MasukSebagai pemulung miskin, aku menemukan gelang warisan Ayah yang memaksaku menjalin kedekatan paling intim dengan para wanita—setiap “penyatuan” dengan mereka memicu mimpi yang mengungkap jalan menuju kekayaan.
Lihat lebih banyakSesampainya di perbatasan, prajurit yang mengantar Jaka langsung berhenti.“Di sini, Tuan,” katanya segan.Jaka ikut berhenti, menatap belantara yang siap menunggunya di depan sana.“Di sana?” tanya Jaka.“Bukan Tuan, bukan hutan itu. Itu hutan biasa, tapi hutan bayangan ada di baliknya.”Jaka mengernyit. “Di baliknya?”“Benar, Tuan. Saya memang tidak tahu pasti, karena kami hampir tidak pernah menyisir ke sana. Tapi konon katanya, jika Tuan sudah bertemu dengan kabut pekat, itu adalah batas Hutan Bayangan dan hutan biasa tersebut.”Jaka mengangguk pelan, menatap belantara yang tidak jauh lagi di hadapannya.“Hmm… baiklah. Kau boleh kembali,” kaya Jaka lagi.Namun prajurit itu tampak ragu, dia menatap Jaka dengan raut wajah gelisah.“Kenapa?” tanya Jaka heran.“Anu… apa Tuan yakin, hendak ke sana sendirian?”Jaka menarik napas dalam-dalam. “Aku tidak tahu, tapi orang itu menginginkan aku ke sana sendirian. Aku tidak tau apa maksudnya, tapi… aku harus benar-benar ke sana. Rina dan Rini
Seketika itu juga, atmosfir manis dan penuh kehangatan di dalam kamar megah itu sirnah. Senyum bahagia di bibir Isara terhenti secara mendadak, berganti dengan raut kepanikan luar biasa. Matanya membelalak lebar, sementara Jaka yang tadinya bersikap santai langsung menegakkan tubuhnya dengan tatapan tajam bagaikan kilat.“Apa?! Diculik?!” seru Isara, suaranya naik satu nada. Tanpa membuang waktu, sang Ratu menarik pintu kamarnya lebar-lebar.Di luar pintu, seorang pengawal istana berlutut dengan napas terengah-engah, tubuhnya gemetar penuh peluh dan baju zirahnya menyisakan sedikit bekas sisa sabetan senjata.“Jelaskan apa yang terjadi! Siapa yang berani mencegat Rina dan Rini di tanah Arkanis?!” bentak Isara, aura keanggungan dan wibawa purbanya kembali meletup-letup.“Am-ampuni hamba, Kanjeng Ratu!” ucap pengawal itu terbata-bata. “Saat Nona Rina dan Nona Rini dalam perjalanan kembali dari perbatasan timur membawa bahan herbal istana, sekelompok penyusup berpakaian serba hitam menye
Beberapa hari berlalu. Jaka, Arum, Tiara, semua tinggal di istana. Bagian aula istana yang hancur akibat kerang sedang di perbaiki. Sedangkan Garok dan semua pasukannya telah mundur setelah akhirnya perjanjian damai itu terjadi.Sudah lima hari berlalu semenjak perang itu berakhir. Dan Jaka mengira tugasnya sudah selesai. Dia memutuskan menemui Ratu Isara yang berada di dalam kamarnya. Dengan sopan dia mengetuk pintu megah tersebut.Tok Tok!“Ratu, Kanjeng Ratu!” panggil Jaka tetap sopan, walau Isara sudah menjadi salah satu wanitanya, bahkan mengandung benihnya.Isara membuka pintu, senyum manis langsung tersungging saat melihat pria pujaan hatinya berdiri di sana. “Jaka, kebetulan,” katanya pelan.Jaka mengernyit mendengar hal itu, dia yang awalnya ingin memohon izin pamit untuk kembali ke dimensinya esok hari, akhirnya mengurungkan niat, mencoba mendengar apa yang hendak dikatakan oleh ratu tersebut.“Ada apa Kanjeng Ratu?”Isara langsung memegang lembut pipi Jaka, tanpa ragu menge
Beberapa hari berlalu sejak kecamuk perang saudara dan penumpasan pengkhianatan di Balairung Utama Istana Arkanis. Suasana tanah Cakrawana yang semula mencekam perlahan kembali dipenuhi kedamaian. Debu-debu pertempuran telah dibersihkan, dan para prajurit dari Ras Gagak serta Ras Merpati kini bahu-membahu merenovasi pilar-pilar serta dinding istana yang sempat luluh lantak. Di tengah Balairung Agung yang telah direstorasi dengan balutan kain sutra emas dan perak, sebuah altar batu ukir disiapkan. Di atas altar tersebut, terbentang dua lembar kulit kayu purba—prasasti perjanjian damai mutlak antara Kerajaan Arkanis dan Kerajaan Kalasura. Ratu Isara berdiri anggun mengenakan gaun kebesaran perak yang baru. Di sampingnya, Jaka berdiri tegap mengenakan pakaian serba hitam berwibawa, dengan tiga garis pusaka yang kini tersembunyi tenang di bawah kulitnya. Sementara itu, Garok hadir tanpa zirah perang; Raja Ras Gagak itu mengenakan jubah kebesaran hitam bercorak keemasan, melangkah maju d
Setelah makan siang, Jaka duduk di depan rumah sambil menghisap sebatang rokok. Pikirannya masih melayang memikirkan beberapa kejadian aneh yang dialaminya hari ini. Dari mulai sikap warga yang mulai lebih baik kepadanya sampai perubahan fisiknya yang membuat Jaka sendiri heran. Jaka meraba otot l
Setelah Jaka selesai mengumpulkan semua rongsokan itu, ia langsung berpamitan kepada Bu Lilis yang masih berdiri di ambang pintu belakang menatap ke arahnya. “Udah?” tanya Bu Lilis dengan nada yang sengaja dibuat ketus, padahal pipinya masih merona akibat insiden benda karet tadi. “U-udah, Bu,” s
Jaka termenung setelah membaca surat tersebut, matanya berkaca-kaca. Ia mengambil gelang peninggalan ayahnya, membersihkannya dengan telaten hingga kusamnya sedikit menghilang, namun karat masih terlihat di beberapa sisi. Sambil menghela napas pendek, Jaka memakainya. Ternyata cukup pas di tangan.
“Ahh! Shh! Pelan-pelan, Pak.” Desahan itu terdengar samar, nyaris tertelan sunyi sore, namun cukup jelas untuk membuat langkah Jaka terhenti. Ia yang tengah mengais barang-barang bekas di gudang plastik terbengkalai di sudut desa mendadak membeku. Jantungnya berdegup lebih cepat, antara terkejut d












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak