LOGINSemua orang tahu Gisella Pramudita mencintai suaminya sampai kehilangan harga diri. Semua orang... termasuk Arash Danendra. Namun ketika takdir memberinya kesempatan untuk mengulang hidup, Gisella memutuskan satu hal: Ia tidak akan lagi mengejar pria yang tak pernah memilihnya. Sayangnya, saat ia benar-benar menyerah, Arash justru mulai mengejarnya.
View More"Aku tidak meminta izinmu, Gisel. Aku hanya memberi tahu."
Kalimat itu menghancurkan sisa-sisa harapan yang masih dipertahankan Gisella. --- Di luar, hujan turun dengan deras sejak sore. Rintik air terus membasahi jendela mansion, sementara suasana di dalam rumah justru terasa begitu sunyi. Di salah satu sudut rumah, terdapat kamar bayi yang telah dipersiapkan dengan penuh harapan selama beberapa bulan terakhir. Baju-baju bayi masih tertata rapi di dalam lemari. Sebuah ranjang bayi berwarna putih berdiri di dekat jendela, lengkap dengan mainan gantung yang belum pernah digunakan. Gisella Pramudita, wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu, duduk bersimpuh di atas karpet. Tubuhnya tampak semakin kurus, sementara wajahnya pucat dengan mata yang bengkak akibat terlalu sering menangis. Dua minggu lalu, Gisel kehilangan segalanya. Bayi yang dikandungnya selama hampir sembilan bulan pergi, bahkan sebelum mereka sempat bertemu. Dan demi menyelamatkan nyawanya, dokter terpaksa mengangkat rahimnya karena pendarahan yang tidak bisa dihentikan. Gisel tidak hanya kehilangan bayinya, tetapi juga kesempatan untuk menjadi seorang ibu selamanya. Selama dua minggu terakhir, ia melewati semua itu seorang diri. Arash nyaris tidak pernah berada di sisinya. Malam ini pun sama, Gisel kembali duduk di kamar bayi yang belum sempat dihuni, memeluk selimut kecil sambil menahan isak tangis yang tak kunjung reda. "Maafkan mama, Nak... Maafkan mama..." bisik Gisel dengan suara seraknya. Mendengar suara langkah kaki, Gisel mendongak. Di ambang pintu, berdirilah Arash Danendra. Pria berusia 30 tahun itu masih mengenakan setelan jas kantornya. Wajahnya yang tampan menatap istrinya dengan datar, tanpa sedikit pun rasa iba. Gisel mengusap air matanya dengan pelan. "Mas Arash... kamu baru pulang? Anak kita sudah tidak ada, Mas... Kenapa kamu tega meninggalkan aku melewati semua ini sendirian?" Arash berdiri di ambang pintu, wajahnya tetap dingin. "Aku datang untuk membicarakan sesuatu. Aku sudah menunda keputusan ini cukup lama." Ia merogoh saku jas, mengeluarkan sebuah amplop, lalu meletakkannya di atas meja. Sejenak, Arash menatap mata Gisel yang sayu, seolah menimbang kata-kata berikutnya. "Aku akan menikah dengan Laras," ucapnya akhirnya, suaranya tenang namun menusuk. "A-apa...?" bisik Gisel, menggelengkan kepalanya perlahan. "Kamu... mau menikah dengan Laras?" "Ya," jawab Arash singkat. "Mas! Aku baru aja kehilangan anak kita. Aku kehilangan rahimku, aku gak bisa punya anak lagi. Aku kehilangan semuanya dan sekarang..." suaranya nyaris tak terdengar. "Kamu juga mau ninggalin aku?" "Di saat aku hancur seperti ini, kamu bilang mau menikah dengan wanita lain?! Aku gak setuju mas! Aku gak mau dimadu!" teriak Gisel, suaranya pecah oleh emosi yang membuncah. "Aku tidak meminta izinmu, Gisel. Aku hanya memberi tahu," ulang Arash, suaranya naik satu oktav, terdengar tegas dan tidak bisa diganggu gugat. Arash menatapnya dengan tatapan dingin. "Pernikahan kita sejak awal adalah sebuah kesalahan, Gisel. Kamu sendiri yang memaksaku masuk ke dalam ikatan pernikahan ini. Selama lima tahun, aku sudah menuruti kemauanmu." Gisel mencengkeram kain selimut di tangannya dengan kuat. Selama lima tahun ini, dia selalu mengejar cinta Arash dan berharap hati pria itu bisa melunak dengan berjalannya waktum. Namun ternyata, semua sia-sia. "Sekarang anak itu sudah tidak ada," lanjut Arash tanpa perasaan. "Tidak ada lagi alasan bagiku untuk