Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku
“Kalau kita berhenti sekarang, kau bisa melupakanku?”
Alea tak pernah membayangkan satu pertemuan singkat akan menyeretnya ke wilayah paling berbahaya dalam hidupnya. Arjuna Diwangsa—seorang CEO berusia matang, berwibawa, dan tak tersentuh—adalah godaan yang seharusnya tak pernah ia pandang dua kali. Terlalu berkuasa. Terlalu dingin. Terlalu terlarang.
Ketertarikan mereka tumbuh perlahan, penuh tatapan tertahan, batas yang diuji, dan kendali diri yang terus retak. Di balik sikap tenangnya, Arjuna menyimpan intensitas yang membuat Alea mempertanyakan keinginan terdalamnya sendiri. Semakin dekat mereka melangkah, semakin kabur garis benar dan salah.
Masalahnya, Arjuna bukan sekadar pria berbahaya.
Ia adalah ayah dari sahabat Alea.
Di dunia urban kelas atas yang menuntut citra sempurna, satu rahasia bisa menghancurkan segalanya—termasuk hati yang telanjur terikat.
Read
Chapter: BAB 280Cahaya matahari pagi menembus kaca vertikal ruang kerjaku dengan presisi tajam.Udara di ruangan ini terasa beku oleh putaran maksimal mesin pendingin sentral. Aku duduk di balik meja eboni, memegang cangkir porselen berisi espreso ganda pertamaku hari ini. Kafein pekat membasahi kerongkonganku, mengusir sisa kelelahan semalam.Layar laptop di depanku berkedip satu kali.Sebuah notifikasi surel masuk ke alamat privatku. Bukan ke email korporat Diwangsa. Alamat ini hanya diketahui oleh segelintir orang.Tidak ada nama pengirim. Kolom subjek dibiarkan kosong melompong. Hanya ada satu lampiran berformat PDF.Jari telunjukku menekan mouse, membuka file mencurigakan itu tanpa ragu.Ribuan baris data finansial seketika memenuhi layar.Logo Rumah Sakit Medika terpampang jelas di sudut kiri atas. Itu adalah rekam medis mendiang ibuku. Rincian tagihan operasi jantung puluhan miliar dan jejak manipulasi penahanan akses pelunasan terhampar tanpa sensor.Di bagian paling bawah, tanda tangan digit
Last Updated: 2026-04-14
Chapter: BAB 279Lampu indikator lift bergerak turun perlahan.Angka digital merah menyala statis di layar, menghitung mundur dari lantai lima puluh dua. Mesin penarik kabel berdengung rendah memecah kesunyian malam.Jam dinding di ruang kerjaku sudah menunjuk pukul sembilan lewat tiga puluh menit. Gedung Diwangsa Corp nyaris mati total. Aku berdiri sendirian di dalam kabin baja ini dengan punggung tegak lurus.Otakku masih sibuk menyusun skenario mitigasi untuk serangan hukum Raka Wiratama.Suara denting mekanis berbunyi tajam. Lift berhenti mendadak.Itu bukan lobi dasar. Angka di layar menunjuk lantai tiga puluh. Area divisi operasional dan ruang kerja para konsultan eksternal.Pintu logam bergeser terbuka dengan desisan pelan.Seorang wanita berdiri di ambang pintu. Pakaiannya tidak lagi serapi pagi tadi. Kemeja katun kremnya terlihat kusut, lengannya digulung asal hingga siku.Raina Pratama.Langkahnya terhenti sepersekian detik saat melihatku berdiri di tengah kabin. Ada kilat keraguan di matany
Last Updated: 2026-04-14
Chapter: BAB 278Layar laptop memancarkan cahaya putih yang menyilaukan mata.Kursor berkedip statis di akhir paragraf sebuah surat elektronik. Pengirimnya Raka Wiratama. Isinya hanya pembaruan jadwal injeksi dana untuk proyek infrastruktur Diwangsa.Semuanya terlihat sangat normal. Terlalu kooperatif.Aku membalas email itu dengan ritme ketukan keyboard yang memburu.Jadwal disetujui. Siapkan presentasi final Anda untuk rapat siang ini.Tombol kirim ditekan. Surat balasan itu melesat masuk ke dalam jaringan internet korporat.Aku bersandar pada kursi ergonomisku. Memutar leher hingga terdengar bunyi kertakan pelan.Otakku tidak tertipu oleh formalitas digital ini. File rahasia berlabel Wibisana sudah berpindah tangan malam tadi. Pengkhianat bernama Bramantasya sudah menyerahkan surat hak waris itu kepada Raka.Normalitas di email barusan adalah sebuah omong kosong beracun. Pemuda itu sedang memutar moncong senjatanya dalam diam.Jadwal pergerakannya pasti berubah. Dan aku harus membaca perubahan itu
Last Updated: 2026-04-13
Chapter: BAB 277Permukaan kaca satu arah ini terasa dingin di telapak tanganku.Aku berdiri di ruang observasi sempit yang tersembunyi di balik dinding ruang rapat eksekutif. Ruangan di seberang kaca itu menyala benderang. Dua pria sedang duduk berhadapan membedah tumpukan dokumen legal.Arjuna Diwangsa dan Bramantasya.Suamiku duduk dengan postur dominannya yang biasa. Sementara Bram mencondongkan tubuh ke depan, menunjuk barisan pasal dengan ujung pena peraknya.Bram tersenyum tipis. Sebuah senyum profesional yang hangat dan meyakinkan.Tidak ada setetes pun keringat gugup di pelipis pria paruh baya itu. Bahunya rileks. Gesturnya memancarkan aura seorang pelindung yang sedang menasihati rajanya.Asam lambungku mendidih melihat pertunjukan itu.Dua belas tahun berada di sisi Arjuna tidak hanya membangun fondasi kepercayaan yang absolut. Waktu selama itu juga telah mengasah keahlian Bram untuk menipu sang tiran secara sempurna. Dia bermutasi dari seorang pengacara menjadi sosiopat berdasi.Aku mundur
Last Updated: 2026-04-13
Chapter: BAB 276Cahaya matahari pagi menembus kaca jendela ruang kerjaku dengan agresif.Hari kerja ini berjalan dengan normalitas yang sangat memuakkan. Tumpukan dokumen legal dari divisi logistik sudah kutandatangani. Dua rapat manajerial pagi selesai tanpa perdebatan yang berarti. Semuanya terlihat terlalu tenang.Layar ponsel di atas mejaku bersih dari notifikasi.Tidak ada pesan masuk dari Raina Pratama. Wanita itu biasanya selalu melempar satu teks basa-basi sebelum jam sembilan pagi. Sebuah rutinitas komunikasi untuk mempertahankan ilusi pertemanannya di depanku.Polanya terputus total hari ini.Instingku langsung mencatat anomali tersebut. Wanita itu sedang menahan sesuatu. Ada gejolak besar di dalam kepalanya yang memaksanya bersembunyi dari radarku.Aku meletakkan pena perakku. Membiarkan keheningan mengambil alih.Kamar hotel di kawasan Thamrin ini terasa seperti sel isolasi.Tirai tebal berlapis kututup rapat. Udara pengap sisa pendingin ruangan mengurungku. Cahaya biru dari layar laptop
Last Updated: 2026-04-12
Chapter: BAB 275Kamar utama tenggelam dalam kegelapan absolut.Aku mematikan semua lampu plafon sejak sepuluh menit lalu. Tirai berlapis dibiarkan tertutup rapat memblokir pendaran neon dari jalanan Jakarta.Hanya ada satu sumber cahaya yang tersisa. Sebuah lilin aromaterapi menyala tenang di atas nakas sebelah kiriku. Api kecilnya melempar siluet tajam ke dinding beton.Pintu kayu mahoni terbuka tanpa suara gesekan.Langkah kaki berat menabrak lantai kayu. Arjuna melangkah masuk ke dalam teritori yang sudah kusiapkan.Pria itu langsung berhenti di ambang pintu. Matanya yang terbiasa dengan kegelapan memindai ruangan dalam hitungan milidetik. Dia melihat satu-satunya lilin yang menyala. Lalu tatapannya jatuh lurus ke posisiku di tepi ranjang.Arjuna membaca situasi ini dengan presisi mematikan. Insting predatornya menangkap setiap sinyal dari bahasa tubuhku.Aku berdiri tegak menyambut kehadirannya."Kunci pintunya," perintahku datar memotong kesunyian.Klik. Suara logam berputar mengamankan ruangan
Last Updated: 2026-04-12