ログイン"Mana Joseph?" tanyaku pada Lanny.Kelas-kelasku sudah selesai, tetapi Joseph belum juga muncul di tempat biasanya dia menjemputku. Sebagai gantinya, aku melihat Lanny dan itu membuatku bingung. Ini pertama kalinya Joseph tidak menjemputku sepulang kampus. Tadi pagi dia masih mengantarku ke kampus dan dia juga tidak mengatakan bahwa ada rapat penting pada sore hari."Tuan bilang Nyonya akan bertemu dengannya di rumah," jawab Lanny.Aku terdiam sejenak. Aku masuk ke mobil tanpa berkata apa-apa, tetapi aku tidak bisa menahan perasaan kesalku pada Joseph. Dia bahkan tidak mengirimiku pesan untuk memberi tahu bahwa dia tidak bisa menjemputku. Dia pasti sangat sibuk sampai meneleponku sebentar saja pun tidak sempat.Aku terdiam sepanjang perjalanan pulang. Begitu tiba di rumah, aku terkejut saat melihat Jovi langsung menghampiriku dan menyambutku dengan ekspresi panik."Nyonya akhirnya pulang juga. Ya Tuhan. Apa Nyonya bertengkar dengan Tuan Joseph? Kenapa Tuan begitu marah?" tanya Jovi.Pe
Joseph meninggalkanku di kamar selama beberapa saat. Saat kembali, dia memberitahuku bahwa Aaron dan yang lainnya sudah pergi.Aku langsung merasa lega. Untung saja mereka sudah pergi, karena aku pasti akan merasa tidak nyaman tinggal di rumah ini bersama orang-orang yang tidak menyukaiku."Sekarang kamu sudah lebih santai? Kamu nggak punya tugas?" tanya Joseph.Saat mendengar pertanyaan Joseph, aku sudah berbaring di tempat tidur. Aku melirik jam di meja nakas, lalu menjawab."Aku mengantuk. Aku mau tidur dulu, nanti baru kerjakan PR," jawabku sambil cemberut, lalu memejamkan mata.Joseph tidak menjawab, tetapi aku merasakan kasur di sebelahku sedikit turun. Beberapa saat kemudian, dia melingkarkan kedua lengannya erat-erat di tubuhku.Hari-hari berlalu dengan begitu cepat. Kehidupanku bersama Joseph berjalan lancar. Hujan maupun cerah atau saat dia sedang pergi ke kantor maupun tidak, dia selalu mengantarku ke kampus dan menjemputku sepulang kuliah. Bisa dibilang, aku adalah istri pa
"Ayah, bukannya aku nggak menghormati Ayah. Aku bahkan sudah menawarkan diri untuk membayar biaya hotel Ayah, 'kan? Ayah nggak bisa tinggal di rumah ini karena kita semua tahu Ayah nggak suka aku menikah. Ayah nggak merestui Betty dan aku nggak bisa mengabaikan perasaan istriku," kata Joseph terus terang.Abraham menghela napas panjang, lalu menatap putranya. Kemarahan terlihat jelas di matanya saat dia menggelengkan kepala."Mungkin kamu hanya takut aku merebut Betty darimu, Joseph," kata Aaron.Saat menatap Aaron, aku menyadari senyum jahil di bibirnya. Aku akhirnya melihat sisi Aaron yang berbeda. Jika dilihat dari wajahnya, aku tidak akan pernah menyangka dia bisa bersikap seperti ini.Ucapan Aaron semakin memperkuat alasan Joseph untuk tidak menerima mereka di rumah ini.Namun, itu adalah masalah mereka. Mereka sudah cukup dewasa untuk tahu bagaimana harus bersikap. Aku tidak berniat ikut campur dalam percakapan itu karena ini adalah urusan keluarga mereka."Kamu masih punya alasa
Sudut pandang Betty:Kami makan siang di sebuah restoran sebelum pulang ke rumah. Begitu mobil memasuki area rumah, aku melihat Joseph mengernyitkan alisnya sejenak saat memperhatikan mobil yang terparkir di halaman rumah."Siapa yang datang?" tanya Joseph pada salah satu penjaga."Ayah Bapak," jawab penjaga itu yang membuatku terkejut.Ayahnya? Berarti Abraham sudah datang? Ini kabar buruk, sepertinya perang lain akan segera dimulai.Aku refleks mencengkeram lengan Joseph dengan erat karena tiba-tiba merasa gelisah.Joseph meraih tanganku dan tersenyum padaku, lalu berkata, "Jangan khawatir. Aku nggak akan biarkan dia tinggal lama di rumah kita."Aku memaksakan senyuman, meskipun aku sebenarnya gugup. Aku teringat bagaimana Abraham memperlakukan kami saat mengetahui bahwa aku adalah istri Joseph. Aku tidak siap mendengar kata-kata menyakitkan darinya lagi. Hatiku belum siap, apalagi aku dan Joseph baru saja mulai merasakan kebahagiaan sebagai pasangan suami istri yang sesungguhnya.Ak
Sudut Pandang Betty:"Aku Betty. Betty Brahman," kataku sambil menatap Bernard. Dia langsung tersenyum dan mengangguk."Hai, Betty. Sekarang aku ingat. Kamu istri Joseph, 'kan?" tanyanya sambil tersenyum.Aku langsung mengangguk.Aku juga ingat dengannya. Dia adalah pria yang kami temui saat dalam perjalanan pulang dari pesta. Nama belakangnya Sandiaga. Kalau aku tidak salah ingat, dia adalah putra pemilik kampus ini.Dia ternyata masih mengingatku? Padahal Joseph tidak memperlakukannya dengan baik malam itu, tetapi dia tetap bersikap ramah. Aku sama sekali tidak melihatnya marah atau kesal kepada Joseph.Joseph benar-benar bertingkah seperti orang bodoh malam itu. Kami pergi ke sebuah pesta, tetapi dia hanya berbicara dengan para tamu yang lebih tua. Sepertinya, selain mempermainkan wanita, suamiku memang tidak punya kehidupan sosial lain."Senang bisa ketemu lagi denganmu, Betty. Semoga kamu menikmati kuliahmu. Kalau ada masalah, jangan ragu untuk memberitahuku. Aku juga mahasiswa di
Sudut Pandang Betty:"Kalau begitu, bicaralah dengan mereka. Kamu pikir aku masuk ke sini gratis jadi kamu bisa seenaknya menuntut hal seperti itu? Asal kamu tahu, aku bukan mahasiswa penerima beasiswa. Suamiku yang membayar biaya kuliahku," jelasku.Aku juga berdiri. Aku menyadari bahwa tinggi badan kami hampir sama. Namun, aku lebih cantik darinya karena Joseph sudah memilihku.Sebenarnya, Megan juga cantik. Kulitnya cerah dan mulus, wajahnya mungil, hidungnya mancung. Namun, dia sombong dan suka merendahkan orang lain. Karena itulah aku tidak menyukainya dan sama sekali tidak berminat berteman dengannya. Sepertinya kami memang tidak akan cocok."Kamu pikir dirimu siapa? Ingat ini. Tunggu saja satu tahun lagi, Joseph pasti akan bosan padamu, sama seperti semua wanita lain di hidupnya. Jadi, nikmatilah selagi dia masih tergila-gila padamu," katanya dengan nada menghina.Ucapannya membuatku semakin kesal. Dia benar-benar suka ikut campur dan sombong. Apa dia tidak malu memperlihatkan b







