تسجيل الدخولPintu utama apartemen terbuka bertepatan dengan layar ponselku yang menggelap.Arjuna melangkah masuk. Dia tidak langsung menuju ruang kerjanya seperti biasa. Langkah kakinya membawa pria itu lurus ke arah dapur, tempatku duduk menatap sisa air dingin di dalam gelas kaca.Aroma kopi panggang dan sedikit bau asap jalanan menguar dari kemejanya. Sesuatu yang sangat asing menempel pada tubuh seorang CEO Diwangsa Corp."Kamu bau kafe murah," tegurku langsung.Arjuna melonggarkan dasinya dengan satu tarikan cepat. Dia menarik kursi bar tepat di sebelahku dan menjatuhkan tubuh besarnya di sana."Kafe mahasiswa di daerah selatan," koreksinya. Suaranya tidak terdengar lelah. Ada vibrasi energi yang padat di sana. "Kopinya terlalu asam. Mejanya lengket.""Tempat yang sangat salah untuk pertemuan bisnis seorang Arjuna Diwangsa.""Ini bukan pertemuan bisnis, Alea."Dia menoleh menatapku. Sorot matanya tajam, namun tidak menyiratkan intimidasi."Aku baru saja bertemu dengan Dani. Mahasiswa pascas
Suara lonceng pintu bergemerincing tajam saat aku mendorong gagang kaca.Udara dingin dari pendingin ruangan langsung menghantam wajahku. Aroma biji kopi yang disangrai terlalu matang menusuk rongga hidung.Ini kafe yang sama. Posisi mejanya tidak berubah. Susunan kursi kayunya identik dengan hari saat aku duduk berhadapan dengan Laras beberapa bulan lalu.Raina sudah duduk di sudut paling tertutup. Posturnya tegak lurus menantang sandaran kursi. Jarinya mengetuk permukaan meja marmer dengan tempo konstan.Aku melangkah mendekat dan menarik kursi di seberangnya. Bunyi decit kayu bergesekan dengan lantai terdengar nyaring."Kamu sengaja memilih tempat ini," tembakku langsung.Aku tidak membuang waktu untuk menyapa. Raina juga tidak mengharapkannya.Raina menghentikan ketukan jarinya. Pandangannya lurus mengunci mataku."Tempat percakapan penting biasanya aman untuk percakapan penting berikutnya," balasnya datar.Itu bukan kebetulan. Perempuan di depanku ini selalu menghitung setiap var
Suara getaran ponsel merambat melalui permukaan nakas kayu. Benda itu bergeser beberapa milimeter, menciptakan bunyi dengung yang konstan dan mengganggu.Aku baru saja keluar dari kamar mandi. Handuk masih melilit rambutku yang basah. Tetesan air dingin mengalir turun ke leher belakangku.Mataku menangkap nama yang menyala di layar. Raina.Aku menekan tombol hijau. Mengangkat benda pipih itu ke telinga kiri.Belum sempat satu silabel sapaan keluar dari bibirku, kebisingan langsung menyerbu gendang telingaku.Tidak ada "Halo". Tidak ada pertanyaan basa-basi.Hanya ada rentetan suara fisik. Gesekan kertas karton yang tebal. Bunyi plastik keras yang beradu. Dentingan logam kecil yang menghantam dasar tempat sampah dengan kasar."Aku sedang membuang ini semua."Suara Raina menusuk di sela-sela kebisingan itu. Datar, serak, dan tanpa intonasi ragu sedikit pun.Aku berjalan menuju tepi ranjang dan duduk perlahan."Membuang apa persisnya?" tanyaku, memposisikan diri sebagai penerima laporan.
Ruang perpustakaan kecil di sudut apartemen kami selalu memiliki suhu yang beberapa derajat lebih rendah.Tidak ada jendela besar yang membiarkan cahaya matahari Jakarta masuk dengan leluasa. Hanya ada lampu baca bernuansa kuning hangat yang menyorot langsung ke pangkuanku.Aku duduk bersandar pada kursi berlapis beludru gelap. Di atas pahaku, tergeletak sebuah buku catatan bersampul kulit hitam.Ujung-ujung sampulnya sudah mulai terkelupas. Sebuah bukti fisik bahwa benda ini terlalu sering digenggam dengan cengkeraman tangan yang berkeringat dingin atau gemetar karena luapan emosi.Halamannya nyaris penuh.Aku membalik sampul yang kaku itu. Kertas pertama berderit pelan, memperlihatkan teksturnya yang mulai menguning di bagian tepi.Ada tiga kata tertulis di tengah halaman kosong tersebut.Tinta pena hitam ditekan terlalu keras saat menulisnya, hingga meninggalkan jejak timbul yang bisa kurasakan dengan ujung jemariku di halaman sebaliknya."Apa yang aku mau?"Kalimat itu kutulis ber
Aroma mentega yang dipanaskan dan manisnya ekstrak vanila menyusup ke dalam kamar tidur kami.Aku membuka mata perlahan. Sisi kasur di sebelahku sudah kosong, namun seprai linennya masih menyimpan sisa kehangatan tubuh Arjuna.Jam di nakas baru menunjukkan pukul enam pagi.Ini adalah hari ulang tahun Elang yang kedua. Sebuah pencapaian kalender yang terasa jauh lebih masif dari sekadar perputaran bumi mengelilingi matahari.Aku menyingkap selimut dan turun dari ranjang. Rasa dingin dari lantai kayu langsung menyapa telapak kakiku saat aku berjalan keluar kamar, mengikuti jejak aroma manis yang tidak biasa itu.Di dapur, pemandangan ganjil menyambutku.Arjuna Diwangsa, pria yang biasanya memulai harinya dengan membedah laporan pasar saham atau meruntuhkan argumen direksi, kini sedang berdiri di depan kitchen island.Dia tidak memakai kemeja kaku atau setelan jas seharga ratusan juta. Hanya kaus hitam polos dan celana training.Lengan bajunya digulung hingga ke siku, memperlihatkan otot
Cahaya fajar menyusup dari celah tirai yang tidak tertutup rapat.Warna biru pucat perlahan mengusir kegelapan di dalam ruang makan apartemenku. Aku duduk sendirian di ujung meja marmer, ditemani kepulan asap tipis dari secangkir kopi hitam yang sengaja kuseduh sangat pekat.Arjuna masih tertidur di kamar. Sisa kelelahan dari percakapan panjang kami semalam masih menahan tubuh besarnya di bawah selimut.Ponsel di sebelah cangkirku bergetar pelan. Bunyi dengung singkat yang menggores kesunyian pagi.Layar menyala, menampilkan nama Raina di sana. Waktu menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit.Aku membuka kuncinya. Tidak ada sapaan selamat pagi. Tidak ada konteks pembuka.Raina hanya mengirimkan sebuah gambar tangkapan layar. Sebuah halaman dari aplikasi catatan di ponselnya, berisi deretan paragraf berlatar putih terang dengan huruf-huruf hitam yang rapat.Tulisan personal yang ia buat entah pada jam berapa semalam, tepat setelah percakapan kami berakhir.Aku menyesap kopiku perla







