Masuk"Bawa Saka dari sini, Amara," ujar Karin, tanpa mengalihkan pandangannya dari Gio."Kamu siapa berani nyuruh-nyuruh aku, hah?!" bentak Amara kesal. Dengan air mata yang masih mengalir, cewek itu mencoba memapah tubuh Saka ya. Namun, boro-boro berhasil membuat Saka berdiri, Amara yang memakai high heels justru oleng dan hampir ikut terjatuh. Saka sendiri yang setengah sadar tetap keras kepala dan tidak mau beranjak."Lihat, kan?! Ini semua karena ulah kamu! Sekarang malah ngatur-ngatur!" gumam Amara lagi, menatap tajam Karin sambil terus menarik-narik lengan Saka yang berat.Karin menghela napas panjang, menepuk dahinya pelan. "Ya ampun, nih anak... mau evakuasi korban atau mau fashion show sih? Menye-menye banget," gumam Karin kesal.Melihat Amara yang sama sekali tidak bertenaga dan malah membuat situasi makin hancur, Karin akhirnya kehilangan kesabaran. Tanpa babibu, Karin melangkah mendekat. Ia menyenggol bahu Amara hingga cewek itu tergeser mundur.Sebelum Saka sempat memprotes, K
BUG! BUG!Dua hantaman keras berturut-turut mendarat telak di rahang dan tulang rusuk Saka. Untuk kesekian kalinya, Saka gagal mengelak maupun membalas serangan kilat dari Gio.Cowok itu terhuyung mundur, tangan kirinya bergerak menyeka darah segar yang mulai mengalir dari sudut bibirnya yang pecah. Gila... nih anak cupu-cupu tapi teknik bela dirinya gila juga! batin Saka mengumpat. Pergerakan Gio sama sekali tidak mencerminkan anak perpus yang lemah; setiap serangannya terukur, efisien, dan sangat cepat.Gio berdiri dengan angkuh, sedikit pun napasnya tidak memburu. Ia menatap Saka yang mulai kepayahan dengan pandangan merendahkan. "Cuma segitu kemampuan lo? Pangeran kampus baru dipukul beberapa kali aja lututnya udah gemetar," ejek Gio, sengaja memancing emosi penonton di sekitar parkiran.Saka tidak menjawab. Ia mencoba fokus, mengatur napasnya yang mulai kacau, dan membaca pergerakan lawan. Begitu Gio kembali menerjang maju dengan sebuah pukulan lurus, Saka merunduk cepat memanfa
Sepulang dari kelas siang itu, area parkir luar kampus tampak cukup ramai. Namun, perhatian Saka langsung terkunci pada dua orang yang tengah berdebat sengit di dekat tiang koridor. Itu Karin dan Gio. Gio tampak mencengkeram pergelangan tangan Karin dengan kasar, menariknya paksa."Gio, lepas! Aku nggak bakal lupa ya apa yang kamu omongin semalam! kamu udah bikin malu, tahu nggak?!" bentak Karin, berusaha menghempaskan tangan Gio."Malu? Karin, gue sama sekali nggak bikin lo malu, ya! Taruhan semalam itu cuma bercanda!" kilas Gio, wajahnya tidak merasa bersalah sedikit pun."Aku bilang lepas!" teriak Karin frustrasi.Saka yang saat itu sedang berjalan bersisian dengan Amara langsung menghentikan langkah, instingnya mendesak untuk segera melangkah ke sana. Namun, Amara dengan cepat menahan lengan Saka, mencengkeramnya erat."Udah, nggak usah kesana. Itu bukan urusan kamu lagi, Saka," ketus Amara, ego terusik melihat Saka yang begitu reaktif jika menyangkut Karin.Saka menoleh, menatap
"Ya ampun, apa-apaan ini?! Ini beneran aku?! Aku minta orang-orang sorak buat nyium? Astaga Karin, harga dirimu jatuh ke inti bumi!" batin Karin histeris di pojok koridor kampus.Di layar ponselnya, video berdurasi 15 detik yang dikirim ke grup angkatan kampus itu terputar berulang-ulang. Di sana terlihat jelas bagaimana Karin dengan sangat santai mengalungkan kedua lengannya ke leher Saka, mencolek hidung cowok itu dengan jahil, lalu berteriak lantang ke arah kerumunan mahasiswa seolah sedang kesurupan."Rasanya nggak pengen masuk kelas. Pinjam mantel tembus pandang Doraemon bisa nggak sih sekarang? Biar bisa lenyap tanpa diketahui siapa pun," gumam Karin, matanya sudah berkaca-kaca menahan malu yang luar biasa.Pantas saja sejak melewati gerbang kampus tadi, pandangan semua orang tertuju padanya dengan tatapan aneh. Beberapa mahasiswa yang biasanya cuek setengah mati, mendadak menyapanya dengan sok akrab. Bahkan, tadi ada mahasiswi yang terang-terangan m
Kenapa bisa ada dua orang tua sekaligus di sini, sih?!batin Saka kesal campur panik. Halaman gedung yang tadinya sudah ramai karena ulah konyol Karin, kini mendadak suram. Dua pria matang bertubuh kekar saling berdiri berhadapan, melemparkan tatapan dingin. "Wih, siapa tuh Om-om yang rambutnya agak gondrong di sebelah ayahnya Saka? Ganteng banget, gila! Apa jangan-jangan... sugar daddy-nya Karin, ya?" bisik seorang cewek dari dalam dibalik kaca pintu lobi, beberapa cewek yang ikut mengintip jalannya keributan mulai berbisik-bisik heboh. "Bukan, ih! Perhatiin deh, struktur wajahnya kan mirip banget sama Karin. Bapaknya kali!" sahut temannya. "Bapaknya? Gila, kalau bapaknya sekeren itu, gue deketin Karin biar bisa dapetin bapaknya aja, boleh nggak?" tawa cewek satunya lagi, terpukau melihat aura maskulin Jonathan. "Malam, Jo. Udah lama ya, kita nggak ketemu?" sapa Antonio santai. Jonathan mendengus malas. Tentu saja dia tahu persis siapa pria perlente di depannya ini. Mengingat si
"Lo tuh nggak kuat minum, jangan sok-sokan deh!" Ujar Saka setelah keluar gedung dan menurunkan tubuh Karin.Kepalanya mendadak pening memikirkan bagaimana cara memulangkan gadis ini. Bisa habis dia dimaki-maki atau bahkan dijadikan sansak hidup oleh ayah Karin kalau sampai tahu putri tunggalnya pulang dalam keadaan teler begini.Bukannya takut atau sadar, Karin malah mengerjap-ngerjapkan matanya yang sayu. Melihat wajah Saka yang berjarak begitu dekat di depannya, Karin justru tersenyum jahil. Dengan gerakan santai ia mengalungkan kedua lengannya ke leher Saka, membuat tubuh mereka kembali merapat.Saka tersentak, tubuhnya mendadak kaku seperti batu. Jantungnya berdegup gila-gilaan karena jarak mereka yang mengikis habis. "Karin, lepasin. Lo beneran udah nggak sadar, ya?"Karin tidak memedulikan ucapan Saka. Gadis itu malah memalingkan wajahnya ke arah beberapa mahasiswa yang kebetulan lewat di halaman gedung untuk pulang, lalu berteriak dengan suara lantang yang cempreng."Oii,
Abil memacu mobilnya membelah jalanan kota dengan kecepatan gila. Ponsel di dasbor terhubung ke speaker mobil, tersambung ke panggilan Maya yang baru diangkat setelah puluhan kali mencoba."Ngapain sih kamu nelpon terus mas? Aku kan udah bilang mau pergi!" suara Maya terdengar ketus da
"Aku akan memenjarakan pria itu, aku janji."Hanya itu kalimat terakhir yang diucapkan Elian sebelum ia melangkah pergi. Boy, yang biasanya tidak pernah kehabisan kata-kata dan selalu punya selera humor pedas untuk mencairkan suasana, kini hanya bisa berdiri mematung. Pria kemayu
Sudah tiga hari berlalu sejak pertengkaran hebat di taman itu, dan selama itu pula ponsel Boy tidak aktif. Pesan-pesan Maya hanya berakhir dengan centang satu yang membeku."Udah tiga hari, Mas Boy kenapa nggak bisa dihubungi ya?" gumam Maya gelisah."Maya..." Sebuah suara serak memecah keheninga
Suasana di masjid itu begitu kontras dengan badai yang berkecamuk di dada Maya. Dekorasi bunga melati dan mawar putih premium menghiasi setiap sudut ruangan.Di kursi pesakitan—begitulah Maya menyebut kursi pengantin itu—ia duduk dengan kebaya putih yang sangat cantik, namun wajahnya tertutup kain







