MasukArjon mengira semuanya telah berakhir saat ia meninggal di ranjang rumah sakit pada usia lima puluh lima tahun. Namun ketika membuka mata, ia justru terbangun di Bonua Toru, dunia misterius yang dulu hanya ia kenal dari dongeng sang kakek. Di dunia asing itu, Arjon mewarisi Batu Waktu, artefak legendaris yang memberinya kekuatan untuk mengendalikan waktu. Tetapi kekuatan tersebut ternyata adalah kutukan. Sejak hari pertama, para Penguasa Waktu mulai memburunya. Mereka percaya tidak boleh ada Pengendali Waktu yang hidup. Untuk bertahan hidup, Arjon harus menjadi lebih kuat, mengumpulkan kekuatan yang tersebar di seluruh Bonua Toru, dan mengungkap rahasia di balik Batu Waktu. Namun di balik semua itu, ia hanya memiliki satu tujuan. Pulang. Kembali kepada anak-anaknya yang ia tinggalkan saat kematian menjemput. Tapi ketika semakin dekat dengan kebenaran, Arjon menemukan fakta yang jauh lebih mengerikan. Bagaimana jika alasan dirinya bereinkarnasi bukanlah kebetulan? Dan bagaimana jika nasib keluarganya ternyata terhubung dengan kehancuran Bonua Toru?
Lihat lebih banyak#ARJON SANG PENGENDALI WAKTU
Kakekku pernah bercerita tentang dongeng BONUA TORU, istilah dalam bahasa Batak yang berarti dunia bawah, tempat para roh tersesat, makhluk-makhluk kuno, dan kekuatan yang menurutku mustahil ada. Waktu kecil, aku selalu menertawakan cerita itu. Sampai akhirnya aku terbangun di dunia itu sendiri. Arjon adalah namaku jauh sebelum semua kegilaan ini dimulai. Dulu aku hanyalah seorang kepala keluarga biasa. Lima puluh lima tahun hidupku habis untuk bekerja, membesarkan empat anak, dan memastikan dapur rumah tetap mengepul setiap hari. Aku bukan pahlawan Aku hanya seorang ayah biasa yang terlalu takut melihat anak-anaknya kelaparan. Namun takdir rupanya tidak pernah benar-benar peduli pada manusia biasa. Malam itu, aku terbaring di bawah cahaya lampu rumah sakit yang dingin. Yang bisa kulihat hanyalah wajah keempat anakku dengan ekspresi yang berbeda-beda. Anak sulungku berdiri paling depan. Seperti biasa, dia berusaha terlihat tegar agar adik-adiknya tidak semakin khawatir. Namun aku tahu matanya sudah memerah. Anak keduaku terus memalingkan wajah. Anak ketigaku menundukkan kepala sambil menggenggam kedua tangannya erat. Sedangkan anak bungsuku... Anak perempuanku yang paling manja sejak kecil... Menangis tanpa henti. "Ayah... jangan tutup matamu..." Dadaku terasa semakin sakit. Bukan karena ajalku yang semakin dekat. Melainkan karena aku masih memiliki begitu banyak janji yang belum kutepati. Aku masih ingin menemani anak-anakku melawan kerasnya dunia. Aku belum sempat menikahkan anak sulungku. Aku belum sempat melihat mereka hidup tanpa harus memikirkan kesulitan yang selama ini kami hadapi. Aku bahkan belum sempat menggendong cucu-cucuku seperti yang selalu kujanjikan. Aku bahkan belum sempat mengucapkan selamat tinggal. Lalu semuanya menjadi gelap. --- Dan ketika aku membuka mata kembali... "Aaargh... kepalaku... sial... kenapa sakit sekali?" Kepalaku terasa seperti dihantam palu berkali-kali. Namun dunia di hadapanku bukanlah dunia yang kukenal. Langit yang retak di atas sana sama sekali bukan langit yang pernah kulihat sebelumnya. Kota ini terlihat seperti kota mati. Yang tersisa hanyalah suara angin yang berembus melewati bangkai-bangkai mobil di jalan. Tidak ada manusia. Tidak ada tanda kehidupan. Bahkan aku mulai ragu tempat ini masih bagian dari bumi atau bukan. Aku mencoba berdiri, lalu berhenti saat menyadari sesuatu. Tubuhku terasa aneh. Terlalu ringan. Sampai aku sempat kehilangan keseimbangan. Tidak ada lagi nyeri sendi. Tidak ada napas sesak yang biasa kurasakan selama bertahun-tahun. Tanganku juga tidak lagi keriput. Dengan langkah goyah, aku mendekati kaca mobil yang pecah di sampingku. Dan di sanalah aku merasa jantungku berhenti berdetak selama beberapa detik. Pantulan itu bukan pria tua berusia lima puluh lima tahun. Melainkan seorang pemuda. Rahangnya tegas. Matanya tajam. Rambut hitamnya jatuh berantakan menutupi dahi. Tubuh itu tampak seperti seseorang yang baru berusia dua puluhan. "Hei... aku masih hidup... tapi ini bukan aku..." Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri. Aku menyentuh wajahku perlahan, memastikan semua ini bukan mimpi. "Bagaimana mungkin..." Jantungku berdetak semakin cepat. Entah kenapa, pikiranku langsung dipenuhi firasat buruk. Jangan-jangan... Aku benar-benar berada di dunia yang selama ini hanya dianggap dongeng? Belum sempat aku mencerna semuanya, sebuah suara dingin terdengar dari balik reruntuhan. "Kalau aku jadi dirimu, aku tidak akan berdiri terlalu lama di ruang terbuka, Pendatang Baru." Aku langsung menoleh. Seorang pria bertubuh besar berdiri di sana mengenakan armor seperti gladiator kuno. Namun yang membuat bulu kudukku berdiri adalah tatapannya. Tatapan seseorang yang baru saja menemukan harta karun. "Mari kita lihat inti batu apa yang kau miliki." Aku bahkan tidak tahu ini dunia apa. Dan sekarang pria di depanku mengatakan hal-hal yang semakin tidak masuk akal. Namun pria itu tidak memberiku waktu untuk bertanya. Sebuah bola api raksasa terbentuk di telapak tangannya. Mataku langsung melebar. "Tu-tunggu dulu—" BOOM! Ledakan menghantam tanah tepat di sampingku. Tubuhku terpental beberapa meter hingga punggungku menghantam aspal yang retak. Panas menyengat kulitku. Aku berusaha berdiri sambil batuk keras. "Apa-apaan ini?Kenapa kau menyerangku?!" Pria itu malah tertawa "Meleset rupanya." Tangannya kembali menyala. Serangan kedua. Jauh lebih besar, lebih panas. Dan kali ini aku tahu... Aku tidak akan sempat menghindar. Apa aku akan mati lagi? Namun tepat di ambang maut itu, sesuatu berdenyut di telapak tanganku. Sebuah batu kecil berwarna perak berada di sana. Belum sempat aku berpikir lebih jauh, batu itu tiba-tiba melebur ke dalam kulit tanganku. Cahaya terang menyelimuti seluruh lenganku. Lalu dunia berhenti. Api membeku di udara, Debu tidak bergerak, Angin lenyap. Bahkan pria gladiator itu membatu seperti patung. Aku menatap sekeliling dengan napas memburu. "Aku... menghentikan waktu?" Namun aku tidak punya waktu untuk panik. Aku tahu, saat dunia kembali bergerak, pria itu pasti akan membunuhku. Aku menatap pria gladiator itu. Kalau aku tidak menyerangnya sekarang... Dia yang akan membunuhku. Aku menggertakkan gigi. "Sebagai seorang ayah, seharusnya aku memberi contoh yang baik. Bukan berubah menjadi monster seperti ini..." Aku mendekatinya dan menghantam wajah pria itu sekuat tenaga. Lalu aku menjentikkan jari. Waktu kembali berjalan. BOOM! Tubuh pria itu langsung terpental hingga menghancurkan dinding bangunan di belakangnya. Darah muncrat dari mulutnya sebelum tubuhnya terkulai tak bergerak. Aku terpaku menatap tanganku sendiri. Tubuhku bergetar hebat. Beberapa menit yang lalu aku hanyalah seorang ayah bagi empat orang anak. Dan sekarang... Aku baru saja membunuh seseorang. "Apakah aku masih bisa pulang..." bisikku. Namun saat aku mendekati tubuh pria itu, suara kecil terdengar dari balik reruntuhan bangunan. "Tolong... jangan bunuh aku..." Aku langsung menoleh. Seorang gadis kecil berdiri gemetar. Matanya dipenuhi ketakutan. Dan di tangannya ada benda yang sama seperti milikku. Hanya warnanya berbeda, Oranye. Sejujurnya... Aku sempat berpikir untuk membunuhnya. "Hei, aku tidak akan memb—" Namun sebelum aku menyelesaikan kalimatku, gadis itu mendadak membeku. Cahaya dari batu oranye di tangannya semakin terang. Kedua matanya perlahan memutih. Aku mundur satu langkah. "Apa yang terjadi...?" Saat gadis itu kembali membuka mulut, suara yang keluar bukan lagi suara anak kecil. Melainkan suara seorang wanita dewasa. Tenang, Dingin, Dan terasa sangat tua. "Kau adalah Pengendali Waktu berikutnya." Dadaku langsung terasa dingin. Gadis itu menatapku lurus. Atau mungkin sesuatu yang berada di dalam dirinya sedang berbicara kepadaku. Lalu suara itu terdengar lagi. "Dan kau akan mati, sama seperti semua Pengendali Waktu sebelumnya." Tiba-tiba tanah di bawah kaki kami bergetar. Retakan di langit perlahan melebar. Seolah ada sesuatu yang sedang mengawasi kami dari balik sana. Untuk pertama kalinya... Aku tidak bersyukur atas kehidupan keduaku.