ログインPagi itu, Matthias bangun lebih telat daripada biasanya. Setelah kesadarannya pulih, dia meregangkan ototnya yang terasa kaku. Di sampingnya, tubuh Raline masih terlelap dengan posisi tengkurap membelakangi dirinya. Matthias tersenyum tipis. Melihat punggungnya yang dipenuhi bercak kemerahan, memberikan kepuasan tak terhingga. Pria itu lantas menyentuh pundak Raline sambil berbisik. "Raline.""Hmmm..." Raline hanya bergumam tidak jelas. Merasa kesal karena tidurnya terganggu. "Selamat pagi.""Hmmm..." Raline malah menarik selimut, tubuhnya terbungkus sampai hanya menyisakan pucuk kepalanya saja. Matthias sontak tertawa, menghadiahkan kecupan kecil dan tak mengusik tidurnya lagi. Dengan hanya memakai celana pendek, pria itu keluar dari kamar. Rambutnya berantakan, wajahnya kusut, tetapi sorot matanya berbinar cerah. Bu Dinda—asisten di rumah itu—memandang aneh pada majikannya. Biasanya ketika Matthias keluar dari kamar, dia sudah siap mengenakan pakaian jogging. Namun kali ini,
Setelah mengatakan kalimat penuh keberanian itu, aku tiba-tiba bingung sendiri. 'Selanjutnya apa?'Aku meneguk ludahku. Di bawah sana panas dan basah sekali. Tubuh Matthias ikut basah karenaku. "Kenapa, Raline? Tiba-tiba takut, hm?" ejeknya. "Lepaskan ikatanku. Biar aku yang melakukannya. Kalau menunggumu, bisa-bisa tubuhku basah kuyup karena dirimu."Wajahku memanas. Pria itu merasakannya. Aku segera mengambil pakaian dalamku lantas menyumpal mulutnya. Matanya terbelalak. Dia sedikit memberontak tapi aku menahannya. "Kamu harus membayar karena selama ini selalu menyulitkanku. Biarkan aku bersenang-senang, Matthias."Terbesit dalam pikiranku mungkin sekarang aku sedang mabuk, kalau tidak mabuk, mana mungkin sekarang aku berani membuka mulutku sendiri dan memasukkan miliknya tanpa ragu. Penuh. Panas. Basah. Kedua mata Matthias terpejam dan terbuka berkali-kali. Melihat reaksinya sungguh menyenangkan. Aku tak mau berhenti. Persetan dengan mabuk atau tidak, ini sungguh menyenangka
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirku seperti orang gila. Mata biru Matthias tidak bergerak. Terpaku pada wajahku."Kamu yakin? Aku tidak mau dimarahi olehmu lagi dan jadi satu-satunya pihak yang disalahkan.""Tidak, Matthias. Tidak akan."Aku menangkup wajahnya. Merasakan bulu halus yang tumbuh di pipinya. Pria itu terpejam sesaat, menikmati sentuhanku. Dia sangat tampan. Aku terkadang berpikir mungkin dia melakukan operasi plastik di suatu tempat karena visualnya sangat tidak nyataJantungku berdebar kencang sampai rasanya mustahil menyembunyikan kegugupanku. Matthias menyentuh rambutku hati-hati. "Hanya kamu yang berani menjadikanku pelampiasan semata, Raline.""Kamu keberatan?""Jika aku keberatan, apa kamu akan mencari pria lain dan menyentuh wajahnya seperti ini?"Bibirku cemberut tidak suka. "Kamu tahu aku tidak akan melakukannya, Matthias. Aku tidak segila itu."Pria itu malah tertawa senang. Dia mulai mencium pipiku tanpa permisi lagi. "Jangan menyesal, oke?"Kali
Di rumah sakit Bima memandang hampa ke arah tembok rumah sakit yang entah kenapa terasa lebih dingin. Di sampingnya, Romi teridam tak mampu mengangkat suara ataupun wajahnya. "Padahal tugas yang aku berikan padamu sangat mudah. Hanya perlu menjaga wanita itu suapaya tidak berulah," kata Bima dengan suara rendah. "Ma, maafkan saya... Ini salah saya."Bima menghela napas panjang. Tak lama kemudian, dokter keluar dari ruang pemeriksaan. Bima segera berdiri menghampirinya. "Bagaimana keadaannya, Dok?""Kita sudah tahu kandungan Bu Gita memang sudah lemah dan bermasalah sejak awal, jadi sebisa mungkin lebih perhatikan lagi kondisinya. Jangan sampai membuat Bu Gita stress.""Baik, Dok. Terima kasih."Setelah kepergian dokter dan perawatnya, Bima menoleh sejenak ke arah Romi lalu berkata, "Pulanglah. Besok kita bicarakan lagi masalah ini.""Baik, Pak."Di dalam ruangan, senyuman Gita melebar saat Bima masuk ke dalam ruangan. Hatinya membuncah bahagia ketika pria itu ternyata masih mengkh
Pertanyaanku menggantung di udara. Matthias tidak langsung menjawab. Hanya menatapku dari sofa dengan ekspresi sulit kubaca. Apa dia sedang mempertimbangkan sebanyak apa kebenaran yang sanggup aku terima?Keheningan ini menekan dadaku semakin sesak. Aku menghampirinya dan berdiri dengan menyedihkan di hadapannya. Wajahku merah dan bengkak. Aku bisa merasakan betapa panasnya kulitku. Matthias mendongak menatapku, menutup dan menaruh buku yang saat itu dia baca. "Jawab aku, Matthias. Apa kamu tahu semuanya?"Suaraku bergetar dan tersendat-sendat. Aku menghapus air mataku dengan kasar. "Kenapa diam saja? Apa kamu berubah jadi bisu, ha? Kau tahu segalanya, kan? Segala permasalahan yang tidak aku tahu, kau tahu semuanya kan?"Aku terus mendesaknya. Entah kenapa aku malah marah padanya. Melihat wajahnya yang begitu tenang, malah semakin menghancurkanku. Semua orang membohongiku. Pria ini juga sama. "Itulah kenapa kamu mendekatiku karena aku terlihat menyedihkan dan menyenangkan un
Kalimat itu masih terngiang-ngiang di kepalaku meskipun Bi Kasih sudah berhenti bicara. "Jadi hanya aku yang nggak tahu?"Tubuhku lemas. "Non Raline..." Bi Kasih duduk di bawah kakiku, menatapku khawatir ketika tatapanku tiba-tiba kosong. Jiwaku seolah berhasil dicabut keluar."Maafkan, Bibi. Harusnya Bibi ngasih tau Non Raline sejak lama. Maafkan Bibi."Bi Kasih menangis. Dia terkulailemas sambil memegang lututku. Air matanya membasahi kakiku. Aku tetap tidak bereaksi. Jadi yang aku lihat selama ini adalah kebohongan? Ciuman manis suamiku, pelukan hangat ibu mertuaku, rasa percaya, rasa aman, rasa ketika aku dianggap berharga, mungkinkah semuanya juga palsu? Bahkan setelah aku mendapatkan seorang saksi, sebagian dari hatiku masih menyangkalnya. Mungkin saja Bi Kasih salah melihat. Mungkin ada alasan lain di balik ini semuanya. Mungkin saja itu bukan Bima melainkan Romi. Mungkin saja... Mungkin saja... Mungkin... Aku yang terlalu bodoh. Aku terus mencari kemungkinan keci







