MasukSebagai pemulung miskin, aku menemukan gelang warisan Ayah yang memaksaku menjalin kedekatan paling intim dengan para wanita—setiap “penyatuan” dengan mereka memicu mimpi yang mengungkap jalan menuju kekayaan.
Lihat lebih banyakArya Wisesa berdiri terikat di atas panggung kayu raksasa yang didirikan tepat di tengah alun-alun kota. Tubuhnya dipenuhi luka lebam dan bekas tebasan, wajahnya pucat pasi, namun kepalanya tetap tertunduk kaku menahan derita. Di atas kepalanya, sebuah jerat tali tambang tebal berwarna hitam sudah menggantung condong, siap merenggut nyawanya dalam hitungan menit.Di sekeliling panggung, ratusan warga Tirtawana berkumpul dalam hening yang mencekam. Tak ada satupun yang berani bersuara. Belasan Prajurit Karang Hitam bersenjata tombak bercabang tiga berdiri rapat memagari panggung, sementara Bima berdiri tegap di barisan terdepan panggung dengan pedang terhunus di tangan kanan."Wahai rakyat Tirtawana!" suara Bima membahana, menggelegar membelah alun-alun. "Hari ini, Arya Wisesa dihukum mati atas tuduhan pengkhianatan tingkat tinggi terhadap Penguasa Laut Barat, Sagara Wisesa! Siapa pun yang berani mencoba melindunginya, akan menerima nasib yang sama!"Semua orang terdiam bisu, jangankan
Wira Perkasa menggeleng kuat-kuat, raut wajahnya diliputi kekhawatiran yang teramat sangat. "Tuan Jaka, tidak! Menyelundup ke jantung kota sendirian tanpa pasukan pendukung saat seluruh mata prajurit istana siaga adalah tindakan bunuh diri! Bima dan ribuan pasukan Karang Hitam pasti sudah mengepung alun-alun!"Jaka menatap Wira dengan sorot mata yang menyala tajam. "Aku tidak punya pilihan, Wira. Nyawa paman Arya dipertaruhkan detik ini juga. Setiap detik yang kita buang berarti satu langkah lebih dekat paman Arya pada tiang gantung."Arum, yang berdiri tepat di samping Jaka, melangkah maju tanpa ragu. Jemari tangannya meremas erat lengan suaminya, menyalurkan dukungan mutlak tanpa sepatah kata protes pun. Ia tahu risiko yang harus mereka hadapi, namun Arum tidak akan pernah membiarkan Jaka berjalan sendirian.Beno yang melihat Arum maju pun menghela napas pasrah sambil menyeringai tipis, lalu menepuk hulu badik di pinggangnya.Kandita menatap Jaka dengan mata berkaca-kaca penuh rasa
Sementara di area hutan kelam, Jaka masih ambruk dalam pelukan Kandita setelah akhirnya dia menyemburkan benih hangatnya ke dalam rahim gadis itu. Mereka berdua masih terengah, bahkan sempat terlelap beberapa saat akibat kelelahan. Hingga akhirnya Jaka kaget saat mendengar Kandita berteriak tiba-tiba.“PAMAN!!! PAMAN ARYA!!”Deg!Jaka membelalak, matanya seketika terbuka karena kaget. Ia langsung menoleh ke arah Kandita yang masih berbaring di sebelahnya.“Kandita… kamu kenapa?”Blak!Kandita membuka mata, napasnya tiba-tiba memburu. Ia bahkan langsung bangkit duduk.“Ada apa Kandita?” tanya Jaka lagi sambil memegang bahu mulus gadis itu.Kandita menoleh, menatap Jaka dengan sorot mata dipenuhi kegelisahan. “Aku… a-aku…”Jaka ikut gelisah melihat wajah gadis itu yang tampak pucat.“Apa Kandita? Ada apa?”“Aku… aku mimpi Ibunda, Jaka. Dia bilang… paman Arya dalam bahaya.”Glek!Jaka menelan ludah. “A-apa? Paman Arya dalam bahaya?”Kandita mengangguk pelan. Ia langsung meraih tangan Jak
Sementara di sisi lain. Pagi buta itu tampak Arya Wisesa sudah berada di istana, dia tampak berdiri di depan Sagara Wisesa yang sedang duduk di singgasana.“Arya… kenapa kau babak belur begitu?” kata Sagara sedikit mencibir melihat luka memar di wajah Arya, adiknya sendiri.Arya Wisesa mengepalkan tangan. Dia tidak menjawab sepatah katapun.“Ayah!”Di sisinya, Bima langsung membungkuk. “Aku dan pasukan terpaksa memaksa Paman Arya tadi. Untung saja kami bisa menahan diri dan tidak membunuhnya.”Arya tersenyum getir, menatap sinis ke arah keponakannya sendiri. Dia menggeleng pelan, tidak menyangka sang keponakan bahkan berkata demikian—tidak menghargainya sama sekali.“Haha!” Sagara Wisesa tertawa pelan, lalu dia mengibaskan tangan, memberi kode untuk Bima segera keluar.“Baik, Ayah!”Bima membungkuk, dia dan beberapa prajurit langsung keluar dari aula istana meninggalkan Sagara Wisesa dan Arya di sana hanya berdua.Begitu pintu perunggu aula istana tertutup rapat meninggalkan gema bera
Setelah makan siang, Jaka duduk di depan rumah sambil menghisap sebatang rokok. Pikirannya masih melayang memikirkan beberapa kejadian aneh yang dialaminya hari ini. Dari mulai sikap warga yang mulai lebih baik kepadanya sampai perubahan fisiknya yang membuat Jaka sendiri heran. Jaka meraba otot l
Setelah Jaka selesai mengumpulkan semua rongsokan itu, ia langsung berpamitan kepada Bu Lilis yang masih berdiri di ambang pintu belakang menatap ke arahnya. “Udah?” tanya Bu Lilis dengan nada yang sengaja dibuat ketus, padahal pipinya masih merona akibat insiden benda karet tadi. “U-udah, Bu,” s
Jaka termenung setelah membaca surat tersebut, matanya berkaca-kaca. Ia mengambil gelang peninggalan ayahnya, membersihkannya dengan telaten hingga kusamnya sedikit menghilang, namun karat masih terlihat di beberapa sisi. Sambil menghela napas pendek, Jaka memakainya. Ternyata cukup pas di tangan.
“Ahh! Shh! Pelan-pelan, Pak.” Desahan itu terdengar samar, nyaris tertelan sunyi sore, namun cukup jelas untuk membuat langkah Jaka terhenti. Ia yang tengah mengais barang-barang bekas di gudang plastik terbengkalai di sudut desa mendadak membeku. Jantungnya berdegup lebih cepat, antara terkejut d






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak