INICIAR SESIÓNSudut Pandang Aaron:"Sial! Apa yang kamu lakukan? Berengsek!"Aku terus mengumpat sambil menatap Megan yang sudah tidak sadarkan diri.Siapa yang tidak kesal kalau berniat membantu seseorang, tetapi malah dimuntahi?Wanita ini benar-benar keterlaluan. Aku mulai menyesal telah mendekatinya. Seharusnya aku membiarkannya saja daripada berakhir dalam keadaan sekacau ini.Sejak berada di gereja tadi, aku tidak bisa mengalihkan pandangan dari Megan. Entah kenapa, aku merasa Megan sangat cantik.Namun, dia bukan tipe wanita yang kusukai. Aku menginginkan seseorang seperti Beatrice, atau Betty, yang terlihat polos dan baik hati.Sayangnya, Joseph adalah pria yang dipilihnya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain mundur. Aku tidak menginginkan wanita yang tidak menginginkanku. Aku juga tidak mau memaksakan kehendak, apalagi jika itu hanya akan merusak hubungan dua orang yang saling mencintai.Karena situasi yang memalukan ini, aku tidak punya pilihan selain menggendong Megan. Aku tidak mungkin
Sudut Pandang Megan:Dengan pandangan yang mulai kabur akibat minuman keras, aku mengedarkan pandangan ke sekeliling.Ini resepsi pernikahan sepupuku, Beatrice, tetapi di mana dia? Aku cuma meninggalkan dia sebentar untuk mengambil anggur, tetapi saat kembali, dia sudah menghilang.Di mana mereka semua? Apa mereka sudah pulang?Lagi pula, hanya tinggal beberapa tamu di sini. Sebagian besar sudah pulang setelah menerima suvenir dari kedua pengantin baru.Aku tahu aku sudah mulai teler. Anggurnya enak sekali, sampai-sampai aku akhirnya minum terlalu banyak.Sekali lagi, aku melihat ke sekeliling dan menyadari bahwa tidak ada seorang pun dari keluargaku yang tersisa. Bahkan Mama dan Papa pun sudah tidak ada. Sepertinya semua orang sudah pulang dan meninggalkanku sendirian."Megan, ayo pulang." Tepat ketika aku hendak menyesap anggur dari gelasku, aku mendengar suara Ethan. Dia datang bersama seorang wanita yang, kalau aku tidak salah ingat, adalah anak dari salah satu kenalan Beatrice."K
Sudut Pandang Beatrice:Setelah upacara pernikahan di gereja selesai, kami langsung menuju tempat resepsi. Para tamu dan keluarga berbondong-bondong menghampiri untuk mengucapkan selamat dengan penuh antusias.Hatiku dipenuhi kebahagiaan saat melihat semua orang yang kusayangi berkumpul untuk menyaksikan salah satu hari paling membahagiakan di hidupku, yaitu hari pernikahanku dengan Joseph."Selamat ya!" ucap Megan, pendamping pengantin wanitaku, sambil tersenyum.Aku sudah mendengarnya mengucapkan selamat berkali-kali sejak kami masih di gereja hingga tiba di tempat resepsi."Terima kasih. Eh, kamu sudah mabuk ya? Sudah berapa gelas yang kamu minum?" tanyaku.Aku memperhatikan matanya yang mulai sayu, pertanda bahwa dia sudah minum cukup banyak. Apa-apaan wanita ini? Tadi dia masih baik-baik saja, tetapi sekarang suasana hatinya sudah berubah drastis. Dia memang mudah berubah suasana hati."Iya, aku tahu. Aku belum mabuk kok, Sepupuku. Entah kenapa, aku merasa sedih sekali. Seharusnya
Sudut Pandang Beatrice:Jika semua ini hanyalah mimpi, aku tidak ingin terbangun, asalkan aku bisa terus bersama Joseph.Setelah tiba di gereja, Mama dan Papa langsung menyambutku. Mereka memelukku erat, dan air mataku pun tak mampu berhenti mengalir."Selamat, Sayang. Mama dan Papa mendoakan agar kamu menjalani kehidupan yang bahagia bersama Joseph," kata Mama dengan suara bergetar karena haru."Terima kasih, Ma, Pa. Maaf karena aku menikah begitu cepat. Tapi, meski sekarang aku sudah menikah, aku tetap akan berusaha mengganti waktu yang hilang bersama kalian. Aku benar-benar menyayangi kalian berdua," kataku sambil membiarkan air mata jatuh membasahi pipiku."Kami juga sangat menyayangimu, Beatrice. Kami bahagia karena kamu sudah kembali ke pelukan kami dengan selamat. Kami tahu kamu akan bahagia bersama Joseph. Itulah sebabnya sejak awal kami mendukung kalian. Jaga dirimu baik-baik. Jaga suamimu dan sayangi anak kalian," kata Papa.Aku mengangguk sambil tersenyum.Papa mengusap air
Sudut Pandang Joseph:Akhirnya, hari yang kutunggu-tunggu tiba. Hari ketika aku akan berdiri di depan altar bersama wanita yang kucintai.Ya, dia adalah Betty, atau Beatrice. Dia sudah mencuri hatiku sejak pertama kali kami bertemu. Itulah sebabnya aku tidak pernah berhenti berusaha mendapatkannya. Aku melakukan segala cara agar dia menjadi milikku.Dari sekian banyak wanita yang pernah hadir dalam hidupku, hanya dialah yang meninggalkan kesan mendalam di hati dan pikiranku. Selama beberapa malam setelah pertama kali melihatnya, aku bahkan tidak bisa tidur. Aku terus membayangkan bagaimana rasanya menjadikan dia milikku dan menghabiskan sisa hidup bersamanya.Jadi, ketika mengetahui bahwa adikku mulai mendekatinya, aku memutuskan untuk tidak mau kalah. Aku tidak berencana memenangkan hatinya dengan cara yang semestinya karena aku tidak tahu bagaimana cara mendekati seorang wanita. Selama ini, akulah yang terbiasa dikejar-kejar oleh wanita.Aku juga tidak tahu bagaimana cara memenangkan
Sudut Pandang Beatrice:Aku menatap Megan dengan tak percaya, berusaha memastikan apakah dia mengatakan yang sebenarnya. Mungkin saja dia hanya bercanda, membuatku berharap terlalu tinggi, lalu akhirnya kecewa. Aku tidak ingin hal itu terjadi.Joseph sama sekali tidak pernah menyinggung soal ini. Aku juga tidak melihatnya sibuk mempersiapkan apa pun selama beberapa hari terakhir. Kami menjalani kehidupan seperti biasa, jadi mustahil kalau yang dikatakan Megan benar dan kami akan mengadakan pernikahan.Bahkan, aku sendiri yang mengantar Joseph sampai ke mobil sebelum dia berangkat kerja hari ini. Ini benar-benar tidak masuk akal. Aku sungguh akan mencukur habis rambut Megan karena kejahilannya ini."Kenapa? Kamu mau berdiri di situ saja? Pakai gaunnya, atau aku sendiri yang bakal memakainya dan menikahi Joseph di gereja," katanya dengan nada riang.Aku langsung mengerutkan kening. Meskipun dia hanya bercanda, aku tetap tidak suka mendengarnya. Aku tidak ingin ada perempuan yang menunjuk







