Short
Kenapa Panik Setelah Aku Meninggalkan Dunia

Kenapa Panik Setelah Aku Meninggalkan Dunia

Par:  IjoComplété
Langue: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
16Chapitres
133Vues
Lire
Bibliothèque

Partager:  

Report
Overview
Catalog
Scanner le code pour lire sur l'application

Selama tiga tahun ini, Leon Sinclair berselingkuh dariku. Dia menyembunyikan perempuan itu dengan begitu rapi, tanpa menyisakan celah sedikit pun. Aku pernah menemukan kalung renda yang masih hangat di jok belakang mobilnya. Bahkan di belakang telinganya, lebih dari sekali aku menemukan bekas gigitan yang masih baru, menyisakan jejak kemesraan dengan perempuan lain. Setiap kali, aku mengamuk seperti orang gila, mengobrak-abrik rumah sampai berantakan, dan menuntut jawaban tentang siapa wanita itu, Leon hanya mengernyit lelah, menatapku seakan akulah yang bermasalah. "Giselle, sampai kapan kamu mau curigaan begini? Kamu bilang aku selingkuh, ya tunjukkan buktinya." Jadi, aku mengikutinya 24 jam penuh. Aku beri tahu semua keluarga, semua teman, untuk berjaga di depan hotel di bawah apartemen, siap menangkap basah. Namun, setiap kali pintu kamar itu didobrak, yang kulihat hanya Leon, duduk rapi di sofa dengan kemeja terkancing sempurna, menatapku dingin. "Mau geledah?" Setiap kali aku keluar dengan tangan kosong, ibuku menggenggam tanganku sambil menghela napas. "Giselle, dalam pernikahan itu yang paling penting kepercayaan. Kamu ribut terus kayak gini, muka Leon mau ditaruh di mana?" Bahkan sahabat terdekatku pun berusaha menasihatiku dengan hati-hati. "Mungkin ... kamu emang lagi terlalu stres, Giselle. Bisa jadi itu cuma pikiranmu sendiri."

Voir plus

Chapitre 1

Bab 1

Namun, yang terlintas di kepalaku justru sisa lipstik yang belum sempat terhapus di bibir Leon. Warnanya mencolok. Terlalu mencolok untuk diabaikan.

Lalu, seorang gadis muda tiba-tiba menghadang jalanku. "Ibu! Aku putri Ibu dan Ayah, dua puluh tahun dari sekarang. Tolong, Ibu, berhenti curiga sama Ayah! Nggak ada orang ketiga. Nggak pernah ada!"

"Kalau Ibu terus kayak gini, tiga bulan lagi .... Ayah bakal mati gara-gara kecurigaan Ibu! Ibu bakal nyesel seumur hidup!"

Aku membeku di tempat. Wajahku seketika pucat pasi.

Gadis itu terisak sampai suaranya pecah. "Ayah sayang banget sama Ibu. Hari dia meninggal ... Ibu masih ngambek karena nyium parfum asing di tubuh Ayah."

"Ayah nyetir 300 kilometer cuma buat beliin kue raspberry favorit Ibu dari toko itu. Di jalan tol, Ayah mengalami kecelakaan beruntun."

"Sampai napas terakhir ... tangan Ayah masih genggam kantong kue itu erat-erat ...."

Dia mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata. "Aku balik ke sini supaya tragedi itu nggak kejadian lagi. Ibu, Ibu sama Ayah tetap akur, ya?"

Aku memaksa diriku tenang. Kupandangi wajahnya baik-baik. Alis dan matanya memang sangat mirip denganku saat masih muda.

Bahkan tahi lalat kecil tepat di tengah ujung hidungnya pun persis sama seperti milik Leon.

Sejak hari itu, aku benar-benar berubah.

Leon pulang larut, aku tak lagi mencecarnya dengan pertanyaan. Saat ada bekas cakaran baru di punggungnya, aku tak lagi membanting barang atau menangis meraung seperti dulu.

Seolah merespons perubahan itu, Leon pun kembali menjadi sosok yang lembut seperti dulu.

Setiap pagi sebelum berangkat kerja, dia akan berhenti sejenak di ambang pintu, mengecup keningku dengan senyum tipis, lalu berbisik pelan, "Tunggu aku pulang, ya."

