Se connecterDia melingkarkan lengannya di pinggangku, menarik tubuhku rapat ke tubuhnya. Aku menegang dalam pelukannya, membeku oleh rasa takut, amarah, dan hasrat aneh yang berdenyut di setiap nadiku. "Aku Dante Romero, Sayang." Suaranya rendah dengan nada yang begitu menggoda hingga membuat pipiku memanas. "Ada banyak hal yang berani kulakukan, jauh melampaui apa yang bisa kau bayangkan." Dante memiringkan kepalanya, bibirnya yang begitu menggoda berhenti tepat di dekat telingaku. "Aku memberimu dua pilihan, Olivia: pindah dan tinggal bersamaku... atau bersiaplah untuk tidak pernah melihat putra-putramu lagi." ~~ Lima tahun setelah hubungan satu malam yang samar dan berujung pada skandal seks besar, Olivia Miller kembali ke Los Angeles bersama ketiga putranya yang kembar tiga untuk memulai kehidupan baru yang damai. Namun semua itu berubah ketika Dante Romero, CEO yang kejam dan berhati dingin, menerobos kembali ke dalam hidupnya. Murka karena Olivia telah menyembunyikan anak-anaknya selama bertahun-tahun, Dante memberinya dua pilihan: melawannya demi hak asuh putra-putra mereka atau pindah dan tinggal bersamanya. Tak berdaya dan takut kehilangan putra-putranya, Olivia akhirnya memilih tinggal bersama Dante, tetapi bersumpah akan menghindarinya dengan segala cara. Namun bagaimana mungkin ia bisa melakukannya ketika Dante—pria yang yakin dirinya dibayar untuk menjebaknya dan mengaku membencinya—terus berada di sisinya, memikatnya laksana godaan gelap yang mustahil ia tolak? Apa yang sebenarnya terjadi pada malam penuh gairah lima tahun lalu? Dan bagaimana semua itu berkaitan dengan ancaman pembunuhan yang kini terus menghantuinya?
Voir plus“Olivia, cepat buka internet! Kau tidak akan pernah menyangka siapa yang sedang trending!”
Aku meringis mendengar pekikan Alice yang penuh semangat, bernada tinggi, dan hampir memekakkan telinga dari ponselku. Hal yang seharusnya sudah biasa mengingat dia telah menjadi sahabatku selama dua belas tahun, tetapi nyatanya aku tetap belum terbiasa. “Aku sedang tidak punya waktu untuk gosip selebritas, Alice.” Aku mendengus sambil mengeluarkan piring-piring dari mesin pencuci piring. “Seharian ini aku bahkan hampir tidak sempat membereskan barang-barang karena anak-anak. Aku-“ “Kau pasti akan punya waktu kalau tahu yang sedang trending itu adalah kau dan seorang miliarder tertentu.” Dia terkekeh seperti Harley Quinn, dan aku hampir bisa membayangkan seringai psikopat di wajahnya. “Kenapa aku dan seorang miliarder...” Tunggu?! Seorang miliarder... Maksudnya... Dadaku langsung sesak saat memikirkan dirinya. “Tolong bilang itu bukan miliarder yang itu,” bisikku. “Memangnya siapa lagi?! Kalian berdua ada di seluruh berita!” pekik Alice. Kakiku gemetar menopang tubuhku, dan aku bersandar pada meja dapur. Aku menggigil seolah seseorang baru saja menyiramku dengan air es. “K-Kenapa?!” “Cari saja Dante Romero, nanti kau akan mengerti maksudku! Aku tidak perca-“ “Nanti aku telepon lagi.” “Tunggu-“ Aku mengakhiri panggilan itu dan langsung membuka G****e. Jariku gemetar saat mengetik nama satu-satunya pria yang telah bersumpah tidak akan pernah lagi kulibatkan dalam hidupku. “Tidak!” Aku terkesiap. Cairan asam naik ke tenggorokanku. Mata hazelku membelalak melihat deretan berita yang memenuhi internet. Olivia Miller, wanita muda yang terlibat dalam skandal seks Dante Romero lima tahun lalu, baru-baru ini terlihat bersama anak kembar tiga yang identik. Mungkinkah mereka anak Dante? “Tidak, tidak, tidak!” Aku menggulir layar ponselku, membaca satu demi satu berita tentang diriku, anak-anakku, dan Dante Romero. ‘Bagaimana?’ ‘Kenapa?’ Aku menatap foto diriku dan putra-putraku saat sedang menaiki taksi, jelas-jelas diambil tanpa izin. Dilihat dari waktunya, foto itu pasti diambil beberapa menit setelah kami meninggalkan bandara. “Domba.” Aku menjatuhkan ponselku ke atas meja dapur lalu menarik rambut cokelat kastanyeku dengan frustrasi. ‘Ini tidak mungkin terjadi. Ini benar-benar tidak mungkin terjadi! Aku sudah merencanakan awal yang baru di LA, tetapi masa lalu terkutuk itu tetap saja kembali menghantuiku.’ Aku mondar-mandir di dapur, berusaha mengusir kenangan pahit lima tahun lalu yang terus menghantui pikiranku. ‘Apa yang harus kulakukan? Anak-anak masih terlalu kecil untuk menghadapi semua drama ini. Haruskah aku-‘ Ding Dong. Suara bel pintu membuyarkan lamunanku, dan aku langsung membeku di tempat. Perasaan pahit bahwa dialah yang berada di balik pintu mulai mencekik tenggorokanku. Ding Dong. Bel pintu itu berbunyi lagi, dan aku menarik napas panjang yang gemetar. ‘Kau terlalu paranoid, Olly. Tidak mungkin dia sudah menemukanmu secepat ini.’ Aku melangkah pelan menuju ruang tamu. Pintu depan rumahku tampak jauh lebih besar dan mengintimidasi setiap kali aku semakin mendekat. Ding Dong. Jari-jariku gemetar saat menyentuh gagang pintu. “Kau hanya mengkhawatirkan sesuatu yang tidak akan terjadi,” bisikku sambil membuka pintu. Dalam sekejap, sesosok pria tinggi berbaju gelap menerobos masuk melewatiku lalu membanting pintu hingga tertutup. “Apa ap-“ “Akhirnya kau membuka pintu juga, Nona Miller.” Darah di tubuhku seakan membeku mendengar suara pria di hadapanku yang dingin dan datar. Tatapanku bergerak menyusuri tubuhnya yang dibalut jas, melewati rahangnya yang tegas, lalu berhenti pada sepasang mata biru tajam yang menatap lurus ke arahku. “Oh, domba,” embusku. Berdiri di hadapanku adalah pria paling diidamkan di Los Angeles, Sang Raja Es, Dante Romero, dalam seluruh aura gelapnya. “Anak-anakku, di mana mereka?” Domba kuadrat. Jantungku berdegup kencang di dalam dada. Bagaimana mungkin dia menemukan kami padahal kami baru kembali ke LA hari ini? “A-Apa maksudmu anak-anak?” Aku meringis mendengar gagapku sendiri. Mungkin... hanya mungkin... pertanyaanku akan terdengar lebih meyakinkan seandainya suaraku tadi tidak melengking seperti tikus. “Jangan pura-pura bodoh di depanku.” Mata Dante menyipit hingga hanya tinggal garis tipis, lalu ia melangkah mendekat. Tubuhnya yang jauh lebih besar, berotot, serta kehadirannya yang begitu mengintimidasi seolah mencekik paru-paruku. Aku mundur selangkah. “Aku tahu kau hamil setelah insiden kecil kita lima tahun lalu.” Mayday! Mayday! Jangan tinggalkan aku begini, otak! Cepat pikirkan alasan! “Kau tidak mungkin benar-benar percaya dengan rumor di internet. Itu pasti boho-“ “Jadi kau menyiratkan bahwa aku cukup bodoh untuk mendasarkan tuduhanku pada gosip?” Ia kembali melangkah maju dengan gerakan lambat dan penuh perhitungan. “B-bukan, Tuan. Bukan itu maksudku. Aku hanya... maksudku... tidak ada yang seharusnya percaya pada internet... Bukan berarti Anda mempercayainya... Maksudku...” Aku menggeleng cepat, menggerakkan kedua tanganku ke sana kemari sambil mundur selangkah setiap kali ia maju. Punggungku akhirnya membentur dinding, dan kepanikanku langsung melonjak. “Harus kuakui, saat pertama kali melihat berita itu, kupikir itu hanya ulah para troll. Namun, rasa penasaranku