Mag-log in“Kalau begitu… kamu mau 'kan, nolongin Ala untuk jadi pengganti calon suaminya?” Pernikahan impianku bersama Dokter Arhan hancur dalam semalam ketika dia menabrak seseorang hingga tewas di H-2 pernikahan kami. Demi menutupi malu, ayahku memohon kepada Azkara, sahabat terbaikku sejak kecil, untuk menikahiku. Azkara setuju, tapi aku tidak. Aku membencinya karena telah menggantikan Arhan, calon suamiku. Aku bersumpah akan tetap menjaga kesucianku sampai Arhan bebas dari penjara dan aku bisa menceraikan Azkara. Aku bersikap dingin, kasar, dan selalu menjaga jarak. Namun, Azkara bukan lagi sahabat manis yang bisa kuatur sesuka hati. Sekarang, dia adalah suamiku.
view more“Kenapa tidak masuk ke dalam, Bu?” Alana sedikit terkejut saat tiba-tiba mendengar suara seseorang di belakangnya. Dia segera menoleh, terlihat seorang karyawan yang membawa map di tangannya menatap heran.Alana langsung menempelkan jari telunjuknya di bibir, lalu menyahut dengan sedikit berbisik. “Ssssttt… jangan keras-keras!” Karyawan itu langsung menutup bibirnya dengan telapak tangan, merasa bersalah karena sudah berbicara agak keras. “Memangnya ada apa, Bu?” tanya karyawan itu, berbisik.“Pak Azka lagi ada tamu, ya?” Alana berbisik juga.Karyawan itu mengangguk. “Sepertinya ada, Bu. Tadi memang ada yang tanya ruangan Pak Azka ada di mana.”Alana manggut-manggut pelan. “Perempuan?”Karyawan itu mengiyakan lagi. “Apa mereka ada hubungan?”“Aduh, kalau itu saya kurang tahu, Bu.”Alana menoleh, memindai kembali penampilan karyawan itu. “Kamu ke sini mau apa?”“Ehm, ada berkas yang butuh tanda tangan Pak Azka, Bu,” sahutnya, sembari menunjukkan berkas yang ada di tangannya.“Kalau
“Ala, kamu sudah tidur?”Terdengar suara Azkara dari luar, disusul dengan suara ketukan pintu. Alana yang sebelumnya hendak membalas WA story Tante Dilara, seketika urung. Dia segera meletakkan ponselnya di atas bantal, lalu beranjak untuk membuka pintu. “Ada apa?” tanyanya, setelah berhadapan dengan suaminya.“Kamu tadi sudah tidur?” tanya lelaki itu, mengernyitkan dahi.Alana berdeham pelan, lalu mengangguk. “Baru mau tidur sih, memangnya kenapa?”“Aku barusan bikin spaghetti. Barangkali mau, bisa kita makan sekarang. Kalau kamu nggak mau, akan aku habiskan semuanya.”Mendengar Azkara menyebutkan kata ‘spaghetti’, kedua mata Alana langsung berbinar. “Mau! Aku mau makan spaghetti buatan kamu!” sahut Alana penuh semangat, bahkan langsung berjalan lebih dulu menuju dapur.Sejak satu minggu sebelum pernikahan, dia memang sudah tidak boleh makan spaghetti. Ditambah lagi selama beberapa pekan ini hidup bersama Azkara juga tidak pernah makan pasta, membuatnya jadi merindukan sekali masaka
Baru saja Alana hendak pergi dari area toilet itu, saat tiba-tiba terdengar tawa sarkas seorang perempuan. Alana langsung menoleh, lalu merotasikan bola matanya saat melihat siapa yang kini tengah menertawakannya.“Wow! Ternyata begitu kelakuan kamu di belakang Azka? Berani nanyain cowok lain padahal udah punya suami. Kalau Azka tahu, dia bakal marah nggak ya?”Alana menatap dengan sorot dingin, lalu perlahan menyilangkan kedua tangannya di dada. “Kamu mau ngadu sama Azka? Silakan saja, aku nggak takut. Kita lihat saja, dia akan lebih percaya kamu… atau aku!”Perempuan itu, yang tak lain adalah Maya, langsung menggertakkan gigi. Dia tak menyangka kalau sepupunya akan sesantai itu dalam merespon ucapannya. Dan saat baru saja dia hendak membalas ucapannya, tiba-tiba saja terdengar ponsel Alana berdering. Dengan gerakan santai, Alana langsung menjawab panggilan itu.“Iya, Ka? … Oohh ini, ada sedikit pengganggu. Tapi sudah beres sih, bentar lagi aku ke situ.”Setelah mengatakan itu, pan
“Alana? Itu benar kamu, ‘kan?”Alana membeku seketika, lalu perlahan menoleh demi memastikan siapa yang baru saja memanggil. ‘Ya Allah, apakah kali ini aku akan mendapatkan kabar yang baik?’Begitu mendapati seseorang yang tidak asing di hadapannya, perlahan kedua matanya memanas dan berkaca-kaca. “T-tante Dilara?”Wanita paruh baya itu tersenyum lembut, kedua matanya berkaca-kaca. Perlahan dia mendekat, lalu menghambur memeluk Alana dengan erat.“Tante sangat merindukanmu, Sayang,” lirih wanita itu dengan suara parau.“A-Ala juga sangat merindukan Tante—” balas Alana, memejamkan mata mencoba merasakan kehangatan yang sudah lama tidak dia dapatkan dari wanita itu.“Kenapa nomor ponsel Ala harus Tante blokir? Berulangkali Ala mencoba mencari kabar tentang Tante maupun Mas Arhan, tapi hasilnya selalu nihil. Rasanya sesak sekali, Tante, tiba-tiba harus berpisah dengan orang yang aku cintai.”Alana terisak pelan, begitu teringat apa yang dia lalui bulan lalu. Setelah hari-harinya tak terl
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
RebyuMore