로그인Sebagai pemulung miskin, aku menemukan gelang warisan Ayah yang memaksaku menjalin kedekatan paling intim dengan para wanita—setiap “penyatuan” dengan mereka memicu mimpi yang mengungkap jalan menuju kekayaan.
더 보기Jaka terkejut bukan main saat suara jeritan Bu Lilis terdengar dari panggilan telepon tersebut. “Bu! Bu Lilis?!” pekik Jaka khawatir. “Jaka…” suara Bu Lilis semakin menjauh, di ikuti suara tawa seorang lelaki yang melengking. “Haha… Jaka! Tepat seperti dugaan ku, kau pasti cukup peka!” “Bajingan! Siapa kau? Di mana Bu Lilis?!” bentak Jaka geram. “Hmm… Bu Lilis?” tanya lelaki itu remeh. “Oh, wanita molek itu. Dia bersamaku, suaminya juga di sini. Kalau kau mau mereka selamat, datanglah ke sini.” Jaka menggeram kesal. Dia tidak tahu siapa lelaki yang sedang berbicara dengannya, dia juga merasa tidak punya masalah dengan orang itu. Tetapi kenapa tiba-tiba ini semua terjadi. “Kau cukup mengganggu, Jaka. Kau telah mencari masalah dengan orang yang salah!” kata lelaki itu lagi sambil tertawa remeh. “Datanglah ke sini jika kau ingin wanitamu ini selamat, haha!” “Kau—” Tuut! “Halo! Halo!” Jaka semakin kesal saat tiba-tiba sambungan telepon itu terputus. “Sialan! Siapa dia?!” Napas
Malam harinya, Jaka duduk makan malam bersama Arum di ruang tamu. Makanan yang di beli Jaka lebih dari cukup untuk mereka berdua. Arum dengan manisnya sesekali menyuapi nasi ke dalam mulut suaminya itu. Untuk sejenak, keresahan Jaka mereda dengan segala kehangatan tulus yang di berikan istrinya. Jika bukan karena Jaka merasa Bu Lilis dalam bahaya, maka dia tidak akan pernah mau ikut campur dalam masalah Pak Herman. Bagi Jaka, ia sudah menemukan kedamaian hidupnya. Namun, mengingat tangis Bu Lilis siang tadi, Jaka benar-benar tidak bisa menutup mata. “Kamu mau pergi sendiri nanti ke rumah Bu Lilis?” tanya Arum di sela-sela ia menyuapi Jaka. Jaka mengangguk pelan sembari melirik jam dinding tua di ruang tamu kontrakannya. “Iya, Rum. Nanti tengah malam aku ke sana. Lagian aku bukan mau bertamu, aku mau menyelinap.” Arum menarik napas dalam-dalam, dia sebenarnya ingin ikut namun mendengar keputusan Jaka yang sudah bulat, akhirnya dia hanya diam sambil mengangguk pelan. “Ya udah, seka
Selepas Pak Herman dan Bu Lilis pergi, suasana kontrakan kembali hening, menyisakan Jaka yang terdiam bingung mencerna semua ini. Sementara Beno di sisinya masih menggerutu sesekali karena kesal. “Sialan itu Pak Herman, datang-datang maen minta tolong! Di kira dia siapa?!” Beno menoleh, menatap Jaka yang tampak bingung memikirkan kejadian itu. “Udah, Ka. Enggak usah di pikirin,” ujarnya sambil menepuk bahu Jaka pelan. “Biarin aja Pak Herman ngurus sendiri masalahnya.” Jaka tidak merespon, yang dia pikirkan bukan Pak Herman, melainkan Bu Lilis yang menurutnya menunjukkan gelagat yang cukup aneh, di tambah bekas memar di lengannya. “Oi Ka!” sapa Beno lagi. “Apaan sih lo? Malah bengong! Udah enggak usah di pikirin!” Beno menarik napas dalam-dalam, lalu berjalan pelan menuju pintu depan. “Ya udah, gue balik dulu. Emak gue khawatir pasti ini gue enggak pulang semingguan enggak ada kabar. Kalau ada apa-apa nanti, telpon gua aja.” Jaka mengangguk pelan, melihat Beno yang perlahan menja
Dada Beno naik turun menahan amarah yang membakar. Sebagai sahabat yang tahu persis seluruh latar belakang kelam dan penderitaan Jaka di masa lalu, tentu saja ia tidak terima jika Pak Herman—dalang di balik kekacauan itu—datang hanya untuk mengucapkan kata maaf dengan begitu mudahnya. Arum yang tidak tahu-menahu tentang akar masalah masa lalu itu mengernyit heran. Namun, ia memilih untuk tetap diam dan tidak menyela perkataan siapa pun. Melihat respons Beno yang sedemikian emosional, Arum langsung menangkap bahwa pasti ada dendam dan luka besar yang pernah terjadi di antara Jaka dan pria paruh baya bernama Pak Herman itu. “Dengar dulu, Beno…” ujar Bu Lilis berusaha menenangkan, suaranya memohon. “Saya tau—” Beno yang masih membara hendak menyela kembali perkataan Bu Lilis, namun sebelum kalimatnya terucap, Jaka dengan sigap menepuk dan memegang bahu Beno. Jaka memberikan isyarat mata yang tenang namun tajam, meminta agar Beno menahan diri dan tidak terbawa emosi. Melihat isyarat d
Jaka tercengang, ia benar-benar tidak menyangka Bu Lilis akan memberi tawaran seperti ini. Jaka terpaku, matanya terhenti pada belahan kembar wanita itu yang mengintip di balik daster kerah rendah yang ia pakai. “Anu, Bu… saya…” Jaka benar-benar gugup. Tawaran seperti ini tentu saja sangat menggi
Setibanya di rumah, Jaka langsung membuka amplop pemberian Bu Susi sambil mengatur posisi kejantanannya yang masih mengeras. “Hah?” Jaka terkejut, ternyata isi amplop itu lumayan banyak. “Satu, dua, tiga, empat…” Jaka terbelalak. “Lima ratus ribu?” Jaka menggeleng, ia benar-benar tidak menyangka
Akhirnya sore itu, Jaka mengurungkan niatnya untuk mengais barang bekas. Ia memilih mengantar Bu Susi sampai ke rumah yang kebetulan satu arah dengan rumahnya. Sepanjang perjalanan, mata Jaka tidak pernah lepas dari dua bukit kembar guru itu yang tampak naik turun seirama langkah kakinya. Kaos Jak
Setelah makan siang, Jaka duduk di depan rumah sambil menghisap sebatang rokok. Pikirannya masih melayang memikirkan beberapa kejadian aneh yang dialaminya hari ini. Dari mulai sikap warga yang mulai lebih baik kepadanya sampai perubahan fisiknya yang membuat Jaka sendiri heran. Jaka meraba otot l
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
평점
리뷰더 보기