terusik. Setelah menggali sedikit lebih dalam, aku menemukan bahwa kau memang melahirkan anak-anakku.” Dante menerobos masuk ke dalam ruang pribadiku, dan aku langsung terdiam di bawah aura mengintimidasinya. “Aku datang untuk membawa pulang anak-anakku.” “Hah?!” Aku melongo menatapnya. Apa dia baru saja menuntut anak-anakku, atau aku salah dengar? “Maaf... tapi sepertinya aku tidak mengerti maksud ucapanmu.” “Apa kau sebodoh itu? Aku datang untuk membawa pulang anak-anakku, Nona Miller. Di mana mereka?” Kini giliranku menatapnya dengan tatapan mematikan. Pria ini benar-benar punya keberanian menghina orang sambil mengajukan permintaan yang begitu konyol. “Maaf, tapi tidak, Tuan Romero.” Aku menyilangkan kedua tangan di depan dada. Kerutan di wajah Dante semakin dalam. “Itu bukan permintaan ataupun saran. Itu perintah.” Ia melempariku tatapan tajam yang kubalas tanpa gentar. “Dan setahuku, aku tidak bekerja untukmu. Mereka putra-putraku, dan aku tidak akan menyerahkan mereka kepadamu.” “Mereka juga anak-anakku-“ “Ya, anak-anak yang bahkan keberadaannya baru kau ketahui beberapa jam yang lalu.” “Karena kau menyembunyikan mereka dariku.” geramnya sambil menghantam pintu dengan kepalan tangan. Dan aku menolak untuk bergeming. Kalau dia pikir aku akan gentar hanya karena intimidasi murahan seperti itu, dia salah besar. “Kau menuduhku dan nyaris mengancam nyawaku. Bagaimana kau mengharapkanku memberi tahu bahwa aku hamil saat kau bahkan tidak tahan melihat wajahku?” “Itu tetap tidak memberimu hak untuk menyembunyikan keberadaan putra-putraku. Aku ayah mereka.” “Dan hanya karena kau ayah mereka bukan berarti kau berhak menerobos masuk ke rumahku lalu menuntut anak-anak yang telah kulahirkan dan kubesarkan selama bertahun-tahun. Kau sama sekali tidak mengenal mereka. Astaga, bahkan nama mereka pun kau tidak tahu.” “Liam, Michael, dan Nathan.” Nama ketiga putraku meluncur begitu saja dari bibirnya, membuatku berkedip. Bagaimana mungkin dia tahu? Oh, benar. Dia bilang tadi dia menyelidiki masa laluku. Pikiran tentang seberapa banyak yang ia ketahui tentang diriku membuat kulitku meremang. “Lalu menurutmu itu membuatmu jadi ayah yang sempurna?” Aku mendengus sinis, dan wajah Dante langsung menggelap. “Dan kau pikir kau lebih baik?” balas Dante. “Menurutku, wanita yang bersedia memanfaatkan keadaan seorang pria yang sedang dibius lalu tidur dengannya demi uang bahkan tidak pantas menjadi seorang ibu.” Kata-katanya menghantamku lebih keras daripada sambaran petir. Air mata menggenang di pelupuk mataku, tetapi segera kutahan. Lima tahun telah berlalu, namun dia masih menganggapku seorang wanita murahan. Aku jadi bertanya-tanya berapa banyak orang yang juga mempercayai kebohongan itu. “B-bukan begitu yang terjadi!” isakku, tak mampu menghentikan suaraku yang bergetar. “Oh, ya?” Ia menyeringai mengejek sambil menatapku seolah-olah aku hanyalah seonggok sampah. Aku tidak tahu! Ingin sekali aku berteriak. Satu menit sebelumnya, aku masih asyik memakan sekotak cokelat yang kuterima dari seorang pengagum rahasia setelah menyelesaikan shift malam paruh waktuku di hotel. Keesokan paginya, aku terbangun dalam keadaan telanjang, tubuhku pegal, terbaring di samping seorang pria asing... dan keperawananku telah hilang. Aku bersumpah, aku tidak tahu bagaimana semua itu bisa terjadi. “Kalau hanya itu yang ingin kau katakan, silakan pe-“ Dante meraih pergelangan tanganku dan menarikku ke arahnya sebelum sempat kusentuh gagang pintu. Semburat merah langsung menghiasi pipiku karena jarak kami yang begitu dekat. Dada kami hanya terpaut beberapa sentimeter, dan aku takut dia bisa mendengar detak jantungku yang menggila. Di bawah tubuhnya yang menjulang tinggi dan tatapan dingin nan tajamnya, aku merasa begitu kecil. Tatapanku menyusuri setiap lekuk wajah tampannya, dan semburat merah di pipiku semakin pekat. Rahang yang tegas, kulit sawo matang yang mulus, rambut hitam legam, serta mata biru yang memikat. Tidak heran begitu banyak wanita tergila-gila padanya. Dia tampan luar biasa... dengan cara yang nyaris membuat dosa. “Berapa yang kau inginkan? Sebutkan hargamu.” Dante menyeringai sinis sambil mengeluarkan buku cek dari saku jasnya. Bibirku langsung melengkung membentuk seringai tajam. “Anak-anakku bukan barang dagangan. Dan apa pun yang kau katakan atau lakukan tidak akan membuatku menyerahkan mereka kepadamu.” Aku mengertakkan gigi lalu menarik kasar tanganku dari genggamannya. “Kalau begitu, bagaimana kalau gugatan hak asuh?” ujarnya santai, bibirnya terangkat membentuk seringai licik. “Dengan kekuasaanku dan kondisi keuanganmu yang menyedihkan, aku bisa memastikan kau tidak akan pernah melihat anak-anakmu lagi.” Tidak akan pernah melihat putra-putraku lagi?! Kata-katanya menancap ke dalam diriku bagaikan taring berbisa seekor ular. “K-kau tidak akan sekejam itu.” Suaraku bergetar. Benarkah dia akan melakukannya? Tidak mungkin dia setega itu. Tawa rendah dan kelam bergema di seluruh ruang tamu. Dante melingkarkan lengannya di pinggangku dan menarik tubuhku rapat ke tubuhnya. Aku menegang dalam pelukannya, membeku oleh rasa takut, amarah, dan hasrat aneh yang berdenyut di setiap nadiku. “Aku Dante Romero, Sayang.” Suaranya rendah dengan nada yang berbahaya sekaligus menggoda, membuat pipiku memanas. “Ada banyak hal yang berani kulakukan, jauh melampaui apa yang bisa kau bayangkan.” Dante memiringkan kepalanya, menempelkan bibirnya yang begitu menggoda tepat di dekat telingaku. “Aku memberimu dua pilihan, Olivia: pindah dan tinggal bersamaku atau bersiaplah untuk tidak pernah melihat putra-putramu lagi.” Apa pun ketertarikan yang sempat kurasakan padanya seketika hangus tak bersisa. 'Catatan untuk diriku sendiri, Olivia;' 'Dante Romero mungkin adalah mahakarya yang diciptakan Tuhan, tetapi dia memiliki hati iblis. Jangan pernah melupakan itu.' “Baik.” Kata itu terasa seperti racun saat keluar dari bibirku. Seringai puas yang menyebalkan menghiasi wajah Dante, dan aku menggeram, ingin sekali menamparnya hingga seringai itu lenyap. “Bagus.” Dante melepaskan tangannya dari pinggangku, membiarkan ujung jarinya menyusuri tepian kausku. Aku langsung menepis lengannya dan menatapnya dengan jijik. “Kau punya waktu lima menit. Tidak usah repot-repot membawa apa pun. Semua yang kau butuhkan sudah tersedia di mansion.” Tanpa menjawab, aku berjalan keluar dari ruang tamu dengan langkah penuh amarah, mati-matian menahan keinginan untuk meninju selangkangannya.Ring Ring“Tidak!!!” gumamku sambil berguling di tempat tidur. Aku tidak ingin bangun, apalagi setelah akhirnya berhasil tertidur pukul lima pagi.Tempat tidurnya empuk, benar-benar empuk, seperti marshmallow. Dan kamarnya benar-benar sejuk dan nyaman. Semuanya terasa sempurna, kecuali suara dering ponselku yang menyebalkan.Ring Ring“Ugh!” Aku mengerang lalu duduk. Putra-putraku meringkuk di kedua sisiku, jadi aku membungkuk dan mengambil ponsel dari meja samping tempat tidur, berhati-hati agar tidak membangunkan mereka.Nama Alice muncul di layar, dan aku menghela napas.Seharusnya aku sudah tahu. Ratu gosip itu pasti menginginkan gosip.“Halo.”“Aku sudah meneleponmu sampai triliunan kali. Kenapa kau tidak mengangkat teleponmu?” katanya dengan suara ceria dan penuh semangat. Aku selalu bertanya-tanya bagaimana dia bisa seceria itu di pagi-pagi buta.“Bukankah ini terlalu pagi? Ini baru lewat pukul tujuh, Alice. Lewat pukul tujuh!” Aku menghela napas sambil menyingkirkan helaian ra
“Nona Miller, Tuan Romero ingin bertemu dengan Anda,” kata Albert, kepala pelayan Dante, sambil berdiri di ambang pintu kamar yang diberikan kepadaku.Albert seperti kepala pelayan stereotip yang sering kau lihat di film-film. Tubuhnya yang tinggi dan kurus dibalut jas yang rapi dan berkelas. Ditambah ekspresinya yang kaku serta posturnya yang sempurna dan tegap, dia tampak seperti baru saja berjalan keluar dari era Victoria.“Oh,” gumamku, sedikit mengernyit.‘Apa lagi yang Dante inginkan dariku sekarang? Bahkan satu malam pun belum berlalu, dan dia sudah membuatku melanggar sumpah ‘menghindari-Dante-Romero’.’“Bisakah Anda memberi saya waktu sebentar?”“Tentu, Nyonya. Saya akan menunggu di luar.”“Terima kasih.”Dia membungkuk lalu berjalan keluar, menutup pintu putih di belakangnya.Aku mengeluarkan ponsel dari saku celana pendekku lalu mengetuk layarnya dua kali.‘Domba! 28 panggilan tak terjawab dan 13 pesan dari Alice! Bagaimana aku tidak—oh, ponselku dalam mode senyap.’Olivia:
“Nooo. Aku nggak mau—yawn—bangun...” rengek Michael sambil turun dari tempat tidur yang ia bagi dengan saudara-saudaranya.“Maaf, Sayang, tapi kita harus pergi.” Aku mengangkat Nathan yang masih tertidur dan menaruhnya di dadaku, menyandarkan kepalanya di bahuku. Membangunkan Nathan sama mustahilnya dengan menyuruh seekor ikan paus terbang.Kalau Nathan sudah tertidur pulas, dia benar-benar pulas. Bahkan gempa bumi yang disertai ledakan nuklir sekalipun tidak akan mampu membangunkannya.“Kita mau ke mana, Mama?” tanya Leon sambil berdiri di sisiku, sudah terjaga sepenuhnya.Berbeda dengan adik-adiknya, suara jarum jatuh pun bisa membangunkannya. Michael berada di antara kedua saudaranya, baik dalam urutan kelahiran maupun dalam lelapnya tidur.“Ke rumah baru kalian,” jawabku sambil menggenggam tangan Michael.“Kenapaaa?” rengeknya sambil mengucek matanya. “Aku mau tidur.”“Aku janji kau bisa tidur di mobil. Ayo.”Leon menggenggam tangan saudaranya, dan kami berjalan keluar dari kamar.
“Olivia, cepat buka internet! Kau tidak akan pernah menyangka siapa yang sedang trending!”Aku meringis mendengar pekikan Alice yang penuh semangat, bernada tinggi, dan hampir memekakkan telinga dari ponselku. Hal yang seharusnya sudah biasa mengingat dia telah menjadi sahabatku selama dua belas tahun, tetapi nyatanya aku tetap belum terbiasa.“Aku sedang tidak punya waktu untuk gosip selebritas, Alice.” Aku mendengus sambil mengeluarkan piring-piring dari mesin pencuci piring. “Seharian ini aku bahkan hampir tidak sempat membereskan barang-barang karena anak-anak. Aku-““Kau pasti akan punya waktu kalau tahu yang sedang trending itu adalah kau dan seorang miliarder tertentu.” Dia terkekeh seperti Harley Quinn, dan aku hampir bisa membayangkan seringai psikopat di wajahnya.“Kenapa aku dan seorang miliarder...”Tunggu?! Seorang miliarder... Maksudnya...Dadaku langsung sesak saat memikirkan dirinya.“Tolong bilang itu bukan miliarder yang itu,” bisikku.“Memangnya siapa lagi?! Kalian






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.