buta karena amarah dan rasa sakit. Meski matanya masih terasa sangat perih dan berair akibat serbuk letupan, ia secara membabi buta mengayunkan tombak
“Sagara… kau akan mati hari ini!” Suara itu menggelegar, membelah angkasa pagi yang masih diselimuti sisa kabut tipis di atas alun-alun utama. Wira Perkasa berdiri dengan postur tegap sempurna di atas rabung atap bangunan batu, menggenggam erat busur kayu hitam yang masih bergetar hebat usai melesatkan anak panah pemutus tali gantung Arya. Belum sempat gema teriakan itu mereda, puluhan prajurit elit Kaum Bulan Hitam berbalut jubah dan topeng kelabu melompat turun secara bersamaan dari bubungan atap dan celah lorong-lorong kota. Mereka membanjiri arena pertempuran dengan sorakan perang yang menggetarkan dada, menciptakan gelombang kejut psikologis bagi kubu musuh. "Tuan Jaka! Maaf hamba terlambat!" teriak Wira seraya melompat turun dari ketinggian, mendarat dengan mulus dan langsung menyapu barisan Prajurit Karang Hitam di bawah panggung bersama gelombang pasukannya. "Beno! Arum! Bertahanlah, bantuan sudah tiba!" seru Wira memberi komando tegas, membuat formasi pasukan Bulan Hitam l
“Menarik,” jawab Sagara Wisesa sambil terkekeh meremehkan. “Aku suka nyali besarmu, anak muda. Tapi… lihatlah, dua temanmu bahkan tidak memiliki celah untuk melawan di sana.”Deg!Jaka membelalak, seketika ia menoleh, melihat Arum dan Beno yang sudah terkepung oleh puluhan pasukan. Bahkan Beno tampak terluka, tubuhnya babak belur, walau ia masih berdiri dengan dada membusung.“Jangan mikirin gue, Ka!” teriak Beno. “Hajar aja kakek sialan itu!”Beno menyeka darah di sudut bibirnya. “Tenang… kalau cuma segini mah, gue masih sanggup. Hahaha!”Arum menoleh, melihat Beno yang berusaha tetap tegar walau ia tahu Beno sedang menahan nyeri akibat beberapa serangan prajurit yang berhasil mendarat di tubuhnya.Arum menarik napas dalam-dalam. Ia meraih pedang salah satu prajurit yang tercecer di tanah. Ia membuang belati kecilnya.“Jaka…” teriak Arum menggelegar. “Kami baik-baik saja, urus saja Pak Tua itu!”Mendengar teriakan Arum dan Beno, rahang Jaka mengeras. Sorot matanya yang tadinya berpen
Setelah Jaka selesai mengumpulkan semua rongsokan itu, ia langsung berpamitan kepada Bu Lilis yang masih berdiri di ambang pintu belakang menatap ke arahnya. “Udah?” tanya Bu Lilis dengan nada yang sengaja dibuat ketus, padahal pipinya masih merona akibat insiden benda karet tadi. “U-udah, Bu,” s
Jaka termenung setelah membaca surat tersebut, matanya berkaca-kaca. Ia mengambil gelang peninggalan ayahnya, membersihkannya dengan telaten hingga kusamnya sedikit menghilang, namun karat masih terlihat di beberapa sisi. Sambil menghela napas pendek, Jaka memakainya. Ternyata cukup pas di tangan.
“Ahh! Shh! Pelan-pelan, Pak.” Desahan itu terdengar samar, nyaris tertelan sunyi sore, namun cukup jelas untuk membuat langkah Jaka terhenti. Ia yang tengah mengais barang-barang bekas di gudang plastik terbengkalai di sudut desa mendadak membeku. Jantungnya berdegup lebih cepat, antara terkejut d
Jaka tercengang, ia benar-benar tidak menyangka Bu Lilis akan memberi tawaran seperti ini. Jaka terpaku, matanya terhenti pada belahan kembar wanita itu yang mengintip di balik daster kerah rendah yang ia pakai. “Anu, Bu… saya…” Jaka benar-benar gugup. Tawaran seperti ini tentu saja sangat menggi






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore