MasukSebagai pemulung miskin, aku menemukan gelang warisan Ayah yang memaksaku menjalin kedekatan paling intim dengan para wanita—setiap “penyatuan” dengan mereka memicu mimpi yang mengungkap jalan menuju kekayaan.
Lihat lebih banyak“Menarik,” jawab Sagara Wisesa sambil terkekeh meremehkan. “Aku suka nyali besarmu, anak muda. Tapi… lihatlah, dua temanmu bahkan tidak memiliki celah untuk melawan di sana.”Deg!Jaka membelalak, seketika ia menoleh, melihat Arum dan Beno yang sudah terkepung oleh puluhan pasukan. Bahkan Beno tampak terluka, tubuhnya babak belur, walau ia masih berdiri dengan dada membusung.“Jangan mikirin gue, Ka!” teriak Beno. “Hajar aja kakek sialan itu!”Beno menyeka darah di sudut bibirnya. “Tenang… kalau cuma segini mah, gue masih sanggup. Hahaha!”Arum menoleh, melihat Beno yang berusaha tetap tegar walau ia tahu Beno sedang menahan nyeri akibat beberapa serangan prajurit yang berhasil mendarat di tubuhnya.Arum menarik napas dalam-dalam. Ia meraih pedang salah satu prajurit yang tercecer di tanah. Ia membuang belati kecilnya.“Jaka…” teriak Arum menggelegar. “Kami baik-baik saja, urus saja Pak Tua itu!”Mendengar teriakan Arum dan Beno, rahang Jaka mengeras. Sorot matanya yang tadinya berpen
“Kandita!!” teriak Jaka panik saat tahu jika gadis itu malah mengincar Sagara Wisesa di atas panggung.“Mati kau!”Kandita melesat, begitu lihai dengan belati terhunus di tangannya. Dia langsung mengincar leher Sagara Wisesa yang berdiri tenang di sebelah Arya.Arya Wisesa membelalak, tidak menyangka Kandita akan menyerang ayahnya terang-terangan begitu.“Kandita, awas!”Sagara Wisesa tersenyum tipis, dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Benar-benar tidak tahu diuntung!” gumamnya pelan.Wush!Tepat saat belati itu hampir menyentuh lehernya, dengan cepat Sagara Wisesa mengangkat tangannya, dia menangkap belati itu tanpa kesusahan sama sekali.“Hah?!”Kandita membelalak. Belatinya yang tajam ditangkap begitu saja. Bahkan tangan Sagara tidak terluka sama sekali.Krek! Trang!Hanya dengan gerakan kecil, belati itu payah menjadi dua, bersamaan dengan tangan kiri Sagara Wisesa mencengkeram leher putrinya sendiri.“Akhhh!”Kandita meraung saat lehernya tercekik dan napasnya tertahan.“
Ucapan dingin Jaka bergaung keras, memantul di dinding-dinding batu alun-alun kota. Keberanian murni yang terpancar dari suara pemuda itu membuat ratusan prajurit Karang Hitam yang memagari arena tertegun seketika. Tak pernah ada seorang pun di tanah Tirtawana yang berani berhadapan dada dan mengancam Penguasa Laut Barat secara terang-terangan seperti itu.Bima mendengus murka, mukanya memerah padam. "Kurang ajar! Pemuda bau kencur sepertimu mau mencabut nyawa Ayahku?!" pekiknya seraya melangkah maju dengan pedang terhunus. "Biar kupotong lidahmu dulu, Bajingan!"Namun langkah Bima terhenti seketika saat mendengar tawa lantang Sagara Wisesa di sebelahnya.“Haha… ini menarik, sangat menarik!” katanya sambil tertawa terbahak-bahak. “Belum ada yang berani mengancamku terang-terangan seperti ini.”Sagara maju satu tindak, mengikis jarak antara dirinya dan Jaka.Seketika bulu kuduk Jaka meremang hebat, kehadiran Sagara Wisesa di dekatnya memberikan sensasi yang begitu aneh.“Nyalimu besar
Tawa Sagara Wisesa menggelegar membelah alun-alun, beradu dengan teriakan kepanikan ratusan warga yang berlarian kencang menyelamatkan diri. Dalam sekejap, area luas di tengah kota itu bersih dari kerumunan, meninggalkan barisan Prajurit Karang Hitam yang langsung memagari panggung eksekusi dengan tombak teracung."Tangkap Kandita hidup-hidup!" teriak Bima memberi komando seraya melompat turun dari atas panggung eksekusi.Wush! Wush!Puluhan prajurit Karang Hitam bergerak mengepung dalam formasi mematikan. Jalur pelarian di belakang Jaka dan rombongannya mendadak ditutup oleh belasan penjaga berzirah tebal.Dua prajurit mendekat sambil mengacungkan tombak, bersiap untuk menangkap sang putri yang menjadi buronan selama ini.Kandita menelan ludah. Walau prajurit yang maju hanya dua orang, namun yang mengepung mereka sangatlah banyak.“Ba-bagaimana ini?” gumamnya panik. Dia sadar, melawan puluhan prajurit terlatih istana hanya berempat adalah misi bunuh diri.Namun tidak bagi Jaka. Walau
Setelah Jaka selesai mengumpulkan semua rongsokan itu, ia langsung berpamitan kepada Bu Lilis yang masih berdiri di ambang pintu belakang menatap ke arahnya. “Udah?” tanya Bu Lilis dengan nada yang sengaja dibuat ketus, padahal pipinya masih merona akibat insiden benda karet tadi. “U-udah, Bu,” s
Jaka termenung setelah membaca surat tersebut, matanya berkaca-kaca. Ia mengambil gelang peninggalan ayahnya, membersihkannya dengan telaten hingga kusamnya sedikit menghilang, namun karat masih terlihat di beberapa sisi. Sambil menghela napas pendek, Jaka memakainya. Ternyata cukup pas di tangan.
“Ahh! Shh! Pelan-pelan, Pak.” Desahan itu terdengar samar, nyaris tertelan sunyi sore, namun cukup jelas untuk membuat langkah Jaka terhenti. Ia yang tengah mengais barang-barang bekas di gudang plastik terbengkalai di sudut desa mendadak membeku. Jantungnya berdegup lebih cepat, antara terkejut d
Jaka tercengang, ia benar-benar tidak menyangka Bu Lilis akan memberi tawaran seperti ini. Jaka terpaku, matanya terhenti pada belahan kembar wanita itu yang mengintip di balik daster kerah rendah yang ia pakai. “Anu, Bu… saya…” Jaka benar-benar gugup. Tawaran seperti ini tentu saja sangat menggi












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak