Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku
“Kalau kita berhenti sekarang, kau bisa melupakanku?”
Alea tak pernah membayangkan satu pertemuan singkat akan menyeretnya ke wilayah paling berbahaya dalam hidupnya. Arjuna Diwangsa—seorang CEO berusia matang, berwibawa, dan tak tersentuh—adalah godaan yang seharusnya tak pernah ia pandang dua kali. Terlalu berkuasa. Terlalu dingin. Terlalu terlarang.
Ketertarikan mereka tumbuh perlahan, penuh tatapan tertahan, batas yang diuji, dan kendali diri yang terus retak. Di balik sikap tenangnya, Arjuna menyimpan intensitas yang membuat Alea mempertanyakan keinginan terdalamnya sendiri. Semakin dekat mereka melangkah, semakin kabur garis benar dan salah.
Masalahnya, Arjuna bukan sekadar pria berbahaya.
Ia adalah ayah dari sahabat Alea.
Di dunia urban kelas atas yang menuntut citra sempurna, satu rahasia bisa menghancurkan segalanya—termasuk hati yang telanjur terikat.
Read
Chapter: BAB 37Lilin-lilin aromaterapi beraroma vanila dan sandalwood menyala di sepanjang meja makan marmer hitam itu.Cahayanya yang temaram berpendar lembut, memantul pada gelas-gelas kristal tinggi dan peralatan makan perak yang tertata presisi.Di tengah meja, ada vas bunga mawar merah segar yang kelopaknya masih basah oleh embun.Pemandangan ini indah. Sempurna. Seperti setting film romantis di mana pangeran tampan akan melamar kekasihnya.Masalahnya, ini bukan film romantis. Dan pria yang duduk di seberangku bukanlah pangeran, melainkan pemilikku.Aku duduk kaku di kursi beludru, mengenakan dress sutra merah marun yang dipilihkan Arjuna—salah satu hasil belanjaanku di butik waktu itu.Bahannya yang licin terasa dingin di kulit, tapi suasana di ruangan ini terasa panas dan menyesakkan."Kenapa tidak dimakan?"Suara Arjuna memecah keheningan yang hanya diisi oleh alunan musik piano lembut dari speaker tersembunyi.Dia menatapku dari balik cahaya lilin. Malam ini, dia terlihat berbeda. Jas kerja
Last Updated: 2026-01-11
Chapter: BAB 36Bau rumah sakit biasanya identik dengan karbol menyengat, obat-obatan, dan keputusasaan. Tapi tidak di sini.Di lantai 8 Paviliun Kencana Medistra, udaranya beraroma lemongrass dan bunga segar. Lantainya dilapisi parket kayu hangat, bukan keramik putih dingin. Dindingnya dihiasi lukisan pemandangan yang menenangkan, bukan poster edukasi penyakit yang mengerikan.Aku duduk di sofa kulit empuk di samping ranjang pasien yang lebih mirip tempat tidur hotel bintang lima.Ibu tidur dengan tenang.Wajahnya yang beberapa hari lalu pucat pasi dan abu-abu, kini mulai merona kembali. Selang-selang infus dan monitor detak jantung yang canggih bekerja tanpa suara bising, menjaga ritme kehidupannya yang baru saja diselamatkan dari ambang kematian.Operasi Bypass itu sukses besar. Profesor Haryanto—yang konon biaya konsultasinya saja setara gaji setahunku—melakukan pekerjaannya dengan tangan dewa.Aku menghela napas panjang, merasai kelegaan yang luar biasa. Beban berat yang menindih dadaku selama b
Last Updated: 2026-01-11
Chapter: BAB 35Uap panas dari kamar mandi mengikutiku keluar seperti hantu, lalu lenyap seketika ditelan udara dingin ruang kerja Arjuna.Aku melangkah keluar dengan kaki telanjang yang menapak ragu di atas karpet tebal. Jantungku berpacu begitu kencang hingga rasanya tulang rusukku sakit menahannya.Ruangan itu kini jauh lebih redup daripada saat aku masuk tadi.Lampu utama sudah dimatikan. Sumber cahaya hanya berasal dari lampu meja temaram di sudut dan bias cahaya lampu kota Jakarta yang menembus tirai tipis. Musik jazz instrumental mengalun sangat pelan, hampir tak terdengar, menambah atmosfer mencekam yang elegan di ruangan ini.Arjuna tidak lagi duduk di balik meja kerjanya.Dia duduk di sebuah wingchair kulit berwarna cokelat tua di tengah ruangan, menghadap lurus ke arah pintu kamar mandi. Kakinya menyilang santai. Di tangan kanannya, sebuah gelas kristal berisi cairan amber bergoyang pelan mengikuti gerakan pergelangan tangannya.Dia sudah menunggu.Tatapan matanya langsung menyambar sosokk
Last Updated: 2026-01-11
Chapter: BAB 34Pintu kamar mandi tertutup di belakangku, memisahkan aku dari tatapan lapar Arjuna—setidaknya untuk sementara.Aku menyandarkan punggung ke pintu kayu mahoni yang kokoh itu. Napasku berhembus panjang dan gemetar, menciptakan kabut tipis di udara yang dingin.Ini bukan sekadar kamar mandi. Ini adalah spa pribadi yang lebih mewah dari apartemen mana pun yang pernah kulihat. Dindingnya dilapisi marmer Carrara putih dengan urat abu-abu yang elegan. Lantainya hangat di bawah telapak kakiku, dilengkapi sistem pemanas bawah lantai yang canggih.Di tengah ruangan, sebuah bathtub oval besar berdiri megah di dekat jendela kaca buram. Tapi aku tidak punya waktu untuk berendam. Arjuna menunggu. Dan dia bukan tipe pria yang sabar.Aku berjalan menuju area shower yang dibatasi kaca bening. Tanganku gemetar saat memutar keran berlapis emas itu.Air panas menyembur keluar dari rain shower di langit-langit, menciptakan tirai hujan buatan yang deras. Uap panas mulai memenuhi ruangan, mengaburkan cermin
Last Updated: 2026-01-11
Chapter: BAB 33Langkah kakiku terhenti tepat di tengah ruangan yang dingin itu.Arjuna masih duduk di posisi yang sama. Dia tidak berpindah satu inchi pun. Punggungnya bersandar santai di kursi kulit hitamnya yang besar, jari-jarinya bertaut di atas perut. Matanya yang tajam menatapku lurus, seolah dia sudah menghitung detik kedatanganku.Dia tidak bertanya. Dia tidak perlu bertanya. Wajahku yang sembab dan bahuku yang turun sudah mengatakan segalanya.Aku menarik napas panjang, berusaha menahan getaran di suaraku. Aku tidak ingin terdengar menyedihkan di saat-saat terakhir kedaulatanku."Saya terima," ucapku. Suaraku parau, tapi tegas. "Selamatkan Ibu."Hening sejenak.Aku menunggu reaksi kemenangan. Aku menunggu seringai licik atau kata-kata ejekan seperti "Sudah kuduga".Tapi Arjuna tidak melakukan itu.Wajahnya tetap datar, tanpa emosi. Dia hanya mengangguk sekali. Singkat. Efisien. Seperti seorang CEO yang baru saja mendapatkan tanda tangan di atas kontrak merger bernilai triliunan.Tanpa membu
Last Updated: 2026-01-11
Chapter: BAB 32"Satu jam."Kata-kata itu bergema di kepalaku, berpacu dengan detak jarum jam dinding yang tak terlihat namun terdengar jelas di telingaku.Aku berbalik dan berlari keluar dari ruang kerja Arjuna. Bukan untuk kabur, tapi untuk mencari sisa napas terakhir sebelum tenggelam.Aku berlari menuju balkon luas yang menghadap ke selatan Jakarta. Angin sore yang mendung langsung menampar wajahku, membawa aroma hujan yang akan turun dan debu kota. Di sini, di lantai 40, anginnya kencang dan menderu, seolah ingin melempar siapa pun yang berani berdiri di tepi pagar pembatas.Tanganku merogoh saku dengan panik. Mengambil ponselku yang layarnya retak.Ada satu orang. Masih ada satu orang yang mungkin bisa menolongku tanpa harus menjual diriku. Satu orang yang memiliki akses ke uang sebanyak itu tanpa syarat yang menghancurkan.Luna.Luna adalah anak tunggal Arjuna. Dia punya hak atas uang ayahnya. Jika aku memohon padanya, jika aku menceritakan kondisi Ibu... mungkin dia bisa membujuk ayahnya? Ata
Last Updated: 2026-01-10