แชร์

Diracun

ผู้เขียน: DewaRa
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-19 20:58:03
​"Mundur!"

​Pekikan Sena bergaung keras di dalam gubuk remang-remang itu. Belum sempat Ayu, Elsa, atau Irma mencerna perintah tersebut, gulungan kertas kecil di tangan Sena mendadak mendesis. Kertas itu terbakar dengan sendirinya tanpa api, meletupkan kepulan asap tipis berwarna ungu pekat berbau anyir yang sangat menyengat.

​Racun kontak udara!

​"Uhuk! Uhuk..." Ayu yang berdiri paling dekat langsung mencengkeram lehernya. Wajah cantiknya seketika pucat, dan kedua lututnya gemetar hebat se
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Kota

    Mobil dinas yang membawa Sena melaju membelah hiruk-pikuk lalu lintas ibu kota menuju Rumah Sakit Pusat Kepresidenan. Begitu pintu mobil dibuka, Sena tidak diberikan waktu untuk bernapas legah. Suasana lorong rumah sakit berdesing oleh sirine dan derap langkah tergesa-gesa para tenaga medis.​Sesampainya di ruang perawatan VIP yang dijaga ketat, seorang wanita muda berseragam dokter putih melangkah cepat menghampiri Sena. Garis wajahnya tegas, tatapan matanya tajam namun memiliki kehangatan yang sangat familier.​"Kamu Sena, kan? Tabib dari desa yang direkomendasikan Pak Menteri?" tanya dokter muda itu tanpa basa-basi.​Sena mengangguk tenang. "Iya, Dok. Saya Sena."​"Saya Dokter Vera, spesialis penyakit dalam yang memegang tim di sini," ujarnya seraya mengulurkan tangan sejenak sebelum berbalik membimbing Sena masuk. "Kondisi di dalam sangat kritis, Sena. Pejabat tinggi dan beberapa pasien di ruang isolasi mengalami kejang saraf misterious. Dokter-dokter senior sudah angkat tangan. D

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Harus Ke Kota

    Hari-hari berlalu dengan cepat. Hubungan Sena dan Ayu tetap berjalan manis seperti biasa—hangat, penuh perhatian, dan dibalut ikatan batin yang begitu erat tanpa terburu-buru mengikatkan diri dalam tali pernikahan. Bagi Ayu, berada di dekat Sena dan membantunya setiap hari sudah lebih dari cukup untuk membuat hatinya penuh.​Sementara itu, proyek pembangunan gedung baru puskesmas tiga lantai terus mengepulkan asap aktivitas. Suara deru alat berat dan ketukan palu para pekerja konstruksi menjadi musik harian di desa itu. Dinding-dinding kokoh calon pusat medis modern terpadu mulai berdiri megah, menjadi bukti nyata atas dedikasi dan pengaruh besar yang dimiliki Sena.​Seiring berjalannya waktu, keajaiban tangan Sena dan keagungan Hawa Murni miliknya tak lagi hanya menjadi buah bibir warga desa. Nama Sena membumbung tinggi hingga ke pelosok negeri, menembus dinding-dinding istana dan kediaman para pejabat di ibu kota.​Pagi itu, sebuah helikopter berlogo kementerian mendarat mulus di l

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Semua Untuk Ayu

    Malam harinya, suasana gubug kediaman Sena begitu tenang dan hening. Derik serangga malam mengiringi Sena yang sedang duduk bersila di atas balai-balai kayu, menyerap Hawa Murni untuk menyelaraskan energi purnamanya.​Suara ketukan pelan di pintu depan memecah keheningan. Sena membuka matanya, lalu berdiri melangkah membukakan pintu. Di balik pintu, berdiri Irma dengan gaun tipis rumahan yang membalut tubuh indahnya. Wajah cantiknya memancarkan rasa cemas sekaligus kerinduan yang mendalam.​"Sena..." panggil Irma pelan seraya melangkah masuk tanpa ragu.​"Irma? Ada apa malam-malam datang ke sini?" tanya Sena lembut.​Irma menatap Sena erat-erat, matanya menyelidik. "Aku dengar kabar dari warga desa kalau tadi siang paman Ayu datang membawa mobil berkelas dan sempat membuat keributan di rumah Ayu. Bagaimana masalahmu dengan pamannya? Apakah semua baik-baik saja?"​Sena tersenyum tipis, mengangguk tenang. "Semua sudah beres, Irma. Paman dan Ibu Ayu sudah merestui kami secara penuh."​Me

