MasukDemian Prasetyo, seorang pemuda asal Jogja dengan sopan santun yang kental, datang ke Jakarta dengan ambisi membangun karier jurnalis. Untuk bertahan hidup, ia menyewa kamar di *Almira Residence*, sebuah hunian eksklusif milik Eva Almira, seorang janda kaya yang elegan namun berbahaya. Di mata dunia, Demian hanyalah jurnalis magang yang lugu dan mudah dimanipulasi. Namun, di balik kemeja rapi dan sikap menunduknya, Demian adalah predator ulung yang menyamar—ia adalah pewaris tunggal kerajaan media global yang sedang menjalankan misi rahasia. Kehidupan Demian berubah menjadi medan perang hasrat dan intrik. Ia terjebak dalam jaring gairah yang rumit dengan Eva, serta terlibat dalam permainan saling menguasai dengan Dila, atasannya yang obsesif. Situasi semakin kacau ketika Siska dan Rara, putri-putri Eva, mulai melancarkan aksi pemerasan dan rayuan untuk menjadikannya budak hasrat mereka. Di sisi lain, Darius Amarta, pemilik perusahaan media sekaligus mantan suami Eva, menyimpan dendam membara karena mencium aroma ancaman pada sosok Demian, serta murka setelah mengetahui pria muda itu telah menodai mantan istri dan kedua putrinya. Darius melancarkan teror fisik dan ekonomi untuk menghancurkan Demian. Namun, setiap pukulan dan hinaan yang diterima Demian hanyalah bagian dari rencana besarnya. Ia dengan sabar mencatat setiap bukti kebejatan keluarga Amarta: mulai dari penggelapan pajak, pemerasan, hingga skandal moral yang membusuk. Demian sengaja membiarkan dirinya dianggap sebagai mangsa agar ia bisa memetakan kelemahan dinasti Amarta dari dalam. Puncaknya terjadi ketika Darius kehilangan kendali dan menyerang Almira Residence. Di saat itulah, Demian melepas topeng "jurnalis miskin"-nya. Dengan dukungan penuh dari tim hukum kerajaan media miliknya, ia menghancurkan keluarga Amarta secara sistematis dan permanen. Kejatuhan keluarga Amarta menjadi saksi bisu bahwa di balik kesantunan yang tampak rentan, Demian adalah arsitek kehancuran yang tak menyisakan ruang bagi musuhnya untuk bangkit.
Lihat lebih banyakPendar cahaya hijau dari layar ponsel yang berkedip pelan di atas nakas mendadak meredakan deru napas tebalku yang berpacu di ambang pintu.Dila menatap layar itu lekat-lekat, lalu melirik sekilas ke arahku dengan manik mata yang menyiratkan selarik keraguan. Tanpa ragu, ia menyambar perangkat tersebut dan menggeser ikon hijau."Halo, Ma...?" sapa Dila, suaranya terdengar kaku di tengah keheningan subuh.Aku berdiri mematung di dekat pintu, tenggorokanku mendadak kering kerontang. Kakiku terasa terpaku di atas karpet koridor, sementara telingaku menajam menangkap suara serak khas perempuan paruh baya yang meluncur dari pengeras suara ponsel."Dila, Sayang... kamu sudah bangun, kan?" suara Eva terdengar tenang, begitu natural tanpa cela, seolah ia tidak baru saja melewatkan beberapa menit yang menegangkan di kamar 304 bersama menantunya sendiri."Mama sudah mendarat di hotel kawasan Uluwatu ini sejak jam lima tadi. Kebetulan sekali, lokasi hotel Mama tidak jauh dari resor tempat kalian
Lampu indikator di gagang pintu berkedip merah terang, memancarkan pendar darah yang menyengat di tengah remangnya koridor. Suara "klik" mekanik tertahan terdengar dari dalam, menandakan gerendel pengaman telah digeser rapat-rapat.Jantungku mendadak melonjak hingga ke tenggorokan. Darahku berdesir dingin, menyiram sekujur tubuh dengan peluh yang mendadak merembes keluar dari pori-pori kulit.Napas yang tadinya memburu usai melarikan diri dari kamar 304 kini tertahan rapat di kerongkongan, menyisakan rasa sesak yang luar biasa.Aku menempelkan telapak tangan kananku yang basah ke permukaan kayu daun pintu yang dingin."Dila..." panggilku tertahan, berusaha menstabilkan getaran di pita suaraku agar tidak terdengar seperti buronan panik. "Sayang... ini aku. Buka pintunya."Tidak ada jawaban seketika. Hanya suara dengung samar pendingin ruangan dari balik pintu yang menemani keheningan subuh.Namun, sesaat kemudian, derap langkah kaki ringan tanpa alas terdengar mendekat ke arah ambang
Celah pintu yang terbuka selebar bahu itu membiarkan aroma parfum vanila milik Eva merangsek masuk, mengusir bau lembab koridor hotel seketika. Tanpa perlu sepatah kata pun terucap, jemari lentik wanita itu bergerak menarik pergelangan tanganku. Sentuhan kulitnya terasa hangat dan menuntut, menyeret langkahku melewati ambang pintu sebelum daun pintu kayu berukir itu menutup rapat dengan bunyi klik yang diredam karpet tebal.Suasana di dalam kamar bernuansa remang-remang. Hanya pendar lampu meja bersumbu kuning redup yang menerangi sudut ruangan, menyisakan bayangan panjang di dinding putih gading.Begitu punggungku membentur dinding kamar yang dingin, Eva sudah merangsek maju. Jarak di antara kami lenyap dalam satu kedipan mata. Napasnya yang hangat berembun di leherku, membawa aroma vanila yang pekat dan memabukkan. Tangannya yang bebas melingkar erat di tengkukku, menarik kepalaku menunduk sementara bibirnya langsung membungkam protes yang sempat tertahan di kerongkonganku.Ciuma
Desau angin malam yang menepis daun-daun palem di luar jendela terdengar begitu lambat, berpadu dengan deru pendingin ruangan yang mendengung monoton. Di atas ranjang king size, Dila masih meringkuk dalam lelapnya, memeluk guling dengan napas teratur yang mendarat lembut di atas seprai.Aku masih duduk di tepi tempat tidur, memandangi layar ponsel yang baru saja padam. Tiga baris kalimat itu berputar-putar di dalam kepalaku, menyerupai nyala api kecil yang membakar sisa kewarasanku perlahan-lahan.Kaki telanjangku menyentuh permukaan lantai marmer yang terasa dingin menggigit telapak kaki.Rasa dingin itu menjalar naik, mengirimkan sengatan kecil ke sepanjang tulang belakangku.Aku menoleh sekali lagi ke arah Dila. Istriku sama sekali tidak bergeming. Wajahnya tampak begitu polos, damai tanpa beban, memercikkan rasa bersalah yang menusuk ulu hatiku bagai tusukan jarum halus. Namun, bayangan aroma parfum vanila yang manis dan lekat, serta ingatan akan desah napas di balik dinding kam


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan