Arjuna Diwangsa tidak menunggu jawabanku. Dia berbalik, melipat payung hitamnya dengan gerakan efisien yang nyaris elegan, lalu masuk kembali ke dalam kabin belakang mobil.Sopir yang mengenakan jas rapi sudah membukakan pintu untukku, menatapku dengan kilat mata yang sulit diartikan—mungkin kasihan, mungkin jijik.Aku tidak punya pilihan. Di belakangku, suara teriakan preman-preman itu masih samar terdengar, meski tertelan derasnya hujan.Dengan sisa tenaga, aku menyeret kakiku yang berlumuran lumpur masuk ke dalam mulut monster besi ini.Seketika, duniaku berubah.Begitu pintu ditutup, suara bising hujan lenyap seketika, digantikan oleh kesunyian yang kedap dan menekan.Udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyergap kulitku yang basah, membuatku menggigil hebat. Namun, bukan dinginnya suhu yang membuatku sesak napas.Wanginya.Aroma Oud Wood yang maskulin, bercampur dengan sentuhan tembakau mahal dan kulit jok baru, memenuhi rongga dadaku.Ini adalah wangi kekayaan. Wangi ke
Last Updated : 2025-12-13 Read more