LOGINLunara mengerti dengan jelas. Semua penargetan dan jebakan selama ini tidak lain karena dia dan Casya sama-sama termasuk anggota Keluarga Narasoma.Terutama Casya.Ada orang yang tidak ingin dia meraih prestasi di bidang perhiasan, sehingga rela melakukan apa pun untuk menghancurkan merek àl'aube.Lunara berkata dengan serius, "Aku membutuhkan Casya dan Casya juga membutuhkan àl'aube. Kerja samaku dengannya adalah sesuatu yang pasti. Kalaupun kita nggak menikah, aku tetap akan memilih bekerja sama dengan Casya. Semua ini tetap nggak bisa dihindari. Kamu mengerti, 'kan, Kayden?"Kayden menghela napas pelan. Dia memejamkan mata dan memeluk Lunara. "Aku hanya merasa kamu sudah nggak terlalu sama seperti saat kuliah dulu."Lunara tertegun. Dia memang sudah berbeda dibandingkan masa mahasiswanya. Saat itu, dia bisa dibilang tidak punya apa-apa. Namun karena itu pula, dia tidak memiliki begitu banyak beban.Sekarang berbeda. Dia memiliki kariernya sendiri, menjadi seorang istri sekaligus ibu
Dia sengaja menekankan nada bicaranya. Satu kalimat sederhana itu mendadak terdengar begitu menggoda, kehangatannya seolah-olah berputar-putar di telinga Lunara dan memunculkan riak kecil di hatinya.Namun, pintu kantor masih terbuka. Entah kapan anggota tim sekretaris akan naik lagi. Begitu pintu lift terbuka, apa yang terjadi di dalam kantor bisa terlihat jelas tanpa ada yang menutupi.Lunara tidak punya muka setebal itu. Di jaketnya, samar-samar masih tercium sisa aroma disinfektan. Kayden tahu dia malu, jadi tidak melanjutkan godaannya.Satu tangan melingkari pinggangnya agar wanita itu tidak melorot dari pangkuannya, sementara tangan yang lain membuka berkas kontrak yang ditinggalkan sekretaris untuk ditandatangani.Dia bertanya dengan santai, "Gimana kondisi Eden?""Kelihatannya cukup baik. Dokter bilang pemulihannya berjalan bagus. Aku ke sana sama Tante Floryn.""Tante Floryn?" Kayden sedikit mengernyit.Meskipun di rumah sakit Eden tidak mungkin berbuat apa-apa, fakta bahwa Fl
Lunara selalu merasa alasan yang diberikan Eden terdengar agak janggal. Namun, mau dipikirkan bagaimana pun, dia tidak menemukan celah sama sekali. Lagi pula, apa pun alasannya, Eden tetap bertindak dengan niat baik.Mobil melaju hingga tiba di bawah gedung Grup Narasoma. Di persimpangan lampu lalu lintas di depan, tampaknya terjadi kecelakaan tabrak belakang. Polisi lalu lintas sedang mengurai kemacetan sehingga arus kendaraan sedikit tersendat.Klakson dari mobil-mobil di belakang terus bersahutan. Di sepanjang jalan, suara klakson terdengar silih berganti tanpa henti. Mendadak, Lunara seperti menyadari sesuatu.Sebuah pemikiran tiba-tiba muncul. Karena Eden sudah tahu soal Alfie membeli bensin, kenapa dia tidak langsung memberi tahu dirinya atau Kayden? Kenapa harus pergi sendiri ke pabrik untuk memastikannya? Bagaimana dia bisa yakin bahwa pada saat itu Lunara pasti berada di pabrik? Kalau ternyata dia tidak ada di sana, untuk apa Eden menerobos masuk?Pikiran-pikiran itu membanjir
Eden sampai terjun ke lautan api untuk menyelamatkan orang. Siapa pun yang pernah merasakan betapa dahsyatnya kebakaran pasti tahu, keberanian sebesar apa yang dibutuhkan untuk bertindak seperti itu.Di hadapan kobaran api yang mengamuk dan melalap segalanya, kekuatan manusia terasa begitu kecil. Bahkan petugas pemadam kebakaran pun setiap tahun ada yang gugur atau terluka saat memadamkan api.Floryn benar-benar penasaran. Dalam keadaan tanpa persiapan apa pun, bahkan tanpa handuk basah di tubuhnya, bagaimana Eden bisa terpikir untuk menerobos masuk ke kobaran api? Dari mana datangnya keberanian sebesar itu?Baru pada saat itulah Eden menyadari keberadaan Floryn dan menyapanya, "Tante.""Aku nggak banyak mikir. Aku cuma merasa, kalau Kak Luna meninggal dalam kebakaran itu, Daisy pasti akan sangat sedih."Lunara tertegun. Dia tidak pernah memikirkan alasan Eden masuk untuk menyelamatkannya. Ketika Floryn menanyakan hal itu, dia juga penasaran dengan jawabannya. Tak disangka, alasannya j
"Kak, kasih saran dong."Lunara ikut menggeleng. "Aku cuma pernah pacaran satu kali. Kalau dijadikan sampel, datanya kurang. Gimana kalau aku tendang dulu suamiku, terus pacaran sama sepuluh orang lagi biar datanya cukup?"Casya langsung mengubah ucapannya, "Aku nggak mau mati dipukuli Kak Kayden malam ini cuma gara-gara hal sepele!"Kalau sampai Kayden tahu dia mengganggu Lunara dengan urusan Silvar dan Elina, tatapan pria itu saja sudah cukup untuk membuat Casya menderita.Lunara mengangkat alis. "Urusan perasaan nggak bisa diselesaikan dengan dengarin kata orang lain. Harus dijalani dan dipahami sendiri."Elina dan Silvar sama-sama sudah dewasa. Mereka seharusnya tahu apa yang mereka inginkan.Lunara menepuk bahu Casya, lalu berkata seolah-olah sedang menyerahkan misi penting, "Misalnya sekarang, kamu punya tugas yang lebih berat.""Tugas apa?""Pulang dan lembur di rumah."....Malam harinya, Lunara dan Casya kembali ke bangunan utama rumah Keluarga Narasoma. Saphira berkata, "Fran
Kegelisahan Elina hampir terlihat jelas di wajahnya. Di dalam hatinya, dua suara saling bersahutan terus-menerus, membuatnya bimbang.Dia tahu mantel ini sama seperti makan malam kemarin, hanya perkara kecil. Namun, posisinya tidak cukup leluasa. Meskipun kontrak sudah ditandatangani dan pabrik itu kini menjadi milik mereka, baik menolak maupun menerima permintaan itu tetap terasa tidak mudah.Menolak akan membuat suasana menjadi canggung. Lagi pula, Richie masih memiliki pabrik lain yang memasok bahan baku perhiasan. Jika nanti masih ada kerja sama lanjutan, tentu tidak menguntungkan jika hubungan mereka memburuk karena hal ini.Namun, menerima pun membuat Elina merasa tidak nyaman.Tiba-tiba, kata-kata Silvar semalam terngiang kembali di telinganya. 'Kalau kamu menerimanya, apa itu berarti dalam hal tertentu kamu juga mengharapkan sesuatu dari Richie?'Elina berpikir, 'Mungkin memang begitu.' Yang dia harapkan adalah pasokan bahan baku yang ada di tangan Richie.Lunara menangkap keti