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Permohonan Maaf

    Tekanan emosional dan rasa malu yang luar biasa menghantam pembuluh darahnya. Tiba-tiba, Paman Ayu meringis kesakitan. Tangannya mencengkeram dada sebelah kiri dengan sangat erat. Cangkir kopi yang berada di meja teras tersenggol jemarinya hingga jatuh dan pecah berkeping-keping di lantai.​"A-aduh... da... dadaku..." bisik Paman Ayu tercekik.​Mata pria paruh baya itu mendelik ke atas. Dalam hitungan detik, tubuh tegapnya ambruk meluruh ke lantai teras. Napasnya terengah-engah makin menyempit, sementara bibirnya perlahan membiru akibat serangan jantung akut yang dipicu oleh syok berat.​"Paman!" jerit Ayu histeris. Ia langsung berlari menghampiri pamannya yang terkulai lemah.​Ibu Ayu ikut menjerit ketakutan, panik luar biasa melihat adiknya sekarat di depan mata. "Sena! Tolong, Sena! Pamanmu kena serangan jantung!"​Pak Imam dan para nyonya terkejut, namun mereka tetap berdiri tenang karena tahu betul siapa pemuda yang berada di antara mereka.​Sena tidak panik sedikit pun. Langkah

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Pembuktian Sena

    "Apapun bisa saya berikan, Paman!" ucap Sena dengan suara berat, mantap, dan sarat wibawa. Tatapan matanya yang tajam menatap lurus ke dalam iris mata sang paman tanpa ada keraguan sedikit pun.​Paman Ayu tertegun sejenak. Namun, sedetik kemudian, kekehan sinis lolos dari bibirnya. Kekehan itu cepat berubah menjadi tawa lepas yang menggema di ruang tamu rumah Ayu yang sederhana.​"Ha... ha ha! Apapun?" Paman Ayu menggeleng-gelengkan kepala seraya menyesap kembali kopi hitam di cangkirnya, lalu menatap Sena dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan cemooh yang makin menjadi-jadi. "Pemuda, pemuda... Anak muda zaman sekarang kalau sudah mabuk asmara memang lidahnya tajam betul. Kamu tahu apa tentang dunia luar? Kamu pikir menjamin masa depan perempuan itu cuma butuh modal makan nasi dan kata-kata manis?"​Ibu Ayu yang berdiri di dekat pintu dapur hanya bisa menunduk pasrah, sementara Ayu makin erat menggenggam jemari Sena. Tubuh gadis itu masih bergetar kecil, ketakutan jika pelukan Sen

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Dibawa Ke Luar Pulau

    Siang itu, suasana bahagia di rumah Ayu mendadak sirna ketika sebuah mobil bak terbuka berhenti di halaman. Paman Ayu, yang sudah bertahun-tahun merantau dan sukses di luar pulau, datang berkunjung. Tanpa basa-basi, sang paman menyampaikan maksud kedatangannya: memboyong Ayu untuk melanjutkan pendidikan tinggi dan mengurus bisnis keluarga di sana.​"Ayu, ini kesempatan emas. Pendidikan dan masa depanmu jauh lebih terjamin di sana," tegas sang paman saat mereka duduk di ruang tamu.​Ayu membeku. Pikirannya langsung melayang pada Sena dan ikatan suci yang baru saja mereka jalin semalam. Dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, Ayu menggeleng kuat.​"Tidak, Paman... Ayu tidak mau. Ayu ingin tetap di sini, mengabdi di puskesmas bersama Sena."​Mendengar penolakan itu, Ibu Ayu yang berdiri di samping meja langsung menyambar keras. "Jangan bodoh, Ayu! Sena itu hanya pemuda gubug yang mengabdi di desa. Kamu harus berpikir realistis demi masa depanmu sendiri!"​"Tapi Ibu, Ayu berat mening

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status