Sepulang kerja, dia selalu membawa seikat mawar putih yang masih dipenuhi embun.

Namun, kecurigaan itu tak pernah benar-benar hilang. Tetap mengganjal di tenggorokanku, tak bisa kutelan, tak bisa pula kumuntahkan.

Aku hanya bisa mengulang-ulang satu kalimat di kepala, 'Aku yang berlebihan. Kami nggak boleh saling menyiksa lagi.'

Sampai suatu malam, di tengah makan malam, Leon tiba-tiba meletakkan sendoknya. Dia menatapku dengan tenang.

"Giselle, akhir-akhir ini kamu kenapa berubah?"

Aku menghentikan gerakan sendokku, lalu menjawab sejujurnya, "Soalnya aku ketemu anak kita dari 20 tahun di masa depan. Dia bilang, rasa curigaku bakal bikin kamu meninggal."

Leon terdiam sesaat. Namun, reaksi pertamanya justru bukan menanyakan penyebab kematiannya.

Dia malah memutari meja, berjongkok di hadapanku, lalu menangkup wajahku yang pucat dengan telapak tangannya. Jemarinya mengusap lembut sudut mataku. "Kamu pasti ketakutan banget, ya?"

"Nggak perlu merasa bersalah. Kita usaha sama-sama, masa depan pasti bisa berubah."

Saat itu juga, rasa perih nyaris menembus dadaku.

Aku mengangguk sambil terisak. Dalam kelembutannya, aku hampir percaya bahwa dulu akulah yang terlalu sensitif.

Maka secara wajar, Audrey mulai tinggal di rumah kami. Dia tahu semua kesukaanku dengan sangat jelas. Dia tahu aku minum kopi tanpa gula, tahu aku suka memakai bantal empuk saat membaca, seolah-olah dia benar-benar telah hidup bersamaku selama 20 tahun.

Sampai pada suatu hari, saat aku menghidangkan piring buah, aku tak sengaja mendengar tawa lepas Audrey dari ruang tengah.

"Dia bodoh banget sih? Kok bisa percaya aja ada anak yang balik dari masa depan? Dia pikir dia tokoh utama novel Mary Sue apa?"

"Ide kamu genius banget. Aku nggak perlu sembunyi-sembunyi lagi. Kamu menaruhku tepat di depannya. Dia bukan cuma nggak bisa curiga, tapi juga harus nonton langsung kita bermesraan."

Suara Leon terdengar penuh ejekan.

"Salah dia sendiri terlalu ekstrem dan terlalu peka. Dia yang maksa aku begini."

Jeda sejenak, suaranya terdengar lebih berat.

"Mainkan peranmu dengan baik. Jangan sampai Giselle tahu."

"Dia itu beda. Dulu, cuma dia yang mau menemaniku tinggal di rumah kontrakan. Saat kakiku dipatahkan, cuma dia yang menjagaku selama tiga hari tiga malam. Cuma dia. Yang bisa jadi Nyonya Sinclair nanti ya cuma dia."

"Soal kebiasaan Giselle, tiap hari bakal tetap aku kirim ke kamu. Hapalin baik-baik."

Tubuhku kaku di tempat. Ujung-ujung jariku terasa dingin membeku.

Namun kali ini, aku tidak langsung menyerbu keluar dan berteriak seperti dulu. Aku hanya berbalik dan berjalan tenang kembali ke dapur.

Air dingin membasuh ujung-ujung jariku, tetapi tak ada yang sedingin rasa di dalam hatiku.

Mereka tidak tahu, alasan aku percaya pada perpindahan dunia, adalah karena aku sendiri yang mengalaminya. Aku terikat sebuah sistem.

Sistem menunjukkan, Leon memang benar-benar akan meninggal tiga bulan lagi.

Tiga hari lalu, sistem pernah bertanya padaku, apakah aku ingin kembali ke dunia asalku.

Aku sempat ragu dan ingin bertahan untuk menyelamatkannya. Namun saat ini, menatap bayanganku yang samar di pantulan kaca dapur, aku berbisik pada sistem, "Aku udah mutusin. Aku mau pulang. Pulang ke rumahku yang sebenarnya."

Déplier
Chapitre suivant
Télécharger

Dernier chapitre

Plus de chapitres

Aux lecteurs

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Pas de commentaire
16
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status