bertahan di sini. Aku ingin memberikan Laras posisi yang seharusnya. Aku ingin menikahinya secara sah. Dan setelah ini, aku akan menceraikanmu." Dunia Gisel serasa runtuh sepenuhnya. "Menceraikanku...? Jadi selama ini, kamu sama sekali gak pernah menganggapku sedikitpun, apa aku gak sepantas itu mas? Aku tulus cinta sama kamu! Aku berjuang sendirian selama ini untuk buat kamu bisa menerima aku, bahkan saat kamu gak peduli sama sekali aku gak pernah menyerah. Saat aku butuh, kamu gak pernah ada selalu aja Laras yang kamu utama in, sedangkan aku.. berkali-kali aku cemburu sampai rasanya mati rasa mas! Tapi kamu... kamu sama sekali gak punya hati!" "Aku tidak pernah meminta mu untuk mencintaiku, Gisel!" balas Arash tegas. "Kamu... kamu benar-benar kejam, Mas," bisik Gisel dengan bibir yang bergetar hebat. "Lalu bagaimana denganku?! Bagaimana dengan perasaanku, Arash?! Aku ini istrimu!" teriak Gisel, suaranya serak karena tangisan. "Kamu yang memulai semua ini, jadi jangan menyalahkan ku jika aku yang mengakhirinya. Aku lelah berpura-pura." jawab Arash dengan dingin. Pria itu kemudian membalikkan badannya, berniat untuk pergi dari kamar karena menganggap pembicaraan mereka sudah selesai. Rasa marah, kecewa, dan sakit bercampur menjadi satu di dalam dada Gisel. Napasnya memburu, sementara air mata terus mengalir tanpa henti. Dia tidak bisa membiarkan pria ini pergi begitu saja setelah menghancurkan sisa-sisa hidupnya. Dengan tubuh yang masih lemah, Gisel segera bangkit dari lantai. "Jangan pergi, Arash! Kita belum selesai bicara!" teriak Gisel sambil bergegas mengejar Arash yang sudah lebih dulu keluar dari kamar. Baru beberapa langkah keluar, tubuh Gisel yang belum pulih sepenuhnya kehilangan keseimbangan. Kakinya tersangkut ujung gaunnya sendiri. "Ah!" Gisel terpeleset di anak tangga paling atas. Tangannya refleks meraih pegangan tangga, tetapi genggamannya meleset. Tubuhnya berguling menuruni belasan anak tangga marmer sebelum akhirnya terhempas di lantai dasar. Brak! Gisel tergeletak tak bergerak di atas lantai marmer yang dingin. Darah mengalir pelan dari belakang kepalanya, membentuk genangan merah di sekitarnya. Arash tertegun dan langsung berbalik mendapati istrinya sudah bersimbah darah di lantai. Arash bergegas mendekati dan berlutut di samping tubuh Gisel. "Gisel! Buka matamu!" panggil Arash panik tetapi tidak ada jawaban dari Gisel. Dia mengangkat sedikit bahu Gisel, lalu Arash menoleh ke arah belakang rumah dan berteriak sekuat mungkin. "Pelayan! Cepat panggil ambulans!" Gisel menatap Arash yang kini berlutut di sampingnya. Wajah pria itu tampak panik, bibirnya terus memanggil namanya. Ironis sekali. Setelah lima tahun menunggu perhatian itu, justru baru ia dapatkan ketika semuanya sudah terlambat. Pandangannya mulai kabur. Suara Arash terdengar semakin jauh dan samar, seolah berasal dari tempat yang sangat jauh. Rasa sakit di tubuhnya perlahan menghilang, berganti dengan dingin yang menjalar hingga ke ujung jemarinya. "Kenapa baru sekarang kamu memanggilku seperti itu, Arash?" batin Gisel lirih di tengah sisa-sisa kesadarannya. Setetes air mata mengalir dari sudut matanya, bercampur dengan darah yang menggenang di lantai. Kelopak matanya terasa semakin berat. Sebelum kesadarannya benar-benar menghilang, di lubuk hatinya yang paling dalam menyisakan satu penyesalan terbesar karena telah menyerahkan hidupnya pada pria yang salah. "Andai waktu bisa kuputar kembali... aku tidak akan pernah memilihmu, Arash... Aku tidak akan menghabiskan hidupku untuk mengejar.. Seseorang yang tidak pernah mencintaiku." Dan setelah itu, semuanya berubah menjadi kegelapan yang abadi.SUV hitam itu berhenti mendadak di depan rumah Laras. Rian bahkan belum sempat mematikan mesin ketika Arash sudah membuka pintu dan turun dari mobil.Beberapa mobil polisi dan ambulans sudah ada di pekarangan rumah. Garis polisi terpasang di sekitar pintu utama, sementara sejumlah petugas masih bergerak keluar-masuk.Arash langsung mempercepat langkah menuju pintu utama yang rusak akibat didobrak.Begitu melewati pintu tersebut, pemandangan di ruang tamu membuat langkahnya melambat sejenak.Pecahan vas bunga keramik berserakan di lantai marmer. Ruang tamu itu terlihat berantakan setelah yang terjadi beberapa menit lalu. Salah satu pengawal yang terluka kini duduk bersandar dengan lengan yang sudah dibalut kain kasa oleh petugas medis. Kini ia sedang memberikan keterangan kepada seorang polisi.Namun, perhatian Arash segera beralih kepada sosok wanita yang terduduk diam di sofa.Laras.Suara langkah Arash yang mendekat membuat Laras mendongak pelan. Matanya yang sembab dan merah langsu
Laras membeku di tempat.Untuk beberapa saat, ia hanya mampu menatap pria yang berdiri di hadapannya. Jantungnya berdegup begitu keras sampai suara detaknya terasa memenuhi telinga.Pak Lukman.Bagaimana mungkin pria yang sedang jadi buronan itu bisa berada di dalam rumahnya?Senyum miring terukir di bibir pria itu. “Kaget melihat saya ada di rumah kamu, Laras?” suara Pak Lukman terdengar berat dan parau, tetapi masih cukup jelas di tengah kesunyian rumah.Laras mundur beberapa langkah sampai punggungnya membentur dinding tembok yang dingin. Tangannya yang gemetar mencengkeram ujung cardigan yang melekat di tubuhnya. Napasnya terasa sesak dan sulit diatur.“Pak... Pak Lukman? Bagaimana Bapak bisa ada di dalam rumah saya?” bisik Laras dengan suara tercekat.“Kamu tidak perlu tahu. Saya sudah ada di sini sejak tadi menunggu kamu,” jawab Lukman sambil tertawa. “Kamu terlihat sangat rapuh Laras, sama rapuhnya dengan perlindungan yang diberikan Arash untuk kamu.”Pak Lukman melangkah maju
Pintu kamar utama di lantai dua itu tertutup rapat. Di dalam kegelapan, Gisel terduduk di balik pintu. Kedua lututnya dilipat rapat ke dada, sementara kedua tangannya memeluk lututnya sendiri. Dada perempuan itu masih naik turun secara tidak teratur. Setiap kali mencoba menarik napas, dadanya terasa sesak dan nyeri. Suara mobil Arash yang semakin menjauh dari halaman mansion terdengar sangat jelas. Arash benar-benar pergi. Gisel menyandarkan belakang kepalanya pada daun pintu kayu jati yang dingin. Sebuah tawa lirih yang terdengar parau dan getir lolos dari mulutnya. Ia tahu, sejak awal Arash tidak pernah menjanjikan apa pun kepadanya. Perasaan pria itu juga tidak pernah menjadi sesuatu yang bisa ia tuntut. Namun, setelah kembali ke masa lalu dan mencoba mengubah begitu banyak hal, tanpa sadar ia mulai berharap bahwa kali ini Arash akan melihatnya dengan cara yang berbeda. Malam ini, harapan itu kembali terasa begitu jauh. Untuk saat ini, Gisel tidak ingin mengejar pria itu. Tid
Dua detik.Lima detik.Sepuluh detik.Tak satu kata pun keluar dari mulut Arash. Ia hanya berdiri diam dengan rahangnya mengeras, sementara pandangannya tertahan pada Gisel.Gisel terkekeh pelan setelah sekian lama menunggu.“Kenapa diam aja, Mas?” tanya Gisel. Suaranya terdengar tenang, meskipun ada getaran kecil di dalamnya. “Susah banget, ya, cuma buat memilih?”Tatapan Gisel berpindah dari Arash ke arah Laras yang masih berdiri di dekat tangga. Namun, keduanya hanya diam membisu.Tapi entah kenapa, pada saat itu Gisel merasa sudah mendapatkan jawabannya.Arash tidak memilih siapa pun. Atau mungkin, justru karena dia tidak sanggup memilih, Gisel sudah tahu siapa yang sebenarnya lebih ia pikirkan.Gisel mengembuskan napas panjang. Rasanya seperti baru saja melepaskan sesuatu yang selama ini ia tahan terlalu lama.“Oke...” bisiknya sambil mengangguk kecil. “Aku paham.”Gisel menatap Arash sekali lagi. “Kalau kamu memang nggak bisa menyuruh Mbak Laras pergi, biar aku aja yang pergi.”






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore