FAZER LOGINAku berdiri di balik jendela. Tanganku memegang cangkir keramik yang sudah kosong. Ujung jariku menyentuh permukaan kaca yang terasa hangat.Mataku terkunci pada dua sosok kecil di tengah hamparan rumput taman belakang.Elang berdiri memegang selang air plastik berwarna hijau tua. Anak laki-laki berbaju merah di sebelahnya adalah teman sekolah yang baru saja diantar ibunya lima belas menit lalu untuk bermain bermain bersama.Anak berbaju merah itu mencondongkan tubuhnya ke depan. Kedua tangannya terulur cepat, berusaha merebut ujung selang dari pegangan Elang."Ayo siram!" seru anak itu keras. Suaranya melengking, menembus celah jendela geser yang setengah terbuka.Elang tidak membiarkan selang itu berpindah tangan. Anakku menepis tangan temannya dengan satu sentakan pelan namun solid. Dia menurunkan moncong selang ke arah paving blok."Tunggu. Lihat dulu," instruksi Elang. Nada suaranya datar dan penuh otoritas mutlak.Teman Elang mendengus kesal. Kakinya menghentak rumput kering."K
Dua jendela aplikasi surel terbuka secara bersamaan di layar laptop peraknya. Pendar cahaya biru memantul tajam, mencetak bayangan tegas pada tulang pipi dan garis rahangnya.Arjuna menempatkan kursor pada jendela sebelah kiri. Kolom penerima surel pertama sudah terisi. Nama Hendra berada di urutan paling atas, diikuti oleh daftar alamat surel seluruh anggota dewan direksi senior Diwangsa.Jemarinya mulai menghajar tuts keyboard. Bunyi ketukan plastik keras itu terdengar beruntun membelah keheningan malam. Dia tidak sedang merangkai draf komunikasi publik. Dia sedang mengetik instruksi peralihan kekuasaan secara permanen.Tim ini sudah solid secara teknis, ketik Arjuna cepat.Dia tidak berhenti untuk membaca ulang kalimat pertamanya. Pikirannya sudah mendiktekan seluruh isi pesan ini sejak sore tadi.Kalau cara beradanya sudah benar, cara bekerjanya akan mengikuti alurnya sendiri, lanjut Arjuna tanpa jeda. Mulai besok pagi, saya menyerahkan seluruh eksekusi operasional harian kepada H
Arjuna melangkah masuk melintasi ambang pintu ganda berbahan kayu ek. Pria itu tidak memakai jas hari ini, hanya mengenakan kemeja katun abu-abu dengan lengan digulung hingga siku.Dekan Fakultas Bisnis, pria berusia akhir lima puluhan dengan rambut memutih, duduk di balik meja kerja besarnya. Dia tidak membuang waktu dengan sapaan basa-basi atau tawar-menawar teh hangat.Dekan itu langsung menyodorkan sebuah map plastik biru ke tengah meja."Ini draf finalnya, Arjuna," tembak Dekan langsung.Arjuna menarik kursi dan duduk. Dia meraih map tersebut, membuka sampulnya, dan memindai halaman pertama dengan kecepatan penuh. Matanya menyusuri poin-poin struktural bernomor yang tercetak tebal."Bridge program," ucap Arjuna membacakan judul dokumen itu keras-keras. "Kolaborasi riset, kurikulum, praktisi industri."Dekan mengangguk satu kali. "Bukan sekadar jabatan dosen tamu biasa. Ini entitas baru di dalam fakultas. Kami mengubah tawaran awal reguler menjadi program khusus ini.""Sebuah jemb
Suhu di ruang rapat eksekutif lantai lima puluh Diwangsa terkunci di angka tujuh belas derajat. Udara dingin menyapu permukaan meja mahoni raksasa yang mendominasi bagian tengah ruangan.Enam direktur senior duduk dalam formasi melingkar. Postur tubuh mereka tegang. Tidak ada yang bersandar rileks di kursi kulit mereka.Arjuna duduk di ujung meja utama. Pria itu memakai jas abu-abu gelap dengan dasi yang terpasang presisi. Tangannya memegang sebuah map fisik berwarna hitam tebal.Dia mengangkat map itu setinggi dada, lalu melemparnya ke tengah meja.Bunyi benturan kertas tebal dan kayu mahoni terdengar sangat keras. Suaranya memotong kesunyian absolut di ruangan tersebut. Map itu meluncur sejauh setengah meter sebelum berhenti tepat di tengah formasi."Tim ini kuat," tembak Arjuna langsung. Bariton suaranya membelah udara dingin tanpa basa-basi pembuka.Matanya menyapu keenam wajah eksekutif di depannya satu per satu."Tapi kuat beda dengan siap memimpin penuh," lanjut Arjuna tajam. "
Kamis malam. Suhu ruang keluarga diatur presisi pada angka dua puluh derajat. Udara dingin berdesir dari ventilasi pendingin sentral di langit-langit.Empat orang dewasa duduk melingkar. Aku dan Arjuna menempati sofa panjang berlapis kain abu-abu. Raka dan Raina duduk di dua kursi tunggal yang berhadapan langsung dengan posisi kami. Meja kaca rendah berbentuk persegi memisahkan formasi ini. Empat gelas air mineral bersuhu ruang berdiri di atasnya.Tidak ada televisi yang menyala. Tidak ada musik latar. Elang sudah tertidur di kamarnya sejak satu jam lalu.Raka meletakkan kedua lengannya di atas paha. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan. Pria itu mengenakan kemeja hitam polos, lengannya digulung hingga siku."Kami bawa tiga hal malam ini," buka Raka tanpa basa-basi. Suara baritonnya memotong kesunyian ruangan secara langsung."Katakan," balas Arjuna singkat. Punggung suamiku bersandar rileks di sofa. Matanya mengunci tatapan adik tirinya."Firma kami membuka praktik baru," urai Raka ce
Suhu udara di kafe kecil dekat gedung firma kami tertahan pada angka delapan belas derajat. Udara dingin dari pendingin ruangan industrial menabrak kulit wajahku secara konstan. Mesin pembuat espresso di belakang meja kasir berdesis tajam, memecah kebisingan lalu lintas pagi Jalan Sudirman di luar jendela kaca raksasa.Raka duduk tepat di seberangku. Meja kayu bundar berdiameter enam puluh sentimeter memisahkan kami. Jas abu-abunya disampirkan asal pada sandaran kursi. Kemeja hitamnya digulung rapi hingga siku, memperlihatkan urat-urat lengannya yang menonjol.Dua cangkir espresso ganda tersaji di atas meja. Asap tipis menguar dari permukaan cairan hitam pekat itu. Tidak ada dari kami yang menyentuh gagang keramik tersebut. Kami berdua membiarkan suhu kopi itu merosot."Divisi baru firma kita," ucap Raka, menembak duluan. Suaranya memotong kebisingan kafe tanpa basa-basi pembuka. "Kasus yang menggabungkan konflik keluarga dan sengketa bisnis. Klien manufaktur kemarin membuktikan pasar