#Jejak Menuju Naga Api Aku menatap lembaran buronan yang kini berada di tanganku cukup lama. Kertas itu terlihat biasa saja, bahkan gambar wajahku hanya berupa sketsa kasar yang jelas dibuat oleh seseorang yang belum pernah melihatku secara langsung. Namun, kalimat yang tertulis di bagian bawahnya membuatku memahami sesuatu yang jauh lebih penting daripada kualitas gambar tersebut. Aku tidak lagi menjadi pendatang yang tidak dikenal. Namaku mulai beredar di Bonua Toru. Dan semakin banyak orang mengetahui keberadaanku, semakin banyak pula orang yang akan datang untuk memburu Batu Waktu yang bersemayam di dalam tubuhku. Di sampingku, Sera ikut memperhatikan lembaran yang sama. Wanita itu tidak mengatakan apa-apa selama beberapa saat, tetapi dari raut wajahnya aku bisa melihat pergulatan yang sedang terjadi di dalam pikirannya. "Aku tidak akan ikut." Suara Sera memecahkan keheningan yang sejak tadi menyelimuti kami. Aku langsung menoleh. "Apa maksudmu?" Wanita itu menarik napas
#Pengorbanan Dua Puluh TahunKepergian Revan meninggalkan keheningan yang aneh di seluruh desa.Penduduk yang sebelumnya bersembunyi perlahan mulai keluar dari rumah masing-masing. Namun tidak ada sorak sorai kemenangan. Tidak ada ucapan terima kasih. Tidak ada pula wajah bahagia karena terbebas dari seseorang yang selama bertahun-tahun menebar ketakutan.Mereka hanya berdiri diam.Menatap Sera dan Menatapku.Lalu kembali masuk ke rumah mereka masing-masing.Seolah tidak ada apa pun yang terjadi.Aku mengernyit.Perasaan tidak nyaman mulai muncul di dadaku.Sera masih duduk di dekat tiang tempat ia dirantai selama bertahun-tahun. Bekas rantai masih membekas pada pergelangan tangan dan kakinya meskipun luka-lukanya sudah sembuh karena Batu Penyembuhan.Aku berjalan mendekatinya."Kau bebas sekarang."Sera tersenyum tipis.Namun senyum itu terasa sangat sedih."Aku belum tentu bebas."Aku mengernyit."Maksudmu?"Namun sebelum ia melanjutkan, seorang pria dari kerumunan tiba-tiba melangk
#Nama yang Mulai TerdengarKalimat terakhir yang bayangan jacob ucapkan bahkan belum sempat kupahami sepenuhnya.Jangan percaya para Penguasa Waktu.Masalahnya, aku bahkan belum pernah bertemu satu pun dari mereka.Setelah berjalan hampir satu jam melewati jalanan retak dan padang tandus yang membentang sejauh mata memandang, sebuah desa mulai terlihat di kejauhan.Untuk pertama kalinya sejak tiba di Bonua Toru, aku melihat tempat yang benar-benar tampak hidup.Namun sebelum kami sempat memasuki gerbang desa, suara cambuk tiba-tiba menggema dari arah tengah pemukiman.Suara itu segera disusul jeritan tertahan seorang wanita.Aku dan Lira saling berpandangan sesaat sebelum mempercepat langkah menuju pusat desa.Di tengah lapangan berdiri sebuah dinding batu raksasa setinggi hampir sepuluh meter. Permukaannya dipenuhi simbol dan aksara aneh yang belum pernah kulihat sebelumnya. Tepat di depan dinding itu, seorang wanita dirantai pada sebuah tiang besi besar. Kedua tangannya terikat di a
#Zona WaktuEkspresi ketakutan yang terpancar di wajah Lira saat mendengar nama Jacob masih terus menggangguku, bahkan setelah kami meninggalkan jalan utama dan menuju sebuah bukit kecil di tepi desa. Sikapnya yang biasanya tenang sekarang menjadi ketakutan justru membuatku semakin yakin bahwa nama itu menyimpan sesuatu yang penting.Menjelang sore, kami berhenti di sebuah area berbatu yang cukup jauh dari permukiman."Apa kita tidak masuk desa?" tanyaku.Lira menggeleng pelan."Kau terlalu lemah."Aku mendecakkan lidah sambil menahan keinginan untuk membalas. Namun setelah mengingat bagaimana monster kemarin hampir menginjak kepalaku hingga mati, rasanya aku memang tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk membantah perkataannya."Itu bukan hinaan," lanjutnya tenang sambil duduk di atas sebuah batu besar. "Itu fakta."Tatapannya kemudian beralih ke arah saku celanaku."Batu inti hitam."Aku langsung memahami maksudnya. Batu inti monster yang kuambil setelah pertarungan kemarin mem












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan