로그인“Kalau begitu… kamu mau 'kan, nolongin Ala untuk jadi pengganti calon suaminya?” Pernikahan impianku bersama Dokter Arhan hancur dalam semalam ketika dia menabrak seseorang hingga tewas di H-2 pernikahan kami. Demi menutupi malu, ayahku memohon kepada Azkara, sahabat terbaikku sejak kecil, untuk menikahiku. Azkara setuju, tapi aku tidak. Aku membencinya karena telah menggantikan Arhan, calon suamiku. Aku bersumpah akan tetap menjaga kesucianku sampai Arhan bebas dari penjara dan aku bisa menceraikan Azkara. Aku bersikap dingin, kasar, dan selalu menjaga jarak. Namun, Azkara bukan lagi sahabat manis yang bisa kuatur sesuka hati. Sekarang, dia adalah suamiku.
더 보기“Pihak keluarga korban nggak mau berdamai, La.”
Satu kalimat itu menghantam hati Alana, membuat gadis itu langsung terduduk lemas di ujung sofa. Impiannya menjadi istri seorang dokter, kini akhirnya kandas tanpa aba-aba terlebih dahulu. “Mas Arhan itu dokter, Yah, pasti ada keringanan, ‘kan? Keluarganya pasti mau bertanggungjawab pada ahli warisnya—” Pak Arjuna menghela napas. “Keluarganya memang berniat untuk menanggung semua biaya kehidupan anak-anak yang ditinggalkan korban, bahkan berjanji untuk memberikan modal usaha untuk istrinya. Tapi keluarga korban tidak setuju, La, mereka nggak mau berdamai. Jadi, kepolisian tetap menetapkan Arhan menjadi tersangka dan akan dipenjara. Untuk berapa lama waktunya, nanti akan diputuskan di pengadilan.” “Ya Allah… kenapa jadi begini ….” Alana menangkupkan kedua tangannya di wajah, air matanya perlahan merembes keluar melalui celah-celah jarinya. Bahunya berguncang seiring dengan isaknya yang terdengar memilukan, menyesakkan dada di setiap tarikan napasnya. “Jadi, semuanya harus bagaimana, Yah? Undangan sudah disebar, seluruh keluarga juga akan datang besok untuk mempersiapkan pernikahan Ala. Para tetangga juga sudah disambat untuk bantu masak-masak besok. Nggak mungkin dibatalkan tiba-tiba, ‘kan?” Bu Sania yang sejak tadi diam berpikir keras, kini akhirnya buka suara dengan penuh kepanikan. Wajahnya yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah menginjak kepala empat, nampak sekali gurat kekhawatirannya. Pak Arjuna tampak berpikir sejenak, mencoba mencari solusi yang tepat untuk menenangkan hati putri sulung dan juga istrinya. Pernikahan itu harus tetap dilangsungkan, bagaimanapun kondisinya nanti. Dia tidak ingin nama baiknya tercoreng hanya karena kegagalan pernikahan putrinya. Saat belum menemukan ide yang tepat, tiba-tiba saja terdengar suara bel berbunyi. Seorang asisten rumah tangga yang sebelumnya baru saja menyajikan minuman teh untuk majikannya, segera beranjak menuju pintu dan membukanya. “Assalamualaikum—” Semua orang yang ada di sana menoleh dan menjawab salam, tak terkecuali Alana yang langsung melepas kedua tangannya seraya mengusap air mata. Ada sedikit rasa malu yang tiba-tiba muncul, tidak ingin siapapun tamu yang datang itu melihat dirinya yang tengah menangis. “Wa’alaikumsalam—” “Loh, Azka? Kamu pulang kapan? Katanya lagi pulang kampung? Om kamu lagi nikahan, ‘kan?” celetuk Bu Sania bertubi-tubi, sedikit terkejut saat melihat kedatangan sahabat putrinya. Pemuda itu tersenyum. “Baru nyampe tadi, Tante. Kebetulan Om Arif sudah resmi menikah kemarin, jadi hari ini Azka pulang duluan. Papa sama Bunda dan adik-adik pulang lusa, insyaaAllah.” Bu Sania ber-oh pelan, memaksakan senyumannya agar tidak terlihat gurat kepanikan di wajahnya. Tidak mungkin dia menunjukkan semuanya di depan sahabat putrinya itu, ‘kan? Ini masalah keluarga, jadi tidak semua orang harus tahu yang sebenarnya. “Kenapa pulang duluan, Ka? Biasanya kamu betah di kampung?” Kali ini Pak Arjuna yang bertanya, mencoba mencari topik agar pemuda itu tak terfokus pada putrinya. Sementara lirikan matanya sesekali tertuju pada putri sulungnya, memberi kode agar gadis itu masuk kamar saja. Namun, sayangnya Alana sedang dalam suasana hati yang kacau, sehingga tidak bisa semudah itu memahami kode dari ayahnya. Hingga akhirnya …. “Iya, Om. Lusa Ala sudah mau menikah, ‘kan? Masa sahabat dekatnya dari kecil nggak datang sih? Azka juga mau jadi groomsmen, dong. Hehee—” Azkara terkekeh pelan. Namun hanya dua detik saja, karena detik berikutnya dia langsung terpaku saat melihat raut wajah sahabat karibnya itu. “Loh? Kamu kenapa, La? Habis nangis, ya?” Alana menggeleng pelan, memaksakan senyumnya yang lebih banyak memberi rasa perih dalam hati dibandingkan kebahagiaan. “Aku nggak papa kok, Ka. Maklum, bentar lagi melepas masa lajang. Jadi ada momen haru pas bareng-bareng sama keluarga.” Bu Sania dan Pak Arjuna yang mendengar itu langsung bergeming, menatap putri mereka dengan sorot yang sulit diartikan. Hati mereka ikut pilu melihat putrinya yang berusaha tegar di depan sahabatnya. Sementara Azkara mengernyitkan dahi, dia terlalu sulit untuk dibohongi oleh gadis itu. Apalagi mengingat jika dari kecil mereka tumbuh bersama, menghadapi segala kenakalan masa kecil bersama-sama. Sekalipun Azkara dua tahun lebih tua dari Alana, tetapi keduanya tetap bersahabat layaknya anak yang seumuran. “Kamu yakin, La? Nggak bohong?” Tatapan matanya sedikit menyipit dan menyelidik. Alana langsung mengangguk. “Yakin, Azka. Udah lah, nggak perlu dibahas. Oh ya, kamu udah makan? Kalau belum, sana makan dulu di dalam. Bunda tadi masak sop iga—” Belum juga Azkara merespon, tiba-tiba pintu rumah itu kembali dibuka dari luar. Kali ini dengan sedikit kasar dan tergesa, membuat semua yang ada di sana menoleh cepat. “Om, Tante! Barusan aku dengar dari Mami, katanya Mas Arhan dibawa polisi. Itu beneran nggak? Mami pasti bohong, ‘kan?” Elvan, adik sepupu Alana menatap om dan tantenya dengan sorot tak percaya. Pemuda itu sedikit terengah karena mungkin baru saja berlari entah dari mana. Alana melebarkan matanya, bersamaan dengan sesak dalam dada yang kembali mendera. Sementara Pak Arjuna dan Bu Sania menghela napas panjang. Sedangkan Azkara… pemuda itu terkejut bukan main. “Dokter Arhan dibawa polisi?!”“Kenapa tidak masuk ke dalam, Bu?” Alana sedikit terkejut saat tiba-tiba mendengar suara seseorang di belakangnya. Dia segera menoleh, terlihat seorang karyawan yang membawa map di tangannya menatap heran.Alana langsung menempelkan jari telunjuknya di bibir, lalu menyahut dengan sedikit berbisik. “Ssssttt… jangan keras-keras!” Karyawan itu langsung menutup bibirnya dengan telapak tangan, merasa bersalah karena sudah berbicara agak keras. “Memangnya ada apa, Bu?” tanya karyawan itu, berbisik.“Pak Azka lagi ada tamu, ya?” Alana berbisik juga.Karyawan itu mengangguk. “Sepertinya ada, Bu. Tadi memang ada yang tanya ruangan Pak Azka ada di mana.”Alana manggut-manggut pelan. “Perempuan?”Karyawan itu mengiyakan lagi. “Apa mereka ada hubungan?”“Aduh, kalau itu saya kurang tahu, Bu.”Alana menoleh, memindai kembali penampilan karyawan itu. “Kamu ke sini mau apa?”“Ehm, ada berkas yang butuh tanda tangan Pak Azka, Bu,” sahutnya, sembari menunjukkan berkas yang ada di tangannya.“Kalau
“Ala, kamu sudah tidur?”Terdengar suara Azkara dari luar, disusul dengan suara ketukan pintu. Alana yang sebelumnya hendak membalas WA story Tante Dilara, seketika urung. Dia segera meletakkan ponselnya di atas bantal, lalu beranjak untuk membuka pintu. “Ada apa?” tanyanya, setelah berhadapan dengan suaminya.“Kamu tadi sudah tidur?” tanya lelaki itu, mengernyitkan dahi.Alana berdeham pelan, lalu mengangguk. “Baru mau tidur sih, memangnya kenapa?”“Aku barusan bikin spaghetti. Barangkali mau, bisa kita makan sekarang. Kalau kamu nggak mau, akan aku habiskan semuanya.”Mendengar Azkara menyebutkan kata ‘spaghetti’, kedua mata Alana langsung berbinar. “Mau! Aku mau makan spaghetti buatan kamu!” sahut Alana penuh semangat, bahkan langsung berjalan lebih dulu menuju dapur.Sejak satu minggu sebelum pernikahan, dia memang sudah tidak boleh makan spaghetti. Ditambah lagi selama beberapa pekan ini hidup bersama Azkara juga tidak pernah makan pasta, membuatnya jadi merindukan sekali masaka
Baru saja Alana hendak pergi dari area toilet itu, saat tiba-tiba terdengar tawa sarkas seorang perempuan. Alana langsung menoleh, lalu merotasikan bola matanya saat melihat siapa yang kini tengah menertawakannya.“Wow! Ternyata begitu kelakuan kamu di belakang Azka? Berani nanyain cowok lain padahal udah punya suami. Kalau Azka tahu, dia bakal marah nggak ya?”Alana menatap dengan sorot dingin, lalu perlahan menyilangkan kedua tangannya di dada. “Kamu mau ngadu sama Azka? Silakan saja, aku nggak takut. Kita lihat saja, dia akan lebih percaya kamu… atau aku!”Perempuan itu, yang tak lain adalah Maya, langsung menggertakkan gigi. Dia tak menyangka kalau sepupunya akan sesantai itu dalam merespon ucapannya. Dan saat baru saja dia hendak membalas ucapannya, tiba-tiba saja terdengar ponsel Alana berdering. Dengan gerakan santai, Alana langsung menjawab panggilan itu.“Iya, Ka? … Oohh ini, ada sedikit pengganggu. Tapi sudah beres sih, bentar lagi aku ke situ.”Setelah mengatakan itu, pan
“Alana? Itu benar kamu, ‘kan?”Alana membeku seketika, lalu perlahan menoleh demi memastikan siapa yang baru saja memanggil. ‘Ya Allah, apakah kali ini aku akan mendapatkan kabar yang baik?’Begitu mendapati seseorang yang tidak asing di hadapannya, perlahan kedua matanya memanas dan berkaca-kaca. “T-tante Dilara?”Wanita paruh baya itu tersenyum lembut, kedua matanya berkaca-kaca. Perlahan dia mendekat, lalu menghambur memeluk Alana dengan erat.“Tante sangat merindukanmu, Sayang,” lirih wanita itu dengan suara parau.“A-Ala juga sangat merindukan Tante—” balas Alana, memejamkan mata mencoba merasakan kehangatan yang sudah lama tidak dia dapatkan dari wanita itu.“Kenapa nomor ponsel Ala harus Tante blokir? Berulangkali Ala mencoba mencari kabar tentang Tante maupun Mas Arhan, tapi hasilnya selalu nihil. Rasanya sesak sekali, Tante, tiba-tiba harus berpisah dengan orang yang aku cintai.”Alana terisak pelan, begitu teringat apa yang dia lalui bulan lalu. Setelah hari-harinya tak terl






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
리뷰더